
Sania berhenti memukuli suaminya saat terdengar bunyi ponsel berdering. Ternyata ponsel milik Son yang berbunyi. Tertera nama Darien di sana. Walaupun hubungan mereka telah membaik, tapi Son terkadang masih suka kesal jika mengingat yang dulu.
"Son, bisakah kau ke rumah sakit X sekarang?" Baru saja ia mengangkat teleponnya, suara Darien sudah menyahut lebih dulu.
"Siapa yang sakit?"
Cukup lama Son menunggu jawaban Darien, hingga akhirnya ia menjelaskan secara singkat apa yang telah terjadi disitu.
"Sayang, kau mau disini atau ikut denganku?" tanyanya pada Sania setelah telepon terputus.
"Kemana?"
Belum sempat menjawab, pintu ruangan terbuka. Luzi keluar dengan mata yang basah. "Sania, ayo kita pulang."
"Ibu .... Bisakah Ibu disini menemani ayah dulu? Son ada urusan sebentar," ujarnya dengan wajah cemas. Tentu Luzi melihat raut wajahnya yang tak biasanya.
"Ada apa, Son?" tanyanya.
Matanya menatap kedua wanita ini bergantian. Ini memang berita yang penting dan harus segera diberitahukan pada keluarganya.
"Tadi kak Darien menelpon. Kak Keyla baru saja kehilangan calon bayinya. Dia saat ini sedang di rumah sakit. Sedangkan kak Rico tak sadarkan diri."
Seketika mereka langsung memegang dadanya karna merasa terkejut. Luzi tahu bahwa kelahiran bayi laki-laki sangat ditunggu-tunggu oleh Rico dan Keyla. Dan mereka harus kehilangan calon anaknya, pasti sangat menyakitkan.
Tak ingin membuang-buang waktu Son langsung menuju rumah sakit yang ditujukan Darien. Sedangkan istrinya bersama Luzi menemani Math. Sebenarnya Sania ingin ikut, tapi Son takut ia akan kelelahan. Juga Luzi menyuruh Sania untuk tidak ikut saja.
Sesampainya di rumah sakit yang tak kalah besarnya dari rumah sakit yang merawat Math, Son dengan langkah tegasnya menuju sebuah ruangan yang terletak agak jauh dari pintu masuk.
"Dimana kak Rico?" Darien yang sengaja berdiri di depan ruangan untuk menunggu Son akhirnya bisa bernapas lega melihat adiknya sudah datang.
__ADS_1
Seorang pria yang wajahnya tak kalah rupawan dari mereka sedang terbaring di ranjang. Wajah letihnya nampak sekali terlihat. Saat Son perlahan menyentuh tangannya, mata yang tadinya terpejam akhirnya mengerjab.
Kedua matanya perlahan terbuka dan seketika mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Kedua manusia tampan yang ada di depannya tak luput ia pandangi.
"Kakak ...." Darien memanggilnya, dia baru kali ini melihat kakaknya terbaring lemah. Dulu dia yang selalu menjadi penyelamat, pahlawan dan juga panutannya.
Raut wajahnya berubah sedih. Darien langsung memeluknya memberi ketenangan. Son juga ikut merasakan kesedihan itu. Tapi ia tidak seperti Darien yang bisa melampiaskan kasih sayangnya pada orang dengan mudah. Dia merasa canggung hanya untuk memeluknya.
Saat dirasa Rico sudah mulai bisa terlihat tenang. Ia lalu memerintahkan pelayan di rumah untuk menyiapkan segala sesuatunya. Hari ini akan ada pemakaman untuk bayinya yang meninggal.
Dengan kakinya yang lemah, Rico berjalan menuju ruangan Keyla dirawat.
"Sa-sayang ...." Tangannya bergetar, entah bagaimana ia akan menjelaskan pada istrinya nanti.
Keyla sudah sadar dari beberapa menit yang lalu. Tapi tidak ada orang satu pun di dalam ruangannya. Lalu tak berapa lama Rico masuk dan ia langsung mengembangkan senyumannya.
"Dimana anak kita?" tanyanya dengan lirih. Karna ia masih lemas.
Pandangannya melemah, ia tak kuasa melihat wajah istrinya yang sangat mengharapkan seorang anak laki-laki. Ia membayangkan betapa kecewanya nanti saat Keyla mengetahuinya.
"Sayang, cepat bawa bayiku ke sini!" perintahnya tak sabar. Ia bahkan mendorongnya pergi untuk mengambil putranya.
Kediaman rumah Rico terlihat riuh dengan segala keramaian dan juga keribetan yang terjadi. Rico menyuruh adik-adiknya untuk mengatur semuanya di rumah. Untuk pertama kalinya Darien dan Son datang bersama dalam satu mobil. Hari ini pikiran mereka bersatu. Sejenak melupakan kejadian dulu yang sering membuat mereka saling benci.
"Paman Darien, Paman Son ...." Meysa berlari memeluk kedua pamannya. Dia merasa kesepian karna tidak ada ayah dan ibunya. Sedangkan Bibi pelayan tiba-tiba terlihat sibuk sendiri.
"Meysa, sudah makan sayang?" Gadis kecil itu mengangguk dan mengangkat kedua tangannya meminta digendong.
Saat ini Meysa dalam gendongan Son. Sedangkan Darien menuju ke belakang untuk memerintah pelayan yang harus disiapkan apa dulu.
__ADS_1
"Paman, kenapa Bibi pelayan terlihat sibuk. Apa akan ada acara di rumah? Untuk menyambut kelahiran adik bayi ya? Kok adik bayi beruntung sekali. Dulu saat Meysa lahir juga seperti ini tidak, Paman? Ibu sepertinya sangat menyayangi adik bayi. Belum lahir saja ibu sudah membelikan banyak mainan. Sedangkan Meysa hanya sesekali dibelikan mainan oleh ibu. Jika Meysa tidak meminta, ibu tidak akan belikan." Meysa mengungkapkan isi hatinya pada Son, membuat Son terkejut mendengarnya. Anak kecil tak pernah bohong, dia bercerita sesuai apa yang ia alami.
"Hmm Meysa, tapi Meysa tetap menyayangi ibu, kan?" tanyanya.
Gadis kecil itu mengangguk tapi matanya berkaca-kaca. Lalu ia menangis sambil memeluk Son. Dia melingkarkan tangannya pada leher Son.
"Cup, cup. Kenapa Meysa menangis sayang?" Son berusaha menenangkannya.
Saat Meysa menangis, terdengar dari luar bunyi deru mesin mobil. Son berjalan keluar diikuti Darien dari belakang. Mobil yang berasal dari rumah sakit terlihat memasuki kediaman Rico.
Meysa langsung berhenti menangis, ia penasaran atas apa yang dibawa oleh seseorang yang berseragam putih bersih itu.
"Meysa, ini adik kamu, sayang. Tapi adik bayi tidak bisa diajak main. Adik bayi sudah bersama Tuhan. Dia sudah pergi selama-lamanya."
Meysa kecil tentu tidak paham apa yang diucapkan Son. "Paman, Meysa tidak mengerti apa yang diucapkan Paman."
Son berusaha menahan air matanya lalu ia berkata, "Adik bayi sudah meninggal."
Gadis kecil itu lalu menangis, yang ia tangkap adalah adik bayi tak bisa dia ajak main.
"Adik bayi ...." teriaknya menggema seisi ruangan. Dia menangis histeris membuat Son kewalahan untuk menenangkannya.
Dua hari berlalu, pemakaman telah dilakukan. Keyla pun sudah tahu tentang bayinya yang tak bisa diselamatkan. Dan baru hari ini dia dibolehkan pulang setelah keadaannya stabil. Akhir-akhir ini Keyla mendadak diam. Bahkan Rico tak pernah ia hiraukan keberadaannya.
"Sayang, hari ini kau bisa pulang. Kita akan berkumpul lagi di rumah. Meysa sangat merindukanmu. Dia sering menanyakan kabarmu," ujar Rico seraya mempersiapkan barang bawaannya untuk dibawa pulang. Keyla tetap diam, dia memandang kosong ke depan.
Rico tak pernah lelah mengajaknya berbicara, walaupun ia sering diacuhkan. Bahkan dia memilih untuk tidak masuk kantor, ia meminta tolong Son untuk menghandle pekerjaannya di kantor.
Kepulangan Keyla disambut antusias para pelayan di rumah. Meysa yang tahu bahwa ibunya akan pulang, ia dengan semangat menunggunya di depan pintu. Sambil membawa boneka kesayangannya, ia memberikan senyuman terbaik untuk menyambut ibunya.
__ADS_1