
Sejak kejadian kakinya terkena minuman panas, setiap hari Sania yang membersihkan tubuhnya. Tubuhnya tak boleh terkena air terlebih dahulu, maka dari itu Son hanya bisa mengelap tubuhnya saja dengan handuk basah. Sania lah yang setiap hari menjadi pelayan untuk Son. Dengan telaten dia membersihkan tubuh suaminya juga mengganti perban di kakinya.
"Pelan-pelan! Sakit sekali!" Setiap hari Son mengerang kesakitan. Lukanya melebar itu pasti sangat sakit. Kulitnya juga melepuh.
"Iya, maaf." Sania melanjutkan lagi mengobati lukanya, dia sangat berhati-hati.
Saat Sania sedang mengobati lukanya, terdengar ketokan pintu kamarnya. Tak berapa lama, seseorang masuk. Ternyata Rico yang datang.
"Son, apa lukanya belum sembuh?" tanyanya seraya mengamati Sania yang sedang bersimpuh di kakinya.
"Belum, Kak." Sania yang menjawab, karna Son sudah pasti tidak menghiraukan kakaknya sendiri.
Rico mendudukkan tubuhnya di samping Son. Ada hal yang ingin dia sampaikan, tapi ia masih ragu. Sania yang menyadari kegelisahan Rico, sejenak menghentikan pergerakan. Ia amati dari dekat, wajah Rico dan Son berbeda. Mereka sangat berbeda. Hanya ada satu kesamaan yaitu dari hidungnya, sama-sama berhidung mancung.
"Kakak kenapa? Apa Kakak mau mengobrol berdua dengan Son?" Sania ingin berdiri tapi Rico mencegahnya.
"Kakak hanya mau menyampaikan bahwa tiga hari ke depan Kakak akan ke luar kota. Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat, melihat Son juga masih sakit. Tapi Kakak tidak punya pilihan lain, kerja sama ini sangat penting untuk kemajuan perusahaan Kakak. Jadi, Keyla akan Kakak tinggal di sini. Kakak harap—"
"Bawa perempuan itu pergi!" ucapnya lantang. Son memotong pembicaraan dari Rico. Merasa marah dengan jawaban dari adiknya, Rico langsung berdiri.
"Son, kau boleh membenci Kakak! Tapi jaga sopan santun mu terhadap kakak ipar mu!" Sania bingung sekarang. Dia harus melerai keduanya bagaimana.
"Perempuan itu menyusahkan!"
PLAKKKKK!!!!
Entah apa yang mendorong Rico tiba-tiba menampar adiknya. Dirinya sangat tidak terima dengan perkataan Son. Sania mulai ketakutan, apalagi melihat wajah Rico yang selalu ramah kini berubah menakutkan.
"Kau mengatai istriku menyusahkan? Apa kau tidak pernah bercermin?"
PLAKKKKKK!!!!
Kedua kalinya Rico menampar. Tapi ....
"Awwww ...." pekik Sania kesakitan. Dia niatnya ingin menghalangi, tapi malah dirinya yang terkena tamparan.
"Sania .... Maaf." Seketika tangan Rico melemah, tamparan kedua kalinya ini bisa dibilang kekuatannya lebih besar tapi malah salah sasaran.
__ADS_1
Sania meringis kesakitan. "Hey, kau! Pergi! Pengecut!" teriak Son membuat Rico bertambah amarahnya.
"Kau mengatai ku apa?" Rico yang selalu sabar, Rico yang selalu menjadi penengah bagi Darien dan Son kini dia tidak bisa tinggal diam ketika istrinya tidak dihargai. Dia sungguh marah. Marah yang tak pernah dia tunjukan pada siapa pun.
"Kak Rico, berhenti! Aku mohon." Sania memegangi tubuh Rico yang ingin mendekat pada suaminya. Tidak mau jika kakak iparnya memukuli suaminya lagi.
"Baik lah. Aku akan bawa Keyla pergi. Dari pada tinggal satu atap dengan manusia seperti mu!" Rico yang masih marah mengibaskan tangannya ke udara. Entah hari ini banyak yang sedang ia pikirkan atau memang perkataan Son sudah sangat keterlaluan hingga dirinya tidak bisa mengontrol emosinya.
"Kak Rico menyeramkan juga."
"Cepat panggil pelayan!" Kepalanya menoleh pada Son. Dia bingung, untuk apa memanggil pelayan?
"Apa kau tuli? Cepat panggil pelayan!" Sania lantas berlari mencari pelayan. Entah apa yang akan dilakukan Son setelah itu.
"I-iya, Tuan. Apa ada yang bisa saya lakukan?" tanya pelayan dengan napas yang tersengal-sengal.
"Obati luka Sania, cepat!" Dia mengerutkan dahi. Kepalanya perlahan menoleh ke arah Sania yang baru saja masuk ke dalam kamar setelah tadi ketinggalan langkah dari pelayan itu. Dipandangi baik-baik wajah Sania, tubuh Sania, kelihatannya semuanya normal.
"Maaf, Tuan. Di bagian mana lukanya?" tanya pelayan bingung.
"Orang gila itu tadi berlaku kasar padanya. Orang itu pasti sudah mencelakainya," ujar Son memberitahu.
"Nona, lukanya sebelah mana. Biar saya obati." Pelayan menyuruhnya untuk duduk. Memang pipi yang terkena tamparan Rico itu keras. Pipinya serasa kebas setelah tamparan itu.
"Ini tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Tidak perlu diobati," ucapnya dengan suara kecil. Tak mau terdengar oleh suaminya.
"Cepat obati!" perintahnya tidak sabar.
Sania menggeleng-gelengkan kepalanya. Berkata tidak usah tanpa suara.
"Nona, setidaknya ini harus diobati agar tidak membiru."
"Apakah sudah?" tanya Son setelah menunggu beberapa saat.
"Katakan sudah!" bisiknya.
"Su-sudah, Tuan," jawab pelayan gugup. Pelayan lantas pamitan untuk pergi.
__ADS_1
"Sania, kemari lah!" Hati Sania berbunga-bunga saat namanya disebut oleh suaminya. Suatu kebahagiaan tersendiri dalam mendengarnya.
Sania tersenyum-senyum sambil duduk di sebelahnya tanpa jarak. Bahkan paha mereka bersentuhan.
"Ada apa?" Son menggeser duduknya menyamping. Dia meraba-raba tubuh Sania. Mulai dari tangannya, dan menjalar ke atas. Wajahnya dia sentuh-sentuh, tapi tak merasakan apa pun. Wajahnya bersih tanpa ada luka.
"Di mana pelayan mengobati luka mu?" tanya Son. Sania bingung sekarang, dia takut Son tahu bahwa pelayan telah membohonginya.
"Hey! Katakan! Apa kalian membohongiku?" Sania tidak bisa berkutik. Dia benar-benar bingung sekarang. Ternyata Son mengecek wajahnya.
"Aku tidak apa-apa. Jadi aku menyuruh—"
"Pelayan! Pelayan!" Dia berdecak kesal. Kakinya mendorong kursi roda yang berada tepat di kakinya berada. Kursi roda pun berjalan menghantam tembok, menimbulkan suara yang heboh.
Pelayan satu persatu datang, entah siapa yang sebenarnya dipanggil. "Iya, Tuan. Anda memanggil kami?" Mereka sepertinya tahu, Son saat ini sedang marah. Kalau bicara soal takut, semuanya takut. Tapi Son yang buta, membuat mereka aman-aman saja. Tidak mungkin Son akan melukai mereka.
"Apa kalian ingin dipecat hari ini juga?" tanya Son membuat semuanya saling pandang satu sama lain.
"Son, hentikan," lirihnya. Sania berusaha membuat Son diam. Ini semua kesalahannya bukan pelayan. Pelayan hanya menuruti kemauannya.
"Ti-tidak, Tuan," jawab salah seorang pelayan. Tidak mau mereka kehilangan pekerjaannya saat ini. Mereka sangat nyaman walaupun terkadang rumah ini selalu ada masalah yang berdatangan.
"Tadi siapa yang aku suruh untu mengobati luka Sania? Jawab!" Mereka terjingkat bersamaan, merasa kaget. Mereka saling pandang lagi dan menyuruh siapa pun untuk mengakuinya.
"Sa-saya, Tuan." Dia mengacungkan telunjuknya. Matanya memelas pada Sania yang tak bisa berbuat apa-apa.
"Dia tidak salah. Aku yang menyuruhnya!" Sania mencoba membela pelayan tidak salah itu.
"Diam! Apa kau bisa diam?" Son menarik napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya. "Dan kau pelayan membangkang! Aku akan memberi hukuman untuk mu!" serunya.
"Baik, Tuan," jawab pelayan tadi. Jika dia harus menerima hukuman, itu tidak lah masalah.
.
.
.
__ADS_1
.