ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 21 KAPAN PERGI?


__ADS_3

Bim!


Bim!


Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunan Pak Satpam yang sedang duduk termenung di dalam pos.


"Tuan Rico!" Pak Satpam dengan semangat membuka pintu gerbang saat mobil yang sudah lama tidak datang ke rumah, akhirnya datang kembali.


"Malam, Pak." Keyla menyapa dengan ramahnya. Senyum manisnya membius Pak Satpam yang sampai geleng-geleng kepala.


"Malam juga, Nona Keyla," jawabnya sambil tersenyum lebar.


"Ayah sudah pulang?" tanya Rico kemudian setelah ia sudah memarkirkan mobilnya.


"Belum, Tuan. Tuan Math akan pulang nanti larut malam biasanya." Memang Math dikenal gila bekerja, dia jarang ada di rumah. Bahkan hari libur pun, dia sering berpergian.


"Tidak berubah." Rico dan Keyla bergandengan masuk ke dalam rumah. Yang mereka tuju sekarang adalah Luzi. Rico sangat merindukan ibunya.


"Kakak!" Mereka bertemu Darien yang tak sengaja sedang melintas di ruang tamu. Darien memeluk kakaknya dengan erat. Begitu rindunya mereka berdua. Rico adalah sosok kakak panutan. Dia penyabar dan penengah di antara Darien dan Son yang sering bertengkar.


"Di mana, Ibu?"


"Ibu sebentar lagi turun. Ayo kita makan malam bersama," ajak Darien.


"Tapi Ayah belum pulang. Kakak akan telfon Ayah terlebih dahulu."


"Tidak perlu. Bukan kah kita sering makan malam bertiga? Sudah biasa." Darien berlalu pergi menuju meja makan. Mereka memang jarang makan bersama dengan Math. Mungkin pernah, tapi sesekali saja. Son juga sama, anak itu tidak pernah mau turun untuk makan malam bersama. Tapi terkadang paksaan dari Ayah, membuatnya mau turun.


"Kakak, mau ke mana?" Darien melihat kakaknya yang akan menuju kamar Son.


"Kakak mau mengajak Son dan Sania makan malam bersama."


"Mereka sudah pergi. Ayah membelikan rumah baru untuk Son. Mereka sudah tidak tinggal di sini lagi," jelasnya memberitahu.


"Hah? Sejak kapan? Kenapa Kakak tidak tahu? Di mana rumah Son sekarang?" Rico benar-benar tidak tahu jika adik bungsunya telah meninggalkan rumah ini. Tentang Math yang membelikannya rumah baru pun, ia tidak tahu. Apa pun yang terjadi di rumah ini dan berurusan dengan Math, hampir semuanya dia tidak tahu. Dia anak sulung, tapi Math seakan tak pernah mempercayainya.


Makan malam berlangsung dengan tenang. Mereka berempat saling diam, seakan tenggelam dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


"Rico, Keyla, kalian akan bermalam di sini, kan?" Luzi memulai membuka percakapan. Dia memandangi putranya dan menantunya bergantian.


"Iya, Bu. Aku dengan Keyla akan bermalam di sini. Dan untuk beberapa ke depan, Keyla akan tinggal di sini dulu, Bu. Karna Rico akan ke luar kota." Rico ada perjalanan bisnis ke luar kota dan dengan terpaksa dia meninggalkan Keyla untuk sementara waktu. Karna Keyla juga masih sibuk dengan kegiatannya.


"Ibu senang jika Keyla di sini, jadi Ibu ada teman," katanya sambil tersenyum sumringah.


"Setiap hari juga ada Darien, Bu. Ibu tidak menganggapku?" Darien memasang wajah cemberutnya.


Luzi tertawa dan diikuti Rico juga Keyla. "Tidak, tidak begitu. Ibu selalu menganggapmu, Darien. Maksud Ibu, Ibu ada teman ke salon. Kau mau menemani Ibu ke salon?" Luzi terkekeh melihat raut wajah putra keduanya yang bersemu merah menahan kesal.


"Tidak mau!" jawabnya kesal.


***


"Tuan, saya ijin pulang sekarang boleh? Ibu saya sudah menelepon." Raut wajahnya terlihat cemas, dia menggenggam erat ponselnya yang masih berlangsung panggilan dari wanita yang telah melahirkannya itu.


"Pulang lah." Raut wajah wanita itu berubah sumringah. "Dan besok jangan datang kembali!" Baru saja membalikkan badan ingin melangkah keluar, dia mendengar kata-kata lanjutan dari bosnya yang membuatnya bagaikan ditusuk tombak berkali-kali.


"Tuan ...." Rasa terkejutnya memaksakannya untuk sekali lagi memanggil bosnya. Dia ingin mendengar penjelasannya.


Air matanya lolos begitunya. Yang awalnya dia ingin menangisi kesialannya hari ini, nyatanya kebahagiaan yang dia dapat hari ini.


"Pulang lah sekarang! Sebelum saya berubah pikiran." Wanita itu memang sangat menyayangi ibunya. Karna dirinya hingga umur 30 tahun lebih belum juga menikah, dia tak punya siapa pun untuk mengadu tentang segala keluh kesahnya. Pasangan pun dia tidak punya.


Wanita itu berlari sambil hatinya bersorak riang. Dia bersyukur memiliki bos seperti Math. Walaupun dari luar pria itu terlihat angkuh dan arogan, tapi kenyataannya dia baik hati sekali.


"Itu hadiah untukmu, Melanie," kata Math dalam hati.


***


Pagi ini, Sania bangun tidur dengan puasnya. Dia bisa tidur pulas semalam. Tak lagi merasa tidurnya dipenuhi kecanggungan atau pun ketakutan saat tidur bersama Son. Di kamarnya sendiri ini, dia bisa tidur dengan posisi bebasnya.


TOK!


TOK!


TOK!

__ADS_1


"Nona Sania sudah bangun?" Suara pelayan wanita memanggilnya. Dia menyuruhnya untuk masuk ke dalam karna kamarnya tidak ia kunci.


"Nona, saya tadi akan menyiapkan air untuk mandi tuan Son tapi ternyata kamarnya di kunci," ucap pelayan itu.


Sania baru sadar bahwa kunci cadangannya ada pada dirinya. "Nanti biar saya saja. Kamu kembali ke dapur."


Setelah menyisir rambutnya dan mengikatnya ke atas, Sania berpikir di dalam kepalanya. Setelah mereka berdua tak lagi tidur sekamar, Son dengan beraninya mengunci kamarnya terus. Dia jadi berpikir yang tidak-tidak. Barangkali suatu saat nanti terjadi hal yang tak diinginkan terhadap Son, bisa jadi nanti tidak ada seorang pun yang tahu.


KLEK!


Kunci cadangan ini seakan penyelamat untuknya. Dilihatnya Son masih tertidur. Dia mendekati Son yang masih memejamkan matanya.


"Jika dia sedang tertidur sangat tampan. Wajahnya tidak menyebalkan saat dia membuka mata," ucapnya dalam hati.


Sania telah menyiapkan air untuknya mandi juga pakaian serta handuk. Saat Sania keluar dari kamar mandi, dia melihat Son yang sudah bangun. Dia terduduk di atas kasur sambil melamun.


"Kau sudah bangun? Mandi lah sekarang dan sarapan bersama denganku."


Tak ada jawaban apa pun dari Son, juga tak ada pergerakan darinya. Hingga Sania selesai membuka jendela, Son tak kunjung bergeser dari duduknya.


"Hey, apa kau tuli? Mandi! Sudah siang!" Sania sedikit meninggikan suaranya. Bukan berarti dia tak sopan, tapi dia hanya ingin Son menghargainya yang sudah susah payah merawatnya dan memenuhi kebutuhannya.


"Sampai kapan kau akan di sini? Kapan kau akan pergi?" Bukannya menjawab pertanyaannya, Son malah mengeluarkan kata-kata yang membuat hatinya sedikit sakit.


"Maksudmu?" tanya Sania dengan tenang.


"Aku tidak mau kau terus merecoki kehidupanku. Aku ingin kau pergi!" Bukannya Son berubah menjadi lebih baik, tapi pria itu semakin menjadi sifatnya. Dia bahkan masih menginginkan kepergian Sania dari hidupnya.


Sania menghela nafasnya sejenak dan berkata "Aku akan pergi tenang saja. Tapi, setelah kau bisa melihat kembali," kata Sania dan berlalu pergi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2