ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 94 SALAH PAHAM?


__ADS_3

"Darien jawab Ayah!" Kini gantian Math yang mengguncang tubuh putranya. Dia menarik bajunya yang bau alkohol. "Kau menjijikkan!" Math mendorongnya menjauh dari posisinya.


"Ayah ...."


"Pulanglah! Ayah tahu semalam kau tidak di apartemen. Pulang sekarang dan ganti pakaianmu!" suruhnya seraya mengusir.


"Aku ingin bertemu ibu dulu, Yah," pintanya memohon.


"Jangan membuat ibumu khawatir dengan melihat keadaanmu yang seperti ini!"


Ucapan Math ada benarnya, Darien tidak mau membuat ibunya khawatir.


"Tapi, ibu tidak apa-apa kan, Yah? Ibu baik-baik saja?" Math menoleh ke pintu ruangan yang tertutup, dia perlahan mengangguk. Walau dia tidak bisa memastikan bahwa istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Pulanglah, Darien. Dan cepat kembali." Darien akhirnya menurut untuk pulang lebih dulu. Tapi tepat saat dia berbalik badan, dia melihat Son dan Sania berjalan ke arahnya. Tak mau menghiraukan pasangan suami istri itu, Darien berjalan melewati keduanya begitu saja. Son juga tampak cuek, hanya Sania yang tak hentinya memandangi kakak iparnya yang tampak beda kali ini.


"Kepalamu mau aku patahkan?" bisiknya di telinga istrinya. Sania dengan cepat menolehkan kepalanya ke suaminya. Dia mencebikkan bibirnya. "Jangan memandangi pria lain selain diriku!" ancamnya membuat Sania perlahan mengangguk.


"Ayah, bagaimana keadaan Ibu?" tanya Sania. Math sedari semalam belum melihat keadaan istrinya, itu atas perintah dari sang dokter yang tak ingin pasiennya diganggu terlebih dahulu. Karna keadaannya yang masih kritis, butuh penanganan khusus dari beberapa dokter.


"Ibu masih kritis," jawabnya.


"Apa yang terjadi sama ibu, Yah?" Sania tidak percaya jika Luzi bisa melakukan hal bodoh itu.


"Ayah tidak tahu, Sania. Saat Ayah pulang, semuanya sudah seperti ini." Banyak hal yang ingin Math tanyakan pada Luzi nantinya. Selama hidup bertahun-tahun dengannya, tak pernah sekalipun melihat Luzi mengeluh.


"Ayah, pagi ini Son ada meeting. Son pamit untuk ke kantor dulu ya." Sania menarik tangannya agar menjauh, dia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya.


"Apa kau gila? Ibumu sedang kritis, kau bisa-bisanya masih memikirkan kantor. Meeting apa lah itu, apa tidak bisa diundur? Kau harus tetap di sini." Sania merasa kesal sendiri. Kenapa sih hati suaminya keras sekali seperti batu.

__ADS_1


"Ibuku? Sudah aku bilang berapa kali, dia bukan ibuku. Lagi pula dua anaknya yang lain juga belum datang ke sini."


"Dua anaknya siapa? Apa kau tak pernah bercermin, kak Rico dan kak Darien yang juga bukan anak kandungnya juga mau datang kemari. Tapi kau? Kau selalu acuh dan tak peduli." Seharusnya Son dan kedua saudaranya sama saja, bukan anak kandungnya. Tapi dilihat kedua kakaknya yang peduli, hanya dia yang tak peduli.


"Kau berkata apa tadi?"


"Tuh, lihat lah. Kak Rico datang bersama kak Keyla. Mereka benar-benar peduli," tunjuknya pada pasangan suami istri itu.


Son masih mencerna perkataan istrinya. "Kau tadi bilang apa? Bukan anak kandung?" Son masih belum paham.


"Iya, kak Darien dan kak Rico juga bukan anak kandung ibu. Tapi mereka juga peduli," ucapnya lagi membuat Son seketika membeku. Selama ini, dia tidak tahu. Tidak tahu tentang silsilah keluarganya yang sebenarnya.


"Omong kosong dari mana itu." Son ingin pergi, tapi Sania menahannya lagi.


"Hey! Apa kau baru tahu?" Sania pikir Son sudah tahu kalau Ibu Luzi itu mandul. Dan kedua kakaknya memiliki ibu yang berbeda.


"Aku tidak percaya dengan omong kosong mu! Jelas-jelas wanita itu telah merebut ayah dari sisi ibuku!" Son melangkahkan kakinya cepat, melewati begitu saja mereka yang memandanginya tanpa henti.


"Sania ...." panggil Math seraya mengayunkan tangannya untuk mendekat.


"Iya, Yah," sahutnya.


"Pulang lah bersama Son. Ayah akan di sini bersama Rico dan Keyla." Sania akhirnya mengangguk setelah beberapa saat berpikir.


Tapi saat baru saja dia melangkah kakinya belum jauh dari mereka, Keyla tiba-tiba menyuruhnya untuk berhenti.


"Sania, sebagai istri yang baik seharusnya kau bisa membujuk suamimu untuk tetap di sini. Ibu dari suamimu sedang kritis, tak ada sedikit kah rasa iba dari kalian. Hisss, benar-benar tak punya hati!" Ucapan Keyla benar-benar membuat hatinya panas. Andai saja wanita di depannya ini sedang tidak hamil, akan dia jambak rambutnya yang bergelombang itu. Akan dia cakar-cakar wajahnya yang dipenuhi make up dan akan dia robek-robek bajunya yang terlihat mahal itu.


"Permisi, Kak." Tak mau menghiraukan ucapan Keyla, Sania memilih untuk tetap pergi.

__ADS_1


"Dasar, menantu tak punya hati!" Sania berhenti, dia menoleh ke arah belakang. Keyla menatapnya sinis sambil tersenyum mengejek.


"Semoga saat anakmu lahir, dia tak menuruni sifat dari ibunya." Keyla masih mendengar jelas ucapan dari Sania, membuat wanita hamil itu mendecak sebal. Adik iparnya ini sungguh kurang ajar menurutnya.


Sania berlari sekuat tenaga, semoga saja Son belum melajukan mobilnya.


"Hey! Tunggu!" Mobil milik suaminya sudah berjalan jauh melewati gerbang rumah sakit, Sania tak mampu mengejarnya.


Di tengah-tengah halaman parkir yang luas, dia berdiri di sana dengan segala kebingungan. Dia harus kemana sekarang? Sebenarnya dia ingin tetap disini menemani ibu mertuanya, tapi dia malu untuk kembali lagi dan harus melihat wajah Keyla yang menyebalkan.


Di sepanjang jalan, otaknya berpikir. Son berusaha tidak mempercayai ucapan dari istrinya. Tapi gadis itu dapat info semuanya dari mana? Tidak mungkin dia mengarang cerita. Jika benar, Luzi bukan ibu kandung kedua kakaknya. Berarti selama ini dia sudah salah sangka. Juga mendiang ibunya yang sudah salah paham.


"Arrrgghhhh ...." Son mengerang kesal. Kenapa hidupnya harus seperti ini?


"Sania ...." Tiba-tiba dia teringat dengan istrinya. Gadis itu masih di rumah sakit atau dia pulang sendiri? Dia mencari ponselnya dan berniat menghubunginya. Tapi sayang sekali, ponsel Sania ternyata ketinggalan di mobilnya.


"Dasar ceroboh!"


Dia memilih untuk segera ke kantor. Ada banyak hal yang harus dia urus. Akan dia buktikan pada ayahnya kalau dia bisa.


Sania memberhentikan taxinya di sebuah rumah. Dia kemudian turun dan langkah kakinya berhenti di depan pintu yang terbuka. Sepertinya sedang ada tamu di dalamnya.


"Sania ...."


Seorang wanita yang seumuran dengannya sedang menggendong bayi. Tampilannya tampak sederhana. Bayi yang berada digendongannya terus menerus menangis tanpa henti. Membuat Sania ingin mencoba menenangkannya.


"Boleh aku gendong sebentar?" pintanya dan ibunya dari bayi itu mengijinkannya. Tak disangka baru beberapa detik berada digendongannya, bayi itu mendadak diam. Matanya yang masih bulat terlihat memandangi Sania tanpa henti.


"Cup cup, sayang." Sania mengayun-ayunkannya membuatnya seketika diam tak menangis lagi.

__ADS_1


"Kau sepertinya sudah cocok memiliki anak, Sania," ujar Maria yang tiba-tiba datang membawa minuman.


__ADS_2