ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 116 KEPONAKAN LUCU


__ADS_3

"Kak, sebaiknya kita bawa saja ayah berobat ke luar negeri. Nanti aku saja yang merawat ayah di sana." Darien tetap kekeh ingin membawa Math ke luar negeri. Setidaknya mereka harus berusaha dulu untuk kesembuhan Math. Jika hanya mengandalkan dokter dan penanganan disini rasanya tidak cukup.


"Apa kau yakin? Lalu bagaimana dengan Valencia? Dia sedang hamil muda, tidak mungkin kau membawanya sekalian. Itu sangat beresiko."


Son hanya menyimak, sebenarnya dia sangat setuju dengan usul Darien. Tapi dia tidak mau terkesan satu pikiran dengan kakaknya yang menyebalkan itu.


Darien menggaruk kepalanya, Valencia tak punya sanak saudara. Jika dia tinggal di rumah sendirian, dia tidak tega.


"Son, menurutmu bagaimana? Apa kita harus membawa ayah berobat ke luar negeri?" tanya Rico kemudian.


Son sejenak berpikir, "Jika itu yang terbaik, Son setuju saja."


"Tapi, masalahnya nanti siapa yang mengurus ayah di sana."


Saat mereka bertiga sedang berdiskusi, sesosok wanita paruh baya berjalan mendekat. Dan bersamaan dokter yang baru saja selesai menangani Math di dalam.


"Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?"


Dokter itu menepuk pundaknya sebentar, lalu mengatakan bahwa mereka harus bersabar. Karna keadaan Math saat ini masih lemah. Daya tahan tubuhnya menurun. Untuk saat ini Math tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Hanya matanya saja yang bisa ia gerakan.


Rico memandang Luzi yang berdiri tak jauh darinya. Dia menghampiri dan membujuknya untuk masuk ke dalam. Luzi awalnya berat, tapi dia harus menjenguk mantan suaminya. Setidaknya dia masih punya hati nurani.


Pemandangan yang menyesakkan dada. Math terbaring lemah dengan perbantuan pernapasannya juga tangannya yang diinfus. Math yang gagah, tampan dan angkuh kini tak terlihat lagi. Dia menjelma menjadi sosok pria yang lemah tak berdaya. Baru saja melangkahkan kakinya masuk, mata Luzi sudah memanas.


"Rico, kamu keluar saja." Luzi menyuruh putra pertamanya untuk keluar, karna dia ingin lebih leluasa di sini.


Setelah Rico keluar, Luzi melangkahkan kakinya mendekat pada Math yang masih memejamkan matanya.


"Math ...." panggilnya. Tak dapat dipungkiri, hatinya masih milik Math seutuhnya. Andai saja Math mau membalas cintanya sedari dulu. Mungkin Luzi tak kan pergi dari sisinya.


"Aku disini," ujarnya lagi.


Bibirnya gemetar menahan tangisnya yang hampir pecah. Tangannya bergerak mengelus jari jemarinya yang semakin keriput.


"Cepat sembuh lah. Semua putra-putramu sangat mengkhawatirkan mu."


Tiba-tiba mata Math mengerjab. Lalu perlahan membuka matanya. Luzi langsung menghapus air matanya.


Saat matanya terbuka, dia menangkap sosok wanita yang ia rindukan. Matanya berkaca-kaca, dadanya bergemuruh. Ingin rasanya menyentuh wanita itu, tapi tangannya sulit untuk ia gerakkan. Sesaat air matanya lolos, jatuh begitu saja.


"Kau harus cepat sembuh. Apa kau tak ingin menggendong cucumu? Rico telah memberikanmu seorang cucu yang cantik. Son juga sebentar lagi akan memberikanmu cucu. Juga Darien, istrinya sedang hamil muda. Putra-putramu sudah hidup bahagia dan menemukan pasangan sejatinya masing-masing. Kau harus semangat menjalani hidup."


Math tak berhenti memandangi Luzi. Wanita itu bahkan terlihat cantik diusianya yang tak lagi muda. Andai dia tak egois, mungkin dia dan Luzi akan hidup bahagia bersama. Demi mengejar cinta sejatinya, dia tega menyakiti beberapa wanita. Mungkin jika dia jujur dari awal, semuanya pasti akan berjalan sebagaimana mestinya. Tak ada kebencian bahkan bisa jadi mereka akan hidup rukun bersama.


"Math, aku pulang dulu. Kau baik-baik ya. Putra-putramu sedang berada di luar." Luzi pamit untuk pergi, Math ingin menahannya tapi mulutnya tak bisa ia gerakkan. Hatinya menjerit meminta Luzi untuk tetap di sisinya.


"Luzi! Ku mohon jangan pergi! Luzi!" Math memanggilnya dalam hati.


Luzi telah memenuhi permintaan Rico untuk menjenguk ayahnya. Kini sudah ia turuti permintaannya, Luzi pun pamit untuk pulang.

__ADS_1


"Ibu, terima kasih." Rico memeluknya, juga Son dan Darien sama-sama memeluk Luzi. Mereka bertiga sangat berterimakasih pada Luzi.


Rasanya seperti mimpi, putra-putra yang lahir dari rahim berbeda bisa akur seperti ini. Tak kuasa menahan air matanya, Luzi menangis dalam dekapan mereka bertiga.


***


5 tahun kemudian ....


Waktu berlalu sangat cepat. Banyak kejadian yang terjadi dalam lima tahun belakangan ini. Haru, tangis, bahagia bercampur menjadi satu. Semuanya sudah menjadi takdir yang ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia di muka bumi hanya bisa menjalankan sesuai jalan yang telah ditentukan.


Suara anak kecil yang tertawa sambil berlari memenuhi kemeriahan di dalam rumah. Meysa yang sudah bisa berlari dan berbicara membuat pelayan merasa kewalahan dalam menjaganya. Gadis kecil itu tak berhenti mengajaknya bermain. Bahkan satu penolakan yang terucap dari bibir pelayan seakan dibungkam oleh gadis kecil itu dengan jurusnya yaitu menangis tersedu-sedu.


"Meysa sayang, makan dulu yuk," bujuknya karna hari sudah siang. Pelayan wanita yang khusus ditunjuk oleh Keyla untuk menjaga Meysa membuatnya harus ekstra sabar dalam menghadapi aktifnya Meysa.


"Bi, apa Meysa sudah makan?" Keyla datang sambil membawa sepiring buah-buahan di tangannya. Jalannya agak kesusahan karna dia sedang berbadan dua.


"Belum, Nyonya. Nona Meysa tidak mau makan. Maunya main terus," adunya kemudian.


"Ajak Meysa makan dulu!" suruhnya lalu Keyla berlalu pergi. Meysa hanya menatap ibunya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dalam hati kecilnya sepertinya ibunya tak memperdulikannya.


"Meysa tidak mau makan!" tolaknya lalu wajahnya ditekuk. Baru saja pelayan ingin membujuknya kembali, tapi gadis kecil itu sudah lebih dulu menolaknya.


"Sayang, makan dulu yuk. Nanti ibu marah loh," ujarnya menakut-nakuti.


"Tidak mau!" Gadis kecil itu masih saja menggelengkan kepalanya. Dia tetap tidak mau makan.


"Bibi Sansan. Meysa mau bertemu bibi Sansan." Suara kecilnya sangat menggemaskan membuat pelayan merasa gemas sesaat. Yang ia maksud adalah Bibi Sania. Meysa memang memanggilnya Bibi Sansan karna dia sering mendengar Son memanggilnya dengan sebutan San.


Pelayan pun memberitahu Keyla kalau Meysa ingin bertemu Sania. Keyla yang tak mau dibuat pusing menyuruh sopirnya untuk mengantarkan putrinya untuk bertemu Sania dengan ditemani oleh pelayan tadi.


Meysa bersorak kegirangan. Sudah lama dia tidak bertemu dengan bibinya itu. Menurutnya, Sania lebih perhatian terhadapnya dibanding ibunya sendiri.


Sesampainya di rumah Sania, Meysa berlari sambil membawa boneka kesayangannya. Dia berteriak memanggil nama Sania.


"Bibi Sansan .... Bibi Sansan. Meysa datang." Suara gemasnya membuat para pelayan ingin rasanya menggendong gadis mungil itu. Tapi mereka tahan, karna takut jika Meysa tidak nyaman.


"Bibi Sansan ada dimana?" Meysa bertanya pada seorang pelayan yang datang menghampirinya. Lalu pelayan itu menjawab kalau Sania ada di dalam kamar.


Sania yang baru saja keluar dari kamar mandi, terduduk lesu di atas ranjangnya. Saat benda pipih yang berada di tangannya membuat dirinya kecewa berkali-kali.


Dia hampir frustasi karna tak kunjung diberi momongan lagi. Sedangkan istri dari kakak suaminya sudah memiliki anak semua.


"Bibi Sansan ...." Suara mungil yang sangat ia kenali membuat bibirnya tersenyum. Dia lantas membuka pintu kamarnya dan mendapati Meysa berdiri tepat di depan kamarnya. Gadis itu tersenyum lebar sambil memeluk boneka kesayangannya. Menggemaskan sekali, Sania langsung menggendongnya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.


"Sayang, Bibi rindu ...." Sania menciuminya bertubi-tubi. Hanya kehadiran Meysa yang bisa membuatnya tersenyum dan semangat dalam menjalani hidup.


"Bibi, kenapa tidak pernah main ke rumah? Meysa tidak punya teman di rumah. Hanya ada bibi pelayan. Ibu sibuk dengan adik kecil di dalam perut. Ibu tak sayang lagi dengan Meysa!" Meysa mengadu pada Sania tentang ibunya. Sania berusaha menenangkan gadis kecil ini. Memberi pengertian bahwa ibunya bukan berarti tak sayang padanya, hanya saat ini ibunya harus membagi perhatiannya.


"Dengarkan Bibi ya, sayang. Ibu Meysa bukan tak lagi sayang dengan Meysa. Ibu saat ini sedang mengandung calon adik Meysa. Jadi, ibu juga harus menjaga kesehatan juga keselamatan adik Meysa. Meysa harus paham kalau perhatian Ibu sedang dibagi. Bukan tak lagi perhatian, tapi perhatian Ibu sedang dibagi dua. Jadi, Meysa kan sudah besar. Meysa harus belajar mengalah dengan calon adik," tuturnya lembut.

__ADS_1


Gadis kecil itu mulai mencerna kata-kata dari Bibinya. Walaupun seusianya tak bisa menangkap semua yang dikatakan Sania, tapi gadis kecil itu paham sedikit.


"Jadi, Meysa tidak boleh marah dengan ibu? Juga tak boleh iri dengan adik?"


Sania mengangguk lalu mencubit pipinya dengan gemas.


"Maaf, Nyonya Sania. Nona Meysa belum makan siang." Pelayan yang menemani Meysa memberitahunya kalau Meysa belum makan, membuat Sania akhirnya mengajak Sania untuk makan bersama. Kebetulan dirinya juga belum makan.


"Meysa sayang, makan yang banyak ya." Sania mengambilkan sepiring nasi dan lauk pauk untuknya.


Mereka makan bersama dengan Meysa yang lahap makannya sampai-sampai mulutnya belepotan. Sania dibuat tertawa oleh tingkah gemasnya. Lalu dia tiba-tiba terdiam, melihat Meysa membuatnya rindu dengan calon anaknya dulu.


Kini semuanya telah berlalu, mungkin belum rejekinya diberi momongan lagi. Tapi mendengar Keyla yang sedang mengandung lagi, dirinya sedikit merasa iri.


Terdengar suara deru mobil berhenti di depan rumah. Sania bergegas mengecek siapa orang yang datang siang-siang begini.


"Kak Darien, Kak Valencia ...." Ternyata kakak iparnya yang datang. Mereka membawa Zion, anak laki-lakinya.


"Sania, maaf mengganggu waktumu. Kakak akan pergi ke luar kota bersama Valencia. Ada urusan pekerjaan yang penting, jadi Kakak mau menitipkan Zion di sini untuk beberapa hari ke depan. Apa kau merasa tak keberatan?" Sania dengan senang hati mengangguk tidak merasa keberatan sama sekali. Dia bahkan sangat senang. Bisa menghabiskan waktunya bersama anak kecil yang menggemaskan.


"Zion!" Meysa datang dengan wajah tak sukanya. Sedangkan Zion melemparkan senyuman mautnya terhadap sepupunya itu.


"Hay Meysa! Kau rupanya disini."


"Zion, bersikaplah yang sopan. Panggil dengan dengan sebutan Kak Meysa!" tutur Valencia.


Meysa tidak menyukai kehadiran Zion. Dia lelaki yang menyebalkan menurutnya.


"Maaf, hay Kak Meysa. Kita main bersama yuk," ajaknya lalu tiba-tiba menarik tangannya masuk ke dalam. Dua anak kecil itu terlihat menggemaskan. Usia mereka hanya selisih tak sampai satu tahun. Karna saat Keyla melahirkan, Valencia baru saja mengandung.


"Sania, maaf Kakak sering merepotkan mu." Darien dan Valencia memang sering menitipkan Zion pada Sania dan Son, karna dia akhir-akhir ini sering keluar kota.


.


.


.


Seperti biasa, Meysa kalau sudah di rumah Sania pasti tidak mau pulang. Dia merengek untuk menginap. Sedangkan Keyla sudah menelponnya untuk membawa Meysa pulang, tapi gadis kecil itu tidak mau.


"Meysa sayang, ibumu tadi menyuruhmu untuk pulang. Ayo kita pulang, sayang." Sania berusaha membujuknya tapi Meysa terus menggeleng dan tiba-tiba menangis histeris.


"Meysa cengeng! Meysa cengeng!" Tiba-tiba Zion datang dan mengoloki Meysa. Membuat gadis kecil itu tambah menangis kencang.


"Aduh, Zion. Jangan seperti itu." Sania memeringati Zion untuk berhenti mengoloki Meysa, tapi Zion tak menghiraukan. Bahkan dia memasang wajah seperti mengejeknya.


Sania pun dibuat pusing melihat kelakuan keduanya.


"Udah ya sayang. Cup cup. Malam ini Meysa tidur sama Bibi. Nanti Bibi bilang ke ibu Meysa." Setelah Sania mengatakan Meysa akan tetap di sini, gadis kecil itu perlahan berhenti menangis.

__ADS_1


__ADS_2