ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 43 TIDAK BOLEH


__ADS_3

Jarum jam masih berputar. Waktu tak kan berhenti. Di dalam kamar, mereka terdiam beberapa detik. Sania tak mengalihkan pandangannya pada sosok Son. Pria itu lama tidak mengeluarkan suara. Hingga pada akhirnya, mulutnya seketika terbuka.


"Ayah menyembunyikan foto-foto Vennie," ucapnya membuat Sania terkejut.


"Kenapa? Kenapa ayah melakukan itu?" tanyanya tidak percaya.


"Apa kau bisa diam?" Son yang dingin kembali lagi. Tiba-tiba Son memberikan piringnya pada Sania dengan kasar. Tak tahu jika isi makanan di dalam piring itu belum habis, jadinya mengotori baju Sania.


"Hey, tumpah!" kesalnya. Son tidak peduli dia memilih memejamkan matanya. "Apa kau tidak bisa bersikap lembut sedikit? Bisakah kau mengatakan minta tolong?" Tak hentinya Sania mengoceh, dia benar-benar kesal. Sania bergerak turun dari ranjang, dia membersihkan ranjangnya yang juga ikut terkena makanan yang tumpah.


Tapi tiba-tiba dia merasakan pusing di kepalanya.


BRUGGHHHH ....


Sania pingsan. Dia tidak sadarkan diri. Son yang panik langsung turun dari ranjang.


"Hey, wanita! Kau kenapa?" Son meraba-raba sekelilingnya. "Sania!" Berkali-kali dia memanggil istrinya, tapi tak ada sahutan. "Hey, dasar tuli!" Son berjalan sambil meraba-raba, hingga akhirnya dia menyentuh sebuah kaki. Dia berjongkok dan memegangi kaki itu terus meraba-raba sampai ke atas. Istrinya ternyata pingsan, dia berusaha menepuk-nepuk pipinya. Tapi wanita itu tak sadar juga.


"Pelayan! Pelayan!" Son berteriak memanggil pelayan. Tak butuh lama, pelayan pun datang.


***


"Apa? Sania pingsan?" Darien langsung menyahut jasnya dan bergegas pulang, setelah mendapat kabar bahwa adik iparnya pingsan. Dia memang berpesan pada salah satu pelayan agar memberitahukannya jika terjadi sesuatu pada Sania. Seorang kakak ipar merasa khawatir dengan adik iparnya sendiri, karna suaminya tampak tak peduli padanya.


Kakinya melangkah dengan cepat agar cepat sampai di kamar Sania.


"Paman, bagaimana Sania bisa pingsan? Bukankah dia hanya istirahat di ranjang?" Darien tak sengaja berpapasan dengan Paman Leo yang baru saja keluar dari kamar Sania. Paman Leo tampak terkejut dengan kepulangan Darien. Dilihat wajahnya sangat cemas. Dia benar-benar mengkhawatirkan Sania.


"Tuan, jam segini Anda sudah pulang?" tanya Paman Leo mengalihkan pembicaraan.


"Tidak penting!" jawabnya dan berlalu masuk. Saat di dalam kamar dia melihat Sania yang sudah sadar. Tapi Son tak ada disampingnya. Tidak tahu adiknya ada di mana.


"Kak Darien ...." Sania memanggilnya.


"Sania, kenapa kamu bisa pingsan? Apa obatnya tidak kamu minum? Apa kamu merasakan sakit di bagian tertentu? Katakanlah." Darien duduk di sebelah Sania. Tak ragu dia menggenggam tangan Sania. Pandangan mereka bertemu, tapi Sania lebih dulu mengakhiri tatapan itu.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Kak." Tangan Sania masih dipegang, Sania melirik tangannya yang disentuhnya. Terasa nyaman, tapi dalam hati Sania serasa menolak. "Kakak tidak perlu khawatir," ujarnya lagi. Perlahan Sania melepaskan tangannya yang dipegang oleh kakak iparnya.


"Oh, maaf." Darien baru sadar bahwa tangannya reflek menyentuhnya. "Sania, di mana Son?"


"Son pergi ke kamar, Kak," jawab Sania.


"Kenapa kalian pisah kamar? Apa kalian sedang musuhan?" Sejak kembalinya Darien ke rumah ini, dia memang sudah tau bahwa Sania dan Son pisah kamar. Tapi dia tak pernah menanyakannya.


"Haha, tidak. Aku dan Son baik-baik saja." Sania tidak mau berkata sejujurnya. Baginya masalah antara dia dan Son biarkan mereka saja yang tahu. Memang Sania masih kesal dengan Son soal Meylin. Tapi perlahan rasa kesal itu mulai hilang.


"Baiklah. Tidak apa-apa jika kau tak mau bercerita. Oh ya, lihat ini." Darien mengambil sesuatu dalam sakunya. Dia memperlihatkan pada Sania.


"Apa ini, Kak?" Sania mengamati sebuah kertas itu dan membacanya. "Karcis bioskop?" Darien mengangguk, dia membeli dua karcis untuk menonton film. Sesuai janjinya waktu itu akan mengajaknya nonton.


"Hari Minggu. Jangan lupa." Darien mengacak rambutnya, merasa gemas dan berlalu pergi. Dia tersenyum sangat lebar sebelum benar-benar hilang dari pandangannya. Sania terdiam, dia memandangi karcis itu dengan hati yang bimbang.


"Salahkah aku jika menerimanya?"


***


Seorang wanita sedang bercermin. Dia menyisir rambutnya pelan-pelan. Bingung dengan model rambut yang ingin dia gunakan. Hingga akhirnya dia memilih untuk menguncirnya saja ke atas. Menampakkan lehernya yang jenjang. Pakaiannya pun terlihat casual hari ini.


Suaminya itu masih memejamkan matanya, tapi tanpa dia tahu bahwa pria itu sudah bangun. "Aku harus bersiap lebih cepat." Setelah berpikir selama beberapa hari ini, dia akhirnya memutuskan untuk pergi berdua dengan Darien. Setidaknya dia ingin melihat dunia luar. Lagi pula dia pergi dengan kakak iparnya sendiri, bukan dengan pria lain.


TOK!


TOK!


TOK!


Suara ketokan pintu membuat pergerakan Sania terhenti. Dengan malas dia membuka pintu yang dia pikir adalah seorang pelayan.


"Paman ...." Sania terkejut melihat Paman Leo yang sudah datang. Ini masih pagi sekali. Sania bangun sangat pagi hanya untuk pergi tanpa Son dan Paman Leo mengetahui. Tapi malah tak disangka, Paman Leo datang lebih cepat dari dugaannya.


"Nona, Anda mau ke mana?" Leo memandangi penampilan Sania hari ini, tampak berbeda.

__ADS_1


Sania berdecak dalam hati. Dia bingung sekarang. "Ah, aku mau ke mana? Aku habis mandi, Paman. Sudah tentu aku berdandan," jawabnya mengelak.


"Anda sangat berbeda hari ini, Nona. Anda sepertinya ada janji dengan seseorang?" tebak Paman Leo membuat Sania mati kutu. Bagaimana Paman Leo bisa tahu?


"Paman jangan mengarang!" jawab Sania berpura-pura tenang. Padahal dia sangat takut, jika Paman Leo benar-benar tahu.


"Nona, Anda sudah menikah. Sebaiknya jika Anda ingin pergi, ijin dahulu dengan suami Anda," tuturnya. Sania terdiam, benar juga apa yang dikatakan Paman Leo.


"Baik lah. Aku akan ijin dulu dengan Son." Sania akhirnya mengalah, berjalan mendekati Son. Walaupun Sania sudah sangat percaya diri bahwa Son pasti akan mengijinkan, dia kan tidak peduli dengannya.


"Sudah tentu, dia akan mengijinkan. Lihat saja. Dia tidak pernah peduli denganku. Kenapa juga aku harus sembunyi-sembunyi."


Sania perlahan menggoyangkan tubuhnya. "Son, bangun lah."


Mata Son mengerjab dan perlahan terbuka. "Maaf aku mengganggu tidurmu. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku akan pergi hari ini. Aku akan pergi nonton. Apa kau mengijinkan aku untuk pergi? Kau pasti mengijinkan, kan? Kau kan tak pernah peduli dengan apa yang aku lakukan," kata Sania. Wanita itu tersenyum-senyum sendiri. Betapa bodohnya dia meminta ijin pada seorang pria yang tak pernah menganggapnya ada.


"Tidak! Tidak boleh pergi! Tetap lah di rumah." Senyumannya perlahan menyurut. Berganti dengan dahinya yang berkerut. Dia benar-benar terkejut dengan jawaban suaminya.


"Hah! Apa? Tidak boleh? Kenapa?" tanyanya tidak terima. Lihat saja, dia sudah dandan seperti ini lalu tidak jadi pergi? Bagaimana dengan Kak Darien? Pria itu pasti sangat kecewa. Padahal mereka berdua sudah merencanakannya dengan matang. Darien bahkan dia sudah ada di sana, sedang menunggunya. Harusnya sebentar lagi Sania berangkat dengan diantar Pak Sopir. Tapi semuanya pupus sudah.


"Ah, seharusnya aku bilang saja mau ke rumah paman Raul!"


.


.


.


.


SELAMAT HARI IDUL ADHA 🤗


Semoga kalian semua dalam keadaan sehat ya ....


Aamiin ...

__ADS_1


Tetap setia sama aku ya, hari ini aku up 2 bab..


__ADS_2