
Sania benar-benar tidak percaya apa yang dia lihat hari ini. Suaminya yang buta, kini sudah bisa melihat lagi. Sejak kapan? Kenapa dia kemarin masih pura-pura buta? Tidak mungkin dia melakukan operasi hari ini. Jelas-jelas dia pergi hanya sebentar lalu kembali ke rumah lagi.
"Kau sudah bisa melihat? Sejak kapan?" Mereka saling pandang beberapa detik, tapi Sania dengan cepat mengakhiri tatapan itu. "Kau dari kemarin membohongiku?" tanyanya dengan wajah memalingkan ke arah lain. Tak sanggup menatap wajah tampan itu.
Son sudah lelah harus pura-pura buta. Apalagi tadi melihatnya pergi dengan Darien. Hatinya tidak rela.
Tak menjawab satu pun dari pertanyaannya, Son langsung menarik tangan istrinya.
"Hey! Apa yang kau lakukan?" Dia menarik paksa tangannya, mengikuti langkah kaki Son yang berjalan sangat cepat. "Lepas!!!!!!" Sania dengan sengaja menginjak kakinya, agar tangannya terlepas.
"Awwwww!!!!" pekiknya merasa kesakitan, karna kakinya tak memakai alas apa pun.
"Kau menghilang kemarin untuk operasi mata? Apa itu benar? Kau sekarang sudah bisa melihat dan aku juga akan menepati janjiku," ujar Sania dengan bibir yang bergetar. Dia bahagia melihat Son yang sudah bisa hidup normal lagi, tapi di sisi lain dia merasa sedih. Karna hubungan pernikahannya tak ada kemajuan sedikit pun, Son masih acuh terhadapnya. Dia tidak bisa menerawang akan hatinya saat ini diisi oleh siapa. Segala perhatian, kesabaran juga ketelatenannya selama ini mengurus Son sepertinya tak sedikit pun menyentuh dinding hatinya yang telah beku terukir nama Vennie.
Son masih terdiam, dia mengerti apa maksud dari Sania.
"Kau tidak boleh pergi!" serunya. Son melayangkan tatapan tajamnya lagi, berharap Sania merasa ketakutan.
"Aku akan pergi dengan caraku sendiri! Untuk apa aku terus di sini. Aku tidak bahagia!" serunya balik. Hatinya sesak saat mengatakan itu.
"Aku bilang jangan pergi!" Son dengan tiba-tiba membopong tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Sania berteriak minta tolong tapi tak ada yang menghiraukannya. Pelayan hanya menatapnya sambil tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah kedua majikan yang menggemaskan itu.
Brughh....
Sania dijatuhkan di atas ranjang dengan posisi terlentang. Tak sengaja dress yang ia pakai tersingkap sampai ke perut. Son menelan salivanya dengan berat. Sania dengan cepat menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
"Apa yang kau inginkan?" Sania ingin bangun tapi kedua tangannya lebih dulu ditahan oleh Son. Son mengukungnya dibawah tubuhnya.
__ADS_1
"Kau yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanku. Kau seperti menantang hidupmu sendiri untuk masuk ke kandang singa. Dan aku singa yang sedang lapar!" Suaranya menakutkan disertai senyumannya yang sinis. Dia tersenyum miring melihat santapan lezat di depannya. Sania yang polos, ia merasa ketakutan.
"Jangan macam-macam!" Sania berusaha memberontak, tapi tenaganya kalah kuat. Sania yang mungil akan kalah dengan badan Son yang kekar. Sudah cukup dia merasakan ciuman pertamanya waktu dengan Son kala itu, dia sudah cukup trauma akan itu.
"Hey, diam! Bukankah dulu kau selalu berkoar-koar kalau kau adalah istriku. Dan aku suamimu, kau sudah cukup dewasa bukan? Kau harusnya sudah tahu apa yang wajib dilakukan pasangan suami istri. Kau jangan pura-pura bodoh!"
SREETTT!!!!
Dengan satu tarikan, dress yang dipakai Sania terlepas. Son menariknya dari bawah karna modelnya berupa kerutan di atas.
Mata Sania sudah berkaca-kaca. Jika hari ini adalah hari terburuk baginya dalam hidup, dia sudah pasrah. Iya benar, memang dia yang memberanikan diri masuk ke dalam kandang singa. Mengusik singa yang sedang diam, hingga singa itu merasa tidak nyaman dan memberikan perlawanan disaat dia sudah punya kekuatan yang penuh.
Melihat tubuh istrinya yang hanya dibalut dalaman, Son terdiam. Gadis itu berhenti memberontak tapi dilihat matanya yang berair, mencoba menahan tangisnya.
Son mendekatkan wajahnya, menghembuskan napasnya pelan pada bibir merah mudanya yang menggoda. Tangannya beralih memegangi bahunya yang putih, mencoba melepaskan sisa pakaian di tubuhnya.
TES!
Dia mengacak rambutnya kesal, entah apa yang sedang ia pikirkan. Apa yang sebenernya ia inginkan. Kenapa dia tidak bisa mengontrol napsunya. Son hanya merasa kesal, karna Sania pergi bersama Darien. Dia seperti melampiaskan kekesalannya.
Sania perlahan membuka matanya karna sedari tadi ia memilih memejamkan matanya. Terlihat selimut di atas tubuhnya dan Son tidak ada di kamarnya. Dia pun bangun dan mencari suaminya barangkali ada di dalam kamar mandi, tapi ternyata tidak ada di sana. Dia telah pergi, entah kemana.
Hari semakin gelap, matahari sudah bersembunyi sedari tadi. Burung-burung tak terlihat menari di atas awan lagi. Mereka sudah kembali ke sarangnya masing-masing.
"Nona, Anda mau kemana?" Sania membawa satu koper di tangannya. Wajahnya yang lesu berusaha tersenyum pada Pak Satpam.
"Saya mau menginap di rumah paman saya, Pak." Pak Satpam mengangguk, ia pikir Sania memang sedang merindukan pamannya. Padahal hari ini Sania baru lah pulang, tapi kenapa ingin menginap lagi.
__ADS_1
"Bersama tuan Son?" tanyanya.
"Iya, dia akan menyusul," jawabnya agar Pak Satpam tidak curiga.
"Baik lah, saya akan menyuruh sopir untuk mengantarkan Anda, Nona."
"Tidak usah! Saya naik taxi saja."
Pak Satpam menjadi ragu ingin membukakan pintu gerbangnya atau tidak. Dia takut kena masalah jika mengijinkan Sania pergi.
"Hmm, Nona. Saya ijin telfon dulu ya." Pak Satpam memilih bertanya dulu pada pelayan senior, takut jika dia salah nantinya.
Sania yang cerdas, dia pelan-pelan membuka pintu gerbangnya. Dia mengambil kunci di atas meja. Dan beruntung sekali ada sebuah taxi lewat, dia segera naik.
"No-nona ...." Pak Satpam lagi-lagi kecolongan. Dia merasa bodohi.
"Aduh, bagaimana ini!"
***
Taxi berhenti tepat di depan rumah Paman Raul. Tapi Sania ragu untuk turun. Dia tak ingin didatangi lagi oleh Son. Sudah cukup, dia ingin pergi sejauh mungkin. Menghilangkan rasa sakit yang selama ini dia pendam sendiri.
"Jika aku tidak menginap di sini. Lalu dimana? Aku tidak punya teman." Sania berpikir, kemana lagi dia akan pergi. Teman? Dia sebenarnya memiliki satu orang teman. Tapi mereka sudah berpisah lama. Karna temannya waktu itu pindah sekolah. Dan kemungkinan rumahnya juga pindah.
"Apa aku coba aja kesana? Barangkali dia menempati rumah yang lama?"
Sania akhirnya memilih untuk ke rumah teman lamanya. Semoga saja dia kembali tinggal disitu. Tak ada pilihan lain, karna dia tak memiliki saudara selain Maria.
__ADS_1
Jalanan sunyi, ia lewati. Dia mengingat-ngingat rumah teman lamanya. Hingga dia melihat sebuah rumah tua dengan pencahayaan yang minim.
"Berhenti, Pak!" ujarnya. "Tunggu sebentar ya, Pak. Takut teman saya tidak ada di rumah."