ISTRI UNTUK TUAN BUTA

ISTRI UNTUK TUAN BUTA
BAB 31 HUKUMAN UNTUK DARIEN


__ADS_3

Sesuap demi suap bubur yang berada di mangkok dilahap habis olehnya. Sania tersenyum bahagia melihat Son menghabiskan makanan yang diberikannya. Son tidak menolak saat ia suapi, karna pikirnya Sania adalah seorang perawat.


"Terima kasih, Sus." Ucapan tulus dari Son membuat Sania terenyuh. Pria cuek yang dingin itu ternyata mempunyai sisi hati yang lembut. Bahkan dia tak segan mengatakan terima kasih pada orang baru.


Sania mengambil obat yang telah disediakan oleh perawat, dia memberikannya pada Son. Pria itu pun meminumnya dengan bantuan Sania.


"Tangan ini." Saat tangan Sania menyentuh tangannya, Son merasa ada yang aneh.


"Suster bisa pergi sekarang. Saya akan beristirahat," ucap Son setelah dia selesai meminum obat. Son merasa aneh pada suster yang ada disebelahnya. Sepanjang dia menyuapi dan memberikan obat padanya, suster itu terus saja diam tanpa menjawab apa pun perkataannya.


Terdengar suara pintu yang dibuka, menandakan bahwa sang suster sudah keluar ruangan.


"Suster yang aneh."


Sania tidak benar-benar pergi. Dia tetap berada di dalam ruangan. Dia membuat suara pintu terbuka seolah-olah ada seseorang yang pergi, padahal dia masih ada di dalam.


"Lama-lama aku jadi bisu terus diam seperti ini," gerutunya dalam hati.


Ternyata lelah juga terus diam seperti ini. Berbicara pun lelah, tak bicara pun tetap lelah.


Sania memilih duduk di sebuah sofa panjang yang berada di dalam ruangan. Letaknya ada di sebelah pintu. Walaupun jaraknya cukup jauh dari tempat ranjang Son, tapi setidaknya Sania bisa beristirahat di sana.


Tubuhnya dia hempaskan di atas sofa. Pandangannya mengarah pada langit-langit ruangan. Pikirannya terbang mengingat perkataan dari Paman Raul.


"Paman bangkrut. Usaha Paman bangkrut. Bibimu meninggalkan Paman. Dia pergi entah kemana. Membawa sertifikat rumah dan juga buku rekening Paman. Semuanya dibawa olehnya. Paman tidak mengira, bibimu tega berbuat seperti itu. Padahal kau sering mengirimkan uang lewat rekening itu. Berharap uang darimu bisa membantu membiayai kuliah Maria."


Sania tercengang mendengar penjelasan dari Paman Raul. Yang lebih tidak ia percayai adalah kelakuan Bibi Lotus. Bukankah mereka telah hidup berumah tangga bertahun-tahun? Bagaimana mungkin saat keadaan terpuruk, Bibi malah meninggalkan pasangannya?


"Bibi Lotus pergi? Lalu Maria di mana? Waktu itu Sania melihat Maria di kampus. Tapi sayang sekali, Maria sudah naik bus saat Sania mencoba untuk memanggilnya." Sania menceritakan saat dia mencoba mendatangi Maria ke kampusnya.

__ADS_1


"Maria tetap kuliah. Paman akan membiayai kuliahnya sampai lulus. Paman akan bekerja keras di sini."


"Maria tidak ikut dengan bibi Lotus?" Sania kira, Bibi Lotus pergi membawa Maria. Tapi ternyata, Maria tetap tinggal bersama Paman Raul.


"Tidak. Maria sama dengan Paman, tidak mengetahui kapan bibimu pergi meninggalkan rumah."


"Lalu di mana pak Mail?" Sania berharap bahwa keberadaan Pak Mail, Paman Raul mengetahuinya.


"Tenang saja. Pak Mail tinggal bersama Maria di sebuah kontrakan. Untuk menemani Maria di kota serta mengurusnya. Tetap Paman bayar, tapi tidak sebesar gajinya dulu." Sania menghela napasnya lega. Setidaknya mendengar keberadaan mereka semua, itu membuat Sania merasa tenang. Walaupun keberadaan Bibi Lotus tidak ada yang tahu.


***


Math mendorong Darien hingga jatuh tersungkur ke lantai. Begitu marahnya Math terhadap putra keduanya. Ketiga putranya ia didik dengan baik sejak kecil. Tak pernah dia mencontohkan hal buruk pada putranya, bahkan tak pernah dia melakukan kejahatan di depan putra-putranya. Mengapa Darien tega melakukan hal kejam seperti itu. Tanpa melihat keadaan adiknya yang memang sedang tidak baik-baik saja.


"Ayah tidak pernah mengajarimu untuk berbuat kejam kepada orang lain apa lagi dengan saudaramu! Kau keterlaluan, Darien!" Math begitu murka. Urat-urat di dahinya keluar menunjukkan betapa marahnya dia saat ini.


"Apa maksudmu? Omong kosong apa yang kau ucapkan, Darien!" Math bertanya balik. Tidak mengerti apa yang diucapkan putranya pada dirinya.


"Ayah lupa? Ayah telah membuat ibu meninggal karna ulah ayah sendiri. Menyakiti ibu diam-diam hingga ibu sakit-sakitan dan meninggal!!!!" Darien terisak dalam tangisnya. Dia memegangi dadanya yang bergemuruh. Bersamaan memori masa lalu yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Darien kecil yang malang harus merasakan kehilangan ibunya di usianya yang masih kecil.


"Diam! Kau tidak tahu apa-apa, Darien! Hentikan omong kosong mu! Kau tidak berhak menghakimi Ayah. Kau tidak tahu apa-apa!" Math pun berlalu pergi meninggalkan Darien yang masih bercucuran air mata. Dia menatap punggung Ayahnya dengan hati yang geram. Di sisi lain dia sangat menghormati ayahnya tapi dirinya masih merasakan sakit hati saat mengingat kepergian ibunya.


Math berjalan dengan langkah berat. Dia berhenti di depan lift. Detak jantungnya masih memburu. Emosi yang ada di hatinya belum juga surut, ditambah lagi perkataan Darien yang membuatnya merasa sakit hati. Darien tidak tahu apa-apa tentang hubungannya dengan ibu kandungnya. Tidak sepantasnya dia menghakiminya seperti itu.


"Permisi, Tuan." Seorang office boy membuyarkan lamunannya. Dia bergeser memberi jalan pada office boy tersebut yang akan membersihkan lantai. Dia kemudian masuk ke dalam lift untuk menuju lantai bawah.


"Jalan ke rumah!" Sang sopir pun mengangguk saat mendengar perintah dari Math yang menginginkan untuk pulang ke rumah. Entah apa yang telah terjadi, melihat wajahnya yang masih tidak ramah, sang sopir hanya bisa menurut patuh.


***

__ADS_1


"Nona, makan lah. Tadi malam Nona tidak mau makan, masa pagi ini juga tidak mau makan. Apa masakan saya tidak enak?" Pak Mail masih mencoba membujuk Maria agar mau makan. Karna gadis itu sering sekali meninggalkan sarapan juga makan malamnya.


"Maria tidak lapar," ucapnya dengan nada sedih. Dia merindukan keadaan rumahnya dan juga kebersamaan dengan keluarganya. Kini hanya ada dia dan Pak Mail saja.


"Nona, makan lah sedikit. Tuan Raul pasti akan memarahi saya jika melihat Nona Maria semakin kurus," ujarnya mencoba membujuk.


"Makanan ini untuk Pak Mail saja. Maria mau berangkat ke kampus."


Terdengar bunyi sepeda motor berhenti di depan kontrakan yang mereka huni. Maria bergegas keluar dan menemui seseorang yang telah lama mengantar jemputnya ke kampus.


"Tunggu!" Pak Mail berteriak dari dalam kontrakan. Tak berapa lama dia berlari menuju depan. "Nona, tolong bawa ini." Pak Mail menyodorkan sebuah kotak bekal kepada Maria.


"Pak—"


"Nona belum sarapan. Tolong bawa ini dan makan di kampus."


Pria yang sedang duduk di motor pun beralih menatap Maria yang berada di sampingnya. "Kau belum sarapan?" tanyanya.


Gadis itu terlihat kebingungan. Dia tidak mau jika pria yang sudah bersamanya beberapa waktu belakangan ini mengetahui bahwa dirinya memang jarang makan. "Apa Maria sering melewatkan sarapannya, Pak Mail?" Pria itu beralih menatap Pak Mail dan menanyakan padanya.


Pak Mail pun mengangguk tanda mengiyakan. Terdengar hembusan napasnya yang berat setelah mengetahui kenyataannya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2