
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Meylin, membuat Sania menundukkan kepala. Ingin rasanya merobek mulutnya yang tajam. Kenapa sih mulutnya itu bisa tidak ada remnya.
"Tanda-tanda hamil itu seperti apa?" tanyanya. Sania menatapnya tidak suka.
Meylin berpikir. "Iya seperti mual-mual? Atau kamu merasa tidak enak badan?" jawabnya mengira.
Sania lantas menutup mulutnya. Dia terkesan mual-mual dengan ekspresi meyakinkan.
"Hey, kau kenapa?" Meylin terkejut melihat Sania yang tiba-tiba menutup mulut dengan ekspresi yang aneh.
"Bau!!!" ucapnya singkat dan berlari ke dalam. Seolah-olah dia ingin muntah.
Tepat di depan kamar, dia tersenyum. "Akhirnya bisa pergi dari nenek sihir."
Badannya terasa pegal-pegal. Juga dia masih sedikit nyeri di selangkangannya. Hari ini akan dia pergunakan untuk istirahat saja seharian. Tentang Meylin yang sedang menunggu Son, tak ia hiraukan. Biarkan saja. Dia tak mau peduli. Son juga menyebalkan, masih saja dia komunikasi dengan wanita lain. Jelas-jelas dia sudah mempunyai istri.
Waktu terasa berputar dengan cepat. Hingga waktu sore akhirnya datang juga. Bau parfum yang menyeruak membuat indera penciumannya terganggu. Baunya sangat familiar. Dia mengerjabkan mata dan membuka pelan-pelan kedua matanya. Bayangan suaminya memenuhi penglihatannya. Son sedang berdiri di depan meja rias. Sedang menyisir rambutnya, entah sejak kapan dia sudah kembali.
Sania masih mengumpulkan nyawa, rasanya berat walau hanya untuk bangun. Jam dinding menunjukkan pukul 4 sore. Tak disangka Sania tidur lama sekali.
"Kau sudah bangun? Mandi cepat sana. Kita jalan-jalan sore di sekitar sini," ajaknya sambil mengedipkan mata. Sejak kapan suaminya ini bisa bersikap genit seperti ini. Sania yang malas berbicara dengannya, dia tak menjawab sepatah kata pun. Dia memilih masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Son yang kebingungan. "Kenapa dia? Aneh."
Cukup lama Son menunggu Sania selesai mandi. Hingga akhirnya pintu terbuka, memperlihatkan Sania yang hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Membuat Son menelan ludah diam-diam.
"Buruan pakai baju." Sania tetap tak menghiraukan, dia diam saja.
Tangan Son tiba-tiba menarik handuk yang membalut tubuh istrinya dari belakang. Sania yang sedang mengambil baju di dalam lemari seketika kaget. Dia berusaha merebut handuk miliknya tapi Son membuang jauh membuat Sania yang sudah telanjang polos hanya mampu melototinya. Dia segera berganti pakaian tepat di depannya. Tak ada rasa malu, toh Son sudah melihat semuanya.
"Hey, kau sedang menggodaku?" Son tak bisa menahannya. Dia memeluknya dari belakang. Sania memberontak, dia minta dilepaskan. Tapi Son malah mempererat pelukannya.
__ADS_1
"Lepas!!! Aku mau ganti baju!" teriak Sania tidak suka dengan perlakuan suaminya ini.
"Aku sudah tergoda ...." suaranya serak, dia seperti sedang terbakar.
"Lepas!!!!!!" Sania menginjak kaki suaminya. Dia menarik baju dan berlari ke dalam kamar mandi. Merasa sebal dengan sikap suaminya yang kekanakan.
"Dia kenapa? Awww sakit sekali," rintihnya dan memegangi kakinya yang diinjak. "Kenapa sih! Galak banget!" keluhnya melihat Sania yang seperti macan.
Son akhirnya duduk kembali. Dia tak hentinya memandangi pintu yang tak kunjung dibuka. "Lama sekali sih! Sedang apa dia didalam?" gerutunya kesal. Sudah mandinya lama sekali, pakai baju pun lama. Belum juga dandannya.
"Ngapain aja sih didalam?" tanyanya saat melihat Sania keluar kamar mandi sudah memakai baju. Sania lagi-lagi tak menghiraukan suaminya. Dia berjalan menuju meja rias dan duduk di sana. Tangannya mengambil sebuah sisir. Tapi tiba-tiba Son datang dan merebut sisir itu. "Biar aku saja. Dulu kau sering menyisiri rambutku. Sekarang gantian," ujarnya lembut.
Sania masih diam, Son memandangi wajah istrinya dari pantulan cermin. "Kau kenapa? Bangun tidur kayak patung, diam terus. Aku mau mengajak kamu jalan-jalan sore, kau tidak mau?"
"Tidak! Pergi sendiri!" jawabnya ketus dan merebut sisirnya kembali. Dia mempercepat menyisiri rambutnya dan memakai wewangian. Dia tidak memakai make up satu pun. Bibirnya yang sudah semerah delima dan kulit wajahnya yang putih, ia biarkan begitu saja tanpa ada tempelan make up di wajahnya yang sudah cantik.
"Dasar laki-laki tidak pengertian!" kesalnya dan menggebrak meja.
Dia mengalihkan tatapannya menuju pintu, berharap Son akan kembali.
Belum sampai lima menit, pintu terbuka kembali. Son masuk dan berjalan melewati dirinya yang masih duduk di meja rias. Dia menuju ranjang dan mencari sesuatu di sana. Ah ternyata ponselnya ketinggalan. Son berjalan keluar lagi dan tanpa menatap istrinya.
"Jadi begini? Tak ada usaha apa pun! Menyebalkan!" Lagi-lagi Sania menggebrak meja.
Malam hari pun tiba, suasana di dalam kamarnya terasa sunyi. Son belum juga kembali. Entah pria itu berada di ruangan lain atau memang dia pergi keluar rumah.
"Nona, Anda ditunggu tuan Son di meja makan." Bi Ranih tiba-tiba memberitahu bahwa suaminya sedang menunggunya.
"Dia tidak pergi?" tanyanya.
__ADS_1
"Pergi? Tidak, Nona. Tuan Son sedari tadi duduk di teras," jawab Bi Ranih.
Sania merasa lega. Setidaknya Son tak benar-benar pergi dan meninggalkannya di rumah. Suaminya itu tetap di rumah sedari tadi.
"Aku tidak lapar. Katakan saja aku tidak lapar. Mau tidur saja." Sania membaringkan tubuhnya. Dia menarik selimut dan mulai memejamkan matanya. Bi Ranih yang ingin membujuk nonanya untuk makan akhirnya tidak tega melihat Sania yang sepertinya sudah mengantuk. Padahal jelas-jelas Sania sudah tidur siang tadi.
"Baik, Nona. Saya permisi." Bi Ranih pamit dan menutup pintu.
Sania langsung terbangun karna Bi Ranih akhirnya sudah keluar dari kamarnya.
"Maaf, Tuan. Nona Sania katanya tidak lapar. Nona katanya ingin tidur saja."
TAK!!!
Son menaruh gelas kosong di atas meja setelah ia menghabiskan isinya. "Dia belum makan dari siang, kan?" Son tahu istrinya seharian ini tidur jadi dia belum memasukkan apa pun setelah tadi sarapan di rumah Paman Raul.
"Iya, Tuan. Tapi nona Sania sudah bersiap untuk tidur. Saya tidak tega memaksanya." Bi Ranih menatap Son, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dan sepertinya mereka berdua sedang ada masalah.
"Tuan, apa sebaiknya Anda saja yang membujuk nona Sania agar mau makan?" usulnya. Son juga inginnya begitu, tapi lihat saja tadi bahkan Sania menyuruhnya pergi sendirian. Menyebalkan.
Karna tak mau istrinya sakit karna belum makan, dia akhirnya bangkit dan menuju kamar. Semoga saja kali ini Sania tak mengacuhkan lagi.
Son mencoba membuka pintu kamar, tapi sepertinya dikunci dari dalam.
"Sania! Kenapa dikunci?" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu.
"Tidur saja diluar! Aku tidak mau berbagi tempat tidur denganmu!!!!!" sahutnya dari dalam. Son tercengang mendengar jawaban istrinya.
"Hey, kenapa begini? Apa salahku? Buka, cepat!" Son tidak terima, kenapa istrinya ini tega-teganya seperti ini. Bukankah semalam mereka telah melewati malam yang penuh candu. Son mau lagi, dia ingin melewati malam candu bersama istrinya lagi. Tapi dia malah disuruh tidur diluar.
__ADS_1