
Matanya mengerjab saat telinganya mendengar suara berisik di dalam kamarnya. Saat matanya terbuka sempurna, dia melihat suaminya sedang memasukkan pakaian-pakaian miliknya ke dalam koper.
"Sayang, pakaianmu sudah aku siapkan di koper yang itu. Kenapa kau malah ingin membawa pakaianku juga?" Sang istri turun dari ranjang dan menghampiri suaminya. Kepalanya menoleh, menatap sang istri dengan seksama.
"Kita pindah saja. Kita ke rumah ayah dan ibumu saja. Untuk beberapa waktu ke depan, kita menginap di rumah orang tua kamu saja," ucapnya membuat sang istri heran. Bukannya suaminya itu tidak mau jika harus menginap di rumah orang tuanya? Dia merasa malu.
"Memangnya kenapa kalau di sini? Tidak ah. Aku ingin di sini saja. Ayah dan Ibu juga pasti sibuk, sayang. Percuma aku di rumah juga sendirian, hanya dengan para pelayan." Sang istri merebut koper itu dan memuntahkan isinya. "Biarkan saja, biar yang membereskan pelayan. Ayo kita makan. Kita cari makan di luar. Aku ingin makan—" ucapnya sambil membayangkan steak daging.
Tangannya ditarik-tarik sang istri, membuat dirinya pasrah. Tapi dia sedikit khawatir meninggalkan istrinya berada di rumah adiknya yang tidak menghargai mereka.
"Sayang, apa kamu ikut aku saja ke luar kota? Tapi aku takut kamu kelelahan." Dia masih bingung sekarang. Bingung untuk memutuskan pilihannya.
"Aku tidak apa-apa di sini. Aku pasti baik-baik saja." Sang istri mencoba meyakinkan. Dia mengembangkan senyuman terbaiknya.
***
"Benarkah?" Matanya berbinar-binar. Dia sungguh bahagia mendengar kabar baik yang disampaikan kakak iparnya.
"Kan, sudah Kakak bilang. Itu hal yang mudah bagi Kakak," ucap Darien dengan bangga. Anak buahnya telah berhasil menemukan Bibi Lotus. Darien lantas memberitahu Sania yang kala itu sedang di kamar. Dia memanggilnya untuk mendekat padanya. Meninggalkan Son yang kala itu sedang makan. Tapi saat suara Darien memanggil istrinya, Son menghentikan makannya. Merasa tidak suka dengan kehadiran kakaknya.
"Jadi, sekarang bibi Lotus tinggal di mana, Kak?" tanyanya tidak sabar. Ini akan jadi kabar yang bahagia untuk Maria. Sepupunya itu pasti akan senang bisa bertemu lagi dengan ibunya.
"Ada di suatu tempat. Dan Kakak harus sampaikan kabar yang kurang menyenangkan, bahwa saat ini bibi Lotus sedang tidak baik-baik saja. Tapi semuanya sudah Kakak tangani, jadi kamu tidak usah khawatir." Dadanya bergemuruh, dia tiba-tiba merasa sangat khawatir. Apa yang terjadi dengan Bibi Lotus selama ini?
"Tidak baik-baik saja maksudnya gimana, Kak?" Sania menatapnya dengan seksama.
TINGGGG!!!!
__ADS_1
Suara sendok jatuh. Sendok yang sengaja dijatuhkan oleh Son.
"Son!" Sania segera masuk ke dalam kamar. Khawatir dengan suaminya. Sedangkan Darien menatapnya dari pintu.
"Sendoknya jatuh. Sebentar, aku ambil yang baru." Sania mengambil sendok itu dan berniat akan ke dapur.
"Tidak usah! Aku sudah kenyang!" Sania berbalik, dia mengambil piring di tangan Son dan menempatkan di tempat semula.
"Setelah ini kau harus minum obat dan istirahat." Son merasa bosan dengan hidupnya. Dia harus rutin meminum obat. Padahal dia merasa bahwa dia baik-baik saja.
"Apa yang kalian lakukan berdua barusan?" Matanya yang kosong menatap ke depan. Tatapan yang menakutkan.
"Maksudmu? Aku tidak melakukan apa pun dengan kak Darien," jawabnya. Memang dirinya tidak melakukan apa pun dengan Darien. Keduanya hanya sedang membicarakan tentang keberadaan Bibi Lotus. Saat pembicaraannya belum selesai, Son berulah. Dengan terpaksa Sania menghampirinya, takut terjadi apa-apa.
"Sedekat apa kalian berdua? Apa di belakangku kalian kerja sama? Ingin membuatku lenyap?" Pikiran macam apa itu, Sania sungguh tidak habis pikir dengan jalan pikiran Son. Kenapa pria dihadapannya ini selalu negatif thinking terhadapnya.
"Berhenti! Hentikan omongan itu. Dengar baik-baik ya aku tidak pernah menganggapmu sebagai istriku. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Aku bahkan berpikir tidak akan menikah, kecuali dengan Vennie." Sungguh sakit mendengar pernyataan dari suaminya. Hatinya nyeri, mendengar bahwa dia berkali-kali selalu mengagungkan nama Vennie. Nama itu seakan sudah mendarah daging di tubuhnya.
"Aku tahu. Aku paham dan aku mengerti. Sampai kapan pun aku bukan siapa-siapa. Tapi kita sudah mengucapkan janji pernikahan. Yang artinya itu sangat sakral dan tidak boleh dilanggar." Kekecewaan yang mendalam bagi Sania. Semua yang dia lakukan selama ini seperti tidak pernah dianggap.
Dia menangis sambil berlari. Berlari tanpa tujuan. Hingga tak sengaja ....
BRAKKK....
Dia menabrak tubuh seseorang. Seseorang yang tadi ia tinggalkan begitu saja dan memilih menghampiri suaminya. Harusnya Darien masih ada di pintu kamarnya, tapi dia tiba-tiba pergi karna ada panggilan masuk ke dalam ponselnya.
"Sania, kau kenapa?" Dia memegangi kedua pipinya yang basah. Mengusapnya dengan lembut. Gadis dihadapannya terus menangis, tidak bisa menjawab apa pun. Dia menarik Sania menjauh dari rumahnya, dia menggandengnya menuju taman dekat rumah.
__ADS_1
"Sania, apa yang terjadi? Apa adikku menyakitimu? Katakan pada Kakak. Jangan terus menangis seperti ini." Darien sungguh tidak tega melihat Sania menangis. Karna tangisannya tak kunjung berhenti, dia menariknya dalam pelukan. Menepuk-nepuk punggungnya memberi ketenangan. "Menangis lah. Jika itu membuatmu merasa lega." Karna tidak mungkin memaksakan Sania untuk menjelaskan, dia memilih menenangkan Sania terlebih dahulu
Tangan Darien seketika mengepal erat. Dia benar-benar membenci adiknya. Berani-beraninya membuat nangis seorang perempuan. Walaupun belum pasti siapa yang membuat Sania menangis, tapi dia sudah menduga bahwa pastinya Son.
"Ka-kak ...." Suaranya putus-putus disertai isakannya yang tak kunjung reda. Dia berusaha mengatur napasnya. Rasa marah, kecewa masih saja terasa.
"Iya, Sania. Katakan apa yang terjadi? Kau kenapa?" Sania melepaskan pelukannya. Kini matanya yang basah ia hapus dengan tangannya yang kosong. Tidak mau jika ada orang rumah yang tahu, jika dirinya habis menangis.
"Sania ingin pulang ke rumah, Kak. Aku ingin tinggal bersama paman Raul saja," rengeknya membuat Darien heran. Mengapa Sania seperti anak kecil sekarang?
"Kau sedang marahan dengan Son? Tidak begini caranya, Sania." Darien mencoba memberi pengertian pada adik iparnya. Son adalah adiknya, sampai kapan pun dia tetap saudaranya.
"Aku lelah, Kak." Tidak punya pilihan lain untuk menceritakan pada Darien. Sania bingung harus melepaskan beban hidupnya pada siapa.
.
.
.
.
"Tuan, di sini sendirian? Di mana nona Sania?" Paman Leo datang ke kamarnya, tapi dia terkejut karna di sana ternyata tidak ada siapa-siapa. Dia pikir Sania mau menemani suaminya setiap saat.
Ponselnya berbunyi. Banyak notifikasi pesan masuk. Ada seseorang yang mengirimkan beberapa foto yang tentu saja membuatnya shock.
"Nona Sania ...." Matanya membelalak. Melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh seseorang padanya.
__ADS_1
.