ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 23 JANJI YANG KEDUA KALI


__ADS_3

"Kalian pergi saja. Aku ada di sini." Sania memberitahu pelayan untuk pergi. Sania berjalan mendekati Son.


"Kau berani ke kamarku lagi dan—"


"Iya aku di sini. Aku di sini semalaman. Aku memang tidak tahu diri, aku—" Sania tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia berhenti berbicara karena air matanya sudah turun dengan derasnya. "Maafkan aku." Di sela-sela tangisnya dia meminta maaf. Sania segera mengambil kotak obat yang berada di laci, tapi sebelum itu dia juga sudah memberitahu Paman Leo soal Son. Agar Paman Leo bisa cepat mendatangkan seorang dokter.


"Tolong diam lah. Aku akan mengobati lukamu terlebih dahulu sebelum dokter datang."


Tiba-tiba suasana mendadak hening. Keduanya tak mengeluarkan suara apa pun. Bahkan Son tak lagi menjerit kesakitan. Rasa sakitnya seakan tenggelam bersamaan dengan amarahnya. Mulutnya yang selalu mengeluarkan kata-kata menyakitkan, kini tak lagi bersuara. Dia membiarkan Sania menyentuhnya, bahkan mengobati lukanya.


Sania melihat kaki suaminya yang putih bersih. Belum pernah sebelumnya dia menyentuh kaki seorang pria. Kukunya indah seperti terawat. Dia bahkan bisa melihat bulu-bulu halus di betis suaminya.


Suami.


Sania hingga sekarang tidak percaya bahwa dirinya telah menikah. Di pandanglah sosok Son yang sedang membuang muka. Dia terlihat tampan, bahkan bisa dibilang ketampanannya tak pernah dia lihat sebelumnya.


"Tuan, maaf saya datang terlambat." Paman Leo dengan rasa khawatirnya langsung masuk ke dalam kamar setelah Sania membukanya. Memang seharusnya Paman Leo datang lebih pagi, tapi karna ada urusan dengan Math, dia jadi datang terlambat.


"Paman, aku ingin pergi," ujar Son kemudian.


****


Dada Sania mendadak sesak. Saat tak sengaja teringat kejadian tadi pagi. Ada rasa yang lebih dari kasian terhadap suaminya. Melihat Son yang tak bisa melakukan apa pun, dia sangat sedih.


"Nona, jangan melamun." Pelayan muda yang perhatian datang. Dia melihat Sania yang sedang melamun lama dari kejauhan. Sania adalah gadis yang cantik. Dia memiliki bentuk wajah oval dengan dagu yang lancip.


"Son apa sudah pulang?"


Pelayan itu menggeleng. Dilihat lagi jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Hingga petang, Son belum juga kembali bersama Paman Leo. Dari tadi Sania mencoba menghubungi Paman Leo, tapi tak ada jawaban.


"Aku mau ke kamar." Sania berjalan menuju kamarnya. Tapi sebelum itu, dia melintasi kamar suaminya. Dia sejenak berpikir, sampai kapan mereka akan pisah kamar. Sania khawatir dengan suaminya, tak mungkin dia tega meninggalkan Son di dalam kamar sendirian. Dia takut kejadian buruk menimpa suaminya lagi, seperti tadi pagi. Kakinya terluka, tapi Son masih saja angkuh tak ingin meminta bantuan.


"Tuan Son pulang!" Terdengar suara pelayan berteriak. Seluruh pelayan bersiap-siap menyambut kedatangan Son.


Terlihat dari kejauhan, bahwa Son kesusahan berjalan karna kakinya yang terluka.

__ADS_1


"Tuan, kami sudah menyiapkan makan malam," ujar pelayan senior. Tak ada jawaban dari Son. Bunyi kursi roda membuatnya berhenti. Seorang pelayan membawakan kursi roda untuknya.


"Tuan, saya harus segera kembali ke rumah utama. Anda silahkan makan malam bersama nona Sania dan segera lah beristirahat." Tugas Paman Leo menemani Son hanya sampai batas sore, sedangkan ini sudah malam. Paman Leo sudah bisa menebak bahwa nantinya pasti dia akan terkena amarah dari Math.


"Paman ingin meninggalkanku? Aku sedang terluka. Apa Paman tega?" Hanya dengan Paman Leo, Son bisa terlihat manja.


"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah saja. Lagi pula nona Sania adalah istri Tuan. Kalian berdua lah yang seharusnya banyak menghabiskan waktu bersama," ujar Paman Leo.


"Jalan!" Son nampak kesal. Pelayan yang masih berdiri di belakangnya lantas segera mendorong kursi roda.


"Tuan, Anda marah?" Paman Leo mendadak bingung. Di sisi lain dia takut kena amarah Math. Tapi di sisi lain dia begitu khawatir dengan keadaan Son. "Tuan, maafkan saya." Paman Leo lantas pergi keluar rumah. Setelah mendapatkan panggilan dari Math beberapa kali.


"Saya segera pulang, Tuan," ujarnya dibalik telepon.


"Cepat!!!" teriak Math di telepon.


Kakinya berhenti tepat dihadapan Son. Pelayan yang menemaninya perlahan mundur dan meninggalkan mereka berdua.


"Cepat bawa aku ke kamar!"


"Pelayan! Apa kalian tuli!!!" Kursi rodanya tak bergerak, membuat Son kesal.


"Kita makan malam dulu." Suara Sania menghentikan pergerakan Son yang ingin menggerakkan kursi rodanya.


"Kau!!!"


"Kamu pasti belum makan." Sania mendorong kursi rodanya menuju meja makan.


Begitu hening. Tapi anehnya Son tak berhenti menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, hingga makanan itu habis. Sania tersenyum melihat Son yang lahap menyantap makanan yang dibuatnya. Memang saat Son pergi, Sania lah yang memasak semuanya dibantu oleh para pelayan.


"Untuk malam ini, ijinkan aku menemanimu tidur. Malam ini saja," pintanya memohon. Son terdiam dengan mulut yang tertutup. Tangannya ia letakan di atas meja masih dengan sendok digenggamannya.


Cukup lama Sania menunggu jawaban dari Son, hingga akhirnya dia menjawab.


"Apa setelah aku bisa melihat, kau akan pergi?" Suaranya terdengar tenang. Tak ada nada emosi disetiap katanya.

__ADS_1


Sania menghela napasnya pelan. Perkataannya waktu itu ternyata masih diingat oleh suaminya. Dengan berat hati, Sania mengiyakan.


"Iya. Setelah kamu bisa melihat, aku akan pergi." Setelah mengatakan yang kedua kalinya, bahwa benar Sania akan pergi setelah Son bisa melihat, untuk kali ini rasanya beda. Waktu itu saat mengatakannya bisa terdengar lantang. Tapi kali ini nadanya berubah rendah. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya.


"Kenapa dadaku mendadak sesak." Sania memegangi dadanya. Ditataplah Son yang masih diam. Wajahnya datar seolah tak merespon apa yang baru saja dikatakan Sania.


"Antarkan aku ke kamar," pinta Son membuat Sania segera berdiri.


***


Hari semakin siang. Gadis berambut panjang itu tak berpindah posisi sedari tadi. Matanya berlama-lama memandangi sebuah spanduk yang membuatnya tak percaya.


"Sania! Kau akhirnya datang!" Sosok ibu-ibu bertubuh gempal menghampirinya. Ibu itu menepuk pundaknya sangat keras membuat Sania terkejut.


"Bu Pram." Namanya Ibu Pram, dia adalah tetangga komplek. Paman dan Bibinya mengenal betul sosoknya. Tetapi Sania tidak terlalu akrab dengannya, hanya mengenali namanya saja.


"Kau mencari Lotus dan Raul?" tanyanya. Tangannya yang sedari tadi menenteng dua kantong plastik belanjaan, dia letakan terlebih dahulu di dekat gerbang rumah.


"Iya, Bu. Kenapa rumah ini dijual? Kemana paman dan bibi?" Sania yang sedari tadi kebingungan sedikit berharap bahwa Bu Pram bisa memberitahukan sedikit informasi tentang keluarganya.


"Mereka sudah pergi. Sudah lama. Tapi saya tidak tahu mereka di mana," jawabnya meyakinkan. Tak ada indikasi kebohongan yang keluar dari mulutnya. Dilihat juga Ibu Pram sedikit bingung dengan apa yang terjadi pada anggota keluarganya yang mendadak menjual rumahnya dan pergi tanpa pamit.


"Kita pulang, Nona?" tanya Sopir setelah Sania mendudukkan tubuhnya. Dia terlihat kebingungan sekaligus sedih. Dia menebak bahwa pasti ada sesuatu hal yang terjadi di dalam keluarga pamannya.


.


.


.


.


.


Like ya kalau kalian sukaaa....

__ADS_1


__ADS_2