ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 46 WANITA MENYEBALKAN


__ADS_3

Tak ada hari yang membuatnya tenang. Selalu saja ada kejadian yang membuatnya semakin lelah saja menjalani hidup. Hujan, panas, angin, badai semuanya sama saja. Tak ada bedanya. Tak merubah apa pun di hidupnya. Seakan semuanya sama saja di rasakan. Tidak ada perbedaan.


Dari pantulan cermin, dia melihat wajahnya sendiri. Banyak yang bilang, dia sangat mirip dengan wajah ibunya. Dia tersenyum dengan hati yang bersedih. Andai orang tuanya masih ada, mungkin saat ini dia sama seperti Maria. Berada di kampus dan bisa memiliki banyak teman di sana.


"Sania, Paman antarkan ke rumah sakit. Tapi maaf, Paman tidak bisa menjenguk Son. Paman harus berangkat kerja." Berkat bantuan besannya, Raul bisa bekerja di suatu perusahaan industri. Juga dia diberikan sebuah kendaraan. Dia sangat bersyukur.


"Tidak usah, Paman. Jalannya tidak searah, nanti Paman bisa terlambat." Sania tidak mau merepotkan pamannya, lagi pula sebentar lagi pasti ada taxi yang lewat.


"Tidak apa-apa. Naik lah, Sania. Paman tidak mau dibantah." Dengan rasa tidak enak hati, Sania akhirnya masuk ke dalam mobil.


"Paman, maafkan Sania selalu merepotkan," ujarnya sambil melirik pada Paman yang serius menyetir.


"Hentikan kata-kata merepotkan, Paman tidak suka. Dengar ya, Sania. Kau adalah keponakan Paman. Kita adalah satu keluarga." Melihat Paman Raul yang berubah menjadi bersikap baik padanya, Sania terkadang masih belum percaya. Dia benar-benar tidak menyangka, bahwa takdir baik masih berpihak padanya.


"Salam untuk Son." Setelah mengantarkan Sania sampai rumah sakit, Paman Raul langsung melajukan mobilnya ke tempat kerjaannya.


Sania melirik penampilannya hari ini. Dia memakai baju milik Maria. Karna dia tidak membawa baju dari rumah. Baju Maria memang bagus-bagus, dia memiliki selera fashion yang tinggi.


Baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit, sosok perempuan yang pernah membuatnya kesal tiba-tiba melintas di hadapannya. Tapi untungnya wanita itu tidak melihat keberadaan Sania.


"Kenapa ada dia di sini? Jangan-jangan ...." Sania langsung bergerak cepat menyusul sosok wanita itu, tidak mau sampai kehilangan jejak. Wanita itu berhenti di sebuah ruangan. Wanita itu tidak langsung masuk, malah dia memilih duduk di depan.


"Nona!" Suara pria yang berat hingga tepukan di pundaknya membuat Sania menjerit kaget.


"Paman! Mengagetkanku saja!" sebal Sania. Seluruh pasang mata memandang ke arahnya, itu karna Sania menjerit sangat kencang. Membuat perhatian lainnya teralihkan.


"Nona, kenapa di sini? Ruangan tuan Son ada di sebelah sana," tunjuknya. Dan dia mengajak Sania untuk segera menemui Son.


"Kenapa suamiku dibawa ke rumah sakit? Apa yang telah terjadi?" tanyanya beruntun.

__ADS_1


"Tuan Son menyakiti dirinya sendiri, Nona. Dia melukai dirinya sendiri," jawabnya.


Mendengar penjelasan Paman Leo, hatinya terenyuh. Bagaimana mungkin Son tega menyakiti dirinya sendiri. Sebenarnya dia waras atau benar-benar gila?


"Tapi Nona tenang saja, tuan Son sudah diberi obat penenang. Dia tidak akan bertindak diluar batas," ujar Paman Leo kemudian.


Sania membuka pintu ruangan yang ditempati Son. Dia menoleh pada sisi ranjang. Son tidak sedang tidur, dia masih membuka matanya tapi tatapannya terlihat kosong. Dia melangkah dengan pelan-pelan. Tapi sepertinya, Son mengetahui adanya seseorang yang masuk.


"Paman Leo?" tebaknya.


"Bukan. Ini aku, istrimu," jawab Sania. Terlihat Son tampak tidak suka, ia membuang muka.


"Untuk apa kau ke sini? Sudah kah bersenang-senang dengan pria lain?" sindirnya.


Dahinya berkerut, tak mengerti apa maksud suaminya. "Bersenang-senang dengan pria lain siapa?" tanyanya dengan bingung.


"Jangan berpura-pura!" Emosinya mendadak naik, dia teringat akan Darien yang mencoba mendekati istrinya.


"Son ...." Suara lembut dari seorang wanita mengalihkan perhatian keduanya. Wanita itu masuk tanpa permisi. Membuat Sania yang berada di sana terkejut dengan kehadirannya.


"Kenapa dia kemari?"


"Son, kau sakit apa? Aku tadi bertemu dengan paman Leo dan dia mengatakan kau dirawat di sini. Apa yang terjadi?" Meylin, wanita yang menyebalkan. Katanya dia adalah sepupu dari Vennie. Tapi tampaknya Meylin menyimpan rasa untuk Son. Walaupun Sania belum yakin pasti.


"Aku tidak apa-apa. Sebentar lagi akan pulang," jawab Son.


Meylin melirik pada Sania yang berdiri di sebelahnya. "Kau bukan istri yang baik. Aku dengar Son sudah beberapa kali masuk ke rumah sakit semenjak menikah denganmu," sindirnya membuat Sania meliriknya tajam. Dia tidak terima dengan perkataan Meylin.


"Lalu kau mau apa? Menggantikan posisiku?" Sania tidak tinggal diam, dia ingin meluapkan semua kekesalannya pada wanita itu.

__ADS_1


"Kau harusnya sadar diri. Kau hanya lah orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidup Son. Dia tidak akan pernah mencintai wanita lain selain Vennie-sepupuku," ucapnya penuh penekanan.


Sania menyunggingkan senyumannya. "Baik lah, tidak masalah. Cinta itu susah ditebak. Bisa jadi sekarang bilang tidak, tapi nanti bisa jadi akan cinta mati." Sania berlalu pergi, dia tidak mau terus-menerus dalam satu ruangan bersama mereka. Hatinya begitu sakit saat mendengar perkataan dari Meylin. Son pun hanya diam saja, yang artinya dia mengiyakan perkataan dari wanita sialan itu.


"Meylin! Apa yang kau katakan barusan?" Son yang diam tiba-tiba membentaknya. Dia membuat Meylin yang sedang tertawa di dalam hati mendadak terkejut.


"Ya, yang seharusnya aku katakan padanya. Agar dia sadar. Aku tahu kalian tidak saling mencintai." Meylin menatap Son dengan seksama. Melihat wajah tampan dari mantan tunangan sepupunya. Dia merasa iri dengan Vennie, bisa memiliki hati Son seutuhnya.


"Jangan ikut campur tentang hidupku! Pergi lah!" Meylin terkejut dengan ucapan Son yang mengusirnya. Bagaimana mungkin Son marah hanya karna ucapannya kepada Sania? Bukan kah itu kenyataannya? Kenapa Son bisa marah?


"Kau mengusirku, Son? Kau marah denganku?" tanya Meylin tidak percaya. Dia masih diam di tempat, tidak bergerak sedikit pun.


"Pergi lah! Dan jangan pernah kembali menemui ku," ucapnya lagi membuat dahinya berkerut. Masih memandangi wajah Son yang sepertinya benar-benar marah.


"Son—"


"Pergi! Aku bilang pergi!" usirnya dengan lantang seraya jarinya mengusir dengan paksa. Entah apa yang membuat Son marah, pria itu tampak tidak senang dengan Meylin sekarang. Wanita itu membuat moodnya buruk.


"Son, aku minta maaf." Meylin mencoba meminta maaf, dia tidak mau Son membencinya. Dia menyentuh lengannya tapi langsung ditepis kasar oleh Son.


"Apa kau tuli?" Son benar-benar marah. Wanita di depannya ini sangat keras kepala.


"Baik lah, aku akan pergi. Sekali lagi aku minta maaf." Meylin melangkah keluar, sesaat dia menoleh pada Son sebentar dan dengan hati yang lapang dia berjalan keluar dari ruangan. Meninggalkan Son di dalam ruangan sendirian.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2