
Matahari telah terbit. Awan yang gelap sudah berubah menjadi cerah. Kehidupan dimulai dari pagi hari. Para manusia yang ada di muka bumi memulai aktivitasnya masing-masing. Burung-burung pun mulai keluar dari sarangnya, sejenak menari-nari di atas awan. Sebelum mereka pergi mencari makan.
Matanya mengerjab, tatkala sinarnya masuk melalui sela-sela jendela kamarnya. Ekor matanya menangkap sosok pria yang sedang berdiri di pinggir jendela. Tangannya bergerak membuka semua gorden juga jendela. Jalannya tertatih-tatih karna menyesuaikan dengan keadaan sekitar. Takut jika dia tiba-tiba menabrak sebuah benda.
Bayangan saat mereka disandingkan berdua dan mengucap janji suci pernikahan, membuatnya tersenyum miris. Mereka bersama, mereka satu atap bahkan mereka tidur bersama tapi ...mereka tidak memiliki cinta yang sama.
Sania bergerak turun dari ranjang. Dia menghampiri suaminya yang sedang menghirup udara segar pagi hari.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya basa-basi. Dia bisa merasakan udara yang sejuk menerpa wajahnya yang polos. Sejenak memejamkan matanya menikmati angin pagi hari.
Son menggerakkan kepalanya, merasa kaget dengan kedatangannya. "Kau sudah bangun?" Son balik bertanya.
"Iya baru saja. Kau yang sudah bangun duluan."
Hening. Tak ada jawaban lagi dari suaminya. Sania memandangi wajah suaminya dari samping. Ingin rasanya melihat Son juga menatap dirinya. Melihatnya dengan mata yang kosong, itu sangat menyedihkan.
Pagi ini, seperti biasa. Sania menyiapkan segala keperluannya. Mulai dari mengisi bak mandi dengan air hangat, menyiapkan pakaian juga sarapan. Son jarang mau makan di meja makan. Maka dari itu, Sania harus menyiapkannya semua.
"Mandi lah. Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Aku ke dapur sebentar," pamitnya. Son dengan langkah kecil berjalan menuju kamar mandi. Dia sudah hapal semua letak benda di kamarnya. Hal yang mudah baginya, tapi dia juga masih berhati-hati.
Di dalam kamar mandi, Son sejenak terdiam. Berpikir tentang pernikahannya dengan Sania.
"Aku sudah menikah? Aku tidak percaya dengan ini."
Ia masuk ke dalam bak mandi dengan tubuh yang polos. Berendam dengan air sabun yang hangat. Sejenak merefresh kan pikirannya.
"Apa tujuan ayah?"
"Aku akan pergi tenang saja. Tapi, setelah kau bisa melihat kembali."
Perkataan Sania terngiang-ngiang di kepalanya. Dia berjanji akan pergi setelah dirinya bisa melihat kembali. Apa itu benar? Benarkah gadis itu akan pergi? Atau bahkan selamanya akan tetap di sisinya?
Lumayan lama Son berada di kamar mandi. Hingga Sania kembali membawa makanan, Son belum juga keluar. Padahal Sania di dapur cukup memakan waktu yang lama. Dia membantu pelayan untuk memasak, sehingga waktunya lama di dapur.
"Dia belum keluar?" Sania berjalan menuju kamar mandi, dia mengetoknya perlahan. "Kau belum selesai mandi?"
Ceklek...
__ADS_1
Pintu kamar mandi dibuka. Sania sedikit terjingkat karna terkejut.
"Aww ...." Son menabrak dirinya yang sedang di depan pintu. Sania mengaduh kesakitan, tapi Son tampak tak peduli.
"Hey! Bisakah kau meminta maaf? Kau telah menabrak ku! Sakit tahu ...." rintihnya bercampur kesal.
"Apa kau tidak bisa melihat? Dengan siapa kau berbicara? Aku tidak bisa melihat!" Dia membuka handuknya di depan Sania, membuat gadis itu seketika berbalik badan.
"Selalu bar-bar!" kesalnya.
Son memakai pakaian yang sudah disiapkan Sania. Kaos hitam polos dengan celana pendek berwarna khaki. Pakaiannya sangat simple, tapi membuatnya menawan.
"1, 2, 3, 4, 5 - 20." Sania dalam hati menghitung. Dia mengira-ngira Son akan selesai memakai baju diwaktu berapa.
"Sudahkah dia selesai?" tanyanya dalam hati.
"Dimana sarapanku?" Hati Sania lega. Akhirnya Son selesai memakai bajunya, dia segera berbalik lagi. Makanan yang tadi dia bawa, dia sodorkan pada Son.
"Ini, makan lah. Aku mau mandi."
Di pintu kamar mandi dia berhenti. Matanya mengarah pada Son yang sedang dengan lahapnya memakan makanannya. Dia tersenyum ke arahnya, walaupun Son tidak pernah melihat padanya.
Satu suap dua suap hingga suapan terakhir dia makan dengan lahapnya. Makanan ini sungguh enak, pikirnya.
"Bagaimana wajah-wajah pelayan di sini?" Son mulai berimajinasi. Dia membayangkan wajah-wajah pelayan yang bekerja di sini. Pastinya mereka adalah orang-orang baru.
"Selamat pagi, Tuan Son." Suara yang menyejukkan hati. Suara dari Paman Leo. Sosok pria paruh baya yang sangat menyayanginya.
"Pagi, Paman," jawabnya dengan semangat. Paman Leo membantu membereskan piring yang sudah kosong ke tempatnya semula. Dia juga membantu Son mengambilkan minum.
"Hari ini Anda tampaknya sedang bahagia. Bolehkah saya tahu apa alasannya?" Dia duduk di sebelah Son. Menunggu jawaban darinya.
"Ah, tidak. Son tidak kenapa-kenapa, Paman. Tidak sedang bahagia. Biasa saja." Memang dia tidak merasakan apa pun. Apalagi bahagia, rasanya setelah kehilangan Vennie, dia tidak pernah merasakan bahagia lagi.
"Oh begitu, Tuan. Baik lah. Kalau begitu boleh kah aku bertanya satu hal pada Anda?"
"Silahkan, Paman."
__ADS_1
Leo sejenak mengatur napasnya. Mungkin ini adalah waktu yang tepat. "Tuan, jika suatu saat Anda diharuskan operasi mata. Alasan apa yang bisa membawa Anda untuk menyetujuinya?" Pertanyaan yang dia harapkan akan mendapatkan jawaban yang sesuai dengan perkiraannya.
"Aku mau operasi mata jika aku bisa jatuh hati pada seseorang lagi," jawabnya. Tak ada keraguan dari ucapannya. Dia benar-benar menjawab dengan apa yang ada didalam hatinya.
"Jadi—"
"Aku belum selesai berbicara, Paman," potongnya. "Tapi, itu hal yang mustahil," lanjutnya membuat Leo mengernyitkan dahi.
"Mustahil?" tanya Paman Leo.
"Paman tahu sendiri. Aku sulit mencintai wanita. Vennie-lah yang bisa meluluhkan hatiku."
Lagi-lagi Paman Leo menghela napasnya panjang. Dia awalnya ingin membujuknya, tapi Son masih saja teguh akan pendiriannya.
"Tuan, apa Anda tidak penasaran dengan wajah nona Sania? Walaupun Tuan berkata mustahil mencintai wanita lain, setidaknya Anda sudah melihat wajah dari istri Tuan."
"Wajah Sania? Gadis ingusan?" pikirnya dalam hati.
"Tuan, saya kasih gambaran sedikit tentang wajah nona. Nona Sania berambut panjang, kulitnya putih bersih dan wajahnya cukup manis," jelasnya.
Son menyunggingkan senyumannya. "Aku tidak penasaran dengan wajahnya, Paman. Menurutku, dia terlalu anak kecil untukku. Aku berpikir, sampai sejauh mana dia akan tetap di sisiku. Dia pasti akan bosan. Dan memilih untuk pergi suatu saat," ujarnya percaya diri.
"Apa Anda yakin?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Yakin!" jawabnya tegas.
Leo hanya mengangguk-angguk. Di dalam hatinya berdoa, semoga suatu saat Son bisa jatuh hati pada Sania.
CRANGGGGG!!!!!
Suara gaduh terdengar. Paman Leo segera mengecek ke sumber suara atas perintah Son.
"Kalian ini tidak becus! Berapa kerugian setiap harinya jika kalian memecahkan barang! Sungguh tidak berguna!" Keyla si ibu hamil sedang memarahi beberapa pelayan yang terlihat ketakutan. Terlihat lantai berserakan dengan pecahan gelas.
"Nona, ada apa ini?" Leo menatap lantai yang penuh dengan pecahan gelas. Para pelayan akhirnya turun tangan untuk membersihkan. Sedangkan Keyla, dia berdiri sambil memandangi mereka.
.
__ADS_1
.
.