
Kehidupan baru akan dimulai. Hari ini akan jadi hari bersejarah dalam hidupnya. Kehidupan gelap yang ia lalui selama ini akan berubah menjadi terang. Dia berharap keputusannya kali ini tidak lah menjadi penyesalan nantinya.
"Tuan, apa Anda siap?" Suara dari seorang pria paruh baya yang selalu setia disisinya membuyarkan lamunannya. Dia sedang membayangkan suatu hal.
"Paman, apa operasi ini berhasil?" Dia ragu, tidak semua yang dikerjakan manusia selalu berhasil. Semua tergantung kuasa yang di Atas. Walaupun mereka orang yang ahli, berpendidikan tinggi, pengalaman banyak tapi namanya kegagalan tak ada yang tahu.
"Kita berdoa saja, Tuan."
Hari ini, perban yang membalut kedua matanya akan dibuka. Apakah Son bisa melihat kembali? Melihat keindahan dunia yang selama ini tak pernah ia lihat dengan mata telanjang.
"Paman, dimana ayah?" Son mencari ayahnya. Math bilang akan datang hari ini, tapi hingga saat ini tak kunjung ada tanda-tanda Math masuk ke ruangannya.
"Sebentar lagi, Tuan. Tuan Math sedang dalam perjalanan." Ayahnya memang super sibuk, tapi hari ini dia benar-benar membutuhkan dukungan dari ayahnya.
Seluruh dokter yang menangani Son juga beberapa perawat terlihat memasuki ruangan, mereka berjejer rapi untuk melihat Son yang sebentar lagi akan melihat dunia. Ini semua atas kerja keras mereka yang membantu operasi mata Son.
***
Sania yang sabar, kali ini beralih profesi menjadi pelayan untuk Maria. Gadis malang yang ditinggal ibunya pergi untuk selamanya. Berhari-hari dia terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Ayahnya hanya mampu menatap dengan iba tanpa berani menyentuhnya apalagi memeluknya. Gadis itu menjadi membenci ayahnya sendiri. Sania yang perhatian, berkali-kali membujuknya untuk makan. Agar Maria tetap terjaga kesehatannya.
"Maria, untuk kali ini tolong makanlah. Aku sudah membuatkan sup yang enak." Sania memegangi mangkuk sup yang masih hangat. Baunya harum, sangat enak pastinya. Tapi Maria terus saja menggeleng sambil memeluk bantalnya erat. Kedua matanya sembab tak pernah berhenti menangis.
__ADS_1
"Maria ...." Sania pasrah, berhari-hari dia menemani Maria yang seperti ini. Rasanya seperti menemani patung. Berbeda saat menemani Son yang selalu marah-marah, ini malah kebalikannya.
"Sania, tolong keluar dari kamarku. Aku ingin sendiri." Wajahnya tampak lesu, tak ada keceriaan diwajahnya yang manis. Wajahnya begitu gelap, segelap hatinya yang saat ini serasa kosong.
"Nona Maria, di luar ada tuan Jeffry." Sama halnya dengan nasib Sania, Jeffry yang menjadi teman dekat Maria juga tak mampu meluluhkan hatinya. Jeffry yang selalu berkunjung ke rumah tak sekalipun ditemui oleh Maria. Gadis itu malah memilih untuk tidur.
"Tuan Jeffry datang bersama seorang wanita," kata Pak Mail lagi. Maria yang sedang berbaring lekas bangun dan menatap Pak Mail. Dia sepertinya meminta penjelasan lebih lanjut. "Saya tidak kenal dengan wanita itu, Nona," jelasnya.
Maria yang penasaran langsung mencuci mukanya dan berganti pakaian. Perasaan seakan diaduk saat mendengar Jeffry datang bersama wanita.
Di ruang tamu duduk lah mereka berdua. "Maria ...." Seorang wanita yang seumuran dengannya tiba-tiba memeluknya. Dia adalah teman sekolahnya dulu, namanya Grace. Grace yang memutuskan untuk menikah muda dengan kekasihnya Pras.
"Aku turut berbelasungkawa atas meninggalnya ibumu. Aku benar-benar tidak tahu. Maaf baru mengunjungimu sekarang. Kamu yang tabah ya, Maria." Grace memeluknya erat, memberi ketenangan pada Maria yang bersedih. Maria menatap Jeffry dengan sendu, pria itu berhari-hari dia acuhkan terus menerus. Dia merasa bersalah sekarang.
"Jeff, tolong suapin Maria." Grace menyodorkan mangkuk sup padanya. Jeffry dengan ragu menerima mangkuk sup itu dengan sesekali melirik pada Maria yang membuang muka.
"Aku tidak lapar." Suaranya lirih seperti tak bertenaga. "Aku mau istirahat saja di kamar." Belum sempat ia bangkit, tangannya sudah dicekal oleh Jeffry. Jeffry menyentuh lengannya dengan lembut juga menatapnya dalam-dalam.
"Maria, tolong jangan seperti ini. Aku sangat khawatir." Berhari-hari Jeffry tak nyenyak tidur juga makan tak napsu hanya karna memikirkan keadaan Maria. "Bersedih boleh, tapi jangan membuat seisi rumah khawatir dengan keadaanmu. Masih banyak yang menyayangimu. Terutama aku, aku sangat menyayangimu." Entah kedekatan apa yang mereka jalani sekarang. Jujur saja, Maria merasa nyaman dekat dengan Jeffry. Tapi pria itu tak pernah memperjelas status hubungan mereka. Itu membuat Maria bingung sendiri.
***
__ADS_1
"Cari dimana istriku cepat! Jika dalam sehari kalian tak dapat menemukannya, kalian akan tahu sendiri akibatnya!" Math begitu marah. Sudah berhari-hari ia menyuruh para bawahannya untuk mencari keberadaan Luzi, tapi mereka semua tak dapat menemukannya.
Ini pertama kalinya Luzi pergi meninggalkan rumah. Dia kira amarahnya Luzi tidak akan selama ini. Ternyata wanita itu sudah berani meninggalkan rumah tanpa kabar sekali pun.
"Ayah yang harus bertanggung jawab. Jika Ibu sampai kenapa-kenapa, Ayah adalah orang pertama yang akan Darien cari."
Satu pesan masuk yang begitu menggetarkan hatinya. Putranya yang kedua melemparkan amarahnya juga padanya. Dia memukul kasar jok mobilnya, melampiaskan kekesalannya. Pak Supir yang sedang menyetir pun dibuat kaget.
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanyanya memberanikan diri.
"Fokus saja menyetir!" Math menatap keluar jendela dengan perasaan tak menentu. Hatinya gundah juga bersamaan rasa khawatirnya. Tapi saat mengingat Son yang tak lama lagi akan memulai kehidupan normalnya, dia sedikit bisa bernapas lega. Usahanya selama ini membuahkan hasil. Son mau operasi mata dan menata hidupnya kembali.
Mobil berhenti di sebuah rumah sakit mewah. Di sini Son melakukan operasi mata. Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri, di dalam negeri pun banyak dokter-dokter hebat.
Kakinya melangkah dengan tegas. Kewibawaannya terlihat jelas hingga seluruh pengunjung rumah sakit terpesona. Dia gagah dan tampan diusia yang tak lagi muda.
Ruangan yang terletak di paling belakang, menjadi pusat perhatiannya. Sebelum melangkah lebih dekat, dia tersenyum lebar tak sabar menanti kebahagiaan yang ada di depan mata.
"Selamat datang, Tuan." Leo yang sengaja menunggunya di luar segera membukakan pintu ruangan. Semuanya telah di sana, menanti saat-saat mendebarkan.
"Kita mulai sekarang ya, Tuan." Seorang dokter yang masih muda meminta ijin. Tangannya yang ahli mulai membuka perban yang membalut kedua mata Son.
__ADS_1
Suasana mendadak hening. Hanya ada suara dentingan jam dinding. Semuanya seakan menutup mulutnya rapat-rapat. Tak ingin kehilangan satu momen saja pada saat ini. Mereka menatapnya tanpa henti. Sebentar lagi sosok pria tampan itu akan menjadi sosok manusia yang sempurna. Tak ada lagi kegelapan di kedua matanya. Semuanya akan berubah menjadi indah.
"A-ayah ...." Kedua mata Son perlahan membuka. Dia mengerjabkan matanya menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Dan sosok ayahnya yang menjadi sasaran matanya untuk pertama kali bisa melihat.