
Wanita paruh baya itu menatap dirinya lamat-lamat di depan cermin. Kulit wajahnya masih kencang, padahal dia jarang perawatan. Melihatnya di cermin, dia mengagumi diri sendiri.
"Sania pergi dari rumah dari kemarin. Coba kau hubungi dia. Barangkali dia mau mengangkat panggilan mu." Math tiba-tiba masuk dan mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Hah? Apa kau bilang?" Dia meletakkan sisirnya dan berjalan menghampiri suaminya yang berdiri di dekat pintu.
"Hubungi Sania sekarang!" suruhnya cepat.
"Kenapa bi—"
"Apa kau tuli?" Math menatapnya tajam. Tak suka jika ada yang membantah perintahnya.
"Hallo, Sania?" panggilnya saat panggilannya terhubung. Math langsung bangkit kembali dari duduknya. Secepat itu Sania mengangkat telfon dari Luzi.
"Oh begitu. Baiklah, Sania. Ibu sekarang merasa lega." Luzi menutup telfonnya dan Math meminta penjelasan darinya.
"Sania sekarang ada di rumah pamannya sekarang. Dan—"
"Aku akan mengabari Son sekarang," potongnya.
"Aku belum selesai bicara," ujar Luzi. Tapi Math tak menghiraukannya, ia malah sibuk mencari ponselnya yang tak tahu ia letakkan dimana. "Sania sedang bersama Son sekarang!" teriak Luzi. Dia begitu kesal dengan suaminya yang selalu membutuhkannya disaat susah, dan akan membuangnya ketika tak dibutuhkan lagi.
Hatinya seakan menjerit meminta keadilan untuk rumah tangganya. "Aku lelah."
Luzi memilih membaringkan tubuhnya. Tak ingin berbicara dengan suaminya lagi. Lebih enak tidur pikirnya.
Setelah mendengar bahwa Son sekarang sudah bersama Sania, Math bisa bernapas lega. Dia mengharapkan bahwa hubungan keduanya akan lekas membaik.
***
__ADS_1
Tak ingin segera pagi, Sania masih ingin memejamkan matanya kembali. Dia tak sanggup jika harus terbangun. Dia tak mau melihat wajah-wajah penghuni rumah ini. Dia merasa malu sekarang. Berkali-kali dia mencoba memejamkan matanya kembali, tapi sepertinya ini sudah waktunya dia harus bangun. Waktu untuknya istirahat sepertinya sudah cukup. Kejadian yang melelahkan semalam tadi membuatnya ingin guling-guling di atas ranjang. Memalukan sekali.
"Apa kau siap?" Matanya mengerjab dan perlahan mengangguk. Sebagai seorang istri yang dinikahi secara sah di mata agama dan negara, dia sudah siap menyerahkan semuanya yang ia miliki pada suaminya.
Setelah Sania berpikir, ini waktunya dia membuat hidupnya lebih berarti. Tak ingin juga orang-orang berpikiran bahwa pernikahannya tak bahagia. Melihat anak-anak dari Sarah, membuatnya ingin segera memiliki seorang anak.
Setelah perdebatan tadi, Son dan Sania sekarang mulai melunak satu sama lain. Juga Son yang mau menurunkan egonya untuk mendengarkan segala keluh kesah Sania selama ini.
"Aku memang gadis remaja belasan tahun yang tak tahu apa-apa. Tapi saat aku memutuskan untuk menikah denganmu, tak ada terbesit di pikiranku untuk berpisah denganmu. Aku sudah memilih kamu sebagai jalan takdirku. Aku harap kehidupanku kedepannya akan berubah menjadi indah. Setelah selama ini kehidupanku terasa suram saat kepergian kedua orang tuaku."
Mendengar Sania yang bercerita, dia benar-benar merasa menyesal sekarang. Segala perlakuan buruknya terbayang-bayang terus di otaknya.
"Aku memang belum mengenalmu lebih dalam. Tapi apa salahnya mulai sekarang kita berteman," usul Sania.
"Tidak mau!" Son menolak keras. "Apa-apaan berteman! Tidak! Tidak mau!" jawabnya.
"Hmm baiklah terserah!"
Son menyentuhnya dengan lembut, membuat getaran di tubuhnya semakin membuatnya tersiksa.
"Apa kau siap?" tanyanya berulang kali. Sania mengangguk pertanda mengiyakan.
Son mulai menaiki tubuhnya, menindihi tanpa menyakiti. Menyibakkan rambutnya yang menutupi wajahnya sebelah. Melihat wajahnya yang manis, benar-benar membuat candu.
Dinding-dinding kamar seakan menjadi saksi betapa canggungnya mereka berdua. Son ingin melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Tak ingin menundanya terus menerus. Dia pria yang normal, sudah tentu dia meminta kepuasan batin.
Bibirnya mereka bertemu untuk kesekian kalinya. Menyapanya sampai ke dalam, membuat Sania membuka mulutnya mempersilahkan untuk bertamu. Ciuman panas itu terjadi berlangsung lama. Hingga Sania hampir saja kehabisan napas, dia memukul-mukul lengan suaminya meminta untuk segera berhenti.
Gejolak napsu yang ia rasakan mengundang Son tak ingin berlama-lama dalam pemanasan tadi. Dia menarik dress yang ia pakai, dan melorotkannya sampai ke bawah. Sania awalnya menutupi tubuhnya. Ini pertama kalinya tubuhnya dilihat oleh seseorang. Ada perasaan bangga karna tubuhnya pertama kali hanya dilihat oleh suaminya.
__ADS_1
Selimut ia tarik untuk menutupi tubuh keduanya yang saat ini sudah polos tanpa sehelai benang pun. Sania hanya mampu memejamkan mata saat beberapa sentuhan ia rasakan di tiap tubuhnya. Ia bahkan menggelinjang saat Son memainkan sesuatu di dalam Sana. Rasa kenikmatan yang belum ia rasakan sebelumnya. Ia ingin mengeluh nikmat, tapi terlalu malu diutarakan. Dan setelah sekian lama bermain dengan tubuhnya, akhirnya pertahanannya ia lolos juga. Son benar-benar bermain dengan lembut, membuat Sania merasa nyaman. Dia mendekap erat tubuhnya, merasakan aroma khas dari tubuhnya. Menyenderkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Dia benar-benar beruntung sekarang.
"Melamunin apa!" Sania terjingkat kaget saat Son menepuk pundaknya dari samping. Son habis mandi, terlihat ia hanya memakai handuk dengan rambut yang masih basah. "Membayangkan semalam?" tebaknya.
Sania terpergok sedang memikirkan kejadian semalam. Dia benar-benar malu sekarang, pipinya langsung berubah merah seperti tomat.
"Mau lagi?" godanya.
Sania yang masih merasa malu, langsung turun dari ranjang dan berniat langsung ke dalam kamar mandi.
"Awwww ..." pekiknya karna ia lupa, bahwa selangkangannya masih sakit. Dia tidak bisa bergerak bebas dulu.
"Kenapa? Apa yang sakit?" Son langsung menghampiri istrinya. Terlihat sangat khawatir.
"Tidak. Aku mau mandi." Melihat Sania yang kesusahan berjalan, Son tiba-tiba menggendongnya dan mengantarkannya ke dalam kamar mandi.
"Hey! Apa-apaan!" Sania terkejut dengan perlakuan dia yang tiba-tiba. Jantungnya hampir saja copot karna ulahnya.
Dan di dalam sana, Sania tetap saja memikirkan tentang suaminya. Dia masih ingat dengan kata-kata manis suaminya malam tadi. Seorang Son yang dingin, bisa jadi menjadi sweet seperti laki-laki pada umumnya.
"Sania, kau gadis yang bodoh! Mau-maunya menikah dengan pria buta! Tapi aku yang lebih bodoh, aku sepertinya terjerat dengan ikatan cinta yang kau bentang selama ini. Aku ikut tertali bersamamu. Aku tak ingin adanya perpisahan, bagiku cukup beberapa hari ini tanpamu. Aku ingin kita selalu bersama."
"Ahhhhh .... Manisnya ...." Sania memegangi kedua pipinya. Dia benar-benar bahagia. Tak menyangka bahwa Son telah jatuh hati padanya. Walaupun pria itu tak mengutarakan dengan jelas rasa cintanya pada Sania. Tapi perkataannya sudah cukup bukti jika Son jatuh hati padanya.
"Dia menyukaiku? Dia mencintaiku? Dia jatuh hati padaku? Aaaaaa .... Aku tidak percaya!"
Sania tersenyum-senyum sendirian di dalam sana. Memiliki seorang suami seperti Son, seperti sebuah keberuntungan.
"Suamiku adalah pria yang tampan. Aaaaaa .... Benar-benar tidak percaya!"
__ADS_1
Sania seperti orang gila. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Son seorang.