ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 95 MENYADARI


__ADS_3

Bayi itu sepertinya nyaman berada di pelukannya. Sania menatapnya tak henti. Bayi mungil itu tertawa setiap kali dirinya mencoba mengajaknya berbicara.


"Sania, apa kau belum hamil?" tanya teman dari Maria itu. Sebenarnya mereka itu adalah teman sekolah, hanya saja tidak terlalu akrab.


Sania menggeleng. Dia baru saja merasakan sebagai istri sungguhan juga baru beberapa hari ini. Jika dari dulu Son menganggapnya, kemungkinan dia punya kesempatan hamil sedari dulu. Memang terkadang membayangkan bagaimana melahirkan itu terasa menakutkan, tapi memiliki anak sepertinya menyenangkan. Dia tidak akan kesepian lagi di rumah.


"Bentar ya, aku buatkan minum untukmu, Sania." Maria pamit ke dapur lagi, dia tidak tahu jika Sania datang. Sania menyusul Maria, setelah ia mengembalikan bayi mungil itu kepangkuan ibunya.


"Maria, aku ingin berbicara sebentar denganmu," ucapnya. Maria membalikkan badannya, terkejut dengan suara tiba-tiba dari Sania.


"Ada apa, Sania?" tanya Maria sambil menuangkan sirup ke dalam gelas lalu ia isi dengan air dan perlahan ia aduk. Tak lupa memasukkan potongan kecil es batu. Segar sekali.


"Aku ingin kuliah. Apa syarat untuk mendaftar kuliah?" Dia tersenyum lalu menjelaskan satu persatu. Dia juga menanyakan tentang Son yang apa mengijinkannya atau tidak. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk Sania, dia tidak kehilangan masa mudanya untuk menuntut ilmu. Jika ini pilihan hidupnya, Maria hanya bisa mendoakan yang terbaik.


"Baiklah, terima kasih. Nanti aku siapkan dulu berkas-berkasnya."


Di ruang tamu, mereka bertiga saling bercerita satu sama lain. Maria yang diejek karna masih juga sendiri, merasa kesal.


"Maria, kapan kau punya kekasih? Sepertinya Jeffry menyukaimu," ujar temannya itu. Dia mengedipkan mata pada Sania. Sania mengangguk pertanda setuju atas ucapan teman Maria itu.


"Aku dengan dia hanya sebatas teman. Tidak lebih," jawabnya seraya memalingkan wajah.


"Kalian sering menghabiskan waktu berdua. Apa mungkin itu yang dinamakan sebatas teman? Kalian pasti saling menyukai. Hanya saja tidak ada yang berani mengungkapkan," tebaknya.


Maria terdiam, sudah lama memang mereka sering pergi berdua bahkan Jeffry setiap hari mengantar Maria ke kampus. Jeffry memang pria yang baik juga tampan.

__ADS_1


"Hey! Kenapa melamun!" tepuknya pada lengan Maria. Gadis itu menggeleng, dia tidak sedang melamun hanya saja kepikiran dengan Jeffry. "Kau menyukai Jeffry, kan? Kau juga jangan pasif. Kau seharusnya memperlihatkan padanya kalau kau menyukainya. Tunjukan pada dia," usulnya kemudian.


"Ah, sudahlah. Kenapa jadi memojokkan aku seperti ini. Aku saat ini hanya ingin fokus kuliah saja!" ucapnya.


"Kau ada dimana? Sudah di rumah, kan?"


Satu pesan masuk ke ponselnya. Dia tersenyum saat membacanya. Ternyata Son masih peduli dengannya.


"Hey! Balas. Kenapa hanya dibaca saja!"


Son selalu tidak sabar, dia ingin mengetikkan balasan tapi Son selalu menuduhnya yang tidak-tidak. Kenapa tidak bisa bersabar sebentar saja?


"Aku sekarang berada di rumah paman Raul. Sebentar lagi aku akan pulang ke rumah."


Baru saja mengirimkan balasan, pesannya cepat sekali dibaca. Terlihat Son sedang mengetikkan sesuatu.


***


Setelah sekian lama kehilangan kesadarannya, ia mulai membuka matanya perlahan. Menyesuaikan dengan cahaya lampu di sebuah ruangan yang sunyi. Tubuhnya terasa tak berdaya. Memiringkan kepalanya saja terasa berat. Seseorang yang tertidur dengan posisi duduk terlihat begitu kelelahan. Dia menatap tangannya yang diinfus. Dia masih selamat.


Bayangan menakutkan yang terjadi malam itu, membuatnya sedikit trauma. Kepalanya terasa pusing, pusing yang tak bisa ia tahan. Bersamaan perutnya yang sakit. Juga napasnya yang sesak.


"Math ...." panggilnya lirih pada sosok pria yang masih memejamkan mata itu. Pria itu tak mendengar, sepertinya masih berada di alam mimpi.


Dia menggerakkan sedikit badannya tapi rasanya tidak kuat. Bahkan untuk mengambil segelas air di atas meja. Tenggorokannya terasa kering. Mungkin karna terlalu lama ia kehilangan kesadaran.

__ADS_1


"Biar aku saja!" Math tiba-tiba bangun, dia melihat istrinya yang ingin menjangkau gelas. Dia bergerak cepat hingga Luzi beralih menatapnya. "Kau haus?" Math menyodorkan gelas berisi air itu pada Luzi, tapi melihatnya yang masih lemah, dia membantu Luzi untuk minum. "Sudah?" tanyanya dengan gelas masih berada di tangannya, istrinya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Math menarik kursi dan duduk di sebelahnya. Menatapnya dengan seksama. Wajah wanita yang tak pernah berubah seiring berjalannya waktu. Luzi adalah wanita yang pandai merawat diri. Dulu pilihan dia untuk menikahi Luzi, itu karna kecantikan dan kesabarannya. Luzi adalah sahabat dari Renata-istri pertamanya. Sejak kepergian Renata, Luzi lah yang merawat Rico. Hingga suatu ketika dia kepikiran untuk menikahi Luzi.


"Tadinya aku mau memarahi mu. Apa yang kamu lakukan ini sangat membahayakan semuanya. Bukan hanya kau, tapi semua orang di rumah. Bahkan keluarga kita akan tercemar tidak baik. Orang-orang melihat kita keluarga yang harmonis, keluarga yang bahagia, tapi dengan adanya kejadian ini semua orang pasti akan bertanya-tanya." Dia menyentuh tangan istrinya yang terasa dingin, menggenggamnya erat.


"Memang kenyataannya seperti itu," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Luzi sudah tak sanggup menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini. Tadinya dia bisa bertahan karena adanya anak-anak, tapi setelah satu persatu putranya menikah, dia merasa kesepian. Tak ada lagi yang bisa ia ganggu, semuanya sudah sibuk dengan pasangan masing-masing.


"Apa yang kau ucapkan? Kau tidak bahagia menikah denganku?"


"Tidak!" jawabnya cepat. Air matanya lolos dan ia langsung memalingkan wajahnya kembali. Hatinya begitu sakit, selama bertahun-tahun menahan sakit hatinya.


"Jika tidak, kenapa kau bertahan selama ini? Dan apa yang aku berikan padamu itu kurang?"


"Aku manusia bodoh memang. Bisa sebodoh ini bertahan sampai sekarang. Dan apa yang kau telah berikan padaku tak ada yang kurang. Semuanya bahkan lebih dari cukup. Aku cukup berterima kasih untuk itu," jawabnya menggebu.


"Lalu apa mau mu sekarang?" tanyanya. Kini Math melepaskan genggaman tangannya, dia mulai terpancing emosinya.


"Berpisah! Mungkin itu lebih baik." Lagi-lagi Luzi meloloskan air mata sucinya. Dia benar-benar benci dengan air mata yang selalu jatuh di waktu yang salah. Dia tak mau menangis. Apalagi untuk menangisi pria itu.


Math bangkit, dia memegang dagunya dan membuat matanya menatapnya. Bibir pucatnya kini menjadi pusat perhatiannya, dia sudah lama tidak merasakan bibir manisnya.


CUP.


Math mengecup bibirnya dengan tiba-tiba. Luzi hanya bisa bengong melihat Math yang bertindak seperti itu.

__ADS_1


"Kau tetap milikku. Tak akan ada yang bisa memisahkan kita. Tetaplah di sisiku. Aku janji akan berubah," ucap Math dan kini beralih mencium keningnya. Ada perasaan bergetar, Luzi seperti mimpi.


"Ma-maksudmu?" tanya Luzi hampir tak percaya.


__ADS_2