ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 105 DARIEN MENIKAH


__ADS_3

1 bulan kemudian ....


Pesta meriah yang diadakan di sebuah gedung di pusat kota. Banyak kalangan penting yang hadir hanya untuk menyaksikan pasangan berparas tampan dan cantik itu. Senyuman yang tercipta dikedua bibir mereka memperlihatkan betapa bahagia keduanya. Mereka berdiri tak berhenti menyalami beberapa tamu yang datang untuk memberikan ucapan selamat atas pernikahannya.


Pasangan yang sempurna, sangat mewakili keduanya. Tapi ada pemandangan haru di atas panggung resepsi itu. Tak ada keluarga dari pihak perempuan yang berada di sebelahnya, hanya ada orang tua dari pihak laki-laki.


"Dia gadis yatim piatu." Hampir semua orang mengetahui tentang asal usul Valencia, yang mulanya adalah sekretaris Darien.


Darien sangat mengerti perasaan wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya, dia berjanji tak kan melepaskan wanita ini. Berharap kehidupan rumah tangganya selalu diberi keberkahan dan kelancaran.


"Aku mencintaimu," bisiknya tepat di telinga Valencia yang sedang melamun. Dia teringat akan kedua orang tuanya yang telah lama tiada.


Valencia tersipu malu dan menatapnya dengan canggung. "Aku juga mencintaimu," balasnya kemudian.


Disaat mereka sedang saling melemparkan gombalannya, tampak sepasang suami istri dengan pakaian yang senada berjalan mendekat.


"Aku tidak mau!" Son menolak untuk naik ke atas menyalami kakaknya dan istrinya. Tapi Sania terus menarik tangannya agar mau menemaninya naik ke atas panggung.


"Jika kau tidak mau, aku juga tidak mau menghabiskan malam denganmu lagi!" ancamnya kemudian membuat Son membulatkan kedua matanya. Dia kemudian pasrah, dengan langkah malas dia akhirnya mau naik ke atas.


"Ucapkan selamat pada kak Darien. Kalian harus berbaikan!" Sania tak segan-segan mencubit lengannya, rasanya gemas sekali dengan suaminya ini. "Ayo, cepat!" suruhnya saat mereka hampir sampai.


Darien dan Valencia memandangi mereka. Sania berjalan di belakangnya dan mendorong suaminya perlahan.


"Selamat!" ucapnya cuek seraya membuang muka.


"Selamat atas pernikahan Kakak. Sania doakan semoga pernikahan Kakak langgeng sampai akhir hayat." Sania menyalami Darien dan Valencia bergantian. Sedangkan Son melangkahkan kaki ingin segera turun, tapi Sania tak membiarkan itu. Dia menarik tangan suaminya agar mau berjabat tangan dengan Darien.


"Son mengatakan bahwa akhirnya kakak tersayangnya menikah. Mungkin ini salah satu kebahagiaan dalam hidupnya," kata Sania membuat Son dan Darien terkejut bersamaan. Sania memasang tampang tak bersalahnya, bahkan ia tersenyum lebar-lebar.


Son dengan cepat menarik tangannya yang sudah tersentuh oleh Darien. Tak pernah sekalipun mereka berjabat tangan, mungkin ini kali pertamanya.


"Kak Darien, maafkan sikap suamiku. Sebenarnya dia sangat sayang padamu. Dan Kak Valencia, hari ini Kakak cantik sekali," pujinya membuat Valencia tersenyum-senyum.

__ADS_1


"Terima kasih, Sania. Kau juga sangat cantik," pujinya balik.


Sania segera turun dari panggung. Ditengah-tengah padatnya tamu, Sania mencari sosok suaminya.


"Kemana dia? Kenapa jalannya cepat sekali!"


CRANGGGG!!!


Sania tak sengaja menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa beberapa gelas minuman di atas nampan. Membuat isinya tumpah semua ke lantai dan beberapa gelas pecah berserakan. Sania menutup mulutnya merasa terkejut sekaligus bersalah atas kecerobohannya yang tak berhati-hati saat melangkah.


Semua mata tertuju padanya, membuatnya malu. Bahkan Darien dan Valencia terlihat turun dari panggung untuk melihat kekacauan yang ditimbulkannya.


"Ma-maaf." Tak tahu apa yang harus ia lakukan. Kekacauan ini murni karna kesalahannya sendiri.


Pelayan tadi juga ketakutan, karna bisa saja setelah ini dia terkena masalah. Semua orang disuruh minggir, petugas kebersihan pun datang untuk membereskan semuanya. Kondisi lantai saat itu sangat kotor, apalagi minuman itu terdiri dari beberapa macam warna. Membuat warnanya tak beraturan di atas keramik berwarna putih tersebut.


"Sania, kau tidak apa-apa?" Darien datang untuk menanyakan keadaannya. Tapi tiba-tiba dari arah belakang, Son menarik paksa Sania dengan keras.


"Jangan pedulikan istriku!" ucapnya sebelum ia berlalu pergi.


"Jangan cepat-cepat!" Sania kesakitan saat kakinya dipaksa untuk berjalan cepat.


"Jangan cepat-cepat? Apa kau bilang? Aku harus berjalan lambat agar kakak ipar kesayanganmu bisa lebih lama memandangi mu?"


Tepat di halaman parkir, Son menghempaskan tangannya. "Kau kenapa sih? Selalu berpikiran buruk tentang kak Darien. Dia hanya menanyaiku, bukan maksud apa-apa." Sania berusaha menjelaskan, tapi Son nyatanya tak mau mendengarkan. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang.


Dia meninggalkan Sania di sana. Gadis itu pun hanya mampu berdiri sambil melihat mobil suaminya melaju pergi meninggalkannya.


"Cemburu mu tidak masuk akal!"


Dia mengetikkan sebuah pesan dan langsung ia kirimkan. Sania menghentakkan kakinya kesal. Dia berjalan menuju jalan raya, menghentikan sebuah taxi dan segera masuk.


***

__ADS_1


Pesta telah usai, semua kembali ke rumah. Tapi ada sebuah pemandangan yang langka terjadi di depan mata. Pria yang paling disegani, terlihat berlutut di depan seorang wanita. Tapi wanita itu tak mau menatapnya sama sekali.


"Ayah, Ibu, kalian sedang bertengkar?" Rico yang tak sengaja melihat keduanya masih di ruangan, lantas menghampiri. Dari dulu, dirinya tak pernah sekalipun melihat keduanya diam-diaman seperti ini. Hubungan mereka terlihat harmonis.


"Tidak, Rico. Kamu belum pulang? Dimana Keyla?" Luzi langsung berdiri hingga Math akhirnya ikut berdiri.


"Keyla sudah di mobil. Ibu—"


"Ibu ikut pulang denganmu saja, Rico." Belum selesai bicara, Luzi langsung memotongnya.


"Tapi, Bu—"


"Iya Ibu tahu, kau akan ke apartemen, kan? Ibu ikut." Math mengisyaratkan agar Rico menolak, tapi Rico tak tega melihat Luzi yang memohon.


"Ayah, Ibu, jika kalian ada masalah sebaiknya diselesaikan baik-baik," tuturnya dengan sopan.


Luzi memandang Math dengan sinis. Rasanya sekarang untuk berbicara berdua dengannya sangat malas. Wajahnya seperti mempunyai 1000 tipu daya.


"Sayang, ayo kita pulang," ajaknya seraya menarik tangannya dengan lembut.


Rico masih berdiri sambil menatap mereka bergantian, bingung akan bagaimana menyikapi kedua orang tuanya. Dan tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Itu pasti Keyla yang menelpon. Kau pulang saja Rico," suruh Luzi kemudian.


Rico menatap layar ponselnya, nama istrinya yang tertera di sana. Wanita hamil itu pasti sudah menunggunya lama di dalam mobil.


"Ayah, Ibu, Rico pamit pulang dulu. Hm, Ibu .... Pulanglah bersama Ayah." Tak ingin mereka bertengkar dan diam-diaman seperti ini. Sebagai anak pasti sangat kepikiran melihat orang tuanya yang tidak akur.


Luzi perlahan menganggukkan kepala. Setelah kepergian Rico, dia pun melangkahkan kakinya pergi. Math dengan senantiasa mengikutinya dari belakang.


"Mobilku ada di sebelah sana," tunjuk Math saat Luzi mengambil jalan berbeda. Tapi wanita itu tak mendengarkannya, ia terus berjalan menuju jalan raya.


"Hey! Apa kau tuli?" Sudah cukup bersabar dia di diami istrinya sedari tadi, perkataannya tak pernah dihiraukan sama sekali.

__ADS_1


"Berhentilah berbicara! Jika menurutmu aku ini tuli!" serunya kemudian. Dia menatap suaminya dengan sengit.


__ADS_2