ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 32 KAPAN HAMIL?


__ADS_3

Waktunya Son untuk mandi. Karna Son masih sakit, Sania hanya bisa mengelap tubuhnya dengan handuk basah. Dengan telaten, Sania mengelap beberapa bagian tubuh Son. Son masih belum menyadari bahwa sosok yang menyuapi dan memandikannya adalah istrinya sendiri. Sania berusaha tidak mengeluarkan suara, dia tidak mau Son marah jika tahu seseorang yang sering menyentuhnya adalah dirinya.


Pakaian telah berganti dengan yang baru. Sania membantu Son menyisir rambutnya. Pesonanya memang tak bisa dia hindarkan. Sania begitu terpesona dengan suaminya sendiri. Andai saja Son mau membuka hatinya sedikit untuknya, Sania pasti akan merasa beruntung di antara wanita yang ada di muka bumi ini. Memiliki suami yang tampan sepertinya, seperti sebuah khayalan semata.


Pintu dibuka oleh seseorang. Dan ternyata Ibu Luzi yang masuk.


"Son, Ibu membawakan buah-buahan untukmu." Luzi meletakan bingkisan buah di atas meja. Pandangannya mengarah pada Sania yang duduk di sebelahnya. Luzi tahu kalau Sania sedang berpura-pura menjadi seorang perawat.


"Son, apa kau tidak merindukan istrimu?" tanya Luzi. Dia ingin mendengar jawaban dari putranya. Tapi Son hanya diam, dia malah memilih berbaring dan menutup matanya.


Sania bisa melihat bahwa Luzi merasa sedih. Sikap dingin Son tak berubah juga. Dalam hati Sania, dia menyayangkan sekali sikap Son. Tidak seharusnya Son bersikap demikian kepada ibunya sendiri. Harusnya Son bersyukur masih memiliki seorang ibu. Tidak seperti dirinya yang sudah yatim piatu.


Karna kehadirannya tidak dihiraukan oleh putranya, Luzi pun berpamit untuk pulang saja. Lagi pula sudah ada Sania yang menemaninya. Luzi percaya bahwa Sania bisa menjaga Son dengan baik.


"Son, semoga cepat sembuh ya. Ibu pulang dulu," pamitnya karna percuma saja Luzi berada di situ. Son tidak mau berbicara dengannya.


"Hey, kenapa kau hanya diam saja! Itu Ibumu! Kenapa kau tidak mau meresponnya!" Sania hanya bisa memakinya dalam hati. Ingin sekali rasanya berteriak di dekat telinganya. Tapi Sania berusaha menahannya. Tidak mau jika nantinya akan menjadi sebuah masalah.


Sania menyusul Luzi yang sudah berjalan keluar. Dia merasa tidak enak hati melihat sikap dingin Son kepada Luzi. Itu sangat melukai hati Luzi.


"Ibu, tunggu!" Sania memanggilnya. Dia tahu perasaan Luzi saat ini.


"Iya, Sania. Ada apa?" Luzi menghentikan langkahnya. Dia memilih duduk di sebuah kursi tunggu dan mengajak Sania duduk bersama. Kedua netra mereka bertemu.


"Ibu, maafkan sikap Son yang tidak sopan dengan Ibu." Sania berusaha meminta maaf atas perlakuan Son terhadapnya. Luzi pun tersenyum, dia memegang tangan Sania.


"Sania, untuk apa kau meminta maaf? Ini bukan sebuah kesalahan." Bibirnya masih melengkungkan senyuman. Dia berusaha tegar di hadapan Sania. Walaupun hati kecilnya dia merasa sakit melihat sikap Son yang tak pernah menganggapnya.


"Ibu, Son sudah tidak sopan dengan Ibu. Maafkan Sania, seharusnya Sania bisa menegurnya. Sekali lagi Sania minta maaf atas sikap Son tadi." Terlihat kedua matanya yang memohon, dia benar-benar tulus meminta maaf.


"Sania, Son hanya sedang tidak berselera untuk berbicara dengan Ibu. Dia adalah putra Ibu yang baik," pujinya. Luzi tak mau mengganggap Son sebagai putra yang kurang ajar. Perilaku Son saat ini memang tidak mencerminkan dirinya yang dulu, tapi Luzi masih ingin berusaha membuat hubungannya dengan Son membaik lagi.

__ADS_1


"Kembali lah ke ruangan, Sania. Temani Son." Luzi menyuruh Sania untuk kembali. Saat melihat kasih sayang yang tulus dari mata Luzi untuk Son, Sania menjadi iri. Andai saja saat ini orang tuanya masih hidup. Hidup Sania tak mungkin seberat ini.


Dengan langkah gontai, Sania berjalan menuju ruangan. Tapi langkahnya dihentikan oleh seorang wanita yang ia kenali.


"Kak Keyla." Keyla dengan anggunnya berdiri di depan Sania. Dia menatap Sania dari ujung atas sampai ujung bawah. Penampilannya sederhana tapi terlihat elegan. Wajahnya yang polos dibiarkan begitu saja tanpa make up yang menempel. Tapi Sania masih terlihat cantik dengan penampilannya kali ini.


"Sania, kau pasti belum tahu kabar gembira dariku. Karna kita sudah menjadi satu keluarga, sudah seharusnya kau mengetahuinya," ucap Keyla dengan tersenyum-senyum.


"Kabar gembira apa, Kak?" Melihat sosok Keyla saat ini, membuat Sania menjadi minder. Penampilannya sangat jauh darinya. Jauh dari kata perbandingan. Bahkan tak pantas dirinya dibandingkan dengan seorang Keyla.


"Aku sedang hamil." Sania terkejut sampai refleks menutup mulutnya. Dia benar-benar kaget mendengar pernyataan dari Keyla. Mereka baru saja menikah tapi cepat sekali diberi momongan.


"Benarkah? Wah. Selamat, Kak. Sania ikut senang mendengarnya." Sania mengucapkan kata selamat untuk Keyla. Matanya pun berbinar-binar ikut merasakan bahagia.


"Iya. Aku sedang hamil sekarang. Padahal kau yang lebih dulu menikah, kenapa aku yang duluan hamil," ujar Keyla seakan menyindir tapi suaranya terdengar lembut.


Begitu menusuk perkataan dari Keyla. Walaupun perlu diakui bahwa perkataannya memang benar adanya.


"Ya, aku doakan kau juga secepatnya hamil. Aku tak sabar melihat Son junior," kata Keyla. "Tapi hubungan mu dengan Son apakah seperti hubungan suami istri pada umumnya? Hm. Aku rasa tidak," katanya lagi.


DEG.


Sania begitu tercengang mendengar perkataan Keyla yang berkali-kali menusuk hatinya. Keyla yang terkenal lemah lembut ternyata memiliki lidah yang berbisa.


"Kak Keyla mengejek pernikahanku?" Dengan sikap yang tenang, Sania menjawab perkataan Keyla.


"Tidak. Aku hanya—"


"Sayang, rupanya kau di sini. Ayo masuk, bukankah kita mau menengok Son." Rico tiba-tiba datang dan menghentikan pembicaraan mereka. "Eh, apa kalian sedang saling berbicara? Maaf aku menganggu," ucap Rico meminta maaf.


"Tidak apa-apa, Kak."

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo masuk." Keyla pun menggandeng Rico. Sania yang masih diam di tempat hanya bisa memandangi Rico dan Keyla yang sedang memasuki ruangan.


"Kak Keyla kenapa berbicara seperti itu."


"Son, Kakak datang. Kakak membawa buah-buahan. Oh, ini sudah ada buah. Baik lah, Kakak taruh di sini saja." Rico menyapa Son dengan ramah berharap adiknya mau meresponnya.


"Son, bagaimana keadaanmu? Apa semakin membaik?" Keyla ikut duduk di samping Rico. Dia memandangi Son yang sedang menatap ke sembarang arah. Dibanding dengan suaminya, Son masih jauh tampan darinya. Keyla hampir terhipnotis dengan pesonanya. Tapi cintanya hanya untuk Rico.


"Son, Kakak ingin memberitahukan bahwa Keyla sedang hamil. Saat Kakak mendengar kabar bahagia itu, Kakak sampai tak bisa berkata apa-apa. Kakak sungguh bahagia. Son, cepat lah bisa melihat agar nanti kau bisa melihat keponakanmu," ucapnya sambil terkekeh.


Son masih terus diam. Telinganya memang menangkap semua yang dikatakan Rico, tapi Son tidak mau meresponnya.


"Son, apakah istrimu belum hamil? Kau dan Sania menikah lebih dulu, seharusnya kalian yang lebih dulu memberikan calon keponakan untuk kita."


"Sayang!" Rico menyenggol lengan istrinya. Merasa keberatan dengan pertanyaan istrinya. Itu sama saja menyinggung Son.


.


.


.


Haiiii para readers ku tersayang...


Selamat membaca ya..


Jangan lupa like kalau kalian sukaaaaa...


Hehe


Salam hangat untuk kalian semua....

__ADS_1


__ADS_2