ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 120 SON YANG SETIA


__ADS_3

"Hallo, sayang. Apa kau merindukanku?" Terdengar suara seseorang yang percaya diri disebrang sana.


"Tidak. Maaf salah sambung!"


"Eh, sayang. Kenapa begitu." Sania merasa malas jika suaminya sudah angkuh begini. "Aku yang merindukanmu. Tadi aku ingin menelpon mu tapi ternyata kau yang lebih dulu menelpon. Oh ya sayang, besok aku pulang. Berikan aku kepuasan ya satu hari penuh. Aku sungguh merindukan mu," pintanya membuat sang istri tersenyum-senyum.


"Tidak mau!" jawabnya berpura-pura menolak.


"Aku akan memaksamu!" ancamnya.


Sania tertawa, dia selalu dibuat tertawa oleh suaminya yang banyak tingkah.


"Hmmm ...." Sania berdehem.


"Kenapa sayang? Apa ada masalah di rumah?" tanyanya.


"Hmm, sedikit," jawabnya. Sekarang Sania sudah terbiasa mengatakan hal sekecil apa pun pada suaminya. Tak ada yang ia tutup-tutupi.


"Apa sayang? Coba ceritakan." Son yang cuek dan dingin, perlahan mencair jika berhadapan dengan istrinya.


"Kak Keyla masuk rumah sakit."


Sania lalu menceritakan awal mula bagaimana Keyla bisa masuk rumah sakit. Son pun paham, dia mengatakan bahwa tak ada yang salah sebenarnya. Hanya saja ini namanya musibah, tak ada yang tahu jika tiba-tiba Keyla akan dilarikan ke rumah sakit.


***


Hari-hari pun berlalu, Sania dengan wajah murungnya duduk di atas ranjang. Sedangkan Son masih tertidur pulas. Tapi pria itu akhirnya menggeliat saat merasakan ada pergerakan di ranjangnya.


"Sayang, kau sudah bangun?" tanyanya dan meraih tangan istrinya untuk ia ciumi. Dia tak ingin melepaskan Sania sedikit pun.


"Hmm ...." Wanita itu hanya berdehem. Pandangannya ia alihkan pada jendela yang belum dibuka.

__ADS_1


"Tetaplah disini!" Son tak mengijinkan Sania untuk beranjak bangun. Dia tetap memegangi tangannya.


"Lihat ini!" Sania melemparkan benda pipih yang sudah menjadi temannya hampir setiap bulan.


"Masih negatif?" Son memeluk Sania, dia tahu wanita itu sudah berkali-kali kecewa.


"Aku sering telat datang bulan! Aku kira aku akan segera memiliki momongan. Tapi kenapa hasilnya selalu negatif!" Dia marah, kesal dan juga kecewa. Kenapa setelah ia kehilangan bayinya, dia tak lantas mengandung kembali. Padahal sudah bertahun-tahun lamanya. Dia sudah makan makanan yang bergizi, menghindari makanan tertentu dan juga meminum vitamin rutin atas anjuran dokter.


"Sayang, sabar saja." Hanya itu yang bisa Son ucapkan setiap hari. Mereka sudah sering berusaha tapi mungkin memang belum dikasih.


"Aku takut kau akan seperti ayah—" Suaranya tercekat di tenggorokan, dia tak dapat melanjutkan perkataannya karna air matanya sudah lolos dari tempatnya.


"Takut apa? Apa kau takut aku akan menikah kembali? Sayang, aku ini Son. Kau tahu aku? Aku begitu setia dengan pasanganku apapun yang terjadi," jelasnya.


Sania tambah menangis, dia menangis dalam dekapannya. Pikiran buruk itu terus saja menghantuinya. Takut jika sifat Math menurun pada Son. Math yang sudah memiliki anak satu pada waktu itu juga menginginkan keturunan lagi, apalagi Son yang sama sekali belum memiliki keturunan darinya.


"Jangan berpikiran buruk tentangku. Aku takkan meninggalkanmu dan bahkan menduakan mu. Apa pun yang terjadi kita tetap bersama. Aku takkan bisa mencintai orang lain lagi. Mencintaimu saja aku butuh waktu yang lama."


"Apa kau benar-benar mencintaiku?" tanyanya dengan mata sembab.


Son memegang kedua pipinya. Menatapnya dalam-dalam. "Sania, aku Son. Aku sangat mencintai istriku."


CUP.


Satu kecupan mendarat di keningnya. Hati Sania berbunga-bunga, dia merasa sangat dicintai.


"Jika kau meragukan cintaku, coba kau lihat kalung ini," tunjuknya pada kalung di leher istrinya. Kalung yang ia belikan dulu saat jalan ke mall. Kalung dengan harga yang fantastis, sengaja ia belikan untuk istri tercintanya. "Aku membelikan ini dengan hati penuh cinta. Tak peduli seberapa harganya, kalung ini sebagai bukti cintaku padamu. Aku bisa memberikan apa pun yang kau mau bahkan yang belum sekalipun kau inginkan."


Bibirnya melengkungkan senyuman yang indah, Sania mencium pipi suaminya. Son dibuat terkejut, istrinya ini jarang bersikap agresif. Tak mau cium jika tak disuruh.


"Cium lagi disini," tunjuk lagi pada bibirnya.

__ADS_1


Sania menggeleng sambil tersenyum malu-malu. "Ayo," suruhnya.


CUP.


Son lah yang akhirnya mencium bibirnya, tapi dengan waktu yang cukup lama. Bukan sekedar cium, tapi sedikit memperdalamnya.


"Sayang, jangan berpikiran buruk lagi. Suamimu ini bukan orang jahat. Bukankah aku sudah menawarkan untuk program bayi tabung saja? Tapi kau selalu menolak."


Memang benar, Sania selalu menolak jika Son menawarkan program bayi tabung. Karna pikirnya mereka masih bisa berusaha sendiri.


"Satu bulan lagi kita usaha sendiri dulu. Setelah itu kita program bayi tabung saja jika tak ada perubahan."


Son hanya mengangguk. Sebenarnya dia tak mau memaksakan kehendak apa pun. Ingin istrinya merasa nyaman saja. Untuk program bayi tabung juga itu ia tawarkan karna tak tega melihat Sania yang terus menerus bersedih.


"Ayo kita usaha sekarang," ajaknya.


Hari sudah pagi, Sania sebenarnya ingin segera mandi. Tapi suaminya malah sudah membuatnya tak karuan. Hasratnya juga perlahan dibangunkan oleh suaminya sendiri. Tubuhnya seakan pasrah saat tangan nakal suaminya menjalar dibeberapa bagian tubuhnya.


Son semakin lihai saja memainkan tubuh istrinya, membuat Sania dibuat tak berdaya. "Sa—" Mulut Sania seakan dibungkam oleh cium*n mautnya.


"Lanjutkan sayang ...." Son kini berada dibawah tubuhnya. Sania lah yang kini menjadi kemudinya. Wanita itu seakan sudah berpengalaman, dia sekarang pandai membuat suaminya nagih. Permainannya tak kalah dengan suaminya. Walaupun Sania selalu menutup wajahnya, merasa malu jika dilihat suaminya.


"Lepaskan sayang ...." Mulut Son tak berhenti bersuara membuat Sania tambah dibuat malu olehnya. Tapi kenikmatan yang mereka rasakan tak membuat berhenti. Seperti tagihan yang terus berjalan tanpa henti. Sudah dibayar pun tetap akan terus berjalan.


Setelah mencapai puncak kenikmatan, mereka terkapar bersama di atas ranjang yang basah. Basah akan keringat dari tubuh mereka masing-masing.


Son menutupi tubuh istrinya yang polos dengan selimut. Menciuminya berkali-kali sebelum ia tertidur karna kelelahan. Karna hari ini weekend, mereka bebas untuk bangun jam berapa pun. Pelayan pun tak pernah mengganggu waktu tidur mereka. Jika pintu kamar belum dibuka, berarti tak ada satu orang pelayan pun yang berani mengetoknya. Kecuali jika keadaan darurat.


"Sudah jam 9, nyonya Sania dan tuan Son belum bangun?" Pelayan saling lempar pandang. Ini sudah terlalu siang, tak biasanya majikannya belum bangun.


"Sudah! Sudah, kalian kembali bekerja. Jangan pikirkan tuan Son dan nyonya Sania. Mereka itu pasangan suami istri, sudah jelas mereka berdua di dalam kamar sedang apa," ujar Bi Ranih sambil menahan tawa. Para pelayan pun ikut menahan tawanya saat mereka mengerti apa maksud dari pelayan senior itu.

__ADS_1


__ADS_2