
"Selamat pagi, Nona Sania." Pelayan rumah utama menyambutnya dengan hangat. Mereka tersenyum lebar seperti merindukan kedatangan Sania yang sudah lama tidak kemari.
"Pagi. Ayah ada dimana?" Pelayan pun mengantarkan Sania ke ruang kerja Math.
Seperti biasa, Sania mendadak menjadi gugup saat akan bertemu ayah mertuanya.
"Sania, apa kabar, Nak?" Math terkejut saat melihat Sania pagi-pagi menemuinya.
"Kabar Sania baik, Yah. Ayah sendiri bagaimana?" tanyanya balik.
"Baik, kabar Ayah Baik." Ruang kerja Math tidak berubah. Masih rapi dengan lemari-lemari yang dipenuhi ribuan file.
"Ayah, maaf jika Sania mengganggu waktu Ayah pagi-pagi." Dia menatap Math dengan dalam.
"Tidak, Sania. Katakan apa yang ingin kau katakan. Ayah akan selalu mendengarkan mu," jawab Math.
Sania meremas ujung roknya untuk mengurangi kegugupannya. Matanya yang indah tak bisa mengelak dari tatapan Math yang dipenuhi rasa penasaran.
"Apa Ayah tahu dimana Son sekarang? Kenapa dia pergi tiba-tiba bersama paman Leo? Kenapa Sania tidak diberitahu?" Dia menghembuskan napasnya perlahan, saat apa yang ada di kepalanya sudah ia keluarkan semua.
Math beranjak bangun dari duduknya. Dia berjalan menuju jendela. Mencari-cari jawaban atas pertanyaan yang diajukan Sania. Dia memutar otak agar apa yang ia jawab membuat Sania puas.
"Sania, Son pergi karna ada sesuatu hal yang harus ia selesaikan segera. Jadi kamu—"
"Apa ini menyangkut tentang perpisahan kami, Yah? Apa Son sedang mengurus perpisahan kami? Jadi dia sengaja menghilang dan saat kembali semuanya sudah selesai?" Sania menebak, walaupun hatinya begitu sakit jika dugaannya memang benar.
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Sania? Son tidak sedang mengurus perpisahan kalian. Itu—" Math menghentikan perkataannya.
__ADS_1
"Oh, Sania tahu. Perpisahan kami yang akan mengurus Ayah, kan?" Sania mulai menebak lagi. Sania mulai paham sekarang.
"Tidak, Sania. Kau salah paham."
"Tidak apa-apa, Yah. Jika Son menginginkan perpisahan ini. Sania tidak apa-apa." Sania bangkit dari duduknya, harusnya dia sudah sadar dari kemarin. Son pergi karna mungkin sudah tak ingin bersamanya lagi. Dia sedang mengurus perpisahan mereka.
"Sania kau harus tahu diri!"
"Sania pamit pulang dulu, Yah." Sania pamit dan meninggalkan Math di ruang kerjanya. Math ingin mencegahnya, tapi dia bingung apa yang ingin ia jelaskan.
Seharusnya Sania sadari dari awal. Son pergi karna tak ingin terus di sisinya. Berkali-kali Son mengusirnya tapi Sania yang keras kepala, tak mau mengindahkannya.
Kakinya yang lemah melangkah perlahan, dia berjalan dengan hati yang gundah. Tepat di bawah tangga, dua kaki jenjang yang putih bersih menghadang langkahnya.
"Kak Keyla sudah di rumah?" Sania menatap Keyla yang juga menatapnya dengan tatapan sulit diartikan.
"Apa kau tidak suka aku di rumah? Kau pasti senang, kan? Kemarin aku jatuh terpeleset. Kau tertawa, kan?" Keyla melototinya tajam. Entah kebencian apa yang membuat Keyla seperti ini. Padahal Sania tak pernah berbuat buruk padanya.
"Ah omong kosong!" Keyla mendorong tubuh Sania sampai ia jatuh ke belakang. Pelayan yang melihat itu langsung menolong Sania yang terjatuh. "Aku sangat membencimu!" Keyla berlalu pergi, meninggalkan Sania yang terheran-heran. Pantatnya sakit tapi rasanya tak sesakit rasa hatinya saat ini.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" Sania menggeleng, dia menutupi kesakitannya. Ini tidak seberapa, dulu dia sering disiksa oleh Bibi Lotus. Rasanya dia sudah kebal.
Baru saja ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Ponselnya berbunyi kembali, ada panggilan masuk dari Maria.
"Apa!!!!! Aku kesana sekarang." Sania berjalan tergesa-gesa, dia harus ke rumah Pamannya sekarang. Kabar yang ia terima, tak lekas dia telan mentah-mentah. Dia harus melihatnya sendiri. Tidak mau langsung percaya begitu saja.
Di depan halaman rumah Paman Raul, terlihat beberapa orang berbondong-bondong memasuki rumahnya. Mereka mengucapkan belasungkawa pada Paman Raul yang sedang duduk terisak. Dia menyeka air matanya beberapa kali. Terlihat Maria yang menangis tersedu-sedu di sebelah peti jenazah. Bibi Lotus telah meninggal. Pak Mail memberitahunya tadi lewat ponsel milik Maria.
__ADS_1
"Pak Mail ...." Sania ikut menangis di pelukan Pak Mail. Dia begitu terpukul atas kepulangan Bibi Lotus. Walaupun dulu sikapnya tidak pernah baik padanya, tapi Bibi Lotus telah mengurusnya sedari orang tuanya telah tiada.
"Sania, apa ini kau? Kau terlihat cantik sekarang. Lihatlah bajumu, bagus sekali. Maafkan Bibi yang tak pernah memanjakanmu dengan membelikan barang-barang bagus atau baju-baju yang cantik. Kau memang anak yang baik, Sania. Bibi minta maaf. Rasanya permintaan maaf Bibi tak akan cukup jika mengingat betapa kasarnya dulu Bibi terhadapmu."
Itu lah kata-kata terakhir yang Bibi Lotus katakan padanya. Sania dari hati yang paling dalam, telah memaafkan Bibi Lotus. Dia tak pernah membencinya. Dia bahkan menyayangi mereka semua. Biarlah yang sudah berlalu dijadikan sebuah pelajaran saja. Mungkin jika Sania tak pernah mendapatkan perlakuan yang buruk dari mereka, Sania tak akan tumbuh menjadi pribadi yang sekuat sekarang.
"Ayah! Ayah egois!" Maria tiba-tiba menghampiri Paman Raul. Dia begitu emosi saat mengingat Paman Raul yang tak mengijinkannya mengurus ibunya di rumah. Maria tak bisa menghabiskan waktunya dengan Bibi Lotus disaat-saat terakhir.
Sania menyusul Maria, berusaha menenangkan sepupunya itu.
"Maria, tenanglah," ucapnya lembut. Maria yang masih terisak, menjatuhkan tubuhnya pada pelukan Sania. Dia belum siap kehilangan ibunya.
"Sa-sania ...." Maria tak kuasa menahan air matanya yang jatuh terus menerus. Dia masih membutuhkan sosok ibunya.
"Maria, aku juga sedih kehilangan bibi. Tapi kamu tak sepantasnya berbicara seperti itu pada paman Raul. Beliau juga ikut terpukul, Maria." Sania tahu perasaan Maria, tapi tindakan Maria yang barusan tidaklah pantas.
"Aku kesal dengan ayah," ujarnya.
Pemakaman pun dilakukan sore hari sebelum matahari terbenam. Suasana di pemakaman begitu mengharukan. Maria memeluk nisan ibunya dengan erat seakan tak ingin melepaskan.
"Maria, ayo pulang," ajak Sania. Tapi Maria selalu menggeleng. Dia tak ingin pergi, tak ingin pulang. Ingin selalu berada di sisi ibunya.
Sebuah mobil mewah datang, seorang pria tampan masih dengan setelan jas lengkap berjalan tergesa ke arah mereka.
"Kak Darien ...." Sania melihat Kak Darien yang berjalan mendekat. Dia pikir keluarga suaminya tak ada yang datang.
"Maaf, Sania. Kakak baru sempat datang ke sini. Ayah tadi titip ucapan belasungkawa, maaf ayah tak bisa datang saat ini." Sania memahami. Dia berterima kasih karna Darien mau datang.
__ADS_1
"Maria, sebentar lagi hari semakin gelap. Ayo kita pulang." Sania masih membujuk Maria agar mau pulang. Di pemakaman hanya ada Sania, Maria dan Darien. Sedangkan Paman Raul dan Pak Mail menunggu mereka di dalam mobil.
Dengan terpaksa, Sania mengangkat tubuh sepupunya. Dia menarik paksa untuk segera pulang, dia menuntun Maria berjalan. Di pertengahan jalan, Sania tiba-tiba teringat pada Son, pria itu sering datang ke pemakaman Vennie. Entah mengapa, hatinya berkali lipat sakitnya saat mengingat itu.