ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 129 USAHA MATH


__ADS_3

Sania kembali ke tempat dimana ia meninggalkan suaminya. Banyak berjejer pedagang kaki lima yang ramai dengan pengunjung. Dia kesulitan mencari dimana suaminya. Ingin menghubunginya tapi ia gengsi. Biar saja suaminya ini mengira bahwa Sania tak akan menjemputnya.


"Nona, itu tuan Son." Pak Sopir menunjuk pria tampan yang duduk disebelah kedai makanan. Tampak wajah pria itu kebingungan. Apalagi disebelahnya ada bapak-bapak yang terus saja mengajaknya berbicara. Sania paham kalau Son merasa tidak nyaman disitu. Ia tak pandai bersosialisasi dengan orang asing.


"Bapak yang turun dan jemput suami saya," perintahnya pada Pak Sopir.


Pak Sopir berjalan menghampiri majikannya. Entah apa yang sedang mereka bicara, dari kejauhan Sania melihat keduanya sedang berbicara serius cukup lama. Dan pada akhirnya Pak Sopir kembali tanpa membawa Son.


"Pak, kenapa sendirian? Suami saya tidak mau pulang?" tanya Sania dengan segala keheranannya.


"Tuan Son inginnya Anda yang menjemputnya, Nona," ujarnya membuat kening Sania berkerut lalu ia berdecak sebal.


"Tingkahnya semakin kaya anak kecil!" gerutunya sambil turun dari mobil. Dengan langkah tegasnya ia berjalan menghampiri suaminya. Semua mata memandang ke arahnya. Karna mereka terpesona akan kecantikan yang Sania miliki.


"Kau tidak mau pulang?" Sania bertolak pinggang sambil matanya melotot.


Pemandangan yang langka, seorang istri cantik menjemput suami yang tampan. Mereka mengalihkan perhatiannya semua pada sosok suami istri itu.


"Mau, sayang. Kenapa kau meninggalkanku?" Son memasang wajah memelasnya.


"Kau masih tanya kenapa aku meninggalkanmu?" Ia memutar bola matanya jengah.


"Ssstttt, jangan keras-keras, sayang."


Seketika kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, semua mata masih tertuju pada mereka. Dengan kesabaran yang luas, Sania akhirnya meredamkan emosinya sedikit.


"Ayo, pulang." Sania meraih tangannya dan menggandengnya sambil berjalan. Son seperti anak kecil saja yang dijemput ibunya untuk pulang.


"Aku tidak enak dengan paman Raul dan Maria. Kau kenapa tidak datang ke acara pertunangan Maria!" Di dalam mobil Sania memarahi suaminya. Dia benar-benar kesal dengan sikapnya hari ini.

__ADS_1


"Sayang, kau kan meninggalkan ku," jawabnya santai.


"Apa disini tidak ada taxi? Lalu banyak sopir di rumah dan kenapa kau tidak mau dijemput oleh sopir di rumah? Kau ini benar-benar—" Sania menjeda kalimatnya, dia menarik napas panjang-panjang. "Jangan seperti anak kecil!"


"Sayang, aku kan ingin selalu bersamamu," ujarnya manja.


"Cih .... Jangan memberiku gombalan. Kau ini sudah tua!" Sania melemparkan tas ke arahnya. Benar-benar kesal dengan sikap tak bersalahnya.


Son tiba-tiba memeluknya, membuat Sania berontak ingin lepas. Tapi Son semakin erat memeluknya membuat Sania akhirnya pasrah jatuh ke pelukannya. Seketika emosinya redam, dia akhirnya mengalah. Dia tak lagi memarahi suaminya.


***


Tanaman bunga yang sudah beberapa bulan ini ia rawat dengan baik. Tak ada bosannya memandangi warna-warni bunga yang indah.


"Nyonya, di luar ada tuan Math," ucap seorang pelayan membuatnya berhenti menyirami tanaman. Telinganya masih sehat, kan? Apa tadi? Math datang ke rumah?


Luzi meninggalkan tanamannya begitu saja, ia lekas membersihkan tangannya dan menghampiri Math. Untuk apa pria paruh baya itu datang lagi kesini?


"Ini untukmu," ujarnya dengan wajah berseri-seri. Luzi menerimanya dengan senang hati. Hatinya berbunga-bunga sekali.


"Kenapa kau memberikanku bunga?" tanyanya. Tak menyangka Math akan bersikap seromantis ini.


"Selama ini aku sering memberikanmu bunga. Tapi tak ada kartu ucapannya. Dan kali ini ada kartu ucapannya. Eitsss, tapi dibacanya nanti setelah aku pulang." Luzi hampir saja membuka kartu ucapan itu dan akhirnya ia menurut untuk membacanya nanti.


Dan tak berapa lama Math pulang, dia takut membuat Luzi tak nyaman dengan kehadirannya. Saat Luzi menemani Math sampai halaman, terlihat mobil Son datang.


Math menghentikan langkahnya menunggu putranya keluar dari mobil. "Ayah disini?" tanya Son setelah turun dari mobil. Matanya bergantian memandangi ayah dan ibunya.


"Iya, Son. Tapi Ayah mau pulang," jawabnya.

__ADS_1


"Kenapa buru-buru, Yah. Ayo masuk dulu."


Math menggeleng. "Tidak, Son. Ayah mau pulang. Mau istirahat."


Son akhirnya mengiyakan ayahnya untuk pulang, tak bisa memaksakan ayahnya untuk tetap disini. Andai saja keduanya masih menjadi pasangan suami istri pasti Son akan menyuruh keduanya untuk tinggal disini.


Sania yang menghampiri Luzi, dia sempat menanyakan tentang Math yang datang ke rumah. "Ayah tadi kesini untuk menemui Ibu saja?"


"Iya, Sania. Math memberikan buket bunga." Matanya berbinar-binar melihat buket bunga yang cantik. Ibu mertuanya juga tak berhenti memuji buket bunga yang indah itu.


Sania mengerti bahwa Math sedang berusaha merebut hati Luzi kembali. Andai dia bisa membantu, pasti akan ia bantu.


Dengan rasa tak sabar Luzi membuka kartu ucapan tersebut. Tulisan yang agak panjang. Membuatnya semakin penasaran membaca kata demi kata.


"Luzi .... Istriku yang kedua. Wanita hebat ku. Wanita sabar ku. Wanita pengertian ku. Wanita yang selalu ada di setiap suka duka ku. Aku berterimakasih untuk semuanya. Tentang semua hal yang pernah kau lakukan untukku. Demi alam semesta dan seisinya, aku menyayangimu. Aku mencintaimu. Maaf jika rasa ini terlambat, tapi lebih terlambat lagi jika aku sama sekali tak menyampaikan rasa ini. Aku memang tak pantas untukmu. Sekarang aku lemah, aku sakit, aku tak berdaya sedangkan kau masih terlihat segar. Luzi .... Tak banyak kata yang aku ucapkan untukmu. Jika kau masih mau menerima cintaku. Tolong datang besok pagi jam 9 di taman dekat rumah."


"Dasar menggelikan!" Luzi dibuat merinding setiap membaca tulisan tangan Math. Rasanya seperti remaja saja yang dimabuk asmara. Seharusnya tidak perlu ketemuan segala, sangat memalukan. Bagaimana jika putra-putranya membaca surat ini. Sudah tentu mereka juga akan merasakan geli bersamaan.


Tapi tiba-tiba bibirnya melengkungkan senyuman. Ungkapan cinta pertama kali dari Math untuknya. Walaupun sulit untuk menghapuskan luka yang dulu, tapi ia hargai keberanian Math.


***


Hari yang ditunggu-tunggu Math. Sudah sedari jam 9 kurang ia sudah duduk di bangku taman. Menunggu seseorang yang ia yakin pasti akan datang. Tak peduli seberapa bosan dirinya di sana dan tak peduli juga seberapa lama ia menunggu.


"Ini sudah jam 9." Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia yakin sebentar lagi sosok wanita pujaannya akan datang.


Matanya tak berhenti melihat satu persatu orang yang berjalan. Dia berharap salah satu orang disini adalah dia.


"Luzi ...." Dia menangkap sosok Luzi yang masih jauh dari tempatnya duduk.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba seorang pria paruh baya datang menghampiri Luzi. Membuatnya sedikit sakit hati melihatnya.


__ADS_2