
Selesai mandi, Sania membantu menyisirkan rambut suaminya. Son tidak menolak, itu sudah menjadi suatu kebiasaan.
"Ayo kita sarapan bersama di meja makan. Di sana sudah ada kak Darien dan kak Keyla. Mereka sedang menunggu kita."
Hari ini weekend, Darien tidak berangkat ke kantor. Sedangkan Rico, dia sudah berada di luar kota untuk beberapa hari. Dia mengutus satu pelayan pribadi untuk menemani Keyla kemana pun. Juga untuk menjaga istrinya dari orang-orang yang berusaha jahat padanya.
Sania menuntun langkah Son hingga ke meja makan. Tidak menggunakan kursi roda, karna Son tidak mau.
"Duduk lah di sini, Sania." Darien menyuruh Sania duduk di sebelahnya.
"Lama sekali! Aku sudah lapar!" Keyla melirik Sania dengan tajam. Merasa kesal karna menunggu mereka datang sangat lama.
"Siapa yang menyuruhmu menunggu kami?" Son merasa tidak suka dengan perkataan Keyla. Dia pikir kakaknya sudah benar-benar membawanya pergi, ternyata wanita menyebalkan itu masih di sini juga.
Keyla memutar bola matanya jengah. Dia tidak peduli dengan pertanyaan Son. Dia bergerak mengambil nasi dan juga lauk pauk yang banyak. Dia harus mengisi perutnya segera. Tidak mau calon bayi di kandungannya kelaparan.
"Sania, apa kau suka ini?" tunjuk Darien pada satu lauk yang lezat.
"Suka, Kak," jawab Sania menghargai. Sebenarnya dia kurang nyaman dengan Darien yang selalu mengajaknya berbicara. Tapi dia tidak enak jika tidak menjawabnya.
"Baik lah. Kakak ambilkan. Dan kau Son, apakah—"
BRAKKKKK!!!!!
"Berhenti mengajak istriku berbicara!" Son menggebrak meja membuat semua yang ada di atas meja bergetar. Tak tanggung-tanggung makanan yang sudah berada di sendok seketika tumpah, Keyla sangat kesal karna terkejut.
Sania berusaha menenangkan Son, dia menyentuh tangannya.
"Maaf." Satu kata maaf lolos dari bibirnya. Darien berpindah tempat duduk.
"Aku ambilkan makanan untukmu." Sania mengambil piring Son dan mengisinya dengan lauk pauk yang tersedia. Sesekali dia melirik Darien yang tampak kesal. Dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan kasar. Terlihat wajahnya yang tidak ramah. Sedangkan Keyla, dia tersenyum penuh kemenangan. Melihat mereka bertengkar, ternyata mengasyikkan.
"Oh ya, Sania. Apa kau tidak ingin punya anak? Kau sudah menikah dengan Son lama. Kenapa kalian tidak program hamil saja," ucap Keyla disela-sela makannya. Sania seketika menghentikan mengunyah makanannya. Dia terdiam sejenak dan menoleh pada Son. Pria itu tampak tak peduli, dia masih terus mengunyah makanan. Tapi Darien tiba-tiba menjatuhkan sendok ke piringnya. Perhatian mereka teralihkan pada Darien.
"Jangan ikut campur dalam rumah tangga orang lain! Urus saja rumah tanggamu sendiri!" Darien berusaha membela adiknya. Dia tidak terima dengan perkataan Keyla.
"Aku hanya bertanya pada Sania. Kita kan sama-sama perempuan. Dan aku hanya memberikan solusi. Jadi—"
"Diam!" seru Son menghentikan perdebatan mereka.
__ADS_1
CRANGGGGG!!!!!
Son melemparkan piringnya ke lantai. Semuanya dibuat terkejut. Jika sudah seperti ini, akan timbul masalah besar.
"Bawa aku pergi dari sini!" Sania dengan sigap menuntun langkah Son. Dia membawa suaminya ke kamar untuk beristirahat. Tepat di pintu kamar, Son dengan segera menutup pintunya. Dia menyenderkan Sania di balik pintu.
"Sampai kapan kau akan bertahan?" Son mencengkeram dagunya. Deru napas keduanya saling berhembus. Jantung Sania begitu berdebar. Apa lagi wajah mereka saat ini sangat dekat.
"Sudah berapa kali kau memberi pertanyaan seperti itu kepadaku? Dan jawabanku masih sama. Aku tidak akan pergi sebelum kau mau menyetujui operasi mata itu." Cengkraman di dagunya semakin erat, membuatnya mengaduh kesakitan. "Tolong, lepaskan!" Dia berusaha memberontak, tapi Son dengan tiba-tiba menenggelamkan bibirnya di bibir Sania. Sania sangat terkejut, suaminya menciumnya untuk pertama kali. Entah dorongan dari mana Son sampai berani berbuat seperti itu.
"Pergi lah! Jika tidak mau, aku akan berbuat lebih dari ini!" ancamnya. Sania masih berdiri dengan wajah yang shock. Ciuman pertamanya direbut oleh suaminya sendiri, itu hal yang wajar. Tapi ....
"Apa ini yang dinamakan ciuman pertama?"
Son memundurkan langkahnya lalu berbalik badan. Dia meraba-raba sambil berjalan. Mencari jalan sendiri untuk sampai di ranjang.
Tangannya yang bergetar, perlahan menyentuh bibirnya yang masih basah. Masih terasa sangat, bekas bibir dari suaminya. Perasaan yang tidak biasa dia rasakan sekarang.
"Ciuman hanya dilakukan oleh orang yang saling mencintai. Sedangkan aku dengannya?"
Tak mungkin Son mencintainya. Jelas-jelas dia melakukan itu hanya untuk mengancam Sania. Pria itu menginginkannya pergi.
BRAKKK!!!!
Pintu kamar ditutup dengan keras. Son sampai terjingkat kaget.
"Dasar wanita!"
Di kamarnya yang sunyi. Masih dengan suasana yang hening. Dia duduk sendirian di ranjangnya yang besar. Kamarnya yang luas, tapi tidak banyak ada perabotan di sana. Kakinya yang terkena minuman panas, lukanya sudah mengering. Hanya menunggu kulitnya mengelupas.
Berkat ketelatenan Sania dalam merawatnya, luka Son hampir sembuh. Di dalam pikirannya, bayangan wajah Vennie muncul bersamaan pertanyaan dari Paman Leo waktu itu.
"Tuan, apa Anda tidak penasaran dengan wajah nona Sania?"
Dia membayangkan bagaimana wajahnya. Wajah gadis ingusan yang mau-maunya menikah dengan pria buta sepertinya. Dia hanyalah gadis bodoh yang mau meninggalkan masa mudanya hanya untuk menikah dengan pria sepertinya.
"Apa tujuannya?"
Juga bayangan ketika teriakan gadis itu yang membuatnya berpikir akan asal usul keluarganya.
__ADS_1
"Coba saja. Jika kamu tega membunuhku, aku berterima kasih padamu. Aku bisa bertemu dengan ayah dan ibuku nanti."
Perkataannya membuatnya sadar bahwa Sania adalah anak yatim piatu. Dulu sepertinya Math pernah memberitahunya, tapi Son mungkin lupa. Juga Paman Leo yang pernah menyinggung tentang orang tua Sania yang sudah meninggal. Sania hanya tinggal bersama Paman dan Bibinya. Tapi Son yang tidak peduli, tidak pernah menghiraukannya.
"Kasihan ...."
Dia tiba-tiba merasa iba terhadap Sania, tapi langsung ditepis kasar olehnya. "Ah, tidak-tidak. Aku tidak pernah mengasihani siapa pun!"
TOK!
TOK!
TOK!
Suara pintu diketok oleh seseorang. "Siapa?" sahutnya dari dalam.
"Aku, Son. Bolehkah aku masuk?" jawab Keyla dibalik pintu.
"Mau apa kau kemari? Pergi lah!" usirnya.
"Aku ingin memberitahumu satu hal. Ini tentang Sania dan kak Darien. Tapi, jika kau tidak mau tahu. Ya sudah, aku pergi saja!" teriaknya dibalik pintu.
"Masuk lah!" Son mengalah, setelah sejenak dia berpikir. Dia ingin tidak peduli, tapi dirinya merasa penasaran.
Keyla tersenyum senang, dia kemudian membuka pintu. "Katakan cepat! Jangan membuang waktu!" ujar Son tidak sabar.
"Baik lah. Aku akan mengatakan satu hal padamu. Dan nantinya kau akan percaya denganku atau tidak, itu urusanmu," ucap Keyla dengan tersenyum licik.
.
.
.
Maaf ya kemarin tidak UP. Sebenarnya sudah up kemarin, tapi reviewnya lama dan baru lolos hari ini.
Terima kasih yang sudah mau menunggu. Salam hangat dari aku..
Like ya kalau kalian menyukai ceritaku...
__ADS_1