ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 97 PERDEBATAN


__ADS_3

Dengan kekuatan penuh, Sania menarik Son keluar ruangan. Tak ingin membuat kakak beradik itu semakin panas. Luzi dengan tubuhnya yang lemah tak bisa membantu melerai keduanya.


"Ini rumah sakit! Kenapa kau tak bisa mengontrol emosimu!" Tepat di sebuah lorong rumah sakit, Sania memarahi suaminya yang saat itu masih diselimuti perasaan emosi.


"Terus saja bela kakak ipar kesayanganmu itu! Aku memang selalu salah di matamu!" jawabnya.


Sania menarik tangan suaminya yang hampir beranjak pergi. Menatap lamat-lamat kedua bola matanya yang teduh.


"Terima kasih." Ucapan terimakasih yang tak tahu untuk apa. Son memalingkan wajahnya masih kesal. "Terima kasih sudah peduli terhadapku." Sania memeluk tubuhnya, merasakan kehangatan dari dalam tubuh suaminya. Cukup lama tak ada balasan dari Son. Hingga perlahan Sania mengendurkan pelukannya dan mencebikkan bibirnya.


"Jangan dekat-dekat dengannya lagi, aku tidak suka!" Son menariknya kembali dalam pelukan, mengacak rambutnya dengan gemas.


.


.


Darien membenarkan pakaiannya yang berantakan akibat ulah Son, lalu matanya menatap Luzi yang masih shock atas apa yang terjadi.


"Ibu ...." Darien duduk kembali di sebelahnya.


"Darien, jangan memancing emosi adikmu," tuturnya lembut.


"Ibu selalu membelanya." Tidak hanya ayahnya, ibunya juga sering membela adiknya.


"Bukan begitu, Darien. Ibu hanya tidak mau kalian saling membenci. Kau yang lebih tua, seharusnya kau lebih banyak mengalah," tuturnya lagi.


Darien menghembuskan napasnya lalu meletakkan kepalanya di samping ranjang. Memejamkan matanya yang sedikit merasa lelah. Luzi bergerak mengelus kepala putranya. Putranya yang mandiri dan juga pekerja keras.


"Darien, sudahkah ada wanita yang berhasil merebut hatimu lagi?" Tiba-tiba pertanyaan menyebalkan itu keluar dari mulut ibunya. Tak mau langsung menjawab, dia memutar bola matanya.

__ADS_1


"Ibu .... Darien masih sendiri," jawabnya malas-malasan.


"Tidak mungkin tidak ada wanita yang menyukaimu. Pasti ada, bahkan banyak," ujarnya yakin.


Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Suara decit pintu terbuka mengalihkan perhatian keduanya.


"Darien, sudah malam sebaiknya kau pulang. Besok kau harus bekerja, bukan? Hari ini kau sudah tidak berangkat. Besok kau harus ke perusahaan. Biar ibumu, Ayah yang menemani." Darien menatap sang ibu dan Luzi menganggukkan kepalanya.


"Pulanglah, Darien. Kau harus beristirahat," kata Luzi ikut menimpali.


Setelah kepergian Darien, Math hanya berdua di ruangan bersama istrinya.


"Kau juga sebaiknya tidur. Kau pasti lelah," suruhnya pada suaminya yang sedang menatap ke sembarang arah. Wajah lelahnya tak bisa dibohongi.


"Aku tidak akan tidur jika kau belum tidur." Mereka saling bersitatap. Hari ini Math terlihat peduli dengannya. Bahkan Math yang selalu memprioritaskan pekerjaan, untuk hari ini ia sama sekali tidak berangkat ke perusahaan. Bahkan ia sama sekali tidak bekerja di depan laptop atau pun menerima telfon dari mana pun. Dia benar-benar menutup semua akses pekerjaan hanya untuk merawat istrinya.


***


"Jika mau mu begitu, aku juga tak ingin kau menyimpan nomer Meylin lagi. Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya!" Sania menatapnya sengit. Jika membayangkan kejadian dulu saat Son masih buta, ia menjadi kesal sendiri. Meylin dengan sadarnya menggandengnya berjalan menuju makam. "Kenapa diam? Tidak mau?" tanyanya lagi melihat Son yang diam saja.


"Aku dengannya tidak ada apa-apa. Dia hanya sepupu dari Vennie," belanya.


"Iya sebatas sepupu bagimu, tapi baginya tidak." Sania menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Hembusan napasnya terasa berat, ia sepertinya cemburu mendengar ia menyebut nama Vennie.


"Baiklah, aku akan hapus nomernya. Dan kau juga tidak boleh menghubungi pria mana pun."


Sania terdiam dibalik selimut yang baru saja ia raih. Hingga Son mencoba menarik selimutnya tapi Sania berusaha mempertahankan.


"Hey, kau kenapa? Kau belum cuci kaki dan ganti baju. Jika ingin tidur, cuci kaki dan ganti baju dulu!" perintahnya tapi Sania diam sambil menggeliat di bawah selimut.

__ADS_1


BRAKKK!


Terdengar pintu kamar mandi yang ditutup. Sania perlahan menyibakkan selimutnya dan mengedarkan pandangan. Dia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian tidur miliknya dan berganti dengan cepat.


Sania berniat ingin segera tidur, karna dia juga merasakan lelah. Tapi cukup lama dia berbaring di atas ranjang dan belum terlelap juga, disisi lain suaminya belum juga keluar dari kamar mandi membuatnya sedikit khawatir.


"Lama sekali. Sedang apa sih di dalam?" Tak terdengar bunyi percikan air dari dalam kamar mandi membuatnya heran.


"Son .... Kenapa lama sekali! Buruan, aku juga ingin cuci muka!" gedornya pada pintu yang masih tertutup. Tapi tak ada sahutan di dalam. "Hey! Buka!" Sania yang tak sabar mencoba membuka pintunya tapi dikunci dari dalam. "Hey, jangan pura-pura tuli dan bisu!" Benar-benar hening, tak ada suara dari dalam. Sania menjadi sangat khawatir.


"Son! Buka!" Dia kebingungan sendiri, sebenarnya apa yang terjadi di dalam.


KLEK!!!


Pintu dibuka oleh Son. Sania yang hampir mencapai pintu kamar untuk meminta bantuan, seketika menoleh ke belakang. Terlihat Son dengan wajah datarnya dengan bertelanjang dada berjalan menuju lemari.


"Hey! Apa kau tuli?" Sania berjalan menghampiri suaminya yang memasang ekspresi tanpa dosa itu. Tidak mungkin suaminya ini tidak mendengarnya berteriak sedari tadi.


"Hey! Jawab!" Sania menggoyangkan lengan suaminya.


"Cerewet sekali! Kau tadi disuruh cuci kaki dan ganti baju juga diam saja! Sedangkan sekarang kau berbicara panjang lebar dan tidak direspon malah marah! Dasar wanita!" Son mendecak sebal, setelah ia berganti dengan pakaian tidur lalu berjalan menuju ranjang.


"Ya maaf." Sania akhirnya mengakui bahwa dirinya sedikit egois tadi.


"Aku tidak mengijinkan mu untuk kuliah. Tetaplah di rumah." Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Son berubah pikiran. Yang semula ia mengijinkan Sania untuk kuliah, dia tiba-tiba menjadi tidak mengijinkannya.


"Hah? Kenapa kau berubah pikiran?" Sania padahal sudah semangat sekali karna sebentar lagi dia akan merasakan rasanya bangku kuliah. Tapi nyatanya mimpi indah itu tak akan jadi kenyataan.


"Pokoknya aku bilang tidak boleh ya tidak boleh. Kau sudah menjadi seorang istri, jadi harus menurut dengan suami!" Sania memicingkan matanya, merasa kesal dengan sikap suaminya yang seolah tak memikirkan dirinya. Dia juga ingin menuntut ilmu, dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja seusianya. Tapi mungkin ini adalah sebuah takdir untuknya, dia harus ikhlas menerima.

__ADS_1


"Tidurlah, cepat! Sudah malam." Son menarik tangan istrinya untuk segera naik ke atas ranjang. Kedua matanya mengisyaratkan sesuatu. "Tapi sebelum tidur, aku ingin menghabiskan malam denganmu," ucapnya dengan mata memuja.


Sania hanya bisa pasrah saat tangan suaminya mulai berkeliaran di tubuhnya. Merasakan sensasi yang luar biasa. Apalagi saat Son mengecup lembut lehernya yang jenjang, dia kegelian sambil meremas lengannya.


__ADS_2