
Jendela kamar telah dibuka beserta gordennya membuat cahaya yang berasal dari matahari membuat matanya mengerjab karna merasakan silau. Malam tadi, dia tidur nyenyak. Mungkin karna kemarin dia sudah terlalu banyak menguras tenaga karna kegilaan yang ia buat sendiri, hingga malam harinya dia kelelahan. Dia bangun sambil tangannya meraba, seakan teringat akan malam tadi yang tidur tanpa istri di sampingnya. Memang kemarin dia yang mengusirnya, tapi dia tahu bahwa istrinya pasti tidur di kamar ini karna tidak mungkin berada di kamar lain sedangkan Ayah dan Ibu menginap di sini.
Dengan langkah gontai, dia berjalan menuju kamar mandi. Ingin membersihkan tubuhnya secepatnya, agar menjadi segar. Air hangat di bath up telah disiapkan, entah istrinya yang menyiapkan atau seorang pelayan. Ia membuka seluruh pakaiannya dan berendam di bath up.
Di dalam bath up, dia memejamkan mata. Selalu saja ada yang melintas di pikirannya. Seperti saat awal menikah dengan Sania, gadis itu menyuruhnya untuk makan. Son yang keras kepala selalu saja menolak, tapi gadis itu punya segala cara untuk membuatnya agar mau makan.
"Jangan membuang-buang makanan. Kau ini tidak tahu berapa banyak orang yang kelaparan di luar sana. Kau harusnya bersyukur masih bisa makan enak. Masih bisa merasakan yang namanya nasi."
Teringat jelas kata-kata dari Sania. Gadis ingusan yang tau artinya dari menghargai sebuah makanan. Mulutnya tak berhenti berbicara, membuat Son pusing mendengar pidatonya setiap hari.
Lalu terbayang juga saat Sania yang diam-diam telah berada di dalam kamar mandi saat dirinya akan mandi. Gadis itu punya seribu cara untuk bisa mengawasinya. Saat Bi Mar tak lagi berperan melayaninya, Sania lah yang selalu pasang badan untuknya.
Dan sejak saat itu Sania tidak lagi diam-diam masuk ke dalam kamar mandi lagi, dia hanya menyuruh agar Son tidak menguncinya dari dalam. Son bisa mandi sendiri dan jika ada sesuatu hal yang membahayakan Sania bisa langsung menolongnya karna pintunya tidak dikunci.
Juga terbayang bagaimana perlakuan buruk Son terhadap Sania. Menarik tangannya dengan kasar, merobek sisi dress-nya juga menyakiti dengan kata-katanya yang menyakitkan hati.
Tapi sesaat dia juga terbayang akan ciuman mereka kemarin. Son tidak percaya bahwa dia bisa mencium wanita lagi selain Vennie. Bahkan rasa kali ini berbeda. Dia merasakan getaran yang berbeda. Mungkin karna dia juga tidak bisa melihat wajahnya. Dia hanya bisa merasakan tanpa melihat.
Tok!
Tok!
Tok!
"Apa kau di dalam?" Ketokan pintu membuyarkan lamunannya.
"Jangan menganggu!" teriak Son dari dalam. Dia berdecak kesal karna lamunannya terhenti.
Son mengangkat tubuhnya dari bath up, tidak menyadari bahwa dia sudah terlalu lama di dalam sana. Tangannya bahkan keriput.
__ADS_1
Tangannya meraba-raba ke sisi tembok, mencari di mana handuknya. Tapi sampai dia berjalan agak jauh dari bath up dia tidak menemukan apa pun di sana.
Sedangkan di luar sana, Sania terduduk di atas ranjang. "Aku hanya ingin memberikan ini. Tapi kenapa jawabannya selalu menyakitkan!" Sania memegangi sebuah handuk. Dia lupa tadi tidak menyiapkan di sana. Tapi Son berkata jangan mengganggu, ya sudah mungkin dia masih lama mandinya.
"Sania! Handuk!" teriak Son membuat Sania yang ingin melangkah keluar seketika terhenti. Dia berbalik dan mengambil handuknya kembali.
"Sania!!!!" Son sudah kedinginan, dia membutuhkan handuk secepatnya.
"Iya, iya!" Pintu kamar mandi terbuka, ia menyodorkan handuk ke dalam.
"Kenapa tidak kau siapkan handuk di dalam? Aku bisa mati kedinginan!" serunya membuat Sania malas berlama-lama di dalam kamar. Dia tidak mau berdebat.
"Maaf, aku lupa," jawabnya tenang. "Aku tunggu di meja makan. Kita sarapan bersama di sana." Sania berlalu pergi, tanpa menghiraukan suaminya. Bahkan dia tidak menyadari dengan siapa Son akan melangkah ke meja makan. Dia dengan percaya dirinya pergi sendirian, meninggalkan suaminya yang buta.
"Apa selain gadis ingusan dia juga gadis yang bodoh? Apa dia tidak ingat kalau aku buta? Dasar!"
"Pagi, Kak," sapanya pada Kakak ipar.
Darien hanya membalasnya dengan senyuman dan berjalan melewatinya. Sikapnya sungguh aneh. Sania lantas mengikuti langkahnya dari belakang.
"Ayah, Ibu, maaf untuk pagi ini Darien tidak ikut sarapan. Ada meeting pagi di kantor," pamitnya dan berlalu pergi. Saat dia berbalik badan hampir saja menabrak Sania yang berada di belakangnya.
"Maaf." Darien menyempatkan meminta maaf dan berjalan tergesa-gesa.
Di meja makan sudah ada Math, Luzi dan Keyla. Sania lantas mendudukkan tubuhnya di kursi yang kosong.
"Sania, di mana Son? Kenapa tidak kau ajak kemari?" Baru saja duduk, Sania jadi teringat. Untuk apa dia kemari duluan? Son akan berjalan dengan siapa untuk ke sini? Dia kan buta. Sania merutuki dirinya yang bodoh, tidak ingat jika dia menikah dengan pria yang buta.
"Tadi Son baru selesai mandi. Sebentar, Yah." Sania lantas pamit untuk menyusul Son.
__ADS_1
"Bagaimana sih, Sania. Kenapa dia tidak menunggu suaminya. Malah datang ke sini sendirian. Huh!" Keyla yang telah lama duduk di meja makan merasa kesal. Lagi-lagi dirinya harus menunggu pasangan suami istri yang aneh itu. Perutnya sudah menahan lapar sedari tadi.
"Keyla, kau makan dulu, sayang. Kasihan bayimu." Luzi mencoba mengerti akan kondisi Keyla yang sedang hamil, dia mempersilahkan menantunya untuk sarapan duluan.
"Tidak, Bu. Sebentar lagi pasti Son datang, kita akan makan bersama-sama," ucapnya sambil tersenyum. Dia tidak mau dianggap sebagai anggota keluarga yang egois.
"Keyla, sarapan duluan, Nak. Jangan membantah!" Kali ini Math yang menyuruhnya, dan Keyla akhirnya menurut. Memang benar, perutnya sudah keroncongan. Tidak bisa menolak aroma harum dari semua masakan yang tersaji di depan matanya.
"Kita makan enak hari ini, Nak," ucapnya dalam hati.
Saat Sania membuka pintu kamar, terlihat Son sedang duduk di sana. Dia melamun lagi.
"Dasar tukang ngelamun!"
"Ayo kita sarapan bersama," ajaknya sambil meraih tangannya untuk digandeng. Son tak menolak saat tangan mungilnya menyentuh lengannya dengan lembut. Dia pasrah saja seraya mengikuti langkah kaki istrinya.
Sesampainya di meja makan, Luzi dan Math memandangi keduanya tanpa henti. Mereka berpikir sepertinya mereka sudah lebih dekat dibanding dulu. Lihat saja, mereka bahkan jalan bersama bergandengan.
"Selamat pagi, Putraku," salamnya pada putra terakhirnya. Son hanya mengangguk. Tak mau menunggu lama, Sania langsung mengambilkan piring untuknya.
"Son, makan yang banyak," ujar Luzi sambil tersenyum. Dia sangat merindukan Son. Ingin rasanya sebentar saja memeluknya.
"Tidak perlu dikasih tahu!" jawab Son membuat Math membanting sendok.
"Yang sopan, Son!" Math marah dengan jawaban putranya terhadap Luzi.
.
.
__ADS_1