ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 68 MENCARI INFORMASI


__ADS_3

Teringat jelas kata-kata dari Rico barusan. Darien menatap mobil yang ditumpangi kakaknya berjalan meninggalkannya di depan perusahaan. Dia mengusap wajahnya kasar. Merasa sebal dengan tuduhan kakaknya yang mengatakan bahwa Darien menyukai Sania dan berniat merebutnya.


"Aku tidak sejahat itu!" teriaknya dalam hati.


Dia hanya merasa iba dengan Sania. Hanya itu saja. Gadis itu memang manis, dia hanya mengagumi. Tak pernah terbesit di pikirannya untuk merebut Sania dari Son. Walaupun Son sering membuatnya kesal.


Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu, tentang Son dan Paman Leo yang pergi entah kemana.


"Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan? Apa ini ada hubungan dengan ayah? Kemana mereka pergi?"


Darien tak bisa mendapatkan informasi apa pun. Orang-orang yang bekerja di bawah naungan Math, mulutnya sangat tertutup rapat. Tak ada yang mau membocorkan sedikit saja.


.


.


.


Tersusun rapi beberapa kosmetik yang menghiasi meja riasnya. Dia rajin memakainya. Hanya sekedar untuk menyenangkan hati suaminya. Tapi rasanya percuma, suaminya tak pernah meliriknya apalagi memuji. Pernah suatu ketika dirinya tidak merias wajahnya, responnya pun sama. Bahkan tak menyadari sedikit pun.


Ponselnya berbunyi, ada notifikasi pesan masuk. Perhatiannya teralihkan dan segera membuka ponselnya. Terlihat satu pesan dari putranya yang mandiri. Dia tersenyum, Darien memang sering mengirimkan pesan untuknya. Hanya sekedar mengucapkan selamat pagi, selamat tidur atau menanyakan tentang kabarnya. Dia begitu perhatian.


Luzi menarik senyumnya, membaca pesan yang dikirimkan putranya yang kedua. Tapi dia mengerutkan keningnya tatkala membaca pesan pada barisan terakhir. Dia bahkan sama sekali tidak mengetahui apa yang Darien tanyakan. Dia segera bangkit dan mencari-cari suaminya. Semoga saja Math belum berangkat ke kantor.


"Suami saya apa sudah berangkat?" tanyanya pada pelayan yang baru saja melintas.


"Belum, Nyonya. Sepertinya tuan Math ada di ruang kerjanya. Mobilnya masih ada di depan," jawabnya.

__ADS_1


Luzi segera melangkahkan kakinya cepat. Tak sabar ingin menanyakan hal tersebut pada suaminya. Jika benar, kenapa Math selalu diam. Tak pernah memberitahu sedikit pun tentang putranya yang ketiga. Dia juga ibunya, walaupun bukan ibu kandung. Tapi Luzi juga berhak tahu.


"Math, kemana Son dan Leo pergi? Ada urusan apa mereka berdua? Kenapa harus pergi selama satu minggu? Apa ada yang terjadi dengan putraku? Apa ada masalah dengan kesehatannya?" Baru saja membuka pintu ruang kerja Math, Luzi sudah mencerocos panjang lebar. Math yang sedang membuka berkas lekas menutup dan menatapnya tidak suka. Saat kesibukannya diganggu tiba-tiba. Bahkan Luzi tak mengetok pintu terlebih dahulu.


Bukannya langsung menjawab, Math malah sibuk memandangi Luzi. Dia yang merasa diperhatikan segera memalingkan wajahnya. "Jawab, Math!" Luzi menggertaknya.


"Tidak perlu dijawab. Yang jelas mereka sedang baik-baik saja di sana." Math melirik jam tangan miliknya. Ini waktunya ke kantor. Walaupun dia bisa bekerja di rumah, tapi dia lebih memilih menghabiskan waktu di kantor.


"Mereka ada di mana? Math! Jawab dulu!" Luzi mengejar langkah Math yang meninggalkannya begitu saja. Suaminya belum menjawab salah satu dari pertanyaannya, dia masih penasaran.


"Math!!! Berhentiiiiiiiiiiii!!!!!!!" teriak Luzi dengan lantang hingga para pelayan mendengar jeritan dari Nyonya besar mereka. Tak tahu lagi apa yang harus Luzi lakukan. Dia sudah berusaha menjadi istri yang patuh dan ibu yang baik. Tapi seakan usahanya selama ini tak pernah dihargai.


Mendengar teriakan istrinya, Math begitu terkejut. Dia menghentikan langkahnya tapi tanpa menoleh ke belakang. Terdengar suara langkah kaki mendekat, Luzi menarik sisi lengan kemeja suaminya.


"Jika kau tidak mau memberitahu, baiklah. Aku bisa mencarinya sendiri! Terima kasih!" Luzi berbalik dan kembali ke kamar. Sedangkan Math memandangi istrinya dengan penuh keheranan. Tapi karna jam sudah semakin siang, dia segera berangkat ke kantor. Berusaha tidak peduli pada Luzi yang marah.


***


Sedangkan Sania, dia baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Setelah tadi malam dia baru tertidur kembali saat akan mencapai pagi gara-gara tengah malam dia merasakan lapar. Teringat jelas kejadian tengah malam tadi, dia nampak begitu dekat dengan kakak iparnya. Darien seakan tak memberi jarak padanya. Mereka layaknya seperti teman.


"Nona, kenapa Anda baru bangun? Tidak biasanya Anda seperti ini. Tadi pagi, tuan Rico, tuan Darien dan nona Keyla menunggu Anda lama di meja makan untuk sarapan bersama. Tapi Nona dibangunin tidak bangun-bangun."


Sania merenggangkan otot-ototnya dan menatap pelayan yang sedang membersihkan area kamarnya. "Semalam aku baru tidur saat akan mencapai pagi. Jadi, aku mengantuk sekali," jawabnya.


"Oh seperti itu, Nona." Pelayan itu mengangguk-angguk dan melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Oh ya, apa suamiku sudah pulang?" tanyanya sebelum mencapai pintu kamar mandi. Padahal jelas-jelas Paman Leo mengatakan bahwa Son akan pulang setelah satu minggu, tapi Sania yang cerewet selalu saja bertanya.

__ADS_1


"Tuan Son belum pulang, Nona."


Sania menghembuskan napasnya kasar. Dia sepertinya kesepian. Tapi bukankah harusnya dia senang? Dia merasa bebas, tanpa harus melayani suaminya yang cuek dan dingin.


Setelah selesai mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil bersenandung ria. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering, nampak nama dari ibu mertuanya menghiasi layar ponselnya.


"Ibu menelepon?" Tidak biasanya ibu mertuanya menghubunginya.


"Hallo, Bu," jawabnya pada balik telepon.


"Sania, kau di rumah?" Dahi Sania mengernyit, memangnya kalau tidak di rumah dia ada dimana. Dia lalu menjawab bahwa ia ada di rumah. Dan Luzi mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat. Sania pun mengiyakan, dia juga sempat berpikir akan menanyakan tentang hubungan ibu mertuanya dengan Son yang terlihat tidak baik. Mungkin hari ini bisa jadi kesempatan waktu mereka mengobrol berdua.


Hari ini dia memilih memakai dress polos berwarna biru muda. Dengan rambut tergerai indah. Riasan wajahnya juga tipis. Tak lupa ia memakai sling bag kecil untuk menunjang penampilannya. Flatshoes juga yang akan menemani langkahnya hari ini. Sekali lagi, dia menatap dirinya di depan cermin. Gadis belasan tahun yang sudah menyandang status istri dari seorang pria yang dingin.


Menikah muda bukan impiannya, bahkan tak pernah terlintas dibenaknya. Tapi rasanya dia telah menikmati. Apalagi kehidupannya berubah setelah menikah.


"Nona, mau kemana?" tanya seorang pelayan senior. Dia menatap nona mudanya dari atas sampai bawah. Dalam hatinya ia memuji nonanya yang cantik sekali hari ini.


Dan Keyla yang tak sengaja melintas, berjalan mendekat. Dia memicingkan matanya menatap penampilan Sania hari ini.


"Kau mau kemana?" tanyanya dengan nada kurang suka. Bahkan dia mengusir pelayan tadi.


"Aku mau bertemu dengan ibu, Kak. Ibu mengajakku pergi ke suatu tempat," jawabnya.


"Ibu?" Keyla masih mencerna kata-katanya. "Ibu siapa yang kau maksud? Ibu mertuaku?" tanya Keyla lagi. Dia tahu bahwa Sania adalah gadis yatim piatu. Tapi dia hanya ingin memastikan. Apa Ibu Luzi begitu dekat dengan Sania? Bukankah hanya dengannya, Luzi merasa dekat.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2