ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 87 CEMBURU LAGI


__ADS_3

Bunyi dentingan sendok memenuhi suasana sarapan di meja makan. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Suara motor berhenti, mengalihkan perhatian semua. Raul menoleh ke putrinya, Maria langsung bangkit.


"Ajak Jeffry sarapan bersama kita," perintahnya membuat Maria yang ingin meninggalkan sarapannya seketika terdiam.


"Iya, Maria. Ajak Jeffry masuk. Kau juga belum menyelesaikan sarapan mu." Sania ikut menimpali, tak tahu di sana ada dua pasang mata yang sedang memperhatikannya.


Maria mengangguk, dia berjalan keluar. Dan tak berapa lama dia masuk bersama Jeffry. Pria itu duduk di sebelah Maria. Tepat di depan Son yang memandanginya tak henti.


"Pagi, Paman, Sania dan—" Jeffry menoleh ke arah Maria.


"Dia suaminya Sania. Namanya Son." Maria memberitahu. Sebenarnya Jeffry sudah tahu, hanya saja tatapan Son begitu menakutkan, membuatnya yang ingin menyapa terurungkan.


"Maria, ambilkan Jeffry piring," perintah Paman Raul.


Jeffry yang kebetulan belum sarapan, dia makan dengan lahapnya. Dia bahkan tak menyadari bahwa Son sedari tadi tak berhenti memandangnya. Sania yang memergoki Son menatap Jeffry tak hentinya, lantas menyenggol lengan suaminya.


Son mengalihkan tatapannya pada istrinya. Dia menaikkan alisnya.


"Jangan melihatnya seperti itu. Dia bukan pencuri," bisiknya tepat di dekat telinganya.


"Bisa saja dulu pernah mencuri hatimu," jawab Son membuat Sania mengerutkan dahinya. Dia menggelengkan kepalanya.


"Ayah, Maria pamit berangkat ke kampus dulu." Setelah menyelesaikan sarapan Maria dan Jeffry berpamitan.


"Oh ya, Jeff. Sekarang kau kerja dimana? Masih di cafe?" tanya Sania yang kebetulan dia juga ingin pulang ke rumah. Di halaman rumah Raul, mereka berbincang sebentar.


"Iya aku sekarang masih bekerja di cafe. Tapi bukan cafe yang dulu. Aku sudah pindah," jawabnya.


Melihat Son yang masih menatap Jeffry dengan pandangan yang sulit diartikan, Sania perlahan menarik Son untuk menjauh. Mereka akan pulang hari ini ke rumah.


"Akrab sekali ya," sindirnya.


Sania tak menghiraukan, dia memilih memandangi pemandangan di luar kaca mobil.


"Sepertinya dulu kalian ada hubungan," sindirnya lagi.

__ADS_1


"Iya ada," jawab Sania membuat Son terkejut.


"Ah sudah kuduga." Son kesal dan memukul stir.


"Iya hubungan pertemanan," jawabnya sambil terkekeh.


Son memutar bola matanya jengah. Merasa kesal sudah dipermainkan.


"Darimana kalian kenal?" tanyanya.


"Dulu kita kerja bareng. Dan situlah kita kenal." Sania mengingat momen pertama kali bertemu dengan Jeffry. Hari dimana dia juga bertemu dengan Math. Sebatas kesalahan Sania yang fatal dilakukan dan seharusnya membuat Math marah padanya, tapi pria paruh baya itu malah memberikannya sebuah pilihan hidup.


"Aku ingin bertanya denganmu." Kini nada suaranya berubah serius.


"Dan aku tidak mau menjawab!" jawabnya cepat.


"Hey! Kenapa? Aku bahkan belum memberikan pertanyaan." Son menolehkan kepalanya, melihat Sania yang tampak acuh.


"Kau pasti akan bertanya dimana aku bertemu dengan ayah Math? Iya, kan?" tebaknya.


"Kau ini sebenarnya siapa? Kau jelmaan apa?" tanya Son mencoba menerawang.


"Aku jelmaan ...." Sania melototkan matanya sambil tangannya bergerak seperti ingin mencakar. Sangat lucu. Membuat Son tertawa melihat tingkah konyol Sania. Dia gadis yang pandai mencairkan suasana, dia beruntung memilikinya.


Sania pun tertawa. Tawa mereka memenuhi ruang mobil. Di lampu merah, mereka saling melempar candaan sembari menunggu lampunya berubah hijau.


"San ...." panggilnya lembut. Sania menoleh, dia menatap sang suami dengan mata teduhnya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Aku akan memanggilmu dengan sebutan San saja, bagaimana?" Sania mengangguk, panggilan apa pun akan dia terima saja. Melihat Son yang seperti ini juga sudah membuatnya bahagia. Semoga saja suaminya ini tidak akan berubah.


.


.

__ADS_1


Mobil masuk ke dalam halaman rumah Son. Rumah yang dibeli oleh Math untuknya. Dia sebenarnya malu mendapatkan semua ini dengan percuma. Harusnya dia bisa mendapatkan semua ini atas kerja kerasnya sendiri.


"Masuklah ke dalam. Aku mau pergi sebentar," ujarnya saat Sania ingin membuka pintu mobil. Dia kira, mereka akan masuk bersama tapi ternyata Son sudah ada niatan untuk pergi.


"Mau kemana?" Wajahnya berubah cemberut, jika suaminya ingin pergi seharusnya tak usah mengantarkannya ke rumah, Sania bisa menunggunya pulang di rumah pamannya saja.


"Aku mau bertemu ayah. Sebentar saja." Sania pun dengan berat hati mengangguk. Mungkin ayah dan anak itu sedang ada urusan yang penting.


"Nona, akhirnya Anda kembali." Bi Ranih menghampirinya dengan wajah berseri-seri. Dia sudah sangat kesepian di sini. Apalagi Darien sudah tak lagi tinggal di rumah ini. Dia sudah kembali ke apartemennya.


Baru saja kakinya melangkah masuk, suara klakson mobil terdengar dari luar. Sania menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah gerbang. Sebuah mobil yang tak asing berhenti di sana.


"Siapa yang bertamu pagi-pagi?" Sania berjalan keluar lagi, ingin melihat siapa sosok orang yang ada di dalam mobil. Dia mengingat-ngingat mobil itu, sepertinya dia pernah lihat sebelumnya.


"Meylin!" Wanita menyebalkan itu lagi. Andai saja ia punya kekuatan, sudah ia hilangkan dia dari muka bumi ini.


"Hai, Sania. Apa kabar?" Tanpa malunya Meylin menyapa dengan khas centilnya. Dia membenarkan rambutnya yang baru saja berganti warna. Cantik, dia pandai berdandan.


"Baik," jawab Sania acuh. "Son sedang keluar. Sepertinya lama. Kau mau menunggu?" tanyanya. Karna sudah pasti Meylin ingin bertemu dengan suaminya. Ingin rasanya Sania melarang suaminya untuk bertemu Meylin, tapi untuk sekarang ini dia belum berani. Takut membuat singa yang sudah jinak menjadi buas lagi.


"Iya aku mau menunggu. Sebentar lagi pulang kok. Dia tadi mengatakan bahwa ada urusan sebentar." Sania mengernyitkan dahinya merasa heran, kapan suaminya ini memberitahunya?


"Kau tahu dari siapa?"


"Tadi aku menelfonnya." Sania tidak menyangka jika mereka sedekat itu. "Oh ya, aku ikut bahagia karna Son sudah mau operasi mata. Dia memang harus melihat musuhnya itu mendekam di penjara," kata Meylin dengan sinis.


"Musuh?" Sania tidak tahu apa yang sedang Meylin bicarakan. Dia tidak tahu menahu soal musuh Son.


"Kau tidak tahu? Ada seorang pria yang dulu mencoba mendekati Vennie. Dan orang itu sampai sekarang masih sering mengunjungi makam Vennie. Tapi atas tindak kejahatan yang pernah ia lakukan, akhirnya sekarang dia mendekam di penjara. Dan itu membuat Son tersenyum puas."


Mendengar penjelasan Meylin, hatinya begitu sesak. Entah kenapa, penjelasan darinya sedikit memberitahunya bahwa Vennie adalah segalanya untuk Son. Bahkan orang yang mencoba mendekati Vennie, Son memusuhinya.


"Oh begitu ...." Sania sebenarnya malas untuk menemani tamu dari suaminya itu. Sania ingin istirahat saja, tapi Meylin nanti sendirian.


"Oh ya, Sania. Kau bukannya sudah lama menikah ya? Sudah ada tanda-tanda hamil belum?" tanya Meylin tiba-tiba. Selalu saja dalam sebuah pernikahan yang ditanyakan adalah lahirnya keturunan.

__ADS_1


__ADS_2