ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 109 SANIA HAMIL


__ADS_3

Senyuman merekah tak pernah surut di bibirnya. Terus tersenyum disepanjang jalan. Dengan sesekali melirik wanita di sebelahnya. Wanita itu tampak diam, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Kau kenapa? Apa perutmu masih tidak enak? Kau ingin makan apa? Atau menginginkan apa? Cepat katakan!" Son tak mengalihkan pandangannya pada sosok istrinya. Lampu masih menyala merah, masih cukup waktu untuk mengajaknya berbicara.


"Hm, tidak. Aku ingin pulang saja. Aku makan di rumah saja." Sania sebenarnya kepikiran dengan perkataan dokter tadi.


"Selamat, Tuan. Istri Anda sedang mengandung. Tapi—"


"Tapi apa, Dok?"


"Melihat usia istri Anda yang masih terlalu muda, ini sangat rentan bagi seorang wanita untuk hamil. Apalagi daya tahan tubuh istri Anda yang lemah. Tapi tidak apa-apa, asal Nyonya mau mengikuti saran saya untuk menghindari makanan atau aktivitas tertentu yang berat."


Dia melirik perutnya yang rata, tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh dokter. Dirinya sedang mengandung. Ada nyawa lain di dalam tubuhnya. Rasanya seperti mimpi. Dia akan menjadi seorang ibu? Ah rasanya dia belum pantas mendapatkan panggilan seorang Ibu.


"Apa kau kepikiran dengan ucapan dokter tadi?" tanyanya menebak. Suaminya ini memang serba tahu. Sania memasang wajah memelasnya, dia tidak ingin bayinya kenapa-kenapa. "San .... Apa yang kau khawatirkan? Aku akan memberikanmu makanan yang cukup, bergizi dan tentunya lezat. Apa pun yang kau inginkan akan aku penuhi semua. Aku bisa membelikan apa saja yang kau mau. Ucapan dokter jangan terlalu dipikirkan, dokter hanya ingin memberitahumu saja. Bukan menakut-nakuti, beliau hanya ingin kau jangan melarang pantangan darinya," tuturnya lembut sambil mengusap puncak kepalanya. Dia mengerti akan kekhawatirannya tentang hal itu.


"Hmm, tapi aku memang gampang sakit. Aku—"


"Sssstttt ...." Son mencubit hidungnya gemas, istrinya ini memang sangat cerewet. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak."


Ada sebuah kecemasan di dalam mata istrinya, tentu saja dia masih belia. Pikirannya pasti mengarah yang tidak-tidak. Sebagai seorang suami, Son harus memberikan dukungan dan semangat pada istri kecilnya.


"Aku takut ...." Setelah beberapa saat diam, Sania mulai mengeluarkan suara. Terlihat wajahnya yang ditekuk, lalu kepalanya ia senderkan pada bahu suaminya.


"Ada aku .... Aku akan selalu di sisimu," ujar Son sambil meremas tangan istrinya.


Son mulai melajukan kembali mobilnya karna lampu sudah berubah menjadi hijau. Karna hari masih pagi, Son berencana mengajak sarapan istrinya disebuah restoran yang sudah buka. Dia menelusuri setiap jalanan di kota.


"Kita sarapan di sini." Di sebuah restoran yang tidak terlalu besar, ia memberhentikan mobilnya di sana. Terlihat belum ada pengunjung yang datang. Mereka adalah orang pertama.


Son menarik sebuah kursi untuk istrinya duduk lalu ia juga duduk persis di sebelahnya.


"Pesan yang kau suka. Apa saja yang kau mau." Son memberikan buku menunya.

__ADS_1


Tangannya bergerak membuka buku menu satu persatu. Tapi tiba-tiba dia mendadak mual kembali. Tak mengatakan apa pun pada suaminya, dia langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi. Son yang khawatir bergerak menyusul istrinya, dia menunggu di depan pintu masuk toilet wanita.


"San ...." teriaknya memanggil istrinya. Terdengar suara istrinya yang sedang berusaha mengeluarkan sesuatu di dalam perutnya. Mendengarnya saja dia tidak tega. "Aku masuk ya ...." Son melihat ke kanan dan kiri, tidak ada siapapun di sana. Mungkin tidak apa-apa jika dia masuk ke dalam toilet wanita.


Baru saja melangkahkan kakinya masuk, Sania tiba-tiba keluar dengan wajah pucatnya.


"Sebaiknya kau cepat sarapan dan diminum vitaminnya." Son menuntun langkahnya, Sania masih dengan tubuh lemahnya memaksakan untuk berjalan.


"Aku mau pulang ...." rengeknya setelah sampai di meja.


Son jadi bingung, tak mungkin dia tidak jadi pesan makanan, itu memalukan. Akhirnya dia memesan beberapa makanan dan ia bungkus saja untuk dibawa pulang ke rumah.


Entah kebetulan atau pun sudah takdir. Mereka bertemu Meylin yang saat itu juga akan makan di restoran tersebut. Wanita menyebalkan itu datang bersama ibunya.


"Son, apa kabar?" Meylin menghampiri Son yang kala itu sedang berjalan bersama Sania.


"Baik," jawabnya cuek.


Lalu perhatian Meylin teralihkan pada sosok Sania dengan wajah pucatnya. "Sania, kau sedang sakit?" tanyanya tampak peduli.


Matanya membulat terkejut mendengar penjelasan dari Son. "Kau sedang hamil, Sania? Oh, selamat ya. Semoga—"


"Kita pulang dulu," potong Son cepat.


Sania tak menghiraukan akan adanya Meylin, yang ia inginkan adalah segera pulang dan bisa istirahat di kamar. Dia merasa malas untuk melakukan apa pun. Rasanya juga dia tak ingin makan apa pun.


***


Math duduk di ruang kerjanya yang berada di rumah. Tak lagi disibukkan oleh laptop atau pun berkas-berkas. Dia sudah menyerahkan perusahaannya pada Rico dan Son.


Baru saja memejamkan matanya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Dia dengan semangat mengangkat telpon itu, barangkali bawahannya sudah mendapatkan info tentang keberadaan istrinya.


"Iya, ada apa?"

__ADS_1


"Tuan, hari ini tuan Son belum juga datang ke kantor. Padahal hari ini ada meeting dengan beberapa client." Seorang bawahannya memberitahukan bahwa Son belum juga datang ke kantor. Math berdecak sebal, Son tidak biasanya seperti ini. Seharusnya kalau tidak datang ke kantor, ia memberitahunya.


"Leo apa sudah datang?" tanyanya.


"Sudah, Tuan. Leo sedang meeting pagi dengan para staff."


"Atur saja dengan Leo tentang meeting dengan beberapa client."


Setelah telpon terputus, ia langsung menghubungi putra terakhirnya.


"Siallllll!!" Ponsel Son tidak aktif. Ia kemudian beralih menghubungi Sania.


"Hallo, Sania. Dimana Son?" tanyanya tak sabar.


"Hallo, Yah. Ini aku Son. Ada apa?"


"Ada apa? Kau bilang ada apa? Kenapa hari ini kau tidak berangkat ke kantor? Kau ini sudah Ayah beri tanggung jawab itu mengurus perusahaan Ayah. Tapi kenapa kau malah semena-mena seperti ini?" Math memarahi Son tanpa henti.


"Ayah, dengarkan Son dulu." Son berusaha merendam emosinya.


"Apa? Kau ingin menjelaskan apa?"


"Ayah, Son habis dari rumah sakit. Sania tadi mual-mual dan merasakan pusing. Jadi, tadi pagi Son buru-buru bawa Sania ke rumah sakit," jelasnya.


Kini Math terdiam, dia tidak tahu jika menantunya sakit. "Sania sakit? Lalu bagaimana keadaannya?" Terdengar suaranya yang terdengar khawatir. Dia mulai memelankan suaranya.


"Sania saat ini baik-baik saja, Yah. Tapi dokter tadi mengatakan bahwa Sania saat ini sedang hamil."


Sania tiba-tiba mencubitnya lalu memelototkan matanya. Dia tidak ingin menggemborkan kabar bahagia ini cepat-cepat. Biarlah tunggu beberapa bulan dulu sambil menunggu perutnya membuncit.


Math berteriak kegirangan. Dia tidak percaya bahwa saat ini kedua menantunya sedang mengandung cucu untuknya.


"Kenapa kau bilang ke ayah!" Sania kesal, dia bersidekap sambil memanyunkan bibirnya. Setelah telpon terputus, Sania memarahi suaminya.

__ADS_1


"Ini kan kabar bahagia. Ya tidak apa-apa, kita memberitahu ayah. Ayah pasti senang," ujarnya sambil tersenyum.


Sania memalingkan wajahnya, dia tidak suka dengan sikap suaminya yang menurutnya terlalu gegabah.


__ADS_2