ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 75 SON YANG MENYEBALKAN


__ADS_3

Sania yang kesal, ia berjalan keluar kamar. Meninggalkan Son sendirian di sana. Mulutnya tak berhenti menggerutu sampai dirinya sampai di dapur. Di sana Pak Mail yang melihat Sania berbicara tidak jelas merasa heran.


"Nona, Anda kenapa?" tanyanya. Tangannya berhenti sejenak dari mencuci piring. Dia melirik ke arah Sania yang sedang berdiri di depan pintu lemari es. Entah apa yang sedang ia cari.


"Suamiku menyebalkan, Pak." Sania mengadu seraya mencebikkan bibirnya membuat Pak Mail geleng-geleng kepala. Baru saja kemarin Sania mengeluh tentang suaminya yang tidak pulang-pulang dan sekarang saat suaminya sudah pulang, dia malah seperti ini.


"Memangnya tuan Son melakukan apa sehingga Nona kesal?" Pak Mail melanjutkan mencuci piring sambil kupingnya mendengarkan Sania berbicara.


"Dia mengatakan kalau—" Sania tak melanjutkan perkataannya. Tidak mungkin dia mengatakan soal perpisahan mereka.


"Hampir saja keceplosan!"


"Kalau apa Nona?" tanyanya dengan penasaran.


Sania menutup pintu lemari es setelah mengambil buah-buahan untuk disuguhkan kepada suaminya. "Tidak, Pak. Sania mau ke kamar dulu," pamitnya dan berlalu pergi dari sana. Sania menghela napasnya panjang, merasa lega karna dia tidak jadi keceplosan.


"Nona Sania ...." Suara Paman Leo memanggilnya. Sania menoleh ke belakang.


"Iya, Paman."


"Paman pamit pulang lebih dulu. Tuan Math meminta Paman untuk pulang. Tuan Son sepertinya akan menginap di sini. Jadi Nona tolong siapkan semua kebutuhan Tuan Son. Untuk baju nanti akan ada sopir yang mengantarkannya kemari."


Hari padahal belum petang, tapi Paman Leo sudah ijin untuk pulang. Seharusnya Paman Leo menemani Son hingga sore.


"Iya, Paman." Sania yang malas jika harus mengurusi Son hanya bisa pasrah. Dia masih berstatus istrinya, jadi mau tak mau Sania harus melayaninya.


Di depan pintu kamar, Sania berhenti. Dia berpikir kalau Son menginap di sini, pasti akan kesusahan. Son tak mungkin bisa ke kamar mandi sendiri, dia pasti tidak hapal letaknya. Juga untuk mandi dan aktivitas lainnya. Semuanya Sania yang harus mengurusnya.


"Aku membawakan buah-buahan. Kau mau yang mana?"


"Apel," jawabnya cepat. Sania terbengong dengan jawaban suaminya.


"Kau tahu aku hanya membawa buah apel?" Sania memang sengaja hanya membawa buah apel saja. Dia juga sengaja menawarkan Son mau buah apa, barangkali dia meminta buah yang lain dia bisa saja mengerjainya dengan tetap memberikannya buah apel. Tapi ternyata jawabannya sama dengan apa yang ia bawa saat ini.


"Tidak. Aku tidak tahu." Jelas saja Son tahu. Dia melihat Sania hanya membawa satu buah saja. Tapi bisa-bisanya dia memberikan pertanyaan menjebak seperti itu.


"Ah, apa mungkin kau punya indera ke enam? Kau bisa tahu segalanya. Bahkan kau tahu apa yang ada di dalam otakku. Apakah benar?" Sania menyentuh lengannya, menggoyangkannya perlahan. Meminta untuk diberi jawaban secepatnya, layaknya seorang anak yang merengek pada ibunya.


"Apa sih! Aku lelah." Son memilih berbaring. Dia memang sangat lelah hari ini. Padahal dia tidak melakukan aktivitas yang berat.


"Baiklah. Aku juga lelah." Sania memilih keluar dari kamarnya. Buahnya tak jadi Sania potong-potong, ia tinggalkan begitu saja di atas meja.


Mata Son yang semula terpejam, perlahan ia buka. Dia melihat ke arah luar kamarnya. Sania tidak keliatan, gadis itu benar-benar sudah pergi. Son menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Matanya berpendar mengelilingi seisi kamar Sania yang berukuran sedang itu. Kamarnya begitu sederhana, berbeda dengan kamar miliknya.


Bahkan cat dinding kamar Sania hanya berwarna putih. Dan perabotannya tidak banyak. Hanya ada satu ranjang, lemari dan meja rias saja. Pandangannya tertuju pada lemari pakaian. Dia penasaran dengan isi didalamnya.


"Apa-apaan ini, kenapa pakaiannya sedikit sekali." Son hanya menemukan beberapa lembar pakaian yang modelnya kuno sekali. Sania memang tak memiliki baju banyak. Saat menikah dengan Son, Sania hampir membawa pakaiannya semua ke rumahnya. Tapi sesampainya di sana, pakaian Sania yang lama entah di mana. Pakaian lamanya itu berubah menjadi pakaian yang mewah.


Saat menginap di sini, Sania lebih sering meminjam pakaian milik Maria. Sepupunya itu tidak keberatan jika harus berbagi pakaian dengannya.


"Ini—" Suaranya serasa tercekat di tenggorokan saat ia menemukan pakaian dalam milik Sania. Motifnya banyak, terdiri dari berbagai macam gambar kartun. "Sangat kekanakan!" Son geli sendiri.


Dia menutup kembali lemari itu. Dan perhatiannya tiba-tiba teralihkan pada sebuah pigura foto. Pigura foto yang tergeletak di atas meja rias.


"Ini pasti orang tuanya."

__ADS_1


Sania kecil yang tersenyum lebar sedang dipangku oleh seorang wanita yang juga sama cantiknya. Juga seorang pria yang menggenggam erat jari jemari kecilnya. Mereka bertiga begitu bahagia terlihat dari sebuah foto.


"Yatim piatu."


Son merasa terenyuh saat mengetahui bahwa Sania sudah tak memiliki orang tua. Hidupnya pasti berat.


***


Di ruangan yang serasa sunyi. Dia duduk dalam kesendirian. Memandang ke arah jendela kamar dengan mata yang kosong. Sekosong hatinya saat ini.


"Son sudah pulang, Bu. Ibu pulang lah. Jangan buat Darien khawatir."


Pesan baru masuk ke dalam ponselnya lagi. Luzi membacanya seraya tersenyum dan hatinya merasa lega sekarang.


"Ibu ada di mana? Darien akan jemput Ibu."


Putranya yang kedua setiap hari selalu mengirimkan pesan untuknya. Tak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaannya saat ini. Luzi sejenak bisa tenang dari kehidupannya yang penuh drama.


"Aku nyaman di sini," ujarnya lirih.


"Nyaman?" Suara seorang pria menyahutinya. Luzi terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Dia mendapati suaminya yang menatapnya tajam. Math tiba-tiba berada di kamarnya. Setelah dia sengaja meninggalkan rumah beberapa hari ini dan memilih menginap di hotel. Nyatanya suaminya telah berhasil menemukannya. Padahal dia sudah bersusah payah menutupi identitasnya.


"Ka-kau di sini?" Luzi tergagap. Tak percaya bahwa persembunyiannya akhirnya ketahuan juga.


"Kau nyaman di sini? Apa kita pindah tinggal di hotel ini saja?" Math berjalan mendekatinya. Tapi Luzi malah menghindarinya. Dia memilih untuk memberi jarak padanya.


"Aku tetap akan di sini," ucapnya. Luzi tak ingin memandang Math. Dia membuang muka terus saat Math berusaha menjangkau matanya.


"Apa kau bilang? Kau ingin di sini? Membuang-buang uangku hanya untuk menginap di hotel ini? Ayo pulang!" Math sebenarnya marah. Dia berhari-hari mencoba mencari istrinya, tapi ternyata istrinya menginap di hotel yang tak jauh dari rumahnya sendiri.


Luzi memang tidak memiliki usaha apa pun. Dia menikah dengan Math tanpa memiliki pekerjaan. Dia hanyalah gadis biasa, yang dulu hanya bekerja di sebuah perusahaan kecil. Dia dari keluarga yang tidak berada.


"Tidak peduli! Ayo pulang! Jangan kekanakan!" Math menarik tangan istrinya. Dia tak ingin menjadi sasaran amarah dari putra-putranya.


***


Si cantik Keyla sedang mengelus perutnya yang semakin membuncit. Bersamaan pipinya yang semakin berisi. Rico mencubit pipinya merasa gemas.


"Sehat-sehat ya, Nak," bisiknya pada perut buncitnya.


Rico mendudukkan tubuhnya di samping istrinya. Dia menatapnya lekat-lekat.


"Kenapa memandangiku seperti itu? Apa aku sekarang jelek karna gendut?" Istrinya mendadak cemberut. Dia menatap tubuhnya sendiri yang semakin bertambah besar saja.


"Tidak, sayang. Aku ada kabar baik. Aku sungguh bahagia mendengar ini." Rico meraih jari jemari istrinya dan mengecupnya dengan mesra.


"Kabar baik apa?" Keyla tak menghentikan tatapannya.


"Son sudah bisa melihat. Dia pergi beberapa hari ini ternyata karna melakukan operasi mata. Darien yang memberitahuku tadi. Aku sungguh bahagia, sayang. Adik bungsuku akhirnya bisa hidup normal lagi. Dia sepertinya sudah move on. Mungkin karna kehadiran Sania," tebaknya kemudian.


Keyla benar-benar tercengang, dia begitu shock mendengarnya. Ia kira Son akan selamanya buta. Melihat cintanya yang begitu besar pada Vennie.


"Ayah menyuruh kita semua untuk membuatkan pesta kecil-kecilan untuk Son. Sebagai ucapan perayaan atas operasi matanya yang berhasil. Dan besok juga tepat perayaan hari ulang tahun ibu. Benar-benar hari yang pas."


Besok di rumah utama akan diadakan pesta kecil-kecilan. Semua akan berkumpul di sana. Son akan datang tapi tidak tahu jika itu adalah pesta untuknya juga.

__ADS_1


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Son akhirnya bisa menata hidupnya kembali." Keyla tersenyum canggung. Karna hari sudah malam, dia memilih untuk beristirahat.


***


Matahari hampir terbenam di ufuk barat. Sania yang baru selesai memasak untuk makan malam tiba-tiba teringat akan Son yang belum mandi. Dia bahkan belum menyiapkan air untuknya mandi.


"Eh kenapa dikunci." Sania berusaha membuka pintu kamarnya tapi sepertinya dikunci dari dalam.


"Son! Buka! Kenapa dikunci?" teriaknya dari luar. Son sedang menggosokkan rambutnya dengan handuk. Dia baru saja selesai mandi.


"Hey, apa kau tidak bisa pelan sedikit!" Son membuka pintu dengan handuk yang masih bertengger di rambutnya. Sania memandangi Son dengan penuh tanda tanya.


"Kau sudah mandi?" Sania melihat Son yang bertelanjang dada dengan rambutnya yang basah.


"Dia tidak kesusahan untuk mandi sendiri? Dan dia berjalan tanpa menabrak?" Sania benar-benar merasa aneh sekarang.


"Aku lapar!" ucapnya membuyarkan lamunan Sania. Dia menuntun Son untuk duduk dulu. Sania pergi untuk meminjamkan baju pada Paman dan mengambilkannya makanan. Karna sopir di rumah belum juga mengantarkan pakaian.


"Ini pakai dulu." Sania memberikan kaos milik pamannya.


"Pakaikan!" suruhnya membuat Sania mengernyitkan dahi.


"Benar-benar manja!" keluhnya.


Saat sedang memakaikan pakaian, ia melirik handuk yang Son pakai.


"Handuk ini kan handuk lama. Dari mana dia dapat?"


"Kau menemukan handuk ini dimana?" tanyanya. Padahal handuk baru Sania ada di dalam kamar mandi, tapi Son malah memakai handuk yang entah datangnya darimana.


"Tidak tahu!" jawabnya ketus.


"Kau menemukan handuk ini dimana? Apa kau mengacak-acak lemari ku?" Sania langsung membuka lemari pakaiannya, mengecek isi di dalamnya.


"Mengacak-acak apa? Lemari kosong begitu!" jawab Son keceplosan. Dia lupa kalau ia sedang pura-pura buta.


"Bagaimana kau tahu?" Di dalam lemarinya memang hanya tertinggal beberapa helai pakaian saja. Tapi dia bingung, darimana Son mengetahuinya.


"Aku tadi membukanya dan mencoba mencari handuk. Dan ketemu ini," ucapnya berusaha meyakinkan. Walaupun Sania setengah mempercayainya.


Melihat sorot mata Son saat ini, seperti matanya mengatakan sesuatu. Matanya benar-benar hidup seperti manusia pada umumnya.


"Aku lapar!" ucapnya lantang. Sebisa mungkin Sania tidak akan tahu bahwa dirinya sudah bisa melihat. Son hanya ingin melihat perlakuan Sania terhadapnya.


"Ini makanlah." Sania memberikan satu piring nasi beserta lauk pauk. "Ini aku yang memasak. Kau suka masakan ku, kan? Kau selalu lahap jika makan masakan ku," ucapnya penuh percaya diri.


"Kata siapa? Semua makanan sama saja!"


Satu suapan mendarat di mulutnya. Son benar-benar lapar, tapi rasa masakan ini memang enak. Berbeda dengan masakan para pelayan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2