
Hari-harinya penuh dengan kesepian.
"Bi Mar ...." Suaranya lebih lembut berbeda dengan dulu.
"Iya, Tuan." Bi Mar yang kala itu sedang membersihkan area kamarnya lantas menghampiri. Math tak seangkuh dulu, dia bersikap lebih tenang.
"Hari ini aku ingin ke makam Angela."
Bi Mar mengangguk, lalu ia mengatakan akan menyiapkan mobil terlebih dahulu.
Math pergi bersama dua bodyguard dan satu sopir. Selama di dalam perjalanan dia terdiam. Tepat di sebuah makam, dia sejenak mengingat kembali momen kebersamaannya dengan Angela.
Di atas kursi roda, dia memandangi makam Angela.
"Aku datang. Tapi dengan kondisi yang menyedihkan. Maafkan aku, jika dulu aku terkesan menyakitimu. Angela, kau memang selalu di hatiku, tapi sepertinya kini ada seseorang yang berhasil menggantikan posisimu di hatiku. Aku baru merasakannya sekarang."
Bertahun-tahun Luzi dengan sabar merawatnya di luar negeri. Banyak momen kebersamaan mereka, walaupun Math sempat kritis. Tapi sentuhan tiap sentuhan, ia bisa merasakannya. Sentuhan dari seseorang yang mencintai tulus.
Dia sempat berpikir untuk mengejar cintanya Luzi, tapi ia sadar sekarang. Dirinya tak segagah dulu, dia lemah dan sakit-sakitan. Sedangkan Luzi, dia masih sehat dan cantik. Dia tidak percaya diri dan tak mau Luzi selalu dibuat susah olehnya.
"Aku pulang dulu."
Setelah mengungkapkan segala perasaan di hatinya, Math berniat pulang. Tapi tepat ia berbalik, dia melihat sosok perempuan yang ia cintai sekarang.
"Luzi ...." Wanita itu ternyata ada di sana, entah sejak kapan. Para bodyguard juga tak tahu adanya Luzi di sana.
"Kau disini rupanya." Luzi perlahan melangkah mendekat.
"Iya, dan ini mau pulang. Kau mau mengunjungi makam siapa?"
"Angela," jawabnya cepat. Ini sebuah kebetulan, tapi Math bingung kenapa Luzi mau mengunjungi makam Angela.
"Untuk apa kau mengunjungi makamnya?" tanyanya.
"Kenapa? Tidak boleh?"
Math menggeleng, bukan berarti tak boleh hanya saja ia merasa heran.
"Aku sedang menunggu Son dan Sania. Kau mau pulang?" Wanita itu sepertinya tak mau berlama-lama berbicara dengannya, terlihat dari gerak tubuhnya yang tak nyaman.
"Iya, aku pulang dulu, Luzi."
Math harus sadar diri, tubuhnya kini ringkih dan sakit-sakitan. Mengejar cinta bukanlah tujuan utamanya. Yang harus ia kejar adalah kesembuhan.
"Ayah juga kemari?" Son tak menyangka bertemu ayahnya di sini.
"Iya, tadi Ayah habis mengunjungi makam ibumu."
Son mengajaknya untuk kembali ke sana, tapi Math menolak. Dan akhirnya dia memilih untuk pulang saja.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya bodyguard yang melihat perubahan wajah Math.
"Tidak apa-apa."
Ingin rasanya menangis, tapi dia malu. Tapi hatinya kini bimbang, dia tak ingin hidup sendirian seperti ini. Dia ingin ada yang menemaninya.
"Aku ingin kembali dengannya," lirihnya. Dia memegangi dadanya yang sedikit sesak.
"Tuan, Anda kenapa?" Bodyguard terlihat khawatir melihat Math yang seperti menahan sakit.
__ADS_1
"Aku tak mau pulang!" Math tak ingin pulang, dia tak ingin selalu sendirian di dalam kamar. "Darien! Kita ke apartemennya." Math menyuruh sopir untuk menuju ke apartemen Darien.
Di depan sebuah apartemen, Math menunggu pintu dibuka. Valencia lah yang membuka pintu apartemennya. Wanita itu terkejut mendapati ayah mertuanya yang datang tiba-tiba.
"Ayah kenapa tidak bilang kalau mau kesini." Valencia terlihat salah tingkah, karna apartemennya masih sangat berantakan. Ini juga ulah dari Zion yang selalu memberantakan mainannya.
"Zion! Ayo rapikan mainannya. Kakek datang," ujarnya memberitahu.
Zion langsung berlari menghampiri kakeknya dan menyalaminya.
"Zion, sedang apa kamu?" Math tersenyum melihat Zion, dia persis seperti Darien kecil.
"Kakek, ayo main." Zion memamerkan mainan barunya. Math hanya bisa tersenyum di atas kursi roda. Sayang sekali dia tak dapat berlari. Jika kakinya sudah normal, ia ingin main kejar-kejaran dengan cucunya. Pasti sangat menyenangkan.
"Ayah, ini tehnya." Valencia menyeduhkan teh untuk ayah mertuanya. Dia sebenarnya canggung berhadapan dengan ayah mertuanya, karna mereka jarang berbicara atau bertemu.
"Valencia, kemari lah." Dengan langkah takut-takut, ia menghampiri Math.
"Iya, Yah."
"Katakan pada suamimu, kalau Ayah akan menginap di sini untuk beberapa hari. Apa boleh?"
"Tentu boleh, Yah," jawabnya dengan senang hati. Dia tak merasa keberatan sama sekali. Apalagi dengan Darien, dia pasti sangat senang.
"Tapi, Ayah takut merepotkan kalian semua."
"Tidak, Yah. Valencia dan Darien tak merasa direpotkan sama sekali."
Math akhirnya lega, setidaknya untuk beberapa hari ke depan ia tak lagi kesepian.
"Kakek, ayo main!" ajak Zion memaksa.
Karna kamarnya hanya ada dua, jadi kamar Zion sementara dipakai Math.
"Ayah, ini kamar Zion. Ayah tidur di sini saja. Nanti malam Zion akan tidur di kamarku."
"Zion ingin tidur bersama kakek!" Tiba-tiba Zion datang dan mengayunkan tangan ibunya. Meminta agar bisa tidur dengan sang kakek.
"Ya, Zion tidur bersama Kakek saja. Kakek takut tidur sendirian," kata Math dan ia tertawa kecil membuat Valencia ikut menahan tawa.
Zion berteriak senang, dia mengatakan akan menemani Kakeknya tidur agar beliau tidak ketakutan.
Malam pun tiba, Valencia sudah menyiapkan makam malam. Tinggal menunggu Darien yang katanya sebentar lagi akan pulang.
"Ayah makan dulu saja jika sudah lapar," suruhnya kemudian. Karna sudah hampir satu jam mereka menunggu kepulangan Darien.
Belum sempat menyentuh piring, pintu apartemen terdengar terbuka. Valencia langsung mengecek, dan benar saja ternyata suaminya pulang. Darien yang melihat Math langsung memeluknya.
"Putraku yang mandiri dan super sibuk," katanya sambil menepuk punggungnya merasa bangga.
"Ayah, maafkan Darien. Pasti Ayah menunggu Darien sangat lama."
Math menggeleng, dia tak apa-apa. Ia sangat memahami putranya yang super sibuk.
Setelah Darien membersihkan diri, mereka akhirnya makan malam bersama. Zion yang manja, dia ingin disuapi kakeknya. Math dengan senang hati menyuapi cucu laki-lakinya itu.
"Valencia, kapan kau memberikan adik untuk Zion?" tanya Math disela-sela makannya.
Uhuk
__ADS_1
Uhuk
Valencia tiba-tiba tersedak, Darien dengan sigap mengambilkan air minum. Istrinya dengan cepat meraihnya dan meminumnya agar tenggorokannya lebih enakan.
"Ayah, Valencia masih trauma untuk melahirkan. Jadi untuk sekarang belum ada rencana menambah lagi," ujar Darien mencoba menjelaskan.
Memang benar, Valencia sempat trauma saat melahirkan. Rasanya tak bisa diutarakan dan dibayangkan, dia merasa dunianya hampir hilang saat bertaruh nyawa melahirkan Zion.
"Ibu, jika Ibu ingin memberikanku adik harus laki-laki ya." Zion rupanya menyimak pembicaraan orang dewasa.
"Kenapa harus laki-laki, Zion?" tanya Math.
"Aku tidak mau punya adik perempuan. Takut menyebalkan dan cengeng seperti kak Meysa!"
Jawaban Zion membuat mereka dibuat tertawa terpingkal-pingkal. Kenapa Zion bisa berpikir sejauh itu. Dan mengatai sepupunya itu menyebalkan dan cengeng. Dasar anak ini, kalau bicara suka tak diduga-duga.
"Zion, tidak boleh begitu. Kak Meysa apa menyebalkan? Bukankah Zion yang suka bikin kesal kak Meysa?" tanya Valencia membuat Zion kebingungan untuk menjawab.
"Tidak, Bu. Kak Meysa saja yang tidak mau bermain dengan Zion. Makanya Zion suka menjahilinya," ucapnya jujur membuat mereka ingin tertawa kembali.
"Zion .... Kau tak boleh begitu lagi dengan kak Meysa," tuturnya menasehati putranya. Tak mau putranya menjadi kurang ajar dengan orang lain.
Anak kecil itu mengangguk-ngangguk saja. Mulutnya tak berhenti mengunyah dari suapan sang kakek.
Setelah acara makan malam selesai, Darien mendorong kursi roda ayahnya menuju kamar. Dia membantu ayahnya untuk berbaring.
"Ayah, apa Ayah sedang ada yang dipikirkan?" tanya Darien.
Tiba-tiba Ayahnya mau menginap di apartemennya, pasti ada sesuatu hal.
"Tidak, Darien. Apa kau mau bertanya kenapa Ayah tiba-tiba menginginkan menginap di sini?" tanyanya menebak.
Darien mengangguk, dia ingin dengar alasannya.
"Ayah merindukan kalian," jawabnya.
Selain Math merindukan mereka, dia juga merasa kesepian. Jadi dia tak ingin tinggal di rumah yang hanya dipenuhi oleh pelayan.
"Jawab yang jujur Ayah." Darien mencoba membujuk ayahnya agar mau berkata jujur. Karna dia juga ingin tak ada yang ditutup-tutupi oleh ayahnya.
Math menundukkan kepalanya, menatap keramik yang berwarna gelap itu.
"Darien—" Suaranya terjeda, dia menghela napasnya sesaat. "Ayah merasa kesepian." Itu jawaban yang memalukan, Math jadi malu sendiri. Sudah nasibnya kini hidup sebatang kara tanpa adanya pendamping hidup. Ini mungkin akibat dari perbuatannya dulu.
"Ayah ...." Darien memeluknya, dia tahu apa yang dirasakan ayahnya. "Darien ingin sekali mempersatukan kalian lagi. Tapi ibu—"
"Tidak usah! Kau tidak perlu melakukan apa pun, Darien. Jika Ayah ingin kembali dengan ibumu, biar usaha Ayah saja. Kau tak boleh ikut campur."
Math tak ingin ada campur tangan putranya. Jika dia memantapkan hati untuk merebut kembali hati Luzi, maka ia akan berjuang sendiri. Tapi kini masalahnya hanya ada pada diri Math.
"Tapi Ayah kini tak segagah dulu. Ayah akan merepotkan banyak orang. Selalu merepotkan," ujarnya pesimis.
"Ayah .... Kenapa berbicara seperti itu! Darien tidak suka!"
"Tapi kenyataannya memang seperti itu, Darien! Lihatlah, Ayah sekarang seperti apa? Ayah sakit-sakitan. Tubuh Ayah tak lagi sempurna. Ayah seperti orang yang—"
"Ayah! Ayah jangan pesimis dengan keadaan Ayah sekarang. Seharusnya Ayah harus tambah bersemangat. Darien yakin pasti Ayah bisa meluluhkan hati ibu kembali. Dan Darien yakin ibu masih ada rasa untuk Ayah. Tak mungkin bertahun-tahun menjalani kehidupan rumah tangga lalu rasa cintanya akan hilang begitu saja. Darien tidak percaya!"
Perkataan Darien ada benarnya, membuatnya berpikir dan bersemangat untuk mengejar cinta Luzi kembali. Mungkin ini saatnya ia berjuang lagi.
__ADS_1