
Sebuah taxi berhasil ia berhentikan, Math tak mencegahnya sama sekali. Bahkan dia membiarkan istrinya naik ke taxi. Mungkin pikirannya saat itu, akan mudah mencari istrinya nanti. Jika tak ada di rumah, mungkin ada di hotel. Dia bisa mengerahkan seluruh bawahannya untuk mencari istrinya itu.
Luzi memandangi Math dari dalam, ia begitu kesal karna suaminya tak mencegahnya sama sekali. Dia kira nantinya akan ada sebuah drama film yang dramatis dan berakhir romantis. Tapi nyatanya tidak, Math terlihat tidak peduli. Kini keputusannya sudah bulat, ia benar-benar ingin berpisah saja.
Math berjalan menuju mobil. Di dalam sana dia menyenderkan punggungnya, menatap ke arah spion yang berada di atasnya. Ia melihat wajahnya yang semakin tua. Bahkan putra-putranya sudah menikah semua. Umurnya tak lagi muda. Apa yang bisa ia banggakan saat ini? Kekayaan? Jabatan? Keturunan? Semuanya tak abadi. Yang abadi hanyalah .... Pasangan? Pasanganmu yang akan senantiasa berada di sisimu.
Anak-anakmu tak pernah selalu di sisimu. Mereka akan punya keluarga sendiri nantinya. Kekayaanmu juga tak mungkin kau nikmati sendiri. Nantinya akan menjadi sebuah warisan untuk keturunan-keturunanmu.
"Luzi ...." Istri keduanya yang masih diberi kehidupan hingga saat ini. Istri-istrinya yang lain pergi menghadap ke-Pencipta.
"Angela .... Kenapa dulu kau menolak untuk menikah denganku awalnya? Gara-gara kau, aku jadi menyakiti beberapa wanita."
"Kau menikahi Angela diam-diam di belakangku?" Yasmine memegangi dadanya yang sesak. Dia tak menyangka bahwa suaminya diam-diam telah menikahi cinta pertamanya. Walaupun dia juga statusnya adalah istri muda, tapi dia tak terima jika diam-diam dikhianati suaminya seperti ini.
"Yasmine, tolong dengarkan aku. Aku pasti bisa bersikap adil." Math berjanji, dia akan bersikap adil kepada ketiga istrinya.
Yasmine yang merasa sakit hati teramat sangat sampai jatuh sakit. Dia jatuh sakit berbulan-bulan lamanya. Berbagai dokter sudah mereka datangi, tapi Yasmine tak kunjung sembuh. Hingga dia dinyatakan meninggal. Yasmine meninggal tanpa meninggal jejak sakit hatinya lagi.
***
Bayangan wajah istrinya yang menyebalkan tiba-tiba melintas di kepalanya. Dengan tiba-tiba dia mengerem mobilnya, untung saja jalanan sedang sepi. Sejenak memejamkan matanya yang lelah. Pandangannya ia buang ke luar jendela. Melihat apa saja agar bayangan istrinya seketika hilang dari ingatan. Tapi nyatanya tak bisa.
Dia kemudian melirik pada jok kosong di sebelahnya. Dia benar-benar jahat telah meninggalkan istrinya. Dia terlalu egois, dia menyadari itu.
Dengan cepat, dia memutar balik mobilnya ingin menuju ke suatu tempat. Bukan ke tempat tadi ia meninggalkan istrinya, melainkan ke rumah Paman Raul. Dia yakin istrinya pergi ke sana.
Sesampainya di rumah Paman Raul, dia kemudian turun dari mobil. Lalu mengetok pintunya dengan pelan.
"Tuan Son ...." Pak Mail membuka pintu sambil tersenyum lebar.
"Pak, Sania ada di dalam, kan?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.
__ADS_1
Terlihat wajah Pak Mail yang kebingungan lalu ia mengecek ke dalam. Takut jika Sania benar-benar datang kemari tapi dia tidak tahu karna terlalu sibuk di belakang.
Son mengikuti langkahnya dari belakang, hingga mereka bertemu Maria.
"Nona, apakah nona Maria melihat nona Sania di sini?" tanyanya.
"Sania?" Tiba-tiba Paman Raul keluar dari kamarnya. Belum sempat Maria menjawab, ayahnya tiba-tiba datang. "Kau mencari Sania di sini?" tanyanya lagi.
"Iya, Paman." Son ketakutan melihat wajah Paman Raul. Sudah bisa ditebak jika pasti dia akan memarahi Son jika tahu apa yang telah terjadi.
"Kau ada masalah lagi dengan Sania?" Kini mereka duduk bersama di ruang tamu. Son bersiap akan adanya interogasi dari Paman Raul.
"Tidak, Paman." Tak ingin menceritakan yang sebenarnya, Son berusaha bungkam. Tapi Raul sepertinya tahu akan sesuatu.
"Kalian sehabis pergi? Lalu pulang sendiri-sendiri?" tebaknya kemudian. Memang acara pernikahan Darien tidak mengundang Paman Raul karna acara sebenarnya terbilang sederhana dan hanya mengundang beberapa kolega penting. Berbeda dengan acara pernikahan Rico yang dirayakan besar-besaran.
Son mengangguk, dia ingin mengakui bahwa dirinya telah sengaja meninggalkan Sania tapi dia tidak berani.
Perjalanan terasa begitu cepat, hingga akhirnya dia sampai di rumah.
"Apa Sania sudah pulang?" tanyanya langsung pada Pak Satpam setelah membuka gerbang. Kepalanya langsung melongok ke dalam mobil, dalam pikirannya bukankah Sania tadi pergi dengannya?
"Nona Sania bukannya tadi pergi bersama Tuan? Sedari tadi saya tidak melihat nona Sania pulang, Tuan."
DEG.
Dugaan Paman Raul ternyata salah. Sania belum pulang membuat hatinya semakin cemas. Beberapa kali dia mencoba menghubungi istrinya tapi tetap saja tak diangkat.
"Kemana kamu, San?"
Dia berpikir apakah mungkin Sania masih ada di gedung? Ah malam ini dia benar-benar gelisah. Ini sudah malam, dia mengkhawatirkan keadaan istrinya. Istrinya itu masih muda, takut jika ada seseorang melakukan hal kejahatan padanya.
__ADS_1
Son melajukan mobilnya lagi menuju tempat di mana dia meninggalkan istrinya tadi. Dia tidak akan pulang sebelum menemukan istrinya.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, Sania sudah turun dari taxi. Selama di dalam taxi dia berpikir, kemana dia akan pergi. Rasanya pulang ke rumah tak membuat hatinya nyaman, tak terima dengan suaminya yang dengan tega-teganya meninggalkannya begitu saja. Tak mungkin dia ke rumah Paman Raul, itu akan membuat Pamannya khawatir jika mengetahui mereka sedang bertengkar.
Dan jalan satu-satunya adalah penginapan. Bukan hotel, tapi sebuah penginapan kecil yang jarang sekali orang kunjungi. Son tak mungkin langsung menemukannya di sini. Kakinya perlahan memasuki pintu masuk, di sana dia bertemu dengan seorang resepsionis. Memesan sebuah kamar yang biasa saja, dia menggunakan kartu miliknya untuk membayar.
Dan saat ia memutarbalikkan badannya, tak sengaja dia melihat sosok wanita yang ia kenali.
"Ibu ...." Luzi yang baru masuk terkagetkan akan Sania yang berada disini.
"Sania, sedang apa kau di sini?" Luzi menghampiri menantunya dan bertanya.
"Ibu juga sedang apa disini?"
Ah Sania seharusnya tidak menegur ibu mertuanya, jika sudah begini dia akan terkena masalah karna terpergok berada di penginapan sendirian.
"Sania, kau bersama Son?" tanyanya sambil matanya berkeliling. Lalu Sania dengan cepat menggeleng.
"Apa ini? Kau sudah memesan kamar?" tunjuknya. Terlihat Sania yang memegang sebuah kunci, itu artinya Sania akan menginap di sini.
Kini mereka sudah duduk bersama di atas ranjang. Mereka memutuskan untuk menginap dalam satu kamar. Sania terdiam, dia menunggu Luzi yang memulai percakapan.
"Sania, kau ada masalah dengan Son?"
"Ibu juga ada masalah dengan Ayah?" tanyanya balik.
__ADS_1
Mereka berdua pun terdiam bersama. Tak ingin ada yang memulai bercerita. Mereka seakan bungkam dengan masalahnya sendiri-sendiri.