
Math menyuruh putra-putranya untuk pulang saja. Sedangkan Luzi, ia bawa masuk ke kamar. Semua mata tertuju pada Son. Apalagi Darien, ia menatapnya dengan tajam. Apa yang diucapkannya barusan, benar-benar menyakitkan.
"Kau tetap tidak berubah! Tetap saja selalu membuat masalah!" ujarnya sambil mendorong tubuhnya karna merasa kesal. Sania yang berada di sisi Son memegangi tubuhnya yang hampir kehilangan keseimbangan.
"Sudah, Darien! Pulanglah!" Rico menyuruh adik-adiknya untuk pulang. Dia juga memberi isyarat pada Sania untuk membawa Son segera pulang.
"Aku benar-benar membencimu!" ujarnya terakhir sebelum langkah kakinya berlalu pergi. Tak lupa ia juga melirik Sania yang sepertinya ketakutan. Dia tidak bermaksud membuat gadis itu ketakutan.
"Son, ayo kita pulang." Setelah Darien sudah berjalan agak jauh, Sania mulai menuntunnya untuk keluar rumah.
Disepanjang perjalanan, mereka tak mengeluarkan suara. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Sania sedang memikirkan nasib dari pernikahannya.
"Katanya dia ingin berpisah denganku. Lalu mana surat perpisahannya?"
Dia melirik Son yang selalu diam. Menatap wajah tampan suaminya yang membuatnya selalu terpesona. Son yang mengetahui Sania sedang meliriknya, mendadak canggung.
"Kenapa dia melihatku seperti itu?"
Son membuang mukanya, menghindari tatapan Sania yang membuat jantungnya berdegup kencang. Mobil mereka telah sampai di rumah. Tapi di pintu masuk telah berdiri seorang pria yang tak kalah tampannya. Dia Darien, pria itu sepertinya sengaja menunggu mereka sampai di rumah.
"Kak Darien? Kenapa berdiri di sini? Tidak masuk?" Sania mencoba bertanya. Tapi tatapan Darien tertuju pada Son.
"Sania, kau kan punya hutang padaku." Dahi Sania mengernyit.
"Hutang? Hutang apa, Kak?" tanyanya sambil berpikir.
"Hari ini aku sedang jenuh di rumah. Kita pergi keluar yuk." Dengan beraninya Darien mengajak Sania pergi dihadapan Son. Pria yang masih berstatus suaminya itu mengepalkan tangannya.
Sania bingung sekarang, dia baru ingat bahwa Darien telah membantu menemukan keberadaan Bibi Lotus pada waktu itu. Dan ia berjanji akan memberikannya sebuah hadiah. Apa mungkin yang dimaksud Darien adalah ini?
"Hm, ma—"
"Pergilah! Kalian pergi saja!" Sania ingin menolaknya tapi tiba-tiba Son menyuruhnya untuk pergi. Son yang kesal berjalan sambil meraba-raba. Darien yang tahu dia sedang pura-pura buta membiarkannya begitu saja. Son sengaja menabrakkan tubuhnya ke pintu, agar membuat kesannya ia benar-benar tidak bisa melihat. Sania ingin membantu Son tapi dicegah oleh Darien.
"Biarkan saja! Ayo kita pergi." Tangan Sania ditarik begitu saja oleh Darien. Sedangkan Son saat ini telah bersama seorang pelayan.
__ADS_1
"Kak—"
"Sudah tidak apa-apa. Sebentar saja." Rasanya Sania tidak tega meninggalkan Son. Tapi mengingat kebaikan Darien selama ini, dia juga tidak enak hati.
Dengan hati yang masih bimbang, dia akhirnya masuk ke dalam mobil. Tapi matanya tak henti memandangi rumah.
"Lepas! Aku bisa sendiri!" Son menepis tangan pelayan yang sedang memegangi tangannya. Dia berlari menuju lantai atas. Dia ingin ke balkon paling atas. Tepat di sana, dia berdiri sambil memandangi bawah. Ia melihat mobil kakaknya melaju kencang.
"Sial!!!!!!" Son memukul tembok dengan keras hingga tangannya berdarah. Rasa sakitnya tak sebanding dengan rasa sakit hatinya sekarang.
"Kenapa aku mengijinkannya pergi? Dasar bodoh!"
Sania memilih melihat pemandangan di luar kaca mobil. Dia berpikir, apa yang ia lakukan sekarang salah atau tidak?
"Sania, apa yang sedang kau pikirkan? Aku ini Kakak ipar mu. Bukan orang lain." Darien menolehkan kepalanya ke arah Sania sambil menyetir.
"Iya, Kak. Kita mau kemana?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, Sania. Ini cuma sebentar. Ini hanya bentuk terima kasih karna kak Darien sudah sering membantumu. Lagi pula, suamimu telah mengijinkanmu."
Sebuah pusat perbelanjaan yang ada di kota terlihat ramai di siang hari ini. Semua orang datang untuk membeli perlengkapan kebutuhan rumah. Tak terkecuali Maria, gadis itu juga ada di sana. Sedang memasukkan beberapa bahan makanan untuk stock di rumah. Seharusnya ini pekerjaan Pak Mail, tapi kini Maria yang bertugas berbelanja dengan ditemani oleh Jeffry.
Pria yang selama ini dekat dengannya selalu menjadi pahlawan untuknya. Jeffry datang disaat hatinya kosong.
"Maria, apa kau tidak mau menonton film? Sepertinya ada film yang baru." Mereka sedang berada di meja kasir, setelah Maria selesai membeli keperluan untuk di rumah. Kepalanya menoleh, sebenarnya dia ingin menghabiskan waktu bersama Jeffry, tapi ia takut jika pulang terlalu sore nanti ayahnya akan memarahinya.
"Tidaklah, Jeff. Aku mau langsung pulang saja," tolaknya dengan halus. Pria itu merasa kecewa dengan penolakan Maria, tapi dia berusaha tetap tersenyum.
Saat mereka sedang berjalan menuju halaman parkir, tak disangka mereka melihat seseorang yang mereka kenali.
"Sania? Apa itu benar Sania?" Maria menunjuk seorang gadis yang sedang berjalan bersama dengan seorang pria yang tak asing.
"Iya itu benar Sania. Bersama siapa dia? Itu bukan suaminya, kan?" Maria dan Jeffry berjalan cepat ingin menyusul mereka yang sudah berjalan agak jauh.
"Sania!" teriak Maria memanggil nama sepupunya itu.
__ADS_1
Sania yang mendengar namanya dipanggil seketika menoleh ke belakang, dia melihat Maria dan Jeffry berjalan ke arahnya. Dia terkejut bisa bertemu mereka di sini.
"Sania, kau sedang apa di sini?" tanya Maria sambil kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang. "Dimana suamimu?" tanyanya sambil melirik pada Darien yang diam.
Sania bingung untuk menjawab. Dia takut Maria berpikiran yang tidak-tidak.
"Kita ada keperluan di sini. Aku dan Sania sedang ada urusan sebentar. Permisi." Darien langsung menarik Sania agar menjauh dari mereka. Tak peduli mereka akan berpikiran apa tentangnya.
"Kak, lepasin!" Sania menghempaskan kasar tangannya. Dia tidak nyaman dengan perlakuan Darien. Sania semakin tidak enak hati, apalagi Maria telah melihatnya jalan bersama Darien. Jika kedengaran sampai Paman Raul, dia pasti akan dimarahi. "Aku mau pulang saja, Kak." Tanpa pikir panjang Sania langsung berlalu pergi, dia kembali ke tempat dimana tadi bertemu Maria. Dia ingin ikut pulang bersamanya.
"Maria .... Tunggu!" teriaknya sambil berlari.
Darien tak ingin mengejarnya, dia sudah cukup kecewa.
"Sania .... Ada apa?" Maria melihat Sania yang berbeda sekarang. Sepupunya itu terlihat cantik sekarang, penampilannya sangat beda. Bahkan baju yang ia pakai sangat bagus-bagus.
"Aku ikut pulang denganmu," ujar Sania. Maria dan Jeffry langsung saling pandang.
"Bagaimana bisa Sania, aku dan Jeffry kan naik motor."
Ah iya, Sania lupa. Dia menggaruk kepalanya sendiri karna merasa bingung.
"Baiklah aku naik taxi saja."
Dia harus segera pulang sekarang, dia harus menemani Son di rumah. Apalagi Paman Leo tidak sedang di rumahnya sekarang.
Maria menemani Sania mencari taxi. Mereka berjalan bersama dengan Jeffry yang berjalan di belakang mereka, seperti pelindung dari dua gadis cantik itu.
"Sania, kenapa kamu bisa pergi berdua dengan kakak ipar mu? Apa suamimu tidak marah?" Pertanyaan Maria membuatnya malas untuk menjawab. Jelas-jelas Son tadi yang menyuruhnya untuk pergi.
"Tidak. Dia tidak peduli," jawabnya membuat Maria tidak mengerti.
"Tidak peduli bagaimana? Kau kan—"
"Aku pulang dulu." Maria belum selesai bicara tapi taxi sudah datang jadi terpaksa mereka mengakhiri percakapan.
__ADS_1
"Hati-hati, Sania," ujar Maria sambil melambaikan tangan.