ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 54 TRAGEDI


__ADS_3

"Pelayan! Pelayan!" Son berteriak memanggil pelayan. Dia ingin menyusul Paman Leo, karna beliau tak kunjung datang lagi padanya. Entah keributan apa yang terjadi di dalam rumahnya. Dia ingin mencari tahu.


Sania bergegas memakai handuk tatkala telinganya menangkap suara dari Son yang memanggil-manggil pelayan. Dia khawatir jika suaminya membutuhkan sesuatu disaat dirinya tidak ada.


"Di mana dia?" Sania celingak-celinguk di dalam kamar. Matanya berpendar mengelilingi kamar, tapi suaminya tidak ada. Terlihat pintu kamarnya pun tertutup. Dia dengan segera memakai pakaian dan berlari mencari suaminya. Rambut yang basah ia biarkan saja, bahkan tanpa disisir sekalipun. Dia saat ini merasa cemas.


"Nona, tidak seharusnya Anda kasar kepada pelayan. Kenapa semuanya menjadi berantakan seperti ini?" Leo benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat saat ini. Rumah yang biasa rapi dan bersih, sekarang seperti kapal pecah. Untung saja majikannya buta, mungkin jika dia bisa melihat akan ada perang dunia.


"Kau bilang apa tadi? Aku kasar dengan mereka? Kau menuduhku? Ini semua terjadi gara-gara mereka! Bukan aku!" Matanya melotot tajam tidak terima dengan perkataan Leo. Tangannya yang lentik, ia acung-acungkan ke udara.


"Berhenti!" Son datang bersama pelayan. Perhatian mereka langsung teralihkan pada sosok Son.


"Tuan ...." Leo menghampirinya.


"Kau tamu tak diundang. Jangan membuat masalah di rumahku!" ucapnya membuat Keyla seketika membeku. Son dengan suara menggelegarnya mengguncang tubuhnya seketika. Ini pertama kalinya Keyla melihat amarah Son yang sebenarnya. Semuanya yang ada di sini tak ada yang membelanya. Dia sendirian sekarang. Andai Rico belum pergi, pasti dia yang akan jadi penyelamatnya.


PYARRRRRRR....


Son yang gegabah, dia memajukan kursi rodanya sendiri. Dan tak sengaja menabrak meja yang diatasnya ada minuman panas. Minuman panas itu tumpah mengenai kakinya.


"Aaaaawwwww ... Arrrgghhhh ...." Dia mengaduh kesakitan. Pelayan langsung mengambil air untuk menyiramkan kakinya yang terkena minuman panas. Itu untuk pertolongan pertama sebelum dibawa ke dokter.


"Ya Tuhan!" Sania berteriak dengan paniknya. Saat dia sedang mencari-cari suaminya, ternyata sudah banyak orang di ruang makan. Semuanya berkumpul. Matanya dengan jelas menangkap momen menyedihkan itu. Kakinya yang putih bersih kini berubah memerah dengan hitungan detik.


"Siapkan mobil!" Sania langsung mendorong kursi roda suaminya menuju depan dengan ditemani Paman Leo. Ada hal yang menggelikan yang membuat pelayan menahan tawa. Rambut Sania yang berantakan membuat mereka geleng-geleng kepala.


"Apa jadinya jika orang-orang rumah sakit melihat nona dengan penampilan seperti itu?" Para pelayan berbisik sambil menutup mulutnya yang menahan tawa.


"Mungkin dianggap gila." Mereka akhirnya tertawa. Tapi disisi lain mereka merasa iba dengan yang terjadi pada Son.


"Minuman siapa itu? Gara-gara minuman itu, jadi mencelakai tuan Son!" kesal mereka bersamaan.


"Punya nona Keyla!" jawab salah satu pelayan.

__ADS_1


Sania begitu khawatir melihat Son sepanjang jalan merintih kesakitan. Hatinya tersayat. Dia menyenderkan tubuhnya pada jok mobil sambil memegangi kakinya. Sania menyesal, kenapa hari ini dia menyiapkan celana pendek untuknya. Harusnya celana panjang saja! Kalau begini kan repot. Minuman panas itu dengan bebasnya menjalar ke kulitnya yang putih bersih.


"Paman, sebenarnya apa yang terjadi tadi? Mengapa semua berkumpul disitu? Dan kenapa suamiku bisa terkena minuman panas itu? Kenapa tidak ada yang mencegah? Tidak ada yang mengawasi? Paman kan tahu kalau suamiku tidak—" Tiba-tiba Sania berhenti. Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Dia melirik pada Son yang masih saja merintih. Son terus memejamkan matanya, berharap kesakitannya berkurang. "Ah, sudahlah. Buruan, Pak." Sania tidak sabar untuk cepat sampai di rumah sakit.


Saat bangunan serba putih terlihat, Sania sedikit lega. Akhirnya mereka sampai juga. Son bisa langsung ditangani oleh Dokter. Berharap lukanya tidak parah.


"Paman, tolong jelaskan!" Sania mengajak Paman Leo duduk bersama. Tapi sejenak Leo mengamati penampilan Sania. "Paman, lihat apa?" Mata Sania bergerak mengikuti arah mata Leo. Dia tidak menemukan keanehan pada bajunya. Lalu kenapa Paman Leo melihatnya seperti itu?


"Nona, sebaiknya Anda ke kamar mandi terlebih dahulu. Rapikan dulu penampilan Anda." Leo berusaha berkata lembut agar Sania tidak tersinggung.


"Apa ada yang aneh dengan Sania, Paman?" Sekali lagi dia melihat bajunya hari ini. Semuanya biasa saja, tidak ada yang aneh.


"Nona, bercermin lah." Dia menepuk-nepuk wajahnya. Dia jarang memakai make up, dia lebih suka dengan wajah yang polos.


"Paman, aku ingin dengar penjelasan Paman terlebih dahulu! Jangan mengalihkan perhatian, Paman." Sania berpikir Leo hanya ingin mengalihkan perhatiannya saja. Dia tetap kekeh ingin mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


"Nona, tidak ada yang perlu dijelaskan. Tuan Son tadi mencoba menggerakkan kursi rodanya sendiri dan tak sengaja menyenggol meja yang diatasnya ada minuman panas. Jadi, kejadian ini terjadi."


"Apa di sini ada istrinya tuan Son?" Dokter yang baru saja memeriksa keadaan Son keluar dari ruangan. Sania dan Leo pun menghampirinya.


"Saya, Dok. Bagaimana keadaan suami saya? Apa lukanya parah?" Bukan hanya Leo saja yang merasa aneh dengan penampilan Sania. Dokter dan juga perawat juga terkejut melihat penampilannya.


"Nona, istrinya tuan Son?" tanyanya memastikan.


"Iya, saya," jawab Sania sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Masuk lah. Lukanya sudah saya obati. Tidak parah, tenang saja." Dokter pun pamit pergi.


Sebelum Sania membuka pintu ruangan, matanya menatap Leo. "Urusan kita belum selesai, Paman," ucap Sania dengan mata seakan mengintimidasi.


Leo hanya mengangguk. Dia mempersilahkan nonanya untuk masuk, sedangkan Leo menunggu di luar.


.

__ADS_1


.


Berkas-berkas menumpuk di mejanya yang lebar. Satu persatu dia baca dan tanda tangani. Ada juga yang tak segan-segan ia robek karna tidak sesuai yang dia inginkan. Dia adalah Darien. Pria mandiri dan sangat ambisius.


"Apa! Masuk rumah sakit!" Ponselnya yang tiba-tiba berdering langsung ia angkat tanpa melihat siapa yang menghubungi.


"Dasar anak kecil! Selalu menyusahkan!" sebalnya. Mau tidak mau dia meninggalkan kerjaannya yang masih segunung. Menyerahkan semuanya pada sekretarisnya untuk diurus. Darien sangat mempercayai sekretarisnya yang baru itu. Dia masih muda tapi dia juga sangat teliti.


"Baik, Tuan." Dia memang sangat patuh terhadap Darien. Tak ada kata tidak dalam kamusnya bekerja. Dia selalu menyanggupi semuanya.


"Tuan," panggilnya sebelum Darien benar-benar lenyap dari pandangannya. Mata mereka bertemu sekian detik.


"Aku tidak akan kembali. Kau pulang lah sesuai jam pulang kantor." Darien sudah menebak apa yang ingin dikatakan oleh sekretarisnya.


"Baik, Tuan." Dia perlahan menunduk. Menunggu Darien benar-benar pergi. Dia tidak sanggup melihatnya lama-lama. Jantungnya seakan ingin loncat dari tempatnya.


.


.


Ruangan putih yang bersih dengan penerangan yang cukup. Son tergeletak di sana. Dengan kaki penuh perban. Tangannya tak lupa memakai selang infus. Sania berjalan mendekat.


"Apa ini sangat sakit?" tanyanya melihat kakinya yang dipenuhi perban.


"Kau mengejekku?"


"Ah, tidak. Aku hanya bertanya." Takut dia salah ngomong lagi, Sania memilih diam dan duduk di kursi yang disediakan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2