ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 40 CEMBURU?


__ADS_3

Darien menunggu jawaban Sania. Tapi gadis itu malah diam saja.


"Tidak perlu dijawab. Sudah tentu kau mencintai adikku. Kalian sudah menikah, tidak mungkin tidak ada rasa cinta." Tak mau membuat suasana menjadi canggung. Darien tidak mau membahas lebih lanjut.


"Sania, apa kau sudah pernah menonton film?" tanya Darien memecah keheningan.


"Film? Di bioskop?" Darien mengangguk. Lalu Sania menggeleng. Dia belum pernah ke bioskop. Masa mudanya hanya lah di rumah di saat sudah pulang sekolah. Dia tak punya teman, tidak ada yang mengajaknya pergi. Disaat dia sudah memiliki teman seperti Jeffry, dia malah memilih untuk menikah. Dan sekarang hubungannya dengan Jeffry menjadi jauh. Padahal pria itu sangat peduli dengannya.


"Kau tak pernah pergi ke bioskop bersama teman-temanmu?" tanya Darien lagi tidak percaya. Ada seorang gadis belia belum pernah merasakan duduknya di bangku bioskop, itu tidak masuk akal baginya.


"Sania tidak pernah pergi kemana-mana, Kak. Sepulang sekolah ya langsung pulang ke rumah," jawab Sania polos.


"Tidak pernah pergi jalan dengan kekasihmu?"


Sania tertawa. Tawanya sangat manis, membuat Darien seketika terpesona dengan bibirnya yang terbuka. Deretan giginya yang bersih juga tak luput dari pandangannya.


"Sania tidak pernah memiliki kekasih." Sania malu sebenarnya, disaat teman-temannya memiliki seorang pujaan hati tapi Sania tidak.


Darien menggelengkan kepala. Dia tidak percaya bahwa gadis secantik dirinya tidak pernah memiliki kekasih. Dilihat-lihat Sania itu gadis yang menarik. Tidak mungkin, tak ada yang menyukainya di sekolah.


"Bagaimana kalau hari minggu kita pergi ke bioskop?" Sania menatap Darien yang juga sedang menatapnya. Kedua mata mereka bertemu dalam waktu yang lama. Sania tak menyangka bahwa Darien akan mengajaknya untuk pergi ke bioskop bersama. Seorang pelayan senior yang mendengar percakapan mereka langsung beranjak pergi mencari Leo. Dia akan mengatakan apa yang dia barusan dengar. Bukan berarti dia ikut campur, tapi ini harus diberitahukan pada Leo.


"Ada apa? Kenapa kau berlari?" Kakinya berhenti tepat di depan Leo. Saat ini mereka sedang berada di halaman depan. Sesaat matanya melirik pada Son yang diam.


"Bisakah kita bicara sebentar?" bisiknya.


"Bicarakan di sini saja!" seru Son. Dia mendengar pelayan senior berbisik pada Leo.


Leo pun tak sabar ingin mendengar apa yang ingin dikatakan pelayan senior itu. Tapi dia malah diam sambil meremas ujung roknya.


"Katakan, ada apa? Ada masalah di dalam?" tanyanya.

__ADS_1


"Tidak, Leo. Maaf, Tuan Son. Saya hanya ingin mengadukan bahwa tadi pelayan belakang ada yang menjatuhkan piring," ujarnya setelah lama berpikir.


"Katakan yang sebenarnya!" seru Son lagi. Pria itu tidak percaya begitu saja apa yang barusan diucapkan pelayan senior. Dia bisa membaca bahwa ada sesuatu hal yang terjadi di dalam. Apalagi di sini ada Darien, kakaknya itu bisa melakukan apa saja yang dia mau.


BIM! BIM!


Sebuah mobil mewah terlihat masuk ke halaman. Kedatangan mobil membuat perhatian mereka teralihkan. Leo langsung berlari menyambut kedatangan majikannya. Math dan Luzi pagi ini berkunjung ke rumah Son.


"Tuan Math dan nyonya Luzi datang, Tuan," ujarnya memberitahu.


"Son, kau di sini?" Math menepuk pundaknya pelan.


Luzi yang ada di samping Math, menatap putranya dengan mata yang sendu. Dia ingin sekali memeluknya sebentar. Tapi, putranya itu pasti akan menolak.


"Leo, apa Darien di dalam?" Kedatangan Math ke rumah Son memang ingin menemui Darien. Putranya yang telah meninggalkan rumah beberapa waktu yang lalu. Dan saat mendapat kabar bahwa Darien kembali ke rumah ini, Math langsung bergegas kesini. Begitu pun Luzi, seorang ibu akan selalu merindukan putranya.


"Darien, kau ke mana saja?" Luzi memeluk erat Darien. Putranya yang sangat mandiri.


Di hadapan Sania, Son, Leo dan para pelayan yang berada di ruang makan, Math dengan beraninya memarahi Darien. Pria itu melayangkan tatapan dingin pada ayahnya. Bukan berarti membenci, tapi Darien merasa dipermalukan. Sania yang berada ditengah-tengah merasa tidak nyaman. Apalagi melihat Math yang benar-benar marah.


"Jika aku seperti anak kecil, lalu putra ayah yang satu ini—" Suaranya tercekat di tenggorokan. Rasanya tak ingin melanjutkan. Tapi dia belum puas. "Putra kesayangan ayah apa dia cukup dewasa untuk menghukum dirinya sendiri dengan cara seperti ini? Selalu menyusahkan orang lain!"


PLAKKK!!!


"Math!" teriak Luzi melihat suaminya menampar Darien. Air matanya luluh bersamaan suara tamparan yang keras terasa terngiang-ngiang di kepalanya, dia begitu tersayat dengan tamparan keras itu. Luzi tidak menyangka bahwa suaminya akan melukai putranya sendiri.


Darien menatap Math dengan mata berkaca-kaca. Dia terkejut dengan apa yang dilakukan Math.


"Math, apa-apaan kau ini!" Luzi tak tega melihat wajah putranya. Dia mengajak Darien pergi dari situ.


"Lakukan sekali lagi, Ayah! Lakukan! Agar aku tahu bahwa dia benar-benar anak kesayangan Ayah!" Darien menolak untuk pergi. Dia masih diam di tempat walaupun Luzi mencoba menyeretnya pergi.

__ADS_1


Math saat ini berdiri membelakanginya. Dia melirik telapak tangannya yang ia pakai untuk menampar putranya. Dia tidak menyangka, bahwa tangan ini akan berayun mengenai pipi putranya.


"Aku jahat?"


Hati Math begitu hancur. Sayang sekali Son tidak bisa melihat kejadian itu. Dia acuh walaupun mendengar perdebatan.


"Tuan, ayo kita ke kamar," ajak Leo karna suasana terasa tidak nyaman.


"Tidak! Tetap lah di sini." Son tidak mau pergi. Dia ingin mendengar lebih lanjut apa yang sedang mereka debatkan.


"Jika Ayah tidak mau menamparku lagi. Baiklah." Dia menghela napasnya perlahan. Dia melirik Son yang duduk tenang di atas kursi roda.


"Kau! Pukul lah aku! Cepat!" Dia meraih tangan Son lalu digerak-gerakkan untuk memukulnya.


"Lepas!" Son menepis kasar tangannya yang menyentuhnya. "Jika kau ingin dipukuli, aku bisa memanggilkan beberapa bodyguard untuk memukulimu!" ucap Son menantang.


"Sudah, sudah! Cukup!" Luzi menarik paksa Darien. Bahkan langkahnya tertatih-tatih. Tak ingin anggota keluarganya saling melempar kebencian, Luzi berusaha melerainya.


"Darien, dengarkan Ibu ...." Saat ini Luzi dan Darien sedang di kamar. Luzi berusaha menenangkan putranya. "Kau jangan pernah berpikir kalau ayah tidak menyayangimu. Ayah sangat menyayangimu begitu pun Ibu." Tangannya ia pegang erat, putranya ini memang sangat mandiri tapi sifatnya terkadang penuh dengan kecemburuan.


"Ibu sangat—"


"Hanya Ibu yang menyayangi Darien," potongnya cepat. Darien beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Wajahnya ia guyur dengan air yang mengalir. Hatinya masih terasa panas, dia tidak mau rasa kesalnya ia lampiaskan pada ibunya. Biar di sini saja Darien melampiaskan kekesalannya. Tangannya yang mengepal ia pakai untuk memukul-mukul dinding kamar mandi. Berharap amarahnya terlampiaskan. Tapi memang sulit, hatinya memang sangat merasakan kecemburuan. Benar kata ibunya, dia cemburu. Cemburu dengan saudaranya sendiri. Darien seperti anak yang tak dipedulikan.


"Darien! Bagaimana bisa terjatuh? Lihat adikmu, kakinya berdarah!" Math memarahi Darien yang kala itu habis pulang bermain. Mereka naik sepeda bersama dengan Son diboncengnya. Tapi musibah pun terjadi, mereka terjatuh di atas aspal. Membuat Son akhirnya luka-luka juga Darien tak luput memiliki luka dibeberapa bagian tubuh. Ayahnya lebih peduli dengan Son, dia langsung menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Hanya Luzi lah yang peduli pada Darien. Ibunya langsung mengobati lukanya.


"Tidak adil!" teriaknya dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2