
"Istirahat lah. Jangan pernah berpikir untuk berpisah denganku. Yang perlu kau tahu, aku adalah Math. Aku bisa melakukan apa saja dengan tanganku sendiri," ucapnya terakhir kali sebelum ia meninggalkan ruangan.
"Dia tadi bilang apa? Mau berubah? Cih ... Tak mungkin!"
Pintu terbuka, dan masuklah pria tampan yang dikenal sebagai anak paling mandiri.
"Darien ...." Luzi masih dengan suara lemasnya tersenyum senang saat melihat putra keduanya.
"Ibu ...." Darien mencium tangannya, dia benar-benar takut kehilangan ibunya. Melihatnya yang sudah sadar, ia begitu lega sekarang. "Ibu, kenapa Ibu seperti ini. Aku tidak mengenali Ibu yang seperti ini." Tak menyangka bahwa Luzi bisa senekat seperti ini. Sebenarnya ada masalah apa?
"Darien, Ibu hanya salah minum obat. Maafkan Ibu yang telah membuatmu khawatir," ujarnya memberi penjelasan. Tapi Darien tak lantas percaya.
"Ibu tolong jujur pada Darien. Ada masalah apa sebenarnya? Aku tidak mau ada rahasia di antara kita berdua. Darien ini anak Ibu, kan?" Dia memaksa Luzi untuk berkata jujur, tapi Luzi tak mungkin menceritakan yang sebenarnya.
"Darien, kepala Ibu masih sangat pusing. Ibu istirahat dulu ya." Luzi berdalih merasakan pusing, agar Darien tak membahas lanjut pertanyaannya itu.
"Ya, Ibu harus banyak istirahat. Ibu jangan melakukan ini lagi. Aku mohon." Dia mengatupkan kedua tangannya berharap Luzi tak melakukan hal bodoh ini lagi.
***
Hari menjelang sore. Kini ia sedang memegang sebuah sapu untuk membersihkan halaman depan.
"Nona, tunggu tuan Son di dalam saja. Ini biar Pak Mail yang lanjutkan." Pria beruban itu menghampiri Sania dan berusaha merebut sapu di tangannya. Tapi Sania menolak, menurutnya tidak apa-apa hanya menyapu saja tidaklah berat.
"Sebentar lagi pasti suamiku datang," jawabnya.
Dan benar saja, sebuah mobil mewah masuk ke halaman. Sania berjalan menghampiri suaminya itu. Dia senang akhirnya suaminya pulang.
"Aku sudah masak banyak untukmu. Enak-enak juga." Baru saja keluar dari mobil, Sania seperti wartawan saja yang tak berhenti bicara
"Apa kegiatanmu seharian ini?" tanyanya sambil berjalan beriringan.
"Tadi aku tidur seharian. Hehe." Lagi pula dia mau melakukan apa, semuanya telah dikerjakan Pak Mail dari pagi buta. "Oh ya, setelah kita makan, kita jenguk ibu yuk. Kata kak Darien, ibu sudah sadar." Hampir saja mencapai pintu kamar, langkah Son tiba-tiba berhenti. Dia menengadahkan tangannya, meminta sesuatu untuk diberikan padanya.
"Apa? Kau minta apa?" tanya Sania tak mengerti.
"Ponselmu!" Sania mengernyitkan dahi, untuk apa suaminya ini meminta ponselnya. Bukankah dia juga memiliki ponsel?
__ADS_1
"Ini ponselmu?" tanya Son sambil memasang ekspresi tak percaya. Bagaimana mungkin jaman sekarang, seseorang masih memiliki ponsel yang tidak upgrade.
"Iya, kenapa? Ponselku jelek? Memang!" kesalnya karena ponselnya dihina.
"Besok ganti!" ucapnya dan membantingnya ke lantai hingga pecah berserakan.
"Hey! Apa yang kau lakukan? Ya Tuhan. Ini ponselku." Sania langsung memunguti pecahan ponselnya, merasa sayang dengan ponselnya yang masih bagus digunakan walaupun sedikit lemot.
"Jelek! Tidak layak pakai. Besok ganti yang baru dan kartu baru! Dan yang harus kau tahu, di ponselmu dilarang tersimpan kontak pria kecuali ayah, paman dan juga pak Mail!"
"Oh begitu, jadi aku hanya bisa menyimpan kontak pria tiga saja? Baiklah berarti nomermu akan aku hapus!" ucapnya santai. Tak tahu bahwa Son memelototinya.
"Aku ini spesial! Tak perlu nomerku disimpan di dalam ponsel, cukup di dalam hatimu saja," gombalnya.
Sania memutar bola matanya jengah, merasa aneh dengan ucapan suaminya yang terkadang bisa romantis juga.
"Apa kau cemburu tadi aku dapat pesan dari kak Darien? Dia hanya memberitahuku saja kalau ibu sudah—"
"Diam lah! Jangan sebut nama itu di depanku!"
.
.
.
"Son, Sania .... Apa kalian mau menginap malam ini?"
Son langsung menggeleng. Dia beralasan akan menjenguk ibunya di rumah sakit dulu dan kemudian mereka kembali ke rumah.
"Nyonya Luzi sedang sakit?"
Math tiba-tiba bangkit dari duduknya, dia menuju ruang belakang.
"Son, nanti tolong bawa ini. Sampaikan salam saja untuk nyonya Luzi."
Paman Raul mengambil satu kotak bolu yang barusan ia beli di perjalanan menuju kesini. Semoga bentuk perhatiannya bisa membuatnya tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Pakai ini!" Son memberikan jasnya untuk dipakai Sania. Karna udara dingin pada malam hari tidak baik untuk tubuh.
Mereka saat ini sudah sampai di rumah sakit. Bergandengan tangan hingga ia berhenti tepat di depan sebuah ruangan yang tertutup.
"Son, Sania, kalian kesini lagi?" Math tiba-tiba datang entah dari mana.
"Iya, Yah. Kita mau menjenguk ibu. Kata kak Darien, ibu sudah sadar." Son memilih duduk di kursi, sedangkan Sania masih berdiri dengan Math.
"Masuk saja, Sania. Ibu sepertinya belum tidur. Di dalam ada Darien." Mendengar nama itu Son langsung bangkit. Tak mau membiarkan istrinya masuk ke dalam sendirian. Dia harus mengawasi tiap gerak gerik dari kakaknya itu. Bisa jadi dia mulai kurang ajar lagi.
"Permisi ...." Sania perlahan membuka pintu. Dan benar saja, di sana sudah ada Darien. Pria tampan itu terkejut dengan kehadiran mereka.
"Sania ...." Bibirnya memanggil nama menantunya tapi tatapannya mengarah pada Son yang tak hentinya memandangi istrinya.
"Ibu, sebenarnya apa yang terjadi. Sania sangat khawatir." Mendengar Luzi yang overdosis obat, dia tak percaya bahwa itu sebuah kecelakaan. Ini pasti sebuah kesengajaan.
"Sania, Ibu hanya salah minum obat," jawabnya menutup-nutupi.
"Ibu ...." Sebenarnya Sania tidak percaya, tapi tak mau membuat ibu mertuanya kelelahan akhirnya dia diam saja.
"Ibu baik-baik saja, Sania." Luzi tersenyum lebar, tak mau membuat anak-anak merasa khawatir. Dia juga berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi.
"Sania, apa kau sudah makan? Jika belum, aku mau mengajakmu pergi ke kantin." Mendengar ajakan dari Darien pada istrinya, membuat Son menggeram kesal. Dia mengepalkan tangannya ingin langsung menghajarnya tanpa ampun.
Luzi menatap ketiganya bergantian. Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi pada mereka bertiga?
"Darien, kau mau makan? Makanlah dulu," suruhnya kemudian.
"Aku sedang mengajak Sania, Bu." Darien sepertinya sengaja membuat Son marah, hingga suaminya itu tak bisa menahan amarahnya dan menarik kerah kaosnya.
"Coba katakan sekali lagi!" ucapnya bergetar bersamaan emosinya yang menggebu-gebu.
"Lepas! Jangan buang-buang tenaga. Aku tidak akan menculik istrimu. Tenang saja. Tapi selagi Sania nyaman di sisimu, aku tidak akan mengusiknya."
"Omong kosong!"
BUGH.
__ADS_1
Satu pukulan mendarat di wajah Darien. Luzi tak kuasa melihat perkelahian mereka.