
Hari sudah gelap. Perasaan seorang ayah yang mengetahui putrinya belum pulang hingga malam menjelang, jelas sangat khawatir. Berkali-kali ia melirik jam dinding, tidak biasanya putrinya belum pulang. Baru saja ingin melangkah ke luar, suara motor berhenti terdengar. Raul langsung membuka pintu dan berdiri sambil menatap kedua pasangan sejoli yang sedang dimabuk asmara itu.
"Maaf, Paman. Saya mengantarkan Maria pulang selarut ini. Itu karna motor saya tadi mogok di jalan." Jeffry menjelaskan kendalanya saat di jalan tadi. Raul tak merespon, dia memberi isyarat pada Maria agar masuk ke dalam. "Sekali lagi saya minta maaf, Paman." Jeffry menundukkan kepalanya seraya mengatupkan kedua tangannya.
BRAKKKK!!
Pintu ditutup dengan kerasnya. Jeffry terjingkat kaget karna Raul tak biasanya bersikap seperti ini. Perasaan bersalah terus saja menghantui hatinya.
"Ah sial!" Jeffry yang kesal menendang ban motornya untuk melampiaskannya. Motornya ini memang sudah tua, seharusnya dia ganti yang baru. "Paman Raul pasti marah sekali." Dia mengacak rambutnya kasar, andai saja tadi motornya tidak mogok. Dia pasti akan mengantarkan Maria pulang ke rumah tepat waktu.
"Maria!" Raul berteriak memanggil putrinya.
"Ayah mau memarahiku? Bukannya tadi Jeffry sudah katakan kalau tadi motornya—"
"Diam lah! Ayah tidak mau membahas pria itu." Entah apa yang membuat Raul seakan tidak suka dengan Jeffry.
"Ayah ...." Maria tidak tahu apa yang menyebabkan ayahnya seperti ini. Sudah beberapa hari ini saat dia pulang, Raul tak pernah menyapa Jeffry.
"Maria, kau sudah dewasa. Seharusnya kau tahu mana yang baik dan buruk. Ayah minta kau fokus saja dengan kuliahmu. Dan mulai besok, Ayah yang akan mengantarkan mu ke kampus." Setelah mengatakan itu, Math masuk ke dalam kamar. Maria yang ingin menjawab tak diberi waktu.
"Ada apa dengan ayah?"
Padahal dia sedang merasa kasmaran dengan Jeffry. Setelah mereka meresmikan hubungan mereka, Maria merasa seperti diratukan oleh Jeffry. Pria itu seakan memanjakannya setiap waktu. Bahkan dia selalu bisa membuatnya tertawa.
"Jeff, mulai besok kau tidak usah mengantarkan ku ke kampus. Ayah yang akan mengantarkan ku. Tadi Ayah mengatakan seperti itu."
Jeffry yang masih berada di halaman rumah Maria terkejut membaca pesan yang baru saja kekasihnya itu kirimkan padanya. Dia berdecak sebal, ini rintangan baru untuknya.
"Pulangnya tetap aku yang menjemputmu," balasnya kemudian.
***
__ADS_1
Seorang wanita yang sedang hamil, tak mengalihkan pandangannya pada cermin yang besar. Dia memegang pipinya yang semakin berisi. Wajahnya kemudian cemberut kemudian kepalanya menoleh pada sang suami yang sibuk dengan ponsel miliknya.
"Son ...." rengeknya dengan bibir berkerucut.
"Hmm ...." Dia hanya berdehem. Entah apa yang sedang ia lihat di ponselnya. Sepertinya itu lebih penting daripada menatap sang istri.
"Lihatlah wajahku! Apa aku terlihat jelek karna semakin gendut?" Seperti badut saja pikirnya, dia juga merasa semakin berat saat melangkah.
"Tidak," jawabnya cuek.
"Hey! Lihatlah dulu!" Sania menghentakkan kakinya, lalu Son dengan malasnya melihat ke arah istrinya.
"Sayang .... Apa yang kau khawatirkan? Gendut atau kurus, kau tetap istriku. Istriku yang paling cantik," pujinya kemudian. Sania menahan senyumnya tapi pipi merahnya tak dapat membohongi kalau dia merasa tersanjung.
"Kau bohong!" Sania pura-pura tidak percaya.
Son yang gemas menghampiri istrinya lalu memeluknya dari arah belakang. "Kau ini menggemaskan sekali ...." Tak mau melepaskan pelukannya, Son bahkan menciumi tengkuk lehernya. Sania dibuat merinding oleh ulahnya.
"Ah, jangan seperti ini! Geli!" Bukannya berhenti, Son semakin liar saja. Bahkan ia menurunkan lengan bajunya, menampakkan bahunya yang putih. Menciuminya tanpa henti.
Sania menatap tubuhnya yang polos. Di beberapa bagian tubuhnya terdapat stiker merah dimana-mana. Suaminya ini selalu saja meninggalkan bekas cintanya ditubuhnya.
"Dingin ...." Sania melihat bajunya yang entah dibuang kemana oleh suaminya.
Son membantu memungutinya satu persatu. Dia juga membantu memakaikannya. Tapi melihatnya yang masih dengan tubuh polosnya, membuat hasratnya kembali bangun.
"Sayang .... Satu kali lagi," pintanya membuat Sania membelalakkan matanya. Ah dia sudah lelah, apalagi dia juga sudah mengantuk. "Ayo," rengeknya seperti balita.
"Hmmm ...." Tak enak untuk menolak, Sania akhirnya memasrahkan kembali tubuhnya. Son mulai bermain di atas tubuhnya membuat Sania tak berhenti mengeluarkan kata-kata kenikmatan.
***
__ADS_1
Hari ini, sesuai janjinya Rico dan Keyla akan membawa Meysa bertemu kakeknya. Si kecil Meysa sepertinya sudah tahu, bahwa ia sebentar lagi akan bertemu dengan kakeknya. Dia tampak tenang dalam dekapan ibunya. Bahkan tak ada rengekan atau pun tangisan seperti biasanya.
"Meysa sayang, sebentar lagi kita akan bertemu kakek. Ucapkan salam pada kakek ya," ujar Rico sambil terkekeh.
Tak sabar melihat ekspresi dari ayahnya yang akhirnya akan melihat cucu pertamanya. Semoga kehadiran Meysa membuatnya tersenyum hari ini.
Mobil telah memasuki kediaman rumah utama. Tampak lengah, bahkan tak ada satpam yang berjaga di depan. Mungkin saja Pak Satpam sedang berada di toilet sekarang.
Saat mereka mulai memasuki rumah, pelayan pun tak terlihat di sana.
"Kok sepi sayang," ujar Keyla merasa janggal.
Tiba-tiba salah satu pelayan berlari menghampiri Rico dan Keyla.
"Tuan Rico, Tuan Math pingsan," ujarnya memberitahu. Rico segera berlari menuju kamar ayahnya. Terlihat di sana sudah ramai ada beberapa pelayan. Rico dibantu Pak Satpam membawa Math untuk masuk ke dalam mobil. Mereka harus segera ke rumah sakit.
Keyla pun kebingungan, dia bersama Meysa tidak mungkin ia ikut ke rumah sakit.
"Sayang, kau tunggu di rumah saja." Rico mengecup keningnya sebentar sebelum ia pergi membawa ayahnya ke rumah sakit. Di jalanan ia berusaha menghubungi adik-adiknya.
Kondisi Math begitu memprihatinkan. Rico tak kuasa menahan air matanya yang ingin segera turun dari tempatnya.
"Ayah, bertahanlah," lirihnya.
Sebagai seorang anak, dia tak ingin terjadi apa-apa dengan ayahnya. Sudah cukup dia kehilangan ibunya. Bahkan belum sempat ia memeluk atau pun melihatnya secara langsung, ibunya telah tiada. Kini ayahnya jatuh sakit membuatnya sangat khawatir.
"Ibu ...." Tangis Rico pecah, dia menelepon Luzi dan memberitahukan keadaan Math sekarang. "Aku mohon, Bu." Rico memohon pada Luzi untuk menjenguk Math. Setidaknya ayahnya itu bisa melihat Luzi walau sebentar. Berharap ada kemajuan untuk Math bertahan hidup.
Dokter masih belum selesai menangani Math di dalam. Entah apa yang terjadi di dalam. Rico terus berdoa meminta kesembuhan untuk ayah tercintanya.
Dan tak berapa lama, Son dan Darien datang. Mereka datang bersama tapi dengan posisi jaraknya yang agak menjauh.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan ayah, Kak?" Son yang lebih dulu bertanya. Darien yang ingin mengatakan sesuatu jadi tertahan karna Son lebih dulu mengeluarkan suaranya.
"Belum tau, Son. Dokter masih di dalam."