ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 91 MERASA JENUH


__ADS_3

"Pelayan!" Sania mencoba memanggil pelayan di rumah. Dia ingin meminta pertolongan.


"Ada apa, Nona?" Seorang pelayan muda datang menghampiri.


"Panggil teman-temanmu yang lain. Dan bantu aku cari gelang yang seperti ini. Tadi suamiku melemparkannya ke arah sini," tunjuknya.


Pelayan itu mengangguk dan memanggil beberapa pelayan yang lain. Agar lebih cepat menemukan apa yang sedang Sania cari.


Tak butuh lama mereka untuk mencari, akhirnya salah satu pelayan menemukannya. "Ini, Nona." Gelang berinisial SS itu akhirnya ketemu juga.


"Terima kasih. Kalian boleh kembali bekerja."


Walaupun Son tidak mau memakai gelang pemberian Rico, ya sudah tak masalah. Dia bisa menyimpannya saja. Tapi dia teringat dengan baju couplenya. Dia punya ide, bagaimana kalau dia tak usah memberitahu soal baju itu dari siapa agar Son mau memakainya.


.


.


.


Di sebuah ruangan yang terletak di lantai paling atas, Son menginjakkan kakinya di sana. Terakhir dia kemari sudah sangat lama. Tapi karyawan di sini wajahnya tak sedikit berubah, masih sama seperti dulu. Berarti karyawan lama masih merasa nyaman bekerja di sini.


"Maaf Ayah. Son terlambat." Math yang sedang fokus ke arah laptopnya seketika mengalihkan perhatiannya. Dia lihat putranya yang terakhir tampak gagah hari ini.


"Tidak apa-apa, Son. Kau pasti sibuk dengan istri muda mu," godanya membuat Son memutar bola matanya jengah. Jelas-jelas dia dengan istrinya sering berdebat. Jika ayahnya tahu semalam Son diusir untuk tidur di luar, pasti Math akan tertawa terbahak-bahak.


"Ayah, Son hari ini akan memegang perusahaan yang mana?" tanyanya. Math memiliki beberapa perusahaan, yang awalnya akan dia berikan pada putra-putranya. Tapi ternyata Darien memilih untuk mendirikan perusahaan sendiri juga Rico yang awalnya memegang perusahaan miliknya dan sekarang dia sedang memulai mendirikan perusahaan sendiri tentunya dengan campur tangan Math.


"Terserah kau, Nak." Math sangat mempercayai penuh Son. Tak ada keraguan untuk putranya yang satu ini. Sifatnya menurun pada ibunya Angela. Saat ambisius dan juga pekerja keras.

__ADS_1


"Ayah, nanti weekend bagaimana kalau kita ke makam ibu. Son merindukan ibu," ucapnya membuat Math merasa sesak di dada. Bukan hanya Son, Math juga sangat merindukan sosok Angela.


KLEK!!!


Tiba-tiba pintu ruangan dibuka oleh seseorang. Seorang wanita paruh baya dengan penampilannya yang anggun masuk dengan wajah terkejut. Tidak tahu bahwa di dalam sana ada seorang ayah dan anak yang sepertinya sedang berbicara serius.


"Maaf mengganggu. Aku hanya ingin memberikan ini." Sebuah map penting yang tak sengaja ketinggalan di ruang kerja Math di rumah. Luzi yang merasa jenuh di rumah, akhirnya dia yang memilih mengantarkan map itu.


"Terima kasih. Son, cium tangan ibumu." Math akan berperan sebagai ayah yang baik. Dia tahu sejak pesta perayaan ulang tahun Luzi, hubungan mereka semakin buruk. Apalagi mengingat kata-kata Son yang menyakitkan hati Luzi.


"Aku pulang dulu." Luzi memilih pergi dari ruangan itu. Cukup sabar dia selama ini. Son tetap saja membencinya, andai dia berani untuk mengungkapkan semuanya pasti Son akan berpikir dua kali untuk membencinya. Tapi dia tidak mau mengungkapnya sendiri, karna pasti nantinya akan timbul masalah yang besar.


"Son! Sampai kapan kau bersikap tidak sopan seperti ini dengan ibumu! Ibu Luzi telah mengurus mu sedari kecil. Mana balas budi mu, Son?" tuturnya memberitahu.


"Ayah, Son sudah besar. Aku tidak memintanya untuk mengurusi ku. Dia bukan siapa-siapa, jadi tidak pantas aku hormati. Aku hanya menghormati orang tuaku saja. Dia hanyalah orang lain!"


BRAAAKKKK!!!!!


"Ayah, Son permisi." Tak mau melihat amarahnya Math, Son memilih meninggalkan ruangan. Tak peduli dengan ayahnya yang selalu membela istri kesayangannya itu.


"Selamat pagi, Tuan." Seorang wanita cantik menyapanya dengan lembut. Dia lihat penampilan cantiknya wanita ini. Dia baru melihatnya kali ini.


"Kau siapa?" tanyanya.


"Perkenalkan saya Melanie, Tuan. Apa Anda tidak ingat dengan saya?" Son mengernyitkan dahinya, merasa tidak asing dengan namanya.


"Melanie? Sekretaris ayah?" Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Beda sekali. Wanita yang berumur kepala tiga lebih itu tambah semakin cantik dengan badannya yang masih bagus.


"Iya, Tuan. Anda tidak ingat dengan saya? Anda semakin tampan saja, Tuan. Oh ya, mungkin ini sudah terlambat. Tapi saya mengucapkan selamat untuk pernikahan Anda dengan nona Sania," ujar Melanie. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira, Son akhirnya kembali dengan matanya yang sempurna.

__ADS_1


Son berjalan menuju menuju lift. Di sepanjang jalan dia memikirkan sesuatu.


"Sekretaris? Apa aku meminta seorang sekretaris untuk menemaniku?" Bayangan wajah Sania memenuhi kepalanya. Dia membayangkan jika Sania menjadi sekretarisnya. Tentu dia akan setiap hari melihatnya


.


.


Hari sudah semakin sore. Sania benar-benar merasa jenuh. Dulu saat Son buta, dia setiap hari menemaninya. Tapi sekarang dia harus berdiam diri di rumah sambil menunggunya pulang. Tak ada kegiatan atau pun pekerjaan yang dia lakukan di rumah. Semua pelayan selalu saja menolak jika Sania menawarkan bantuan. Kecuali memasak, mereka akan memberi tempat untuk Sania.


"Lama sekali! Kenapa tidak pulang-pulang!" keluhnya. Dia sedari tadi melihat ke arah gerbang, tak ada mobil yang datang.


"Nona, sebaiknya Anda tunggu tuan Son di dalam saja. Sebentar lagi malam, hawanya pasti dingin. Anda bisa sakit." Bi Ranih membujuknya untuk masuk ke dalam, tapi Sania menggeleng keras. Dia tidak mau. Menjadi istri dari seorang pria kaya raya ternyata rasanya seperti ini. Sangat menjenuhkan, jika begini dia ingin seperti Maria saja. Bisa kuliah dan mengenal banyak orang. Memiliki teman yang banyak, jadi dia tidak kesepian.


"Itu suamiku pulang." Sania langsung berdiri dan tersenyum bahagia. Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


Son yang melihat Sania sudah berdiri di teras membuat lelahnya seharian ini terasa hilang seketika.


"Kau dari tadi di sini?" tanyanya sambil menggandengnya masuk ke dalam. Sania mengangguk tapi wajahnya cemberut. "Kenapa wajahmu? Kenapa ditekuk seperti itu?" tanyanya lagi.


"Aku bosan di rumah. Jika aku meminta untuk kuliah saja bagaimana? Bersama Maria di kampusnya." Permintaan Sania membuatnya terkejut. Tapi memang seusianya seharusnya masih menempuh pendidikan, tapi rencananya yang tadi ingin memintanya untuk menjadi sekretaris akhirnya terurungkan. Dia tak mau membuat Sania kecewa.


"Kau ingin kuliah?" tanya Son lembut.


Sania mengangguk. Dia memohon dengan wajah memelasnya.


"Tapi jika biayanya mahal, aku juga akan bekerja. Jadi—"


"Sssstttttt ...." Son menutup mulutnya dengan jari telunjuknya. "Tidak usah pikirkan itu. Itu semua tanggung jawabku."

__ADS_1


Sania bersorak kegirangan. Akhirnya dia bisa juga merasakan kuliah. Dia harus segera meminta bantuan Maria untuk mendaftarkannya di kampusnya.


__ADS_2