
Pagi ini, tak berbeda dengan pagi sebelum-sebelumnya. Para pelayan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tapi ada satu hal yang tak biasa, Sania belum bangun.
"Pintunya dikunci, Tuan." Seorang pelayan mengadu pada majikannya bahwa kamar Sania dikunci, gadis itu belum keluar kamar. Tidak seperti biasanya, dia bukan gadis pemalas seharusnya jam segini dia sudah bangun dan melakukan aktivitas. Hubungan Sania dan Son belum membaik, Sania belum mau mengajak berbicara Son. Rasa kesalnya saat kedatangan Meylin, belum juga hilang sepenuhnya.
"Kunci cadangan!" Darien meminta kunci cadangan tapi pelayan itu menggeleng. Kunci cadangan ada di Sania. Pelayan tidak menyimpan kunci cadangan.
"Sania, apa kau masih tidur?" Darien mencoba mengetuk pintu. Sampai beberapa kali tapi tak ada jawaban. Sama seperti pelayan yang sedari tadi mencoba membangunkan Sania. Tapi tak ada sahutan dari dalam.
BRAKKKKK!!!!
Akhirnya dengan terpaksa Darien mendobrak pintu adik iparnya. Suara gaduh yang terdengar dari dobrakan pintu, berhasil membuat Son penasaran. Dia memanggil pelayan untuk mengantarkannya ke sumber suara.
Sedangkan Darien, dia melangkah masuk. Selimut tebal menutupi seluruh tubuh Sania. Gadis itu memang belum bangun juga. Darien sudah memakai pakaian rapi karna sebentar lagi akan ke kantor, tapi melihat adik iparnya belum juga terbangun membuatnya akhirnya bertindak.
"Sania, bangun lah!" Perlahan Darien menyingkap selimut yang membalut tubuh Sania. Matanya masih terpejam, wajah polosnya pun tak luput dari pandangannya.
"Sania ...." Dia menepuk pipi Sania pelan. Tapi begitu tersentuh, dia merasa terkejut. Dia merasakan hangat di anggota tubuhnya. "Sania, bangun lah. Apakah kau sakit?" Dengan segera Darien mengecek suhu badan adik iparnya dan benar saja suhu tubuhnya sangat tinggi. Sania demam.
Tak berapa lama Sania mengerjabkan matanya. Mulutnya bergumam. Rasanya seluruh tubuhnya seperti tak bertenaga. Sania merasa lemas. "Kak Darien?" Saat matanya terbuka sepenuhnya, dia melihat kakak iparnya sedang menatapnya. Sarapan pagi yang indah menurutnya. Melihat wajah tampan kakak iparnya dari dekat.
"Iya, Kakak di sini. Kau demam, Sania. Kakak sudah panggilkan dokter, sebentar lagi akan datang."
Sedangkan di luar kamar, Son mendengar semua percakapan mereka. Istrinya sedang sakit. Dia berusaha tidak peduli, tapi kehadiran Darien di sana membuatnya bimbang. Ingin rasanya dia menarik kakaknya untuk keluar dari kamar istrinya, tapi ia malas berdebat dengannya.
"Apa yang aku pikirkan? Biarkan saja!"
Son menyuruh pelayan mengantarkannya ke kamar lagi. Saat pelayan memutarbalikkan kursi roda, Paman Leo datang.
"Tuan, mengapa Anda di sini?" tanyanya. Gerak tangannya mengusir pelayan pergi. Leo kira hubungan mereka sudah membaik tapi ternyata mereka masih pisah kamar juga.
"Antarkan Son ke kamar, Paman," pintanya.
__ADS_1
"Tuan, kenapa Anda belum berbaikan dengan nona Sania? Nona sepertinya sedang mendiamkan Anda."
"Son, ingin istirahat, Paman." Tak mau menjawab pertanyaan Leo, Son tampak acuh. Dia tidak peduli. Berusaha tidak peduli.
"Istrimu sedang sakit. Badannya demam. Temani dia, Kakak ada meeting di kantor." Darien tiba-tiba datang. Ia tahu bahwa Son ada di depan kamar Sania sedari tadi. Setelah mengatakannya, Darien langsung pergi.
Leo langsung mendorong kursi roda Son masuk ke dalam kamar. "Jangan bawa Son ke sana, Paman!" Son menolak. Dia tidak mau bertemu dengan Sania.
"Tuan, nona Sania sedang sakit. Anda harus menemaninya." Sangat sulit meluluhkan hati dingin Son. Pria itu sangat keras kepala.
"Tidak! Ada banyak pelayan. Suruh dua orang untuk menemaninya." Leo menghembuskan napasnya kasar. Son sekarang, sangat berbeda jauh dari Son yang dulu.
"Baiklah, saya saja yang menemani nona Sania." Leo memanggil pelayan untuk mengantarkan Son ke kamar.
"Paman, kenapa seperti ini? Paman lebih memilih wanita itu dari pada Son?" Son tidak terima, kenapa banyak sekali orang-orang yang peduli dengannya.
"Tuan, apa Anda lupa? Saat Anda sakit, nona Sania lah yang setia di sisi Anda. Merawat Anda dan menemani Anda sepanjang hari. Lalu kenapa saat nona sakit, Anda tidak peduli sama sekali? Saya tahu kalau Tuan belum mencintai nona Sania, tapi Tuan harus menghargainya sebagai istri Anda." Leo menundukkan kepalanya. Dia merasa sudah berlebihan mengatakan hal yang mungkin akan menyinggung tuannya. "Maaf, Tuan. Jika saya lancang."
Son diam. Dia mencerna semua perkataan yang diucapkan Paman Leo. Wanita asing yang tiba-tiba datang dan mau menjadi istrinya, itu tidak lah masuk akal jika dia datang tanpa maksud. Sampai sekarang Son masih mencari apa tujuan wanita itu datang ke kehidupannya. Rasa traumanya kehilangan orang yang teramat dicintai berkali-kali itu sangat lah menyakitkan. Pertama dia kehilangan ibunya dan yang kedua dia kehilangan tunangan. Dua sosok wanita yang sangat berpengaruh di kehidupannya.
Bibirnya melengkungkan senyuman. Leo senang akhirnya Son mau menemani istrinya. Setidaknya Son masih punya hati.
Dokter sudah selesai memeriksa Sania. Saat ini Sania sedang makan disuapi oleh seorang pelayan. Badannya masih terasa lemas.
Kedatangan Son ke kamarnya membuat Sania mendadak tidak nafsu makan. Dia menyudahi sarapannya. Dia segera minum obat dan membaringkan tubuhnya. Leo paham, Sania bertingkah seperti itu karna masih kesal dengan suaminya.
"Nona, Anda ingin istirahat?" Sania mengangguk. Dia malas berbicara.
"Baiklah. Tuan Son akan menemani Anda di sini, Nona," ucapnya membuat Sania mengernyit heran.
"Untuk apa? Sania ingin tidur, Paman," ujarnya dia memegangi selimut dan bersiap menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Untuk apa? Jika tidak mau aku temani, tidak apa. Antarkan aku ke kamar, Paman." Son merasa tersinggung dengan ucapan istrinya. Sombong sekali pikirnya.
"Iya tidak mau. Pergi lah!" Sania mengusir Son untuk pertama kalinya. Jika sebelum-sebelumnya Son lah yang selalu mengusirnya, sekarang gantian. Gadis itu melayangkan tatapan tajam padanya, tapi sayangnya Son tidak bisa melihatnya.
Tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan, Son merasa tertantang. "Oh, kau mengusirku? Bukankah kebalik? Harusnya aku yang mengusir mu dari rumahku. Kau yang seharusnya pergi!" seru Son membuat Sania membeku. Memang benar ini rumah suaminya. Sania hanya lah orang asing.
Leo yang mendengar perdebatan mereka hanya bisa tersenyum-senyum dalam hati. Mereka tidak benar-benar bertengkar, Leo tahu itu.
"Tuan, Nona. Tolong jangan bertengkar seperti ini. Nona, biarkan tuan Son di sini," pintanya memohon.
"Tidak!!!" jawab mereka bersamaan. Keduanya mengatakan tidak di waktu yang sama.
"Tidak, Paman. Son tidak mau."
"Iya, Paman. Sania juga tidak mau."
Keduanya saling menolak untuk bersama.
Leo mendadak pusing. Dia merasa kewalahan menghadapi mereka berdua.
.
.
Tumpukan koran tersusun rapi di atas meja. Dia duduk dengan bersender. Aroma kopi yang menyengat membuatnya tenang. Mengingat kejadian tadi, ingin rasanya tertawa.
Leo dengan sengaja pergi meninggalkan mereka berdua di kamar. Son yang buta tak bisa melakukan apa pun. Son berada di kamar Sania, yang mana dia tidak tahu letak-letak benda di sekitar atau pun pintu keluar. Tapi Leo tidak setega itu, dia menyuruh seorang pelayan untuk mengawasi mereka barangkali membutuhkan sesuatu.
"Paman Leo menyebalkan!" gerutu Sania. Dia sudah berusaha memanggil-manggil nama Paman Leo yang tiba-tiba keluar dari kamarnya, tapi pria paruh baya itu malah melangkah pergi semakin jauh hingga hilang dari pandangannya.
.
__ADS_1
.
.