ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 28 KEPUTUSAN SANIA


__ADS_3

Pria bertubuh tegap dengan langkah tergesa berjalan menuju kamarnya. Tempat dimana sudah dua minggu lebih dia tinggalkan. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang luar biasa.


"Di mana istriku?" tanyanya tak sabar pada pelayan yang membantu membawa barang bawaannya.


"Nona Keyla di kamar, Tuan. Ada nyonya Luzi yang menemaninya." Rico segera berlari, tak sabar untuk cepat sampai. Dia mendapat kabar bahwa Keyla jatuh pingsan, dan kebetulan memang hari ini dia sudah harus pulang dari perjalanan bisnisnya di luar kota.


"Sayang, apa yang terjadi?" Pria tampan yang menjadi suaminya sekarang terlihat begitu khawatir. Dia menggenggam erat jari jemarinya dan tak sungkan untuk menciumnya berkali-kali. Kerinduan yang selama ini ia pendam, hari ini terlampiaskan. Tak peduli adanya Luzi yang memandanginya dengan tersenyum-senyum.


"Rico, istrimu tidak apa-apa. Dia hanya mengalami pusing dan mual beberapa hari ini. Itu karena ...." Luzi menjeda kalimatnya.


"Karena apa, Bu?" Rico beralih menatap ibunya dengan penasaran.


"Sudah lah, nanti Keyla saja yang memberitahumu. Ibu mau ke luar." Luzi mengerlingkan matanya pada Keyla, Keyla pun mengangguk.


"Sayang, sebenarnya ada apa? Ibu tadi mau bilang apa?" Senyuman Keyla mengembang. Kebahagiaannya kali ini tak ternilai. Kepulangan suaminya yang sudah lama ia nanti, juga kabar bahwa dirinya sedang mengandung.


"Aku sedang mengandung Rico junior," ucapnya dengan tertawa kecil. Rico masih belum paham, dia diam sejenak seraya berpikir.


"Rico junior?" tanyanya dengan raut wajah bingung. "Maksudmu, kamu sedang hamil?" tanyanya memastikan.


Keyla mengangguk dan tiba-tiba memeluk suaminya dengan erat. Rico yang mendengar kabar bahagia itu pun tak hentinya mengucap rasa syukur. Tuhan begitu baik. Dengan cepat menitipkan seorang anak kepada pasangan suami istri baru tersebut.


***


Di sepanjang jalan, Sania sibuk dengan ponselnya. Dia sedang mengetikkan sebuah pesan yang akan dia kirim pada seseorang.

__ADS_1


"Pak, kita ke kantor ayah," ucapnya pada Sang Sopir.


"Ke kantor tuan Math, Nona?" tanyanya dengan bingung. Sopir itu pun bingung, jika Sania ingin ke kantor ayah mertuanya, seharusnya dari awal dia tidak menolak untuk mengantarkan Sania.


"Iya, Pak."


Sopir itu pun segera melajukan mobilnya dengan cepat atas perintah Sania. Karna Math sebentar lagi akan pergi. Sania tidak punya banyak waktu.


Di ruangan besar yang rapi. Math duduk dengan gayanya yang angkuh. Kedua kakinya dibiarkan bertengger di meja kerjanya. Sedangkan jarinya memainkan bolpoint sambil berpikir.


"Tuan, nona Sania sudah datang." Sekretarisnya memberitahu Math dan pria paruh baya itu menyuruhnya untuk mengajaknya masuk.


"Sania, duduk lah." Math menurunkan kedua kakinya. Dia memandangi Sania yang juga memandangnya balik. "Hal apa yang ingin kau sampaikan pada ayah? Apa kau ingin bertanya tentang keberadaan paman mu?" Math menebak. Tapi gadis itu menggeleng.


Sania dengan mata yang berani menatap Math dalam-dalam. Jauh dilubuk hatinya, Sania masih ragu pada Math. Pria paruh baya itu mengapa harus memilihnya sebagai menantu dan menikahkan dirinya dengan Son yang katanya adalah anak kesayangannya. Sosok Math benarkah seorang ayah yang baik? Apakah ada tujuan tertentu yang Math inginkan?


"Tunggu," potong Math cepat. "Jangan katakan kalau kau ingin meninggalkan putraku?" tebaknya pasti. Mimik wajah Math berubah yang semula terlihat ramah sekarang dia terlihat kecewa.


"Ayah, maafkan Sania. Sania adalah gadis biasa. Sania sudah berusaha menjadi istri yang baik. Tapi, putra Ayah sepertinya tidak bisa menerima orang baru di dalam hidupnya." Begitu banyak kejadian yang membuat Sania ketakutan. Dia berusaha tegar selama ini tapi dia adalah gadis biasa. Umurnya masih belia, dia juga masih butuh bimbingan dari orang tua seharusnya. Dia tidak sanggup menjalani kehidupan yang berat ini.


"Sania, sudah Ayah katakan. Bertahan lah satu bulan. Sania, Ayah sedang sibuk. Pulang lah dan temani suami mu." Math berdiri dan segera memakai jasnya. Dia memanggil sekretarisnya dan menyuruhnya untuk mengantarkan Sania ke depan.


"Ayah, Sania ingin pulang." Matanya yang sendu membuat Math sedikit merasa iba. Dia paham, gadis itu mungkin tertekan dengan sifat Son. Tapi dia ingin membuat Son menjadi sosok pria seperti dulu lagi yang ceria.


"Pulang lah, Sania. Sudah Ayah katakan pulang saja."

__ADS_1


"Pulang ke rumah paman. Sania ingin hidup dengan mereka lagi." Air matanya lolos begitu saja. Walaupun Paman Raul dan Bibi Lotus selalu bersikap buruk kepadanya, tapi setidaknya dia masih bisa bernapas dengan bebas di sana. Walaupun perlakuan mereka buruk, tapi Sania tetap diberi makan dan uang saku yang memang tak sebanyak yang diberikan kepada Maria.


Sekretaris Math yang berdiri di tengah-tengah mereka pun hanya bisa menyimak keduanya dengan bingung. Melihat Sania yang menangis, dia juga merasa sedih. Entah apa yang terjadi kepada keduanya, dia merasa iba dengan sosok Sania.


"Sania, apa Ayah harus katakan sekarang?" Math memalingkan wajahnya. Tak kuasa melihat Sania menangis. Dia memang gadis remaja, yang jika merasa tidak nyaman dengan polosnya mengatakan ingin pulang. Padahal dia sudah terikat pernikahan dengan seorang pria, tidak semudah mengatakan ingin pulang dan semuanya akan berakhir dengan mudah.


Sania mengusap air matanya dengan tisu yang diberikan sekretaris Math. Dia memandang Math ingin dengar kelanjutan perkataannya.


"Ayah sebenarnya sudah mengetahui di mana paman mu sekarang berada. Dia tinggal di sebuah pedesaan yang jauh sekali dari kota besar," kata Math memberitahu.


Banyak sekali pertanyaan yang ada dalam benaknya. Mengapa saat Pamannya mengalami kesulitan, beliau malah pergi menjauh darinya. Mengapa tidak menemui Sania?


"Nona, sebaiknya kita bermalam di sebuah penginapan. Jalanan di depan sepertinya sangat gelap, sungguh berbahaya. Saya akan putar balik saja. Tadi saya melihat ada sebuah penginapan di pinggir jalan." Jalanan yang mereka lalu sekarang memang sangat sepi, ditambah gelapnya sisi jalan yang tidak ada lampu disepanjang jalan itu.


Sania memutuskan untuk menemui pamannya hari ini juga. Ingin memastikan bahwa keluarga satu-satunya dalam keadaan baik-baik saja. Math mengijinkan Sania untuk pergi menemui pamannya, tapi dengan syarat bahwa Sania tidak akan pergi meninggalkan Son.


"Kita tidak butuh banyak waktu, Pak. Sebentar lagi juga akan sampai. Kita lanjut saja," ucap Sania. Pak Sopir yang baru saja melewati jalanan seperti itu merasa takut. Yang lebih ia takutkan adalah keselamatan Nona Sania. Bagaimana pun Sania adalah tanggung jawabnya. Dia adalah menantu dari bos besarnya.


"Nona, tapi saya takut. Kita bermalam saja. Nanti pagi-pagi buta kita lanjut lagi." Sebenarnya Sania sudah tidak sabar untuk bertemu pamannya. Tapi daripada dia membuat Pak Sopir merasa tidak nyaman, akhirnya dia mengiyakan untuk bermalam terlebih dahulu.


Sania turun dari mobil hanya membawa satu tas kecil yang dia bawa dari rumah. Tak membawa baju ganti atau pun perlengkapan lainnya. Dia masuk dan memesan dua kamar. Di dalam penginapan, hatinya masih belum tenang. Saat dia akan memejamkan matanya, terdengar bunyi notifikasi pesan masuk. Dia meraih ponselnya dan membuka pesan yang ia terima. Pesan dari seseorang yang tak terduga, sesaat dia merasa senang saat ada seseorang yang memperdulikannya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2