
Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tak percaya apa yang barusan ia baca. Berkali-kali menyangkal kenyataan yang ada. Dia Math, siapa yang berani membuatnya sekacau ini? Dia tidak terima.
"Berani-beraninya dia!" Math melemparkan berkas itu ke sembarang arah. Tangannya mengepal lalu ia hantam kan ke atas meja. Seluruh urat-urat di wajahnya keluar, menandakan ia sangat marah sekali. Udara seakan tak bisa memenuhi pernapasannya, hingga ia bernapas sambil terengah-engah. Dadanya terasa sesak, sampai tangannya memegangi dadanya.
Tak dapat lagi menopang tubuhnya, dia terduduk kembali di kursinya. Perlahan matanya kabur dan dia tak sadarkan diri.
***
Sania memilih duduk di ruang tengah sambil membaca sebuah majalah. Di atas meja telah berjejer berbagai macam buah dan cemilan. Tapi tak ia sentuh sedikit pun, perutnya merasa tidak enak setiap kali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Ia tak napsu memakan apa pun.
"San .... Kenapa tidak ada yang kau makan sama sekali? Bayi yang ada di perutmu butuh ini semua." Son datang menghampiri istrinya yang sedang duduk. Ini semua ia berikan untuk istrinya. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi istrinya dan bayinya.
"Aku tidak suka. Perutku selalu mual setiap kali memasukkan makanan. Aku tidak mau makan ini," jawabnya sambil memanyunkan bibirnya.
Son menghela napas. Sebenarnya apa yang diinginkan istrinya ini?
"Apa yang kau inginkan? Kau tidak mau menjawabnya. Aku jadi bingung." Sudah beberapa kali Son menawarkan, tapi Sania terus menggeleng. Membuat dirinya akhirnya berinisiatif sendiri untuk memberikan buah-buahan dan cemilan yang biasa dia makan.
"Hmm .... Sepertinya makan es krim enak," jawabnya. Sania lalu membayangkan sebuah es krim strawberry yang lezat.
"Baiklah, aku akan suruh pelayan membelikannya. Aku tidak bisa membelikannya, aku harus ke kantor sekarang."
Wajah istrinya berubah, baru saja dia ingin mengatakan kalau dirinya ingin suaminya saja yang membelikan tapi Son sudah lebih dulu mengatakan tak bisa.
"Hey, kenapa diam? Apa kau mau aku yang membelikannya? Hm, ya sudah. Kau tunggu disini." Suaminya ini memang serba tahu, dia sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran istrinya.
"Tidak usah lah! Kau—"
Bunyi dering ponsel milik Son membuatnya berhenti bicara. Son langsung merogoh sakunya dan melihat siapa yang menelponnya.
"Hallo, Paman. Son sebentar lagi ke kantor."
"Tuan, Anda sebaiknya langsung ke rumah sakit. Tuan Math dilarikan ke rumah sakit. Beliau tiba-tiba tak sadarkan diri."
__ADS_1
DEG.
Jantung Son seperti berhenti berdetak. Dia begitu terkejut mendengarnya. "Ba-baik, Paman." Sampai-sampai tubuhnya gemetaran, lalu pandangannya mengarah ke Sania yang juga dilanda kebingungan melihat ekspresi suaminya.
"Siapa yang menelpon?" tanyanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ajaknya seraya menggandeng istrinya. Matanya semakin memanas, rasanya air matanya ingin tumpah seiringnya dia berjalan. Tapi ia dengan kuat menahannya, tak ingin ia terlihat lemah.
Ayahnya jarang sekali jatuh sakit, tak pernah Math masuk rumah sakit. Membuatnya sangat khawatir.
"Kau belum jawab pertanyaan ku!" Di dalam mobil Sania menggertaknya. Son tak menghiraukan, entah pikirannya sedang kemana.
"Son!" teriaknya membuat suaminya lantas menoleh.
"Ayah masuk rumah sakit," jawabnya dengan suara melemah.
Sania juga sama terkejutnya, kini dia tahu apa yang dirasakan suaminya sekarang. "Ayah?" Kini wanita itu memilih diam, suaminya pasti sedang merasa khawatir.
Sesampainya di rumah sakit, mereka berdua mencari ruangan Math dirawat. Dari kejauhan sudah kelihatan, ada banyak orang yang berada di luar ruangan.
"Paman, apa yang terjadi pada ayah?" Diantara putra-putranya terlihat yang begitu khawatir adalah Son.
"Tidak tahu, Tuan. Seorang pelayan tak sengaja mendapati tuan Math sudah tak sadarkan diri di ruang kerjanya." Rasanya hancur, Son tak ingin ayahnya kenapa-kenapa. Hanya dia yang ia punya sekarang. Dia merasa orang yang mencintai dia hanyalah Math setelah Sania.
Sania berusaha menguatkan suaminya, dia tak melepaskan genggaman tangannya dan juga mengusap-usap lengannya pelan.
"Maafkan aku, aku jadi tak sempat membelikan es krim untukmu. Apa kita mau ke kantin sekarang? Barangkali di sana ada es krim?" Suaminya sungguh pengertian, bahkan dia tak lupa akan janjinya.
"Aku sudah tidak menginginkan es krim. Aku ingin bertemu ayah Math secepatnya," ujarnya membuat Son ikut terharu.
Istrinya ini memang pengertian. "Paman, sebenarnya ibu kemana?" Saat Rico datang, ia tak mendapati ibunya di sini.
"Maaf, Tuan. Nyonya Luzi sudah beberapa hari ini pergi dari rumah."
__ADS_1
"Apa!!!" Rico dan Darien berteriak bersamaan. Kenapa dia tidak tahu soal hal ini?
Darien merasa ia terlalu sibuk dengan pernikahan dan menghabiskan waktunya untuk istri cantiknya. Juga Rico yang memang beberapa hari ini tak menanyakan kabar pada ibunya, dia sibuk menemani Keyla dan juga mengurus perusahaan.
"Ibu pergi kemana?" tanya Darien.
Sedangkan Rico langsung menghubungi ibunya tapi tak ada jawaban sama sekali.
"Ibu belum juga pulang?" tanyanya dalam hati Sania. Karna telah berjanji pada ibu mertuanya untuk tidak memberitahukan siapa pun tentang keberadaannya, tapi kini Sania jadi serba salah.
Sania menarik suaminya untuk menjauh dari mereka. "Ada apa? Kau ingin makan apa?" tanyanya karna Sania tiba-tiba menarik tangannya.
"Ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu," ucapnya dengan ragu sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
"Ada apa, San?" tanyanya merasa bingung dengan sikap istrinya.
"Hm, aku .... Aku sebenarnya tahu dimana ibu sekarang."
Son langsung mengernyitkan dahinya. "Lalu?" Son berusaha tidak menghiraukannya tapi dia menjadi penasaran sekarang.
"Iya aku tahu dimana ibu sekarang. Tapi Ibu melarangku untuk memberitahukan siapa pun. Dan melihat ayah yang saat ini terbaring di rumah sakit, aku jadi merasa bersalah. Kakak-kakakmu sedang khawatir dengan keadaan ayah Math lalu mereka juga dibuat cemas akan keberadaan ibu saat ini. Son, aku harus bagaimana? Aku—"
"Sudahlah, kau tidak salah! Jangan pikirkan itu, biarkan saja!"
"Hey! Mana mungkin aku bisa tidak memikirkannya? Son, bukankah kau sudah tahu kalau kak Rico dan kak Darien juga bukan anak kandung ibu. Tapi mereka juga sama cemasnya, tapi kenapa kau tidak sama sekali. Son, kau kan sudah tahu kenyataannya. Kenapa kau sama sekali tidak membuka hatimu sedikit untuk ibu?"
"Iya, aku sudah tahu semuanya. Tapi dia juga sama telah merebut ayah dari ibuku. Dia sama saja dengan istrinya yang lain."
Sania merasa lelah berdebat dengannya, sangat sulit sekali melunakkan hatinya yang keras. Dia benar-benar keras kepala.
"Setidaknya kau punya belas kasih untuknya. Dia yang sudah merawatmu dari kecil. Kau seharusnya—"
"Diam lah, Sania! Jika kau tak ingin melihatku lebih marah dari ini, lebih baik kau diam!" bentaknya.
__ADS_1
"Terserah! Marah tinggal marah saja! Aku tidak peduli!" balasnya kemudian. Lalu Sania berlalu pergi.