ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 117 TENTANG ANAK SANIA


__ADS_3

Keesokkan harinya, Sania terbangun dari tidur panjangnya. Di kanan kirinya terdapat dua keponakannya yang menggemaskan. Sebelah kanan ada Zion dan di sebelah kiri ada Meysa. Dengan hati-hati Sania turun dari ranjang, berharap pergerakannya tak membangunkan dua anak kecil tersebut.


Baru saja melangkahkan kakinya setelah menapak pada lantai kamar, suara Meysa menghentikan langkahnya.


"Bibi ...." rengeknya. Sania kemudian menoleh dan segera menghampiri gadis kecil tersebut sebelum ia menangis.


"Iya sayang." Sania mengangkat tubuhnya dan ia dudukkan di atas ranjang. Menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah mungilnya.


"Meysa mau pulang, Bi." Seperti itu lah anak kecil. Terkadang permintaannya tak diduga-duga. Padahal semalam Sania sudah membujuknya untuk pulang ke rumah, tapi gadis kecil itu menolak. Lalu pagi-pagi buat seperti ini, dia merengek minta pulang ke rumah.


"Meysa mandi dulu ya terus sarapan. Setelah itu Bibi antarkan Meysa pulang." Tak mungkin Sania memulangkan Meysa begitu saja. Setidaknya Meysa harus dalam keadaan bersih dan rapi saat pulang nanti. Takut Keyla berpikiran kalau Sania tidak becus mengurus putri kecilnya.


Gadis kecil itu perlahan mengangguk. Lalu ekor matanya menangkap Zion yang ternyata sudah bangun. Matanya terbuka menatap padanya.


"Zion sudah bangun, sayang." Anak kecil itu sangat mandiri, persis seperti Darien. Dia bangun tanpa menangis dan dia juga bisa turun dari ranjang sendiri.


"Sudah, Bi. Zion mau mandi sendiri." Langkah kecilnya perlahan masuk ke dalam kamar mandi miliknya, Sania dibuat heran dengan tingkahnya yang seperti orang dewasa saja.


Di rumah Sania memang terdapat beberapa pakaian milik Zion dan Meysa. Untuk berjaga-jaga jika mereka menginap di rumahnya.


Hari-harinya tak lagi kesepian, apalagi sekarang Son sedang berada di luar negeri. Setidaknya kehadiran kedua anak kecil ini mengobati rasa rindunya terhadap anaknya yang telah lama tiada.


Waktu itu .....


Hujan deras membasahi bumi di kala malam itu. Sania tak sengaja jatuh di kamar mandi. Membuatnya pendarahan dan buru-buru di bawa ke rumah sakit. Dokter akhirnya memutuskan untuk segera mengambil tindakan operasi. Sania terpaksa harus melahirkan bayinya secara prematur.


Dan akhirnya operasi berjalan dengan lancar dan bayinya akhirnya juga selamat. Tapi masih harus diberi penanganan khusus. Dan kejadian buruk menimpa keluarga mereka, bayi prematur yang baru ia lahirkan beberapa hari ini dinyatakan meninggal. Sania tak kuasa menahan tangisannya. Dia begitu terpukul, juga Son yang merasa gagal dalam menjaga istrinya.


"Anakku ...." Sania menangis dalam pelukan Son. Dia harus kehilangan bayinya. Belum sempat ia sentuh sekali pun, tapi ia telah tiada.


Sekilas bayangan menyedihkan itu melintas di kepalanya. Dan bertahun-tahun sudah ia dan Son berusaha untuk memiliki anak, tapi belum juga diberikan kepercayaan lagi.

__ADS_1


"Bibi, kenapa melamun?" Suara Meysa membuyarkan lamunannya. Dia lalu tersadar dan tersenyum.


"Tidak, sayang. Bibi hanya lapar," jawabnya.


"Zion juga lapar, Bi."


Meysa memutar bola matanya jengah, dia tidak suka dengan kehadiran sepupu laki-lakinya itu. Zion itu menyebalkan menurutnya.


"Bibi! Aku tidak mau duduk di sebelahnya!" Kini mereka sedang berada di meja makan. Tapi Meysa menolak untuk bersebelahan dengan Zion.


"Zion, kemari lah. Kau duduk di samping Bibi." Zion menggeleng, dia tak menghiraukan Meysa yang melototinya. Dia cuek dan memilih mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi goreng yang lezat.


"Bibi!" rengeknya sambil cemberut.


"Meysa pindah sini." Sania dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah dua keponakannya ini.


"Kau jangan seperti anak kecil Meysa! Aku hanya duduk di sini! Kenapa kau tidak mau duduk di sebelahku? Apa aku ini bakteri?" Zion menatapnya sinis. Kata-katanya seperti orang dewasa saja.


"Hey sudah! Jangan bertengkar di meja makan. Ini meja makan, tempatnya untuk makan. Dengar ya, Bibi tidak suka kalian bertengkar seperti ini. Kalian ini saudara," tutur Sania menasehati.


Zion dan Meysa pun akhirnya terdiam. Mereka ini masih kecil tapi ada saja tingkahnya yang seperti orang dewasa.


"Bibi, setelah ini Zion mau main di taman ya," pintanya.


"Iya, Zion. Tapi nanti kita antarkan Meysa pulang dulu ke rumah ya."


"Tidak, tidak mau. Meysa mau ikut kalian." Sania beralih menatap Meysa, merasa heran dengan Meysa yang labil.


"Meysa tidak jadi pulang? Tadi katanya minta pulang."


Gadis kecil itu menggeleng cepat. "Tidak, Bi. Meysa masih mau di sini."

__ADS_1


Jika akhirnya begini dia harus memberitahu Keyla lagi. Kalau anaknya tak mau diajak pulang.


"Dasar aneh!" Zion mulai mengejeknya lagi.


Tapi Sania memeringati mereka berdua untuk diam dan melanjutkan makannya saja.


***


Tak pantang menyerah untuk wanita yang saat ini sedang berdiri di pinggir jalan. Menunggu sebuah taxi lewat. Dia sudah bersiap untuk interview di salah satu perusahaan di kota ini. Tak ingin dibantu oleh siapa pun, dia dengan kerja kerasnya sendiri mencari pekerjaan.


"Maria, ayo Ayah antarkan saja." Raul yang kala itu ingin berangkat kerja menawarkan untuk mengantarkan putrinya.


Tapi Maria menggeleng, tampaknya dia masih kesal dengan sikap ayahnya semalam. Sampai-sampai dia mendiami ayahnya sampai sekarang.


"Maria, kau bisa telat nanti." Raul berusaha membujuknya tapi Maria malah melangkahkan kakinya pergi, dia berjalan menuju halte.


Sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya. Si pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum ke arahnya.


"Chris ...." Pria tampan yang ternyata teman Maria sekampus dulu.


"Maria, mau kemana? Ayo naik," ajaknya.


Maria menoleh ke arah Raul yang masih berdiri menatapnya.


"Ayo." Chris membuka pintu mobilnya, menyuruhnya untuk cepat masuk. Tak punya banyak pilihan, akhirnya Maria menerima ajakan Chris. Dia juga tak mau terlambat datang untuk interview. Ini kesempatan emas baginya. Sudah beberapa kali dia gagal, kali ini dia tak ingin gagal lagi. Sania sebenarnya sudah menawarkan untuk bekerja disalah satu perusahaan milik Son, tapi Maria menolak keras. Dia ingin mencari pekerjaan sendiri, tak mau bergantung pada siapa pun.


"Paman, apa Maria sudah berangkat?" Jeffry datang dengan sepeda motornya. Dia dengar Maria akan interview hari ini, itu juga dia dapat info dari temannya. Karna sudah beberapa hari ini Maria tak ada kabar membuatnya semakin dibuat frustasi. Apalagi sikap Raul yang kini tak ramah lagi padanya.


"Untuk apa kau masih kesini? Apa perkataan ku waktu tidak cukup membuatmu mengerti? Jangan dekati putriku lagi!" Kata-kata Raul membuatnya sakit hati. Memang sudah sering Raul memeringatinya untuk tidak mendekati Maria lagi. Tapi Jeffry yang sudah terlanjur cinta, tak peduli apa pun rintangan untuk membuatnya bersatu dengan Maria.


"Paman, saya mencintai Maria dari dulu. Saya—"

__ADS_1


"Pergilah!" usirnya kemudian dengan nada membentak.


__ADS_2