ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 47 PENASARAN


__ADS_3

Sania berjalan tanpa arah. Dia terus berjalan, setidaknya pergi jauh dari ruangan itu. Saat sedang berjalan di koridor rumah sakit, matanya menangkap dua sosok yang ia kenali.


"Ayah, ibu ...." Math dan Luzi jalan berdua menuju arahnya. Dia berhenti, sambil berpikir tentang jawaban apa yang akan dia katakan nanti jika Ayah dan Ibu menanyakan kenapa dia di sini bukannya di ruangan menemani Son.


"Sania, kenapa di sini? Di mana ruangan Son?" Luzi bertanya. Dia menatap menantunya dengan seksama. Baru saja berpikir, pertanyaan itu nyatanya benar-benar ditanyakan.


"Sania ingin ke kantin, Bu. Sania haus," jawabnya berbohong. Matanya tak berani menatap ibu mertuanya.


"Bukan kah kantin sebelah sana, Sania?" Math menatap heran menantunya. Bukan kah ini bukan pertama kalinya Sania datang ke rumah sakit ini, kenapa dia tampak kebingungan?


"Oh ya, Sania lupa," jawabnya seraya menggaruk kepalanya.


Sania pun pamit untuk pergi ke kantin terlebih dahulu, sebelum itu dia lebih dulu menunjukkan di mana ruangan Son.


"Siapa?" tanya Son saat mendengar pintu ruangannya dibuka. Terdengar banyak langkah kaki masuk, yang dia perkirakan berjumlah lebih dari satu orang.


"Ini Ayah dan Ibu, Son." Math menatap putranya dengan tatapan sendu. Tangannya terulur menyentuh pundaknya dan mengusapnya pelan. "Son, sampai kapan seperti ini terus?" tanyanya. Segala cara telah Math lakukan agar Son mau menyudahi hukumannya sendiri. Tapi semakin lama, Son tidak ada perubahan.


Son mendecak lidahnya kesal. Ayahnya terlalu ikut campur dengan kehidupannya. Dia sudah dewasa, dia telah memutuskan untuk buta saja untuk menebus kesalahannya.


"Son tidak perlu dikasihani, Ayah." Math menghela napasnya panjang, tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi sikap Son. Putranya yang satu ini memang sangat berbeda dari kakak-kakaknya. Sifatnya keras dan juga teguh pendirian.


.


.


Di bangku panjang yang kosong, dia mendudukkan tubuhnya di situ. Tidak banyak orang di sana, hanya ada beberapa orang saja yang sedang makan. Ini belum waktunya jam makan siang, pantas saja sepi.


Sania *******-***** botol yang ia pegang. Dia masih kesal tentang kejadian tadi. Meylin yang tiba-tiba datang menjenguk Son. Dari awal melihatnya di sini, dia sudah menduga bahwa ini akan terjadi.


"Nona, Anda di sini?" Sania menoleh ke belakang, ternyata Paman Leo.

__ADS_1


"Paman, juga kenapa di sini?" tanyanya balik.


"Paman lapar. Dari tadi pagi belum makan," ucapnya dengan tangan memegangi perutnya. Sangat sulit mencari waktu hanya untuk mengisi perutnya. Dia terlalu sibuk mengurusi tuannya. Sampai-sampai dia melupakan keadaan tubuhnya yang lelah.


"Paman, bolehkah Sania bertanya?" Ada banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Tapi dia memilah pertanyaan yang lebih penting.


"Silahkan, Nona," jawab Paman Leo mempersilahkan.


"Apakah selama menikah dengan Sania, Son pernah bertanya tentang Sania? Atau dia tak pernah menanyakan apa pun?" Ini pertanyaan yang konyol menurutnya, tapi dia penasaran. Sosok Son yang dingin dan seperti anti dengan orang baru, membuatnya terpikirkan untuk menanyakan hal ini. Sania adalah orang baru, bagi Son dia seharusnya menanyakan tentang asal usulnya.


Paman Leo tersenyum singkat. Kepalanya menoleh pada Sania yang juga menatapnya menunggu jawaban.


"Pernah," jawabnya singkat. "Tapi hanya sekali," katanya lagi.


"Bertanya bagaimana? Tentang apa?" tanyanya dengan antusias.


Sania menyimak dengan serius semua yang dikatakan Paman Leo. Ternyata Son selama ini merasa penasaran dengan asal usulnya. Dan dia sempat tak percaya dengan umur Sania yang masih belia. Bisa-bisanya ayahnya menikahkan dirinya dengan gadis ingusan.


Leo tersenyum-senyum di belakangnya, merasa lucu dengan tingkah Sania.


***


Suasana dapur yang semula tenang kini mulai berisik kembali. Para pelayan sibuk memasak banyak makanan hari ini. Mereka dapat kabar bahwa sebentar lagi keluarga besar Math akan berkumpul di rumah ini. Pelayan senior bertugas mengecek semua keadaan rumah. Harus bersih, rapi juga tertata. Dia berputar mengelilingi rumah.


"Hey, sebenarnya tuan Son itu sakit apa? Kenapa dia sering sekali masuk rumah sakit." Selain mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tak lupa mereka juga saling bergosip.


"Dia tidak sakit, hanya saja terkadang emosinya tidak stabil. Apa kau tahu, kemarin dia melukai dirinya sendiri. Die membenturkan kepalanya ditembok. Sungguh gila," ucap salah satu pelayan. Membuat semua yang mendengarnya menjadi ketakutan sendiri.


"Hiiiiii .... Seram sekali." Para pelayan bergidik ngeri mendengar cerita rekannya. Memang tak banyak yang tahu tentang Son. Apalagi mereka kebanyakan adalah pelayan baru. Saat Son mengamuk pun yang berada di kamarnya adalah pelayan-pelayan lama. Mereka yang memang sudah tahu tentang Son.


"Sssstttttt, diam lah." Saat pelayan senior datang mereka seketika diam. Walaupun pelayan senior terlihat baik pada mereka, tapi mereka juga harus jaga-jaga. Barangkali pelayan senior akan mengadukan apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka tidak mau jika nanti diberhentikan bekerja di sini. Mereka tidak mau kehilangan gaji yang didapatkan perbulan dengan jumlah yang lumayan besar.

__ADS_1


"Cepat lah. Sebentar lagi keluarga tuan Math akan datang," kata pelayan senior memberitahu.


Beberapa mobil mewah berbondong-bondong masuk ke halaman rumah. Satpam dengan sigap membuka pintu gerbang lebar-lebar. Majikannya begitu ramah, tak segan untuk menyapa hangat para pekerjanya. Mereka pun tersenyum merekah seraya membungkukkan badan. Begitu menghormati majikannya yang baik hati.


"Telfon putramu yang sibuk bekerja. Cepat suruh pulang ke rumah!" Math menyuruh Luzi untuk menelfon Darien. Putranya yang kedua.


"Kenapa tidak dari tadi? Aku pikir kau masih marah dengannya," kesalnya. Sedari tadi dia ingin bertanya pada suaminya, apakah Darien diajak kumpul bersama atau tidak. Tapi melihat wajahnya yang sedang tidak ramah, dia tidak berani.


"Cepat telfon! Lagi pula Rico dan Keyla juga belum datang," ucapnya dan segera turun dari mobil. Pelayan pun berjejer rapi menyambut kedatangan majikannya. Son berada dalam satu mobil dengan Sania. Walaupun dalam perjalanan mereka tak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Nona, antarkan tuan Son ke kamar lebih dulu. Tuan harus ganti baju." Sania melirik pada Son. Wajahnya terlihat begitu datar. Tapi melihat dahinya yang diperban, dia merasa iba. Sania akhirnya pun mendorong kursi rodanya. Mengantarkannya ke kamarnya.


Tepat di depan kamar Son, disitu sudah ada Darien. Pria itu ternyata tidak berangkat ke kantor. Hari ini pakaiannya tampak santai hanya dengan memakai celana pendek.


"Kenapa berhenti?" tanya Son karna mendadak Sania berhenti mendorong kursi rodanya.


"Ada Kak Darien di depan pintu," jawabnya.


"Aku tidak ada urusan denganmu. Masuk lah." Darien membuka pintu kamar Son lebar-lebar mempersilahkan adiknya untuk masuk. "Sania, antarkan adikku ke dalam. Lalu aku ada perlu denganmu."


Sania dengan terpaksa mengangguk. Dia mendorong kursi roda suaminya untuk masuk ke dalam.


"Berhenti!" Son berteriak. Sania pun dengan terkejut memberhentikan langkahnya. "Apa yang ingin kau katakan padanya? Katakan sekarang!" Darien meliriknya sinis, tidak mengerti apa maksudnya.


"Aku ada perlu dengan Sania bukan denganmu. Jadi lebih baik kau masuk—"


"Urusannya juga urusanku!!!!" seru Son.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2