ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 61 MEMAKAI CINCIN


__ADS_3

"Awww ...." Sania terpeleset jatuh saat keluar dari kamar mandi. Entah dia memang sedang tidak fokus, atau mungkin dirinya yang memang tidak berhati-hati saat melangkah. Kakinya yang basah tidak dia keringkan terlebih dahulu pada keset yang tersedia. Dia terus melangkahkan kakinya menuju lemari, membuatnya terpeleset jatuh.


"Hey, kau kenapa?" Mendengar teriakan istrinya, Son merasa khawatir.


Sania mengaduh kesakitan. Pantatnya serasa panas karna mencium lantai dengan kasar.


"Tidak, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawabnya dan mencoba bangun sendiri.


Son memaksakan berjalan sambil meraba-raba. "Kau dimana?" tanya Son.


"Aku tidak apa-apa. Kembali saja ke ranjang." Sania mencoba membuatnya berhenti, tidak mau jika Son menghampirinya. Karna saat ini Sania hanya memakai handuk.


"Kau tadi kenapa?" tanya Son. Pria itu sepertinya khawatir.


"Kau mengkhawatirkan aku?" godanya.


Kedua tangannya meraba-raba ke depan, sampai akhirnya dia menyentuh seseorang. "Apa ini kau?" tanyanya membuat Sania memutar bola matanya jengah. Jelas dirinya lah, siapa lagi di kamar ini.


"Hey! Jangan menyentuhku!" Sania menepis tangan Son yang bergerak ke bawah. Saat tangannya berada di pundaknya yang polos.


"Kau habis mandi? Kenapa tadi teriak?"


"Aku tadi jatuh, kepeleset! Puas!" Sania bergerak memilih baju di dalam lemari, tapi dari arah belakang tiba-tiba handuknya di tarik begitu saja oleh Son.


"Hey! Kau! Kembalikan!" Son melemparkan handuknya ke lantai dan menginjak-injak agar kotor.


"Hey, jorok! Kenapa diinjak!" Tubuhnya saat ini polos, sungguh malu. Tapi dia merasa tenang karna Son buta.


"Dia buta tapi kenapa dengan mudahnya mengambil handukku! Dasar!"


Son menarik Sania dalam pelukannya. Merasakan kehangatan tubuh polosnya. Sania memberontak hebat, dia malu. Tubuhnya tidak tertutup apa pun.


"Hey! Jangan mesum!" Sania mendorongnya pergi, tapi kekuatan Son lebih besar.


Tangannya bergerak menyentuh punggungnya yang putih. Menari-nari di sana dengan lembut. Son bahkan merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh dada bidangnya. Nalurinya sebagai laki-laki akhirnya diuji kembali.


"Son!" Tangannya yang nakal menyentuh kedua pantatnya yang berisi. "Lepas!" Sania dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Son. Dan akhirnya dia berhasil. Dengan segera dia mengambil pakaian dan masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Di dalam sana, dia menangis.


"Dasar laki-laki! Meminta berpisah, tapi berani-beraninya menyentuhku! Emang aku cewek apaan!" Tangisannya pecah, dia memandangi tubuhnya yang seharusnya masih suci tapi telah disentuh oleh seseorang yang tidak pernah menganggapnya ada.


"Dasar laki-laki mesum!" Sania menghentakkan kakinya kesal.


***


Raul menatap putrinya penuh dengan kekecewaan. Sudah berapa kali ia bilang, jangan mencari ibunya tapi putrinya malah membangkang. Diam-diam mendatangi ibunya dan meminta untuk kembali.


"Kau hanya menyayangi ibumu? Tidak menyayangi Ayah?" Hatinya begitu sakit, saat putrinya tidak pernah mendengar perkataannya.


"Ayah .... Ibu sedang sakit. Maria ingin ibu di sini, dan aku yang merawatnya."


Tangannya sudah bersiap di udara. Dan dia seketika tersadar, akan apa yang ingin dia lakukan. Tidak boleh dia gegabah.


"Ayah ingin menamparku?" tanyanya saat melihat tangan Raul sudah mengacung di udara.


Raul menurunkan tangannya. Dia harus mengontrol emosinya. Sedangkan mata Maria sudah berkaca-kaca.


"Ayah, aku ingin keluarga kita kumpul kembali. Maafkan ibu, ibu berkata kalau dia sudah sangat menyesal," ujar Maria dengan suara menahan tangis.


"Ayah, Maria mohon. Ijinkan ibu tinggal di sini." Maria memegangi kedua kakinya, dia tiba-tiba bersimpuh. Sebegitu cintanya Maria terhadap ibunya. Bahkan dia sampai seperti ini. Raul menatapnya dengan hati yang miris.


"Jika kau ingin membawa ibumu kemari, maka Ayah yang akan pergi," jawabnya dan membuat Maria menangis terisak. Pak Mail datang untuk menenangkan nonanya itu.


"Nona, ayo istirahat di kamar," ajaknya sambil menuntunnya berjalan.


***


Selimut tebal menjadi alasnya untuk tidur semalaman. Dia memilih tidur di lantai. Seharusnya dia bisa tidur di kamarnya sendiri, tapi berhubung Math dan Luzi menginap jadi mereka harus tidur satu kamar. Dia tidak mau tidur satu ranjang dengan Son, dia takut laki-laki itu akan mesum lagi.


Malam berganti pagi. Rasa tidur yang tidak begitu nyenyak menurutnya. Sania merasakan badannya pegal karna harus tidur di lantai hanya beralaskan selimut tebal.


"Badanku sakit semua!" keluhnya sambil melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.


"Aku harus segera mandi dan menemui ayah." Sania membereskan selimutnya dan berjalan menuju kamar mandi. Dia harus segera menanyakan akan perkataan Son kemarin tentang perpisahan mereka. Apa benar ayah mertuanya sedang mengurus perpisahan itu. Bukan kah berkali-kali Math mengatakan bahwa Sania harus bisa merubah Son.

__ADS_1


Pilihan dress yang dia pakai hari ini, jatuh pada warna peach. Cocok dengan kulitnya yang putih. Rambutnya ia ikat ke atas menampakkan lehernya yang jenjang. Tak sengaja dia melihat cincin pernikahan yang terpasang manis di jarinya yang mungil. Dia selalu memakainya. Tak pernah sekalipun melepaskan. Tapi Son ....


"Hah?" Sania terkejut melihat jari Son memakai cincin pernikahan mereka. Sania berjalan mendekat, ingin melihatnya dari dekat.


"Itu benar cincin pernikahan, kan? Bukankah selama ini dia tidak memakainya?" Sania mengucek matanya berkali-kali, takut salah liat. Tapi itu benar, cincinnya sama persis sama apa yang dia pakai sekarang. Tidak mungkin kan, itu cincin tunangannya dengan Vennie?


"Dia kan buta! Mungkin saja dia ingin memakai cincin pertunangannya dengan Vennie tapi salah mengambil!" duganya.


Setelah menyiapkan air mandi untuk Son dan juga pakaiannya, Sania keluar kamar diam-diam. Membuka pintu kamar dengan pelan-pelan. Agar tidak membangunkan suaminya. Malas jika pagi-pagi sudah diberikan pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Selamat pagi, Nona Sania," sapa ramah dari seorang pelayan muda. Sania hanya menganggukkan kepala. Dia sedang mencari ayah mertuanya. Math tidak mungkin bangun siang, dia adalah pria yang disiplin. Seperti kebiasaannya di rumah utama, pasti jam segini beliau ada di teras sedang membaca koran atau pun majalah. Atau mungkin saja sedang di ruang bekerja. Tapi karna di sini tidak ada ruang bekerja miliknya, jadi kemungkinan Math ada di teras.


"Selamat pagi, Yah." Benar saja. Math berada di teras. Satu cangkir teh dengan beberapa biskuit menjadi temannya membaca koran. Kedatangan Sania membuat Math lekas melipat korannya. Menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya.


"Ada apa, Sania? Kau pagi-pagi sudah bangun. Apa Son sudah bangun?"


"Belum, Yah. Sania ingin bertanya satu hal pada Ayah." Math menoleh, dia menatap menantunya dengan serius.


"Silahkan, Sania. Jangan merasa sungkan dengan Ayah." Math begitu baik, jika dia harus kehilangan ayah mertua sebaik dirinya, itu hal yang sangat disayangkan.


"Apa benar Ayah sedang mengurus perpisahan Sania dan Son?" Sania takut-takut dalam bertanya, dia takut jika perkataan Son hanya mengada-ada. Tapi tiba-tiba Math menganggukkan kepalanya. Pertanda mengiyakan atas pertanyaannya.


DEG.


"Jadi memang benar?"


.


.


.


Selamat pagi semuanya..


Semoga hari ini kalian semua dalam keadaan sehat ya. Aamiin


Hari ini aku update 3 Bab, selamat membaca ya ..

__ADS_1


Like kalau kalian suka dengan ceritaku ... hehehe


__ADS_2