ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 89 TIDAK TERIMA


__ADS_3

Baru saja berbaikan semalam tadi, hari ini mereka sudah ribut lagi. Percuma saja Son menggedor-gedor pintu sampai tangannya pegal, Sania tak kunjung membuka pintu. Hingga Bi Ranih menghampirinya, dia menyuruh Son untuk makan malam dan segera istirahat. Biar dirinya yang mengantarkan makanan ke dalam kamar Sania.


Son menjadi tak selera makan, dia memilih untuk segera beristirahat saja. Dia memasuki kamar yang dulu pernah ditempati Sania. Sebuah kamar yang kosong, hanya ada satu tempat tidur dan lemari. Entah dulunya ada beberapa benda disini, dia tidak tahu. Yang pasti kamar ini bukanlah kamar utama, mungkin saja ini awalnya hanya untuk kamar tamu.


"Bi, kira-kira Sania kenapa?" tanya Son dengan wajah kusutnya.


"Kalau kata saya, sepertinya nona Sania cemburu dengan nona Meylin," tebaknya. Son seketika menoleh pada Bi Ranih dengan mengernyitkan dahi.


"Meylin? Memangnya ada apa dengan mereka?" Son sungguh tidak mengerti.


"Tadi pagi kan nona Meylin kemari, Tuan. Dan setelah nona masuk ke dalam, nona Meylin pulang," jawabnya.


"Cerita apa saja si Meylin! Jangan-jangan ...." Son teringat sesuatu, dia akan menghubunginya segera.


"Sepertinya nona Sania tidak suka dengan kedatangan nona Meylin yang ingin bertemu Anda, Tuan," katanya lagi.


Son menarik sudut bibirnya, ternyata istrinya bisa cemburu juga.


***


Dia berjalan dengan gayanya yang angkuh. Memegangi perutnya yang semakin membesar. Juga kepalanya yang kian besar kepala. Menyombongkan diri di rumah mertuanya. Sukanya menyuruh-nyuruh pelayan.


"Pijat kakiku!" perintahnya dengan nada membentak. Dia bersender sambil membaca majalah koleksinya. Tanpa menyadari ada seseorang yang mengamatinya dari jauh.


"Tidak enak! Sudahlah!" Keyla menarik kakinya dan membenarkan posisi duduknya.


"Keyla, apa kau lelah?" Math duduk disebelahnya. Menatapnya dengan seksama. Memang hubungan antara ayah mertua dan menantunya ini tidak terlalu akrab. Walaupun tinggal satu rumah, mereka jarang berbicara.


"Tidak, Yah. Hanya kakiku pegal-pegal sedikit." Dia menutup majalahnya dan menaruhnya di tempat semula. "Ayah belum berangkat ke kantor?" tanyanya. Dilihat Math hari ini hanya memakai kemeja polos dan celana hitam.


"Sebentar lagi Ayah akan berangkat ke kantor," ujarnya.


Kedatangan Luzi membuat mereka berhenti saling bicara. Luzi membawakan cemilan untuk menantunya yang sedang hamil.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu." Keyla senang jika ibu mertuanya sangat perhatian dengannya.


***


Son terbangun dari tidur panjangnya. Dia duduk sejenak dan langsung menuju jendela. Matahari sudah kelihatan dengan sempurna.


"Sial! Aku kesiangan!" kesalnya dan langsung berlari ke kamarnya.


Masih sama, kamarnya masih terkunci. Son berteriak memanggil istrinya untuk segera membukakan pintu.


"Hey! Buka cepat!" teriaknya kesal.


Sania yang mendengar teriakan itu, tak ingin menghiraukan. Tapi tiba-tiba Son berkata lagi. "Aku mau ke kantor. Ini sudah siang!" ucapnya membuat Sania terkejut. Apa suaminya ini akan bekerja kembali?


KLEK!


Pintu dibuka oleh Sania. Dengan cepat Son langsung masuk dan menuju kamar mandi. Melewati begitu saja istrinya yang menyebalkan.


Di dalam kamar mandi, Son menggerutu tidak jelas. Matanya yang sudah bisa melihat malah hidupnya sering mendapatkan masalah.


"Kau mau bekerja? Dimana?" Sania bertanya saat Son baru saja keluar dari kamar mandi. "Ini aku udah siapkan baju untukmu," tunjuknya pada sebuah kemeja dan satu celana. Son meliriknya sekilas dan kemudian memalingkan wajahnya kembali, dia memilih untuk memakai baju yang lain.


"Kau tidak mau memakai ini?" Son hanya diam, perkataan Sania tak dihiraukan. "Baiklah." Sania yang merasa tak dihiraukan memilih keluar.


"Menyebalkan! Harusnya aku yang masih marah. Kenapa dia jadi gantian marah denganku! Seharusnya aku tidak usah peduli dengannya! Dasar!" gerutunya tidak jelas.


"Sania ...." Sebuah suara yang ia kenali, dia menoleh ke belakang. Ternyata ada kakak iparnya di sana. Bukannya kakak iparnya ini sudah tidak tinggal di sini?


"Kak Darien ...." Pria itu tersenyum dan berjalan mendekat. Sania menoleh ke kanan dan ke kiri, takut-takut suaminya tiba-tiba datang.


"Ayo kita sarapan bersama," ajaknya sambil merangkul pundaknya. Sania yang tingginya jauh dibawahnya mempermudah dirinya untuk merangkul pundaknya. Sania terkejut dan berusaha ingin melepaskan, tapi Darien mempererat cengkramannya.


BUGHH ....

__ADS_1


Tiba-tiba dari belakang Son menarik tubuh kakaknya dan memukul Darien hingga kakaknya itu jatuh tersungkur. Darah segar mengalir di sudut bibirnya. Sania membelalakkan matanya takut dengan apa yang dia lihat di depan matanya.


"Son ...." Sania bingung harus bagaimana. Tangannya ditarik oleh Son. Son saat ini dipenuhi oleh emosi, hingga jalannya cepat sekali membuat Sania kesusahan untuk menyamakan langkah kakinya.


"Masuk!" Son menghempaskan kasar tangan mungilnya, menyuruh Sania untuk segera masuk ke dalam mobil. Entah kemana Son akan membawa Sania.


"Ma-mau kemana?" tanyanya takut.


"Cepat masuk!" perintahnya kedua kali.


Sania ketakutan dan akhirnya menurut saja. Son melajukan mobilnya dengan kencang. Sampai Sania memegangi lengan Son merasa takut.


"Jangan ngebut! Jalanan sedang ramai!" ujar Sania mencoba memejamkan matanya, dia begitu ketakutan.


Mobil tiba-tiba berhenti, hingga tubuh mereka berguncang. Sania perlahan membuka matanya. Ternyata mereka berada di sebuah jalanan sunyi. Kanan kirinya hanya ada pohon-pohon tinggi seperti hutan.


"Dimana ini?" Son tak menjawabnya, dia membuka pintu mobilnya dan turun. Dia berjalan memutar untuk membuka pintu mobil Sania.


"Turun!" perintahnya masih dengan emosinya.


"Kau mau meninggalkan aku disini?" tebaknya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, dia benar-benar takut. "Jahat sekali!" ucapnya dan air matanya menetes. Istrinya memandanginya dengan sinis, tidak percaya dengan sikapnya yang terlalu jahat menurutnya.


"Kau ini sudah salah, tapi tidak mau mengaku salah! Dan ditambah sukanya menuduh!!! Aku lapar, aku mengajakmu untuk makan disebuah rumah makan yang ada di dalam sana. Kau ini pikirannya selalu buruk tentang aku!" Son mendecak sebal, dia akhirnya memilih berjalan lebih dulu. Meninggalkan Sania yang kebingungan di jok mobil. Sania mengendarkan pandangannya, mencari adanya sebuah rumah makan di sekitar sini.


"Ini hutan! Mana ada rumah makan?"


Dia lihat Son sudah berjalan jauh, dia kemudian berlari menyusulnya tak lupa ia menghapus air matanya. Membenarkan wajahnya agar tidak terlihat kusut.


"Tunggu ...." teriaknya sambil berlari. Suaminya kalau jalan cepat sekali seperti raksasa saja.


Dan akhirnya sebuah gedung yang besar terlihat di depan matanya. Dilihat dari depan kelihatan sepi, mungkin saja karena hari masih pagi.


"Apa sekarang kau percaya?" Son menatapnya. Sania perlahan mengangguk.

__ADS_1


"Maaf," ucap Sania dengan wajah memelas.


"Aku ini memang selalu terlihat jahat di matamu. Beda dengan kakak ipar kesayanganmu. Dia selalu terlihat baik di matamu. Sekali pun dia berani kurang ajar terhadapmu!" Kata-kata Son begitu menusuk, Sania hanya bisa diam saja.


__ADS_2