
Malam yang dingin berakhir dengan indah. Mereka terlelap dengan posisi berpelukan. Dibalik selimut yang tebal, tubuh mereka polos tanpa sehelai benang pun. Setiap kali melihat tubuh suaminya yang kekar, Sania seakan dibuat mabuk olehnya. Tak bisa menolak pesonanya dan bahkan dia seolah memasrahkan tubuhnya seutuhnya. Dijamah oleh tangannya yang lihai menari di atas tubuh mungilnya.
"Hmmm ...." Sania menggeliat saat cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya dan mengenai kelopak matanya yang terpejam. Dia merasakan silau karnanya. "Sudah pagi," ujarnya dengan suara serak khas bangun pagi. Dilihat sosok pria di depan matanya saat ini. Wajah tampan, hidung mancung dan bibir yang seksi. Sosok pria yang akan menemaninya sampai akhir hayat.
Saat Sania ingin turun dari ranjang, tangannya tiba-tiba dicekal oleh Son. Pria itu perlahan membuka matanya. "Jangan pergi," lirihnya dengan mata masih setengah terbuka.
"Kau sudah bangun?" Sania kira suaminya ini belum juga bangun.
"Ayo tidur lagi." Son menariknya untuk berbaring kembali. Sania yang masih telanjang berusaha menutupi dadanya dengan bantal.
"Aku mau pakai baju dulu." Pakaian tidurnya berserakan di lantai. Ini karna ulah suaminya yang dengan teganya membuang pakaian miliknya.
"Tidak usah. Untuk apa ditutupi. Aku sudah melihat semuanya." Dia tersenyum penuh arti, lalu meraih pinggangnya untuk menggesernya lebih dekat dengannya.
Pipinya merah merona sekarang, dia masih merasa malu dengan suaminya. Son memeluk tubuhnya yang polos, menenggelamkan wajahnya tepat di dadanya yang terekspos bebas.
"Geli, jangan seperti ini." Sania merasa tak nyaman saat rambut kepala suaminya mengenai dadanya. Tanda merah ia berikan beberapa di sana. Kini dadanya dipenuhi tato merah yang tidak permanen.
TOK!
TOK!
TOK!
"Tuan, Nona. Sarapannya sudah siap." Suara Bi Ranih menghentikan permainan mereka. Sania menyahut dari dalam dan mengatakan sebentar lagi.
"Aku mau mandi dulu." Sania turun dari ranjang dan berlari dengan tubuh polos menuju kamar mandi. Son tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia ikut masuk ke dalam. "Aku dulu yang mandi!" Son tak menghiraukannya, dia masuk ke dalam bath up dan berendam di sana.
"San, kemari lah!" pintanya. Dia mengajak istrinya untuk berendam bersama. "Cepat!" suruhnya tak sabar. Sania berjalan sambil menutupi bagian sensitif, entah kenapa dia masih merasa malu saja.
"Aww ...." Tiba-tiba Son meremas buah dadanya saat Sania baru saja menjatuhkan tubuhnya di bath up membuatnya terjingkat kaget. Son tertawa melihat ekspresi Sania yang menggemaskan.
***
__ADS_1
Langkah tegasnya mengantarkannya ke ruangan kebesarannya. Seperti biasa, dia tak menghiraukan kanan kirinya. Apalagi pikirannya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Selalu saja ada yang mengganjal pikirannya.
"Tuan Darien ...." Suara langkah kaki manusia dan suara wanita memanggil. Ternyata karyawannya yang bekerja di bagian informasi. Di tangannya membawa sebuah amplop putih besar. Dia memberikannya dan berlalu pergi.
Darien yang sudah mencapai pintu ruangannya, dia memilih masuk ke dalam ruangannya lebih dulu.
Dia memijit kepalanya yang mendadak pening. Sepertinya dia kurang beristirahat, atau mungkin ini masih ada efek dari waktu itu dia minum alkohol banyak.
Matanya tak sengaja menatap amplop yang diberikan karyawan tadi. Perlahan dia membukanya dan menarik sebuah surat yang berada di dalamnya.
"Surat pengunduran diri?" Darien langsung bangkit dari duduknya dan menyaut jas juga kunci mobilnya. Dia akan menuju ke suatu tempat.
Tepat di sebuah rumah sederhana, dia memarkirkan mobilnya di depan halamannya. Sepi, sunyi dan bahkan ada sebuah gembok di depan pintunya. Yang artinya seseorang telah pergi dan menguncinya dari luar.
"Tuan, Anda cari siapa?" Seorang wanita paruh baya yang kebetulan melintas, mencoba menghampiri seseorang yang terlihat kebingungan.
"Hmm, Nyonya apa tahu di mana penghuni rumah ini?" tanyanya.
Darien mengusap wajahnya kasar. Dia duduk di sebuah bangku yang ada di teras. "Kenapa dia pergi?" Sesaat dia teringat akan kejadian malam itu. "Aaarrrggghhhhh!!!!" Darien mengerang kesal, dia sekarang ingat kejadian itu dengan jelas.
Kakinya mendadak lemas, wanita itu seharusnya meminta pertanggungjawaban tapi dirinya memilih untuk pergi. Nomer ponselnya juga tidak aktif.
"Berikan aku informasi tentangnya," ucapnya pada seseorang di sebrang telfon.
***
Pagi ini, Luzi sudah diperbolehkan pulang. Rico dan Keyla ikut menjemputnya.
"Rico, kau tidak ke kantor?" tanyanya.
"Sehabis mengantarkan Ibu pulang, Rico akan ke kantor," jawabnya.
Math kembali ke ruangan, setelah dia berbicara sebentar dengan dokter yang menangani Luzi.
__ADS_1
Luzi berjalan bergandengan dengan Keyla. Dia tak hentinya mengelus perut buncit menantunya. Tak sabar ingin segera menggendong cucu.
Sedangkan Rico dan Math berjalan di belakang mereka.
"Rico, Ayah tugaskan kamu untuk ikut mengurusi perusahaan Ayah yang lain bersama Son. Ayah sepertinya akan di rumah lama untuk menjaga ibumu," ucapnya membuat Rico menolehkan kepalanya. Tak biasanya Ayahnya ini mengesampingkan pekerjaan. Bukannya Ayahnya ini selalu gila bekerja.
"Apakah Ayah serius?" tanyanya sedikit ragu.
"Ibumu butuh pendamping. Kejadian kemarin cukup membuat ayah terpukul. Ibumu harus selalu dalam pengawasan," ujarnya lagi membuat Rico akhirnya mengerti.
"Baiklah, Ayah." Rico sebenarnya tidak keberatan dengan permintaan Ayah, tapi yang ia takutkan adalah terjadi perbedaan pendapat antara dirinya dan Son.
Akhirnya Luzi bisa bernapas bebas di alam terbuka. Setelah beberapa hari berada di ruangan rumah sakit yang hanya bisa mencium bau-bau obat yang membuatnya pusing.
Kakinya berpijak pada halaman rumahnya yang luas. Terlihat bunga-bunga miliknya bermekaran indah di halaman. Dia rindu untuk sekedar menyiraminya.
"Selamat datang kembali, Nyonya Luzi," sapanya para pelayan rumah utama. Mereka tersenyum senang atas kepulangan Luzi ke rumah. Atas sebuah kejadian yang membuat mereka sangat khawatir. Luzi tersenyum singkat dan berjalan menuju halaman belakang. Dia ingin suasana yang sejuk.
Karna Keyla sedang hamil, dia harus banyak istirahat. Jadi Luzi ditemani oleh Math di sana.
"Aku ingin sendiri." Luzi tak nyaman saat Math duduk berdekatan dengannya.
"Mulai sekarang kau tidak boleh sendiri. Aku yang akan selalu menemanimu sampai kapan pun," ujarnya membuat Luzi membuang mukanya.
"Omong kosong!"
"Mulai hari ini aku tidak ke kantor. Perusahaan akan diurus oleh Rico dan Son." Luzi sepertinya tidak tertarik dengan apa yang suaminya bicarakan. Dia memilih berjalan-jalan di sekitar halaman belakang.
"Aku akan tetap di rumah untuk menemanimu," ucapnya lagi dari arah belakang karena mengikuti langkah istrinya. Luzi menoleh, dia menatap sang suami.
"Aku tidak minta untuk ditemani oleh siapa pun. Jadi jangan memaksakan kebiasaan mu yang gila bekerja itu untuk ditinggalkan. Aku tidak apa-apa." Luzi memetik sebuah bunga dan melepaskan kelopaknya sehelai demi helai.
"Jangan lanjutkan!" Math menyentuh tangannya, dia memetik bunga yang lain dan menyelipkannya di daun telinga istrinya. Menatapnya dengan seksama, betapa cantiknya Luzi saat ini.
__ADS_1