ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 65 MENGERJAI


__ADS_3

Kedua pria paruh baya terlihat berpelukan. Dinding-dinding menjadi saksi, betapa bahagianya kedua orang ini.


"Leo, terimakasih!" ucapnya masih tersenyum lebar. Sesekali menyeka sudut matanya yang basah. Ini sebuah keajaiban yang dia tunggu sangat lama.


"Ini semua juga berkat nona Sania, Tuan." Leo pikir, ini ada kaitannya dengan Sania. Walaupun dia belum begitu yakin.


Entah semua karna siapa, Math tidak peduli. Yang terpenting sekarang adalah Son yang telah menyetujui untuk operasi mata. Sungguh kebahagiaan tersendiri.


"Dan soal perpisahan tuan Son dan nona Sania apa nantinya akan benar-benar terjadi, Tuan?" tanya Leo yang penasaran. Dia berharap perpisahan tidak akan terjadi.


Math sejenak menghela napasnya. Cinta Son terhadap Vennie begitu besar, dia tak bisa memaksakan putranya untuk mencintai wanita lain. Sama seperti dirinya yang hingga sekarang juga tak bisa menghilangkan perasaan cintanya pada Angela. Walaupun Angela sudah tiada lama sekali.


"Untuk itu akan aku urus nanti. Kau coba hubungi rumah sakit terbaik yang ada di kota ini."


Entah apa yang mendasari Son menyetujui operasi mata itu. Apakah karna Sania? Apa karna hal yang lain? Tapi Math tak peduli alasan, yang terpenting putranya bisa hidup normal kembali.


***


Pagi yang indah. Pagi kali ini terasa berbeda. Tidurnya nyenyak sekali malam tadi. Tidur sendirian. Di kamar yang nyaman. Kamar yang jauh dari ruangan lain. Sania mengawali pagi dengan senyuman indahnya.


"Andai setiap pagi seperti ini. Aku akan betah tinggal di sini." Sania berangan, andai hidupnya setenang ini mungkin dia akan merasa nyaman tinggal di rumah mewah ini. Percuma saja dia tinggal di rumah mewah jika hatinya selalu tertekan.


"Sania! Bangun!" Suara wanita tiba-tiba berteriak di luar kamarnya. Dia bahkan mengetok pintunya keras sekali. Seperti seorang penagih utang yang sudah berbulan-bulan menunggak untuk membayar. Menyebalkan! Mengganggu khayalan Sania!


"Kak Keyla ...." Wanita cantik yang mengenakan dress selutut menatapnya dengan tatapan tajam.


"Hey, kenapa jam segini baru bangun! Aku ingin salad buah. Buatin dong!" suruhnya dengan nada tinggi. Sania yang baru saja terbangun masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang barusan dia dengar. Membuatkan salad buah pagi-pagi?


"Ini masih pagi, Kak. Aku saja baru bangun. Kenapa tidak menyuruh pelayan saja," usulnya dan dibalas matanya yang langsung melototinya. Begitu menyeramkan, wajahnya kali ini. Keyla yang ramah dan murah senyum, kini tak lagi terlihat. Dia berubah seperti monster yang siap memangsa siapa saja.


"Heh! Aku menyuruhmu. Kau tidak mau?" Keyla kini bertolak pinggang, gayanya layaknya seorang majikan besar. Benar-benar wajah bidadari tetapi hatinya seperti iblis. Sania tidak menyangka jika sifat asli Keyla seperti ini. "Hey, buruan! Kenapa diam! Ayo ke dapur. Aku ini sedang hamil, aku ingin salad buah!" Keyla bahkan berani menarik-narik baju tidurnya. Membuat Sania seperti pembantunya saja.


"Baik, Kak." Sania yang penurut akhirnya menyetujui permintaannya.

__ADS_1


Di ruangan dapur, para pelayan disuruh pergi semua. Mereka yang sedang memasak pun terpaksa harus berhenti. Bahkan Keyla mengatakan yang akan melanjutkan memasak adalah Sania. Sungguh Keyla ini sangat keterlaluan.


"Buahnya apa aja, Kak?" Sania berusaha tidak terpancing emosinya. Mungkin benar kata Ibu Luzi, bahwa wanita hamil itu perubahan moodnya cepat dan sangat sensitif. Sania berusaha memaklumi.


"Semuanya! Semua yang ada di dapur." Keyla kini duduk santai di sebuah kursi. Ponsel menjadi perhatiannya kali ini. Dia sibuk memotret dirinya dan dibagikan ke akun sosial medianya. Menyombongkan diri akan kehamilannya.


Sania memotong-motong buah yang terdapat di lemari es. Dan menempatkannya pada sebuah tempat bentuk kotak persegi. Menambahkan mayonaise dan juga keju parut. Ini rasanya pasti lezat.


"Ini, Kak." Sania menyodorkan salad buah buatannya. Berharap Keyla menyukainya. Keyla meletakkan ponselnya dan beralih menatap salad buah buatan Sania.


"Oh, terima kasih. Nanti aku cicipin. Tapi tidak saat ini," ucapnya dan berlalu pergi begitu saja. Sania yang masih dengan keadaan berdiri sampai terbengong. Dia terheran-heran sendiri.


"Apa maksudnya?"


Sania memegangi dadanya yang tiba-tiba desak. Dia begitu kesal. Sampai napasnya seakan ingin berhenti.


"Dia mengerjaiku?"


Sania masih terus memegangi dadanya. Ingin rasanya menenggelamkan diri di kolam, agar rasa kesalnya hilang.


"Tidak apa-apa." Sania mencoba berjalan dengan tertatih-tatih. Dia pikir di keluarga ini yang jahat kepadanya hanya Son, tapi ternyata Keyla juga demikian. Menghadapi Son saja dia merasa kerepotan, apalagi ditambah menghadapi si Keyla. Sania tidak bisa membayangkan hidupnya kedepannya.


"Aku benar-benar ingin berpisah saja!" teriaknya dalam hati.


Tepat di depan pintu kamar, dia membuka pintunya perlahan. Kosong. Tidak ada siapa pun. Dia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Pikirannya masih terbang kemana-mana.


"Aku harus segera pergi dari sini!"


Saat tak sengaja dia menoleh ke arah ranjangnya. Dia tiba-tiba teringat akan sesuatu.


"Kamar ini. Ini kamar Son!" Sania baru ingat bahwa dia memasuki kamar suaminya bukan kamarnya. "Tapi di mana dia? Kenapa tidak ada di ranjang?" Saat dia mengecek kamar mandi, di sana pun kosong. Dia berjalan keluar, mencari-cari keberadaan suaminya.


"Nona mencari tuan Son?" Pelayan senior menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Iya, di mana suamiku? Kenapa di kamar tidak ada." Karna Ayah dan Ibu sudah pulang ke rumah utama, jadi tadi malam mereka pisah kamar lagi. Jadi Sania tidak tahu kemana Son pergi.


"Tuan Son pergi sedari pagi sekali, Nona. Dia pergi dijemput Leo. Tapi saya tidak tahu akan ke mana," jawabnya.


"Pergi sedari pagi?" Ini pertama kalinya Son pergi pagi sekali. Di saat dirinya belum bangun, entah akan kemana mereka berdua. Kenapa Paman Leo tidak memberitahunya?


"Iya, Nona. Mungkin mereka pergi ke suatu tempat. Nanti siang mungkin kembali." Pelayan Senior lantas pamit untuk melanjutkan pekerjaannya lagi. Sania pun mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas infonya.


"Apa Son sedang mengurus perpisahan kita?"


Jika memang benar, Sania harusnya senang dia akan segera terbebas dari sini. Tapi kenapa hatinya terasa beda?


Saat kepalanya menunduk ke bawah, dia melihat bajunya yang belum ganti. Dia tersadar bahwa dia belum mandi. Dengan segera dia kembali ke kamar dan membersihkan diri.


.


.


Di perjalanan yang terasa begitu menegangkan, Son tak bisa menyembunyikan kegugupannya kali ini.


"Tuan, jangan tegang. Semuanya akan baik-baik saja. Tuan Math sudah mempersiapkan dokter yang hebat. Anda tenang saja." Paman Leo mencoba menenangkan Son yang terlihat sangat gugup.


"Jika nanti aku bisa melihat lagi, aku ingin yang pertama aku lihat adalah makam Vennie," ucap Son membuat Leo seakan tersentuh hatinya. Begitu dalamnya cinta Son pada mantan tunangannya itu.


"Nona Vennie, Anda begitu beruntung. Tapi yang saya harapkan adalah tuan Son bisa mencintai nona Sania. Dia adalah gadis yang baik, sama seperti Anda," ucapnya dalam hati.


"Paman, bolehkah sampaikan pada Ayah." Ada hal lain yang ini dia katakan pada ayahnya. Mungkin ini waktu yang tepat.


"Iya, Tuan. Apa yang ingin Anda katakan pada tuan Math?" tanyanya sambil memandangi Son dengan seksama. Ada banyak harapan untuk hidup baru Son nanti, Leo tak hentinya berdoa untuknya.


"Untuk perpisahan aku dengan Sania, akan aku urus sendiri nanti. Jadi, Ayah tidak usah mengurusnya. Setelah aku bisa melihat lagi, aku yang akan mengurusnya. Ayah tak perlu mencampuri urusan pribadiku lagi."


.

__ADS_1


.


__ADS_2