
Hari ini, akan ada perayaan penyambutan kepulangan Math. Setelah tersadar dari masa kritisnya, banyak perubahan yang terjadi. Seluruh putra-putranya dan menantunya sudah berkumpul di ruang tengah yang sudah disulap menjadi ruang acara. Di tengah-tengah mereka sudah ada sebuah tumpeng besar hasil dari karya para pelayan.
Math pulang bersama Luzi juga beberapa bodyguard yang sengaja menatap di sana. Di ruangan itu ada sepasang anak kecil yang tak hentinya bertengkar.
"Zion! Jangan ganggu kak Meysa," tutur Darien yang selalu saja menjahili Meysa. Membuat gadis kecil itu merengek dan kesal.
"Ayah, ayo main di luar," ajaknya.
"Zion, sebentar lagi kakek dan nenek datang. Kamu harus bersikap sopan dan jangan lupa menyapa kakek dan nenek," perintahnya kemudian.
Zion berdecak sebal dan langkah kecilnya menghampiri Son dan Sania yang sedang mengobrol ringan.
"Bibi .... Ayo main," ajaknya sambil menarik-narik baju miliknya.
Son mengusap puncak kepala keponakannya itu, merasa gemas dengan tingkahnya yang lucu.
"Zion, duduklah. Sebentar lagi kakek dan nenek datang. Apa Zion tidak rindu pada kakek dan nenek?" Son mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di pangkuannya.
Suara deru mesin mobil terdengar, mereka sudah bisa menebak bahwa itu adalah Math dan Luzi. Mereka berbondong-bondong berjalan ke luar. Senyuman merekah diperlihatkan untuk menyambut kedatangan mereka.
Math keluar dari mobil dengan bantuan para bodyguard, lalu ia duduk di kursi roda. Anggota tubuhnya memang belum semuanya bisa bebas digerakkan. Hanya tangan dan mulutnya saja yang sudah normal digerakkan. Lalu Luzi yang berada satu mobil dengannya juga terlihat keluar. Wajahnya tak banyak berubah, masih cantik diusia senjanya.
Putra-putranya bergantian memeluk Math. Mereka merindukan ayahnya yang tampan dan gagah.
"Ayah, Rico akan memberikan seorang cucu lagi." Ia mengusap perut buncitnya Keyla dan tersenyum.
Math begitu terharu, putranya telah menjadi seorang ayah. "Rico, putraku .... Ayah selalu bangga terhadapmu." Pertemuan kali ini sangat mengharukan. Mereka semua menangis melihat momen haru ini.
"Ayah, lihatlah. Zion sudah besar." Darien memperkenalkan Zion yang saat ini sudah besar, karna terakhir kali mereka bertemu saat Zion masih bayi.
Lalu yang terakhir Son. Putranya yang selalu rajin menjenguknya saat dirawat di luar negeri. Tak ada yang bisa ia katakan, Son merasa belum ada yang bisa ia banggakan. Perusahaan pun masih milik ayahnya dan seorang cucu belum bisa ia berikan.
__ADS_1
"Ayah selalu bangga padamu, Son. Kau laki-laki sejati," ujarnya membuat Son yang kala itu menunduk seketika mengangkat kepalanya. Mata mereka bertemu, sebagai seorang ayah ia tahu apa yang sedang dipikirkan putranya.
"Maksud Ayah?"
"Kau mau bertahan dengan istrimu selama ini. Kesabaranmu pasti akan membuahkan hasil. Jangan sesekali memutuskan segala sesuatu mengikuti napsu dan ego mu. Jangan seperti Ayah," bisiknya agar tak ada yang mendengar.
Kini Son paham, sejujurnya dia tak pernah terbesit di pikirannya untuk meninggalkan istrinya. Dia adalah pria yang susah jatuh hati, jika sudah mencintai satu orang maka ia akan menjadikannya ratu dalam hatinya.
Setelah menangis penuh haru, kini saat mereka makan bersama. Math memotong tumpeng dan memberikan suapan pertamanya untuk Luzi. Itu sebagai bentuk terima kasihnya yang telah mau merawatnya di luar negeri selama bertahun-tahun.
"Terima kasih, Luzi. Semoga Tuhan segera membalas semua kebaikanmu," ujarnya dengan tersenyum.
Walaupun mereka tak lagi bersama, tapi Luzi sudah bertekad untuk tetap berkomunikasi baik.
Lalu suapan kedua sampai keempat ia berikan untuk ketiga putranya. Acara hari ini juga diselingi canda tawa. Apalagi tingkah Zion yang agresif, dia selalu saja bersikap konyol. Membuat Paman Bibinya tertawa terpingkal-pingkal begitu pun Luzi dan Math.
"Kak Meysa, apa kau bisa seperti ini?" Zion dengan angkuhnya bermain bola dengan cara mendrible. Walaupun dia sering saja gagal membuat Meysa tertawa.
"Kau ini sombong sekali, padahal kau saja belum bisa!" ejeknya.
Perdebatan kedua anak kecil itu membuat siapa pun gemas. Apalagi Meysa dengan rambut yang dikuncir dua berjalan menghampiri Zion, rambutnya berayun searah kepalanya yang gerak.
"Rambutmu jelek sekali!" ejeknya lagi sambil menarik rambut Meysa. Membuat gadis itu mengaduh kesakitan.
"Aww, Ayah ...." Meysa berteriak memanggil ayahnya dan tak berapa lama ia menangis membuat Zion dibuat bingung.
"Hey, jangan menangis." Zion ketakutan, dia tak mau dimarahi.
Rico yang mendengar jeritan putrinya langsung menuju ruangan dimana mereka bermain, yang hanya dibatasi sebuah gorden tebal.
"Ayah ...." Jeritan kedua membuat Rico semakin berjalan cepat.
__ADS_1
"Ada apa Meysa? Kenapa menangis?" Rico langsung berjongkok dan memeluk putrinya.
"Zion menarik rambutku!" adunya kemudian.
"Tidak, tidak. Zion tidak menariknya, Paman. Zion hanya memegangnya saja," jawabnya dengan wajah ketakutan.
Lalu Rico beralih menatap putrinya kembali. "Sayang, Zion hanya memegang rambutmu saja. Dia tidak berniat menyakitimu," ujarnya memberi pengertian.
"Ayah, dia bohong! Dia bohong!" ucapnya diselingi tangisan.
"Sudah ya, cup cup. Kita kembali ke kakek ya. Meysa bermain dengan kakek saja. Zion, ayo ikut Paman."
Anak kecil itu lalu menggeleng. Dia tidak mau kembali ke sana. "Zion mau disini saja Paman."
Meysa menatapnya sebal, dia membenci sepupu laki-lakinya itu. "Dasar menyebalkan!" teriaknya sebelum Meysa benar-benar pergi meninggalkan Zion sendirian di sana.
Hari pun menjelang sore, Rico, Keyla dan Meysa lebih dulu pamit untuk pulang ke rumah. Karna Keyla harus banyak istirahat mengingat perutnya yang sudah besar.
"Darien, kau tidak mau pulang?" Wajah putra keduanya terlihat murung. Entah apa yang ia pikirkan.
"Ayah, akan tinggal di sini dengan siapa?" Putra keduanya merasa kasihan jika Math harus tinggal sendiri di sini, walaupun ada banyak pelayan. Sedangkan Luzi, ia akan tinggal bersama Sania dan Son.
"Jangan pikirkan Ayah." Math juga merasa kasihan dengan dirinya sendiri. Waktu senjanya harus dinikmati sendirian. Tak ada lagi yang bisa ia jadikan teman hidup.
Luzi yang baru saja dari dapur menghampiri mereka yang terlihat sedang berbicara serius. "Darien, kau belum juga pulang?" Mereka duduk bertiga di ruangan tadi. Valencia dan Sania sepertinya sedang berada di halaman depan melihat-lihat tanaman bunga. Sedangkan Son, pria itu sedang menerima telepon dari seseorang membuatnya pergi entah kemana.
"Bentar lagi, Bu."
Melihat keduanya tak lagi bersama membuatnya sesak dada. Kenapa mereka tak bersama lagi?
"Ibu ...." Darien menggenggam jari jemarinya, menatapnya bergantian. "Apa tak ada sisa rasa cinta untuk Ayah sedikit saja?"
__ADS_1
Pandangan Luzi seketika melemah, ia bahkan melepaskan genggaman tangan dari putranya. Menatap Math sekilas dan beralih menatap ke sembarang arah.
"Darien, Ibu mau pulang. Math, aku pulang dulu." Luzi lantas beranjak bangun. Math terlihat kecewa karna Luzi tak mau menjawabnya.