
Akhirnya Rico pun datang, tanpa menyapa Sania yang ada di luar ruangan dia langsung masuk ke dalam. Dia sangat mengkhawatirkan Keyla. Wanita tercintanya sedang terbaring di ranjang. Pelan-pelan dia melangkah lalu menyentuh jari jemarinya lembut.
Mata Keyla mengerjab, dia tersadar dan melihat suaminya ada di depan mata.
"Sayang ...." panggilnya lirih.
"Iya sayang. Ada apa? Aku di sini." Rico mengelus puncak kepalanya lalu beralih pada perutnya yang membuncit.
"Aku membenci mereka ...." Belum hilang rasa kesalnya pada Sania dan juga keponakannya yang laki-laki itu. Karna mereka, Keyla jadi dilarikan ke rumah sakit.
Rico tak paham apa maksud istrinya. "Mereka siapa, sayang?" tanyanya.
"Adik ipar mu dan keponakan mu itu!" jawabnya ketus.
Sejenak ia berpikir. "Sania dan Zion?" Di luar memang ada mereka, Rico bahkan belum sempat menyapa karna rasa khawatirnya yang terlalu besar terhadap Keyla.
Penasaran apa yang sebenarnya terjadi, Rico menghampiri Sania dan Zion di luar.
"Sania, sebenarnya apa yang terjadi pada Keyla?" tanyanya tanpa basa-basi.
Sania dan Zion saling pandang dan akhirnya Sania berusaha menjelaskan. Tentang Meysa yang menginap di rumahnya dan drama soal Meysa yang tak ingin pulang.
Rico tak menyalahkan siapa pun, di sini hanya terjadi kesalahpahaman saja. Dia sebagai suami dan juga kakak ipar yang baik akan mencoba meluruskannya.
"Paman Rico ...." Zion tiba-tiba memanggilnya. Suara kecilnya membuat Rico gemas. Dia berjongkok dan menjawab panggilannya.
Zion ingin mengatakan sesuatu tapi dia melirik Sania yang sepertinya tak mengijinkannya.
"Zion, ayo kita pulang. Paman Rico mau menemani bibi Keyla di sini," ajaknya.
"Paman, aku ada satu rahasia untukmu," ucapnya dengan wajah serius.
__ADS_1
Rico terkekeh, dia mengangguk. Tak peduli seserius apa ucapannya dia tak begitu menghiraukan. Namanya anak kecil pasti ada aja yang ia katakan. Seringnya mengatakan hal yang diluar nalar.
Di halaman parkir rumah sakit, Sania menghentikan langkah Zion.
"Zion, apa tadi kau akan mengatakan tentang sikap bibi Keyla pada Meysa?" tanyanya menebak.
Zion mengelak lalu menggeleng. "Tidak, Bi."
"Jangan bohong pada Bibi. Zion, Bibi tidak mau nanti kau kena masalah. Jadi lebih baik kau diam saja. Untuk itu biar urusan orang dewasa saja." Sebenarnya sikap Keyla yang kasar pada Meysa tak seharusnya Zion melihat, itu akan membuat anak sekecil dirinya kepikiran atau pun terbayang-bayang.
***
Usaha telah mereka lakukan semaksimal mungkin. Kini mereka berpasrah pada Sang Maha Kuasa. Hanya tinggal doa yang bisa mereka panjatkan.
"Math .... Aku mohon." Di masa-masa kritisnya, Luzi berharap ada secercah harapan untuk kesembuhan Math. Bertahun-tahun ia menemani Math berobat di negeri orang. Egonya telah ia turunkan demi putra-putranya. Tak ingin membuat mereka bersedih terus menerus.
"Ibu ...." Son menangis dalam pelukannya. Sudah beberapa hari ini kondisi Math menurun, dokter sudah pasrah dan jika hari ini tak ada perubahan terpaksa semua alat-alat yang menempel di tubuhnya akan dilepaskan.
Dan pada akhirnya dengan tangan gemetar, Son membaca sekali lagi surat pernyataan yang diberikan oleh perawat. Dia yang bertanggung jawab atas segala keputusan yang diambil. Dia harus segera menandatangani surat itu. Agar Math yang tak lagi bisa diselamatkan, bisa kembali ke Yang Maha Kuasa dengan tenang.
"Ayah ...." Son melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa tangan Math bergerak. "Dokter!" Son memanggil sang dokter. Seluruh orang di dalam ruangan juga melihat perubahan itu.
"Ayahku masih hidup. Ayahku ada harapan untuk tetap hidup," ujarnya dengan air mata mengalir. Luzi dan Son berpelukan, ini yang mereka tunggu-tunggu. Lalu mereka berdua pun menunggu di luar, sedangkan dokter mengecek keadaan Math seluruhnya.
Son dengan antusias menghubungi keluarga di rumah. Dia ingin segera memberitahukan keadaan Math sekarang. Bahwa ada kemajuan dari kondisi Math.
.
.
.
__ADS_1
Di rumah, Sania dan Zion bermain bersama. Sania begitu menikmati perannya sebagai seorang Bibi. Anak sekecilnya memang sedang aktif-aktifnya. Bahkan dia sedikit kewalahan mengikuti apa mau Zion.
"Zion! Berhenti!" Zion berlari hampir saja mencapai gerbang rumah. Pak Satpam dengan sigap menangkapnya.
"Tuan tampan, mainnya di dalam saja." Sania kecolongan saat ia sedang ke dapur mengambil minum. Zion ternyata berani keluar dari rumah dan berlari hampir mencapai jalan raya.
"Pak, kenapa gerbangnya tidak ditutup!" Sania melihat posisi gerbang yang dibuka lebar.
Pak Satpam langsung menutupnya untuk berjaga-jaga jika Zion kembali berlari keluar.
"Zion, sudah Bibi katakan tetaplah di dalam. Kenapa kau malah berlari keluar?" Sania lantas menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam.
"Bibi, Zion rindu ibu .... Mau pulang," rengeknya. Dia bahkan meronta-ronta dalam gendongan Sania. Rambutnya yang panjang sampai ditarik-tarik membuatnya mengaduh kesakitan.
"Zion, sakit ...." Sania berusaha melepaskan cengkraman tangannya yang berada di rambutnya. Dia sesabar mungkin menghadapi tingkah Zion. "Sayang, dengarkan Bibi. Ibu Zion sebentar lagi pulang, jadi Zion tidur dulu aja ya," ajaknya kemudian.
Hari sebenarnya masih sore, tapi daripada Zion terus menerus merengek tidak jelas. Dia lalu mengajaknya untuk tidur saja.
"Zion tidak mengantuk, Bi!" tolaknya dan meronta-ronta ingin segera turun. Akhirnya Sania menurunkannya. Dia berdecak sebal sambil bertolak pinggang.
"Zion, dengarkan Bibi ya—"
"Tidak mau! Tidak mau!" Zion berlari sambil menutup kupingnya. Dia tak ingin mendengar suara Bibinya.
"Ya ampun ...." Sania dibuat pusing sendiri dengan tingkahnya. Saat ini umurnya sudah masuk kepala 2. Tak bisa dibayangkan jika dia saat ini sudah memiliki anak, apa dia bisa sabar menghadapi sikap anak kecil? Menghadapi Zion yang sudah berumur 4 tahun lebih saja dia sudah kewalahan. Mungkin ini sudah takdir, dia belum juga diberikan keturunan lagi. Jadi sekarang mungkin dia harus belajar lebih dulu mengasuh Zion dan Meysa.
Kini Sania membiarkan Zion berjalan kesana kemari. Dia hanya tinggal mengawasi saja. Seluruh pintu sudah ia tutup, juga pintu akses menuju dapur takut jika Zion tiba-tiba ke dapur dan menyentuh sesuatu di sana. Beberapa pelayan juga ia suruh untuk mengawasinya dari jauh.
"Zion, apa kau sudah lelah sayang?" Matanya sayu, dia memainkan mobilnya tidak penuh semangat berbeda pada saat menumpahkan mainannya semua di lantai. Tampaknya anak kecil itu sudah lelah.
"Bibi ...." rengeknya. Sania langsung mendekapnya dan menimangnya. Menyanyikan sebuah lagu sambil berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Di ranjangnya, ia menidurkan Zion. Tak hentinya ia memandangi wajah tampannya. Persis seperti Darien. Lalu ia mengecup keningnya, dia berharap segera diberi keturunan lagi. Walaupun suaminya tak pernah membahas soal anak, tapi ia tahu bahwa Son sangat menantikan seorang anak di keluarga kecilnya.
Sania meraih ponselnya, dia merindukan seseorang yang jauh di sana. Ingin sekali mendengar suaranya yang gagah itu.