ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 111 MATH JATUH SAKIT


__ADS_3

Ruangan serba putih dengan suasana yang sunyi, dua pria tampan perlahan masuk ke dalam ruangan. Mereka diberi kesempatan untuk melihat ayahnya lebih dulu.


Pria paruh baya yang tak kalah tampan dari mereka tampak berbaring dengan bibir yang pucat.


"Ayah ...." Rico menyentuh tangannya pelan. Tangannya yang semakin hari keriput. Pertanda ayahnya sudah tua. Usianya tak lagi muda.


"Kak, kita harus cari ibu," ucap Darien membuat kakaknya menoleh lalu mengangguk.


"Istriku ...." gumam Math. Mulutnya menyebut kata-kata istri tapi matanya masih terpejam. Keduanya saling lempar pandang, apa kepergian ibu yang membuat Math jatuh sakit begini?


"Ayah ...." panggil lagi Rico, berharap Math mendengarnya.


Perlahan kedua mata Math membuka. Belum terlihat jelas apa yang ada di hadapannya saat ini. Math mengedarkan pandangannya.


"Di-dimana?" ucapnya terbata.


"Ayah saat ini ada di rumah sakit."


Math mengalihkan pandangannya pada dua sosok di depannya. Rico dan Darien tersenyum ke arahnya.


"Rico .... Darien ...." Math memanggil mereka. Kedua putranya yang ternyata sudah besar-besar. Ada perasaan haru dalam hatinya.


"Ayah, apa yang terjadi pada Ayah? Apa yang Ayah rasakan? Bagian mana yang sakit?" Darien bertanya bertubi-tubi, dia sangat mengkhawatirkan ayahnya.


"Ayah tidak apa-apa. Ayah hanya merindukan ibumu," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Berhari-hari ia merasa kesepian di rumah. Setiap kali ia masuk ke dalam kamar, hanya ada bayangan Luzi di dalam sana. Wanita itu sedang merapikan tempat tidur, sedang merapikan bajunya di lemari atau sedang berhias. Tak pernah hilang sosok Luzi dalam ingatannya.


"Sebenarnya kalian ada masalah apa, Yah? Kenapa Ibu pergi dari rumah. Lalu kenapa Ayah tidak memberitahu kita?"


Math menahan sesak di dadanya, begitu sedih saat Luzi belum ditemukan ada di mana.


"Ayah tidak mau mengganggu waktu kalian. Darien baru saja menikah dan kau pasti sibuk karna harus mengurus beberapa perusahaan milik Ayah," jawabnya.


.


.


.


Sedangkan di luar ruangan, para istri duduk berjejeran di kursi tunggu. Son dan Paman Leo entah pergi kemana.

__ADS_1


"Sania, wajahmu terlihat pucat. Apa kau sedang sakit?" tanya Valencia yang duduk di sebelahnya. Sedangkan Keyla duduk di sebelah Valencia sebelah kanan.


Sania menggeleng. "Tidak, Kak. Aku baik-baik saja," jawabnya.


"Jika kau sedang tidak enak badan sebaiknya pulang saja. Jangan membuat suasana di sini tambah kacau. Nanti semua orang akan dibuat susah jika kau ikut-ikutan sakit di sini." Keyla tiba-tiba berdiri dan berbicara seperti mengusirnya.


Valencia yang baru masuk menjadi anggota keluarga Math terlihat terkejut mendengar perkataan Keyla yang terkesan menyakiti hati.


"Aku tidak apa-apa, Kak." Sania berusaha menahan emosinya, tidak enak juga membuat Valencia yang orang baru merasa tidak nyaman.


"Jangan membuat semua orang menjadi simpati padamu," katanya lagi membuat Sania akhirnya berdiri dan berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia berniat ingin menghindari perdebatan.


"Lihatlah Valencia, dia itu sangat tidak sopan. Sikapnya semena-mena. Padahal niatku baik menyuruhnya pulang jika sakit. Tapi dia malah pergi tanpa pamit." Kini Valencia dibuat bingung, sebenarnya ia tahu mana yang salah dan benar. Memang perkataan Keyla ada benarnya menyuruh Sania pulang, tapi penyampaiannya yang kurang enak didengar. Dan juga Sania, dia paham pasti gadis itu tersinggung.


Son dan Paman Leo datang setelah entah habis kemana. "Dimana istriku?" tanya Son yang tak mendapati Sania ada di sana.


"Dia pergi," jawab Keyla ketus.


"Son, Sania tadi pergi. Baru saja pergi, tidak tahu kemana. Dia tiba-tiba pergi tanpa mengatakan apa pun." Valencia ikut menimpali dan Son segera menyusul istrinya.


Tak jauh dari sana, Son melihat Sania yang sedang duduk. Dia menundukkan kepalanya menghadap ubin rumah sakit.


Perlahan Son menyentuh bahunya, kepala gadis itu masih menunduk dengan rambutnya yang menghalangi wajah cantiknya. Perlahan ia menyibakkan rambutnya yang sudah agak panjang. "San, kenapa kau menangis?" Satu bulir air mata berkali-kali menetes, membasahi kedua pipinya.


Son menariknya dalam pelukan. "Katakan, siapa yang membuatmu menangis seperti ini? Katakan!" Son tadi menyesal telah meninggalkannya, seharusnya dia membawa Sania pergi bersama Paman Leo saja.


Sania terisak dalam pelukannya. Ia pikir hidupnya sudah bahagia. Son telah berubah, dia sudah menjadi seorang istri yang sesungguhnya. Tapi ada saja orang yang tak menyukainya. Padahal dia sudah berlaku baik kepada semua orang.


"Diam lah, jangan menangis seperti ini. Apa kau masih marah denganku tentang masalah tadi? Aku kan sudah minta maaf. Nanti kita akan sama-sama memberitahukan ayah dimana keberadaan—" Son menjeda kalimatnya sebentar, "keberadaan ibu Luzi." Sepertinya menyebut nama wanita paruh baya itu terasa berat.


Mendengar perkataan suaminya dia lantas mengangkat kepalanya, melihat kesungguhan dikedua bola matanya.


"Hmm, benarkah? Kau akan memberitahukan ayah? Tapi—"


"Kita beritahukan saja, jangan sampai orang lain tahu bahwa kau yang sengaja menyembunyikan keberadaan ibu Luzi. Aku tidak mau kau kena masalah nanti." Ucapan Son ada benarnya juga, walaupun dia sama saja melanggar janjinya pada Ibu Luzi tapi ini semua untuk kebaikan. Ayah Math sedang terbaring di rumah sakit, setidaknya kabar bahagia ini mampu membuatnya tersenyum.


Kali ini, giliran Son dan Sania yang masuk. Keduanya bergandengan, lalu melihat Math yang sudah dengan posisi duduk bersender.


"Ayah ...." Son menarik dua kursi untuk ia duduki bersama sang istri.

__ADS_1


"Son, apa kau tahu ...." Math menatap langit-langit kamar dengan matanya yang kosong.


"Iya, Yah. Son tahu," jawabnya cepat.


Math lalu mengalihkan pandangannya langsung pada Son. "Kau sudah tahu? Tahu darimana? Ayah belum mengatakan pada siapapun bahkan kepada kedua kakakmu bahwa ibumu telah menggugat cerai Ayah."


DEG.


DEG.


Son dan Sania langsung saling pandang. Bukan itu maksud Son, maksudnya ia tahu tentang keberadaan Luzi. Bukan masalah tentang perceraian.


"Ibu mengajukan perpisahan?" Kini Sania yang bertanya.


Math menghela napasnya, matanya memanas bersamaan hatinya yang sakit.


"Bukan itu yang Son tahu, Yah. Son mengetahui dimana keberadaan ibu sekarang."


Math langsung bangun dari bersendernya lalu menatap Son tanpa henti. "Kau tahu? Dimana ibumu sekarang! Katakan!" Math tak sabar mendengarnya.


"Ibu saat ini ada di sebuah penginapan, Yah," jawab Sania memberitahu.


.


.


.


.


Begitu terngiang-ngiang ucapan Math barusan.


"Apa yang terjadi pada mereka?"


Son selama ini tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua. Dihadapan anaknya Math terlihat begitu menyayangi istrinya. Begitupun Luzi yang selalu menjadi istri yang berbakti.


"Son, aku ingin kau berbaikan dengan ibu. Ibu sangat merindukan Son kecil. Dia selalu bercerita ingin sekali menjalin kedekatan denganmu lagi."


Son masih teringat beberapa momen kebersamaan dirinya bersama Luzi. Tak dapat dipungkiri dia juga merasa rindu dengan suasana itu. Tapi jika mengingat goresan tulisan tangan di buku diary milik Angela, hatinya tak kunjung berhenti membenci. Tapi memang ini semua bukan salah Luzi sepenuhnya. Ibunya bahkan tak tahu ada istri lain selain Luzi, sampai akhir hayatnya hanya Luzi yang ia ketahui menjadi duri dalam percintaannya dengan Math.

__ADS_1


__ADS_2