ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 49 MAKAN BERSAMA


__ADS_3

CEKLEK ....


Pintu dibuka oleh seseorang. Sania langsung menoleh pada pintu, dan ternyata Math yang masuk.


"Jangan bergerak!" Son tak melepaskan Sania yang ingin bangun. Dia mempertahankan Sania tetap di pangkuannya. Gadis itu merasa malu karna Math memergoki dirinya duduk di pangkuan Son. Sungguh memalukan. Mungkin yang ada dipikiran ayah mertuanya adalah mereka terlihat romantis.


"Ada Ayah!" Sania berusaha memberitahu suaminya. Tapi Son tetap memegangi tubuhnya agar jangan beranjak bangun.


Math tersenyum melihat keduanya. "Maaf, Ayah menganggu waktu kalian. Sebaiknya kita makan bersama lebih dulu. Semuanya sudah berkumpul di meja makan." Sania tidak berani menatap ayah mertuanya. Dia hanya mengangguk sambil mengiyakan dengan canggung.


"Son, lepaskan istri mu. Kamu masih banyak waktu untuk bermesraan," ujar Math membuat Sania malu bukan kepalang. Sania bergerak terus membuat Son lelah untuk membuatnya diam.


"Aku malu ...." jeritnya. Sania menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia menatap Son dengan sebal. Bisa-bisanya disaat mereka berdua dalam keadaan yang saling berdekatan, Math tiba-tiba datang membuat semuanya seakan memalukan.


"Malu kenapa? Katanya kau adalah istriku. Apa salahnya?" Tak mau menjawab pertanyaan suaminya, dia memilih untuk mengambil pakaian. Dia ingin terlihat lebih rapi di hadapan mertua dan kakak iparnya.


"Kau sedang apa?" Dari yang dia dengar, Sania membuka pintu lemari walaupun dia belum yakin. "Kau sedang ganti baju?" tanya Son lagi. Pilihan Sania jatuh pada dress berwarna biru muda. Dia tampak cantik hari ini, sayang sekali Son tidak bisa melihatnya.


"Ayo keluar," ucap Sania dan menyuruhnya duduk di kursi roda.


Benar saja, semuanya sudah duduk di meja makan. Ayah, Ibu, Kak Rico, Kak Keyla dan juga Kak Darien ada di sana. Mereka menatap Sania dan Son tanpa henti, apalagi Darien. Pria itu terus memandangi Sania yang terlihat cantik hari ini. Penampilannya selalu membuatnya terpesona.


Tepat di sebelah Darien, Sania mendudukkan tubuhnya. Sedangkan Son berada di sebelah kirinya tepat di sebelah Math.


Hidangan di meja makan tersusun rapi dengan sajian yang terlihat lezat. Pelayan yang bertugas memasak memang sudah dipilih dengan ketat. Tidak asal-asalan memilih juru masak. Mereka sudah ahli dalam bidangnya.


"Son, dahi mu terluka?" Rico tahu bahwa adiknya baru saja keluar dari rumah sakit. Tapi dia tidak tahu apa yang telah terjadi.


Tak ada jawaban dari Son, Sania menyenggol lengannya tapi suaminya seperti tak mau menjawab.


"Iya, Kak Rico. Son habis jatuh," jawab Sania akhirnya. Dari pada menunggu Son yang hanya diam.

__ADS_1


"Bagaimana bisa jatuh? Apa kau tidak menjaganya?" Keyla ikut menimpali. Dia menatap Sania dengan sinis.


"Sudah, sudah. Ayo kita makan dulu. Keyla, makan yang banyak. Kau harus menjaga kandungan mu," kata Math. Tidak mau membuat suasana semakin panas.


Keyla pun mengangguk. Dia mengambil piring dan mengambil lauk pauk sesuka hatinya. Wanita hamil itu memang banyak makan.


Sania pun sama, dia mengambilkan piring untuk Son. Mengisinya dengan lauk pauk yang ia sukai. Walaupun dia tidak tahu pasti apa kesukaannya. Dia hanya mengira-ngira apa yang sering ia makan.


Semua sibuk dengan makanannya masing-masing. Kecuali Darien, dia curi-curi pandang ke arah Sania. Membuat hidangan di piringnya nampak masih utuh. Saat tak sengaja menoleh ke sebelah kanan, Sania memergoki Darien yang sedang memandangnya. Dengan cepat Darien beralih menatap hidangannya. Dia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan lahap. Sania memandangnya dengan heran, kenapa kakak iparnya memandanginya? Dia melirik bajunya, berpikir barangkali penampilannya kali ini terlihat jelek.


"Sudah selesai! Aku mau ke kamar!" Suara Son mengejutkan semuanya. Pria itu sudah selesai makan, walaupun makanannya masih ada yang tersisa di dalam piring. Sania langsung beranjak bangun, dia dengan sigap ingin mendorong kursi rodanya.


"Makananmu belum habis, Sania. Habis kan dulu," ucap Darien melihat piring Sania masih tersisa makanan yang banyak.


"Tidak, Kak. Sania sudah kenyang. Sania ingin istirahat saja di kamar bersama Son." Sania pamit kepada Math dan Luzi. Karena ia tahu, Son merasa tidak nyaman berkumpul bersama seperti ini.


"Ya sudah, Kakak bawakan makanan mu ke kamar," usul Darien. Kakak iparnya ini begitu perhatian padanya.


"Tidak usah sok peduli. Hentikan perhatian menjijikkan itu!" kata Son dingin


"Terima kasih, Yah," jawab Sania.


Darien membanting sendoknya ke atas piring dan beranjak bangun. Merasa kesal pada ayahnya yang selalu membela adiknya.


"Darien!" Rico memanggil adiknya, mencegah untuknya pergi. Tapi tak mengindahkannya. Dia terus berjalan tanpa berpamitan pada kedua orangtuanya.


"Kenapa dia menjadi anak yang tidak sopan?" keluh Math. Luzi menghela napasnya panjang, dia juga menyudahi makannya dan berniat untuk menyusul Darien.


"Mau kemana? Tetap lah di sini," ucap Math membuat pergerakan Luzi terhenti.


"Aku ingin menyusul Darien. Anak itu harus ditemani. Dia butuh—"

__ADS_1


"Tetap lah di sini!" seru Math. Dia tidak mau membuat putranya menjadi manja. Biarkan saja jika dia marah, seharusnya dia bisa berpikir.


"Tidak mau!" Luzi menentangnya. Dia tidak mau mendengarkan suaminya. Dia memilih untuk pergi menyusul Darien. Tidak peduli akan kah Math marah. Yang terpenting sekarang adalah Darien. Putranya harus dalam keadaan baik-baik saja. Tidak mau jika Darien pergi dari rumah lagi.


"Kenapa semuanya jadi memusuhiku!"


"Ayah, tenang lah. Darien pasti butuh ibu, makanya ibu ingin menyusulnya. Lagi pula ibu dan Darien juga jarang bertemu." Rico mencoba memberi pengertian pada ayahnya.


Kepalanya mendongak, menatap putra pertamanya. "Apa kau tahu Ayah tidak suka ditentang!" Rico menunduk, dia sudah salah bicara. Ayahnya terlihat tidak suka dengan ucapannya.


"Ini semua gara-gara Sania!" Tiba-tiba Keyla mengeluarkan suaranya. Membuat Math mengernyitkan dahi. Kenapa menantunya malah menyalahkan Sania?


"Apa maksudmu, Keyla?" tanya Math. Wanita hamil itu masih sibuk mengunyah makanan.


"Hmm, ya semuanya salah Sania," ucapnya lagi dengan mulut yang penuh.


"Sayang! Kenapa kau bicara seperti itu?" Rico menatapnya dengan tajam. Sebenarnya apa yang ada di pikiran istrinya ini.


"Sayang, lihat lah sekarang. Semuanya terlihat peduli padanya, padahal dia jadi istri saja tidak becus sampai Son terluka," jawabnya menggebu-gebu.


Kedua pria itu tampak terheran-heran. Bagaimana mungkin Keyla bisa berpikiran jauh kesitu.


"Keyla, Ayah tidak mengerti apa maksud dari ucapan mu. Tapi sebaiknya kau jangan berpikiran negatif dengan Sania. Dia tetap menantu Ayah yang baik, juga kau," ucap Math membuat Keyla terdiam. Ada rasa sesak di dalam dadanya.


"Semuanya membela Sania!"


"Sayang, habiskan makanan mu. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku tidak mau kau kelelahan berpikir." Rico berinisiatif untuk menyuapinya, karna makanannya sudah habis. Tapi Keyla menolaknya.


"Aku bisa sendiri!" jawab Keyla ketus.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2