
Jeffry akhirnya menyalakan motornya kembali dan berlalu pergi dari sana. Hatinya benar-benar hancur. Seperti tak ada harapan lagi untuknya. Maria pun seperti sengaja menjauh darinya.
"Maria, kau kenapa? Apa salahku?"
Jeffry sudah berusaha mengumpulkan uang untuk bisa menikahi Maria. Saat ini dia sudah memiliki cafe sendiri. Walaupun cafe kecil, tapi itu atas kerja kerasnya sendiri.
Hari ini pikirannya kacau. Dia melajukan motornya ke sembarang arah. Tak peduli jalan apa yang ia lalui. Lampu merah membuatnya berhenti. Sejenak dia berpikir tentang bagaimana meluluhkan hati Raul.
"Sania ...." Matanya tak sengaja menatap sosok wanita yang ia kenali. Dia sedang berada di sebuah ayunan di taman bersama dua anak kecil. Sudah lama mereka tidak bertemu.
"Hay, Sania. Apa kabar?" Kedatangan Jeffry yang tiba-tiba membuatnya terkejut. Apalagi penampilan Jeffry yang membuatnya sedikit tak mengenali sosok temannya tersebut.
"Jeffry? Apa ini kau?" tanyanya tak percaya.
Kedua anak kecil itu dengan sopannya menyalami Jeffry, membuatnya gemas dan mencubit pipinya bergantian. "Ini anak-anakmu, Sania?"
Sania menggeleng, "Bukan, Jeff. Ini semua keponakanku," jawabnya memberitahu.
Jeffry tak tahu menahu soal kehidupan Sania. Maria pun tak pernah membahas Sania sekali pun. Berita tentang Sania yang ia dengar terakhir kali adalah gadis itu sedang hamil. Dan ia pikir, anak kecil ini adalah anaknya semua.
"Oh, begitu. Anakmu dimana? Kenapa tidak diajak kesini?"
"Anakku .... Hm anakku sudah meninggal, Jeff." Sania mau tak mau teringat kembali momen menyedihkan itu.
Jeffry benar-benar tidak tahu. Karna beberapa tahun belakangan ini dia sibuk membuka cafe baru. Dia banyak disibukkan oleh beberapa urusannya sendiri. Sampai-sampai dia tak tahu menahu soal anak Sania yang meninggal.
"Oh, maaf, Sania. Aku benar-benar tidak tahu. Aku turut berdukacita."
Sania memahaminya, dia tidak apa-apa. Dia juga mengatakan bahwa saat ini yang ia butuhkan hanya doa saja, semoga dia bisa secepatnya diberi momongan kembali.
"Bibi .... Mau itu," tunjuk Meysa pada salah satu penjual yang ada di taman tersebut. Kedua matanya mengikuti arah gerak jari mungilnya. Ternyata dia menunjuk seorang pedagang es krim.
__ADS_1
"Mau es krim? Paman yang belikan ya. Kalian tunggu disini saja."
Jeffry berjalan menghampiri pedagang es krim tersebut, lalu memesan 4 cup es krim.
"Terima kasih, Paman," ujar Sania berterima kasih mewakili keponakannya.
Disaat mereka sedang menikmati es krim, ponsel Sania tiba-tiba berdering.
Dia kemudian menitipkan kedua keponakannya pada Jeffry. Sania berjalan agak menjauh dari mereka.
"Hallo, Kak."
"Dimana putriku? Cepat bawa Meysa pulang! Aku tahu kau kesepian di rumah, tapi jangan bawa anak orang sampai selama ini dong! Meysa juga masih punya orang tua. Nanti siang suamiku akan pulang ke rumah, jangan membuatnya marah karna tak mendapati putrinya di rumah. Nanti dikira aku tidak becus mengurusnya!" Terdengar ocehan Keyla memenuhi pendengarannya. Sania hanya mampu mendengarkan, lalu ia mengatakan bahwa sebentar lagi akan membawa Meysa pulang.
Di perjalanan menuju kediaman Keyla, Meysa tetap saja menolak untuk pulang ke rumah.
"Sayang, bukankah tadi pagi kau sendiri yang ingin pulang ke rumah. Ayah Rico nanti siang akan pulang, dia pasti merindukanmu." Ia perlahan mengusap sudut matanya yang basah, Meysa menangis karna tak ingin pisah dengan Sania.
Sedangkan Zion, dia sedang duduk bersender sambil memainkan sebuah gadget yang Sania berikan.
Mobil sudah berhenti tepat di halaman rumah Keyla. Terlihat Keyla dengan perut buncitnya berjalan kearahnya. Sedangkan Meysa menggenggam erat jari jemarinya, seakan tak ingin melepaskan.
"Meysa, masuk!" Keyla berlagak seperti nyonya besar. Wajah angkuhnya begitu menakutkan. Bukannya lekas masuk, Meysa malah bersembunyi dibalik tubuh Sania. Dia tidak mau masuk ke dalam.
Keyla dibuat kesal dengan tingkah Meysa yang baginya sudah berani membangkang.
"Meysa! Ayo masuk! Kenapa kau jadi keras kepala seperti ini!" Keyla menarik paksa tangan putrinya. Sania yang melihat perlakuan kasar Keyla berusaha mencegah tapi Keyla menepis kasar tangannya.
"Kak, jangan kasar dengan Meysa." Sania mengekori langkah Keyla. Begitu pun Zion yang keluar dari mobil dan menyusul Sania.
"Bibi Keyla jahat!" teriak Zion membuat semuanya menoleh. Anak kecil itu melototinya. Sania langsung menarik Zion yang kala itu ingin mendekat kearah Keyla.
__ADS_1
"Zion! Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu!" Sania memarahinya tapi dengan suara pelan.
"Bibi Keyla memang jahat, Bi! Lihatlah aku sudah memotret kelakuan Bibi Keyla. Akan Zion adukan pada paman Rico!" ancamnya.
Keyla yang mendengar itu langsung merebut gadget dari tangan Zion. "Pergi kalian!" usirnya menggebu-gebu. Tapi tiba-tiba Keyla berteriak kesakitan.
"Awwww .... Sakit!" Perutnya terasa sangat sakit sampai dia hampir saja ambruk tapi untung saja pelayan cepat tanggap.
"Kak ...." Sania kebingungan sekarang, Keyla sedang hamil dia takut bayi dalam kandungannya kenapa-kenapa.
Tanpa pikir panjang, Keyla langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. "Zion, lain kali jangan bersikap tidak sopan begitu dengan orang yang lebih tua dari kita. Kamu tidak boleh seperti itu lagi," tuturnya lembut.
"Zion ingin pulang saja! Bibi Sania sama saja dengan bibi Keyla, menyebalkan!" Anak kecil itu merajuk, dia merasa kesal karna tak ada yang membelanya.
"Ayah Darien dan ibu Valencia belum pulang, sayang. Kau harus tinggal dengan Bibi Sania dulu." Dengan terpaksa Sania mengalah, walaupun sikap Zion tadi ada benarnya juga. Keyla memang bersikap kasar pada Meysa. Seharusnya Keyla tidak harus seperti itu. Apalagi Meysa masih kecil, takutnya dia trauma.
"Bibi, ayo jemput Meysa. Dia pasti tidak nyaman tinggal di sana." Mereka berdua memang aneh, kalau berdekatan sering bertengkar. Tapi kalau berjauhan, salah satunya ingin mereka bersama lagi.
"Sayang, Meysa kan punya orang tua. Jadi Meysa memang seharusnya tinggal dengan orang tuanya." Butuh kesabaran ekstra berbicara dengan Zion. Anak kecil ini memang pikirannya sudah mengarah dewasa, dia langsung cepat tanggap dengan apa yang ia lihat atau dengar barusan saja.
Kini Sania masih terlihat cemas. Ia menunggu dokter selesai memeriksa Keyla di dalam.
"Dimana suami nyonya Keyla?" tanyanya setelah keluar dari ruangan.
Sania menjawab bahwa suaminya sebentar lagi akan datang. Tapi dokter tak bisa banyak menunggu, akhirnya dia menjelaskan pada Sania tentang keadaaan Keyla. Tak ada masalah serius dalam tubuhnya, hanya saja Keyla harus mengontrol emosinya dan istirahat yang cukup.
Akhirnya Sania bisa bernapas lega. Kondisi Keyla baik-baik saja, bahkan calon bayinya juga baik-baik saja.
"Zion, kau harus minta maaf pada bibi Keyla ya," pintanya.
Anak kecil itu terdiam sambil matanya melirik kesana kemari.
__ADS_1
"Zion, dengar Bibi, kan?"
Zion masih saja diam, dia tampaknya menolak untuk meminta maaf pada Keyla.